Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkinkah?
Hari ini Zahra memilih untuk istirahat saja. Ia merasa wajar jika tubuhnya menunjukkan ketidaknyamanan karena bisa jadi karena kelelahan sehabis acara di Madiun. Ia bahkan tak memberitahukan kepada Mak Rini kalau dirinya sakit dan butuh dokter. Pikirnya, hanya butuh istirahat dan tidur lebih banyak akan membuat tubuhnya enteng.
Sepersekian menit kemudian, sebuah ketukan membuatnya harus kembali membuka mata. Dengan kepala yang berat ia paksa bangkit guna membuka pintu kamar.
"Assalamualaikum, Bu. Ini Dokter Intan yang di pesan Bapak udah datang."
"Bapak?" gumam Zahra yang merasa masih ada perhatian dari sosok yang kaku itu.
"Iya, Bu. Tadi Bapak telfon Mak Rini. Nanyain ibu. Terus? Mak Rini tadi jawab seadanya. Kalau Ibu masih sakit."
"Oh, gitu..." Zahra mengangguk kemudian mempersilahkan Dokter wanita dengan seorang perawat yang ia bawa masuk ke dalam kamar.
Mereka pun masuk, sementara Zahra di minta untuk kembali merebahkan tubuhnya. Dokter menanyakan keluhan apa saja yang di rasa oleh pasiennya. Dimana Zahra menjawab semua yang ia rasakan. Yakni pusing, dan mual. Meskipun gejalanya tak begitu berat.
"Mungkin saya kelelahan. Karena tiga hari saya ke luar kota. Dan agak kurang tidur, sekaligus tidak nafsu makan."
"Ini ada dua kemungkinan sih, Bu. Ibu kan memiliki riwayat penyakit di lambung. Bisa jadi karena itu... Atau, karena adanya janin yang telah berhasil berkembang setelah di buahi."
Zahra bergeming. Padahal ia baru satu kali melakukan itu dengan suaminya. Pun sudah hampir dua minggu lamanya. Masa iya langsung berhasil? Zahra terkekeh.
"Sepertinya memang, karena asam lambung saya yang naik deh, Dokter," tebak Zahra namun ia merasa yakin kesana. "Karena saya sering seperti ini."
Dokter tersenyum setelah melihat hasil dari tekanan darah Zahra yang angkanya menunjuk ke normal.
"Kalau boleh tahu, kapan terakhir Bu Zahra menstruasi?"
"Baru dua mingguan lebih, Dok. Hampir tiga mingguan lah..."
"Oh gitu? apa mau di periksa sekalian? Kebetulan saya bawa testpack." Dokter menawarkan.
"Ah, nggak, deh. Saya akan nunggu sampai telat saja."
"Baiklah, Bu Zahra. Saya menghargai keputusan Ibu. Kalau begitu, saya akan beri obat pereda mual dan Vitamin saja, ya. Tapi jika masih belum ada perubahan. Saya sarankan sih, Ibu benar-benar mendatangi fasilitas kesehatan terdekat, demi pemeriksaan lebih lanjut."
"Baik Dokter," jawab Zahra dengan bibir tersenyum tipis.
Setelahnya dokter dengan di bantu perawatnya membereskan peralatan. Sebelum berpamitan pada Nyonya rumahnya.
Kini kamar kembali sepi, Zahra menyentuh perutnya yang masih rata. Setelah mendengar perkataan dokter ia jadi kepikiran.
Apakah mungkin?
Zahra menggeleng. Masih terlalu dini untuk itu, Karena mereka baru melakukannya satu kali. Sangat kecil kemungkinan untuk berhasil. Tapi, bisa jadi pembuahan terjadi saat dirinya sedang berada pada puncak masa subur. Apapun itu, Zahra berdoa. Jika itu benar, maka mudah-mudahan saja janin dalam kandungannya dalam keadaan sehat. Dan ia tetap akan memeriksa ketika terbukti telat datang bulan.
...🍂🍂🍂...
Bisnis yang di kelola Adnan ini terbilang baru berjalan lima tahun. Yang dimana ia mengambil bisnis properti berbasis Syariah. Setelah sebelumnya ia sempat bekerja di group company ternama. Tempat ia membeli rumah yang di huninya saat ini.
Padahal dulu, gaji plus bonusnya cukup tinggi. Bahkan Adnan tak perlu mencicil huniannya berpuluh-puluh tahun pada saat itu. Sebaliknya, ia bisa melunasinya dengan tenor tidak sampai 2 tahun. Qadarullah, niatnya memberi rumah nyaman untuk istrinya di permudah. Sehingga rezeki tak terduga-duga selalu membanjiri isi rekeningnya. Hingga ia bisa seperti sekarang.
Tapi setiap kali ia bisa menghasikan keuntungan untuk atasannya. Adnan selalu ingat pesan Marwah jika alangkah baiknya ia menghindari riba. Dan memintanya untuk berhenti bekerja di sana. Meskipun gajinya mungkin tidak akan sama. Hinggak akhirnya ia keluar dari pekerjaan itu selepas kepergian Marwah. Dan mulai membangun bisnisnya. Yang dimana bisnis properti berbasis syariah itu belum banyak orang tau. Bahkan? Tak jarang memandangnya sebagai penipu sebab tawaran yang menggiurkan. Tapi semua telah berlalu.
Dia ingat betul. Awal berbisnis dia berdiri sendirian di tengah kemelut hati paska kehilangan. Membuat Adnan beberapa kali ingin menyerah dan bekerja di tempatnya dulu. Tapi Dia sudah berjanji tidak hanya pada Marwah. Melainkan pada Tuhannya.
Ya ... Allah maha baik. Niatnya menggalkan sesuatu yang buruk ternyata telah berbuah manis di kemudian hari. Dan Pelan-pelan hasilnya mulai kelihatan. Hingga usahanya perlahan mulai berkembang seperti sekarang ini.
...
Di ruang meeting berukuran sedang. Dengan meja kayu panjang, empat kursi terisi. Satu kursi di ujung ditempati Adnan Husein, dua di seberangnya pasangan suami-istri, dan satu lagi staf administrasi yang sejak tadi menyiapkan berkas.
Adnan duduk tegak, kemeja putihnya rapi, map cokelat terbuka di depannya. Ia tidak banyak gestur berlebihan, hanya sesekali menggeser brosur site plan mendekat ke klien.
“Pak Rian, Bu Alya, skemanya jelas ya. Di sini tidak ada bunga, tidak ada penalti keterlambatan berbasis persen. Akadnya murabahah. Harga kita sepakati di awal, lalu dicicil tetap sampai lunas,” ucapnya tenang.
Pak Rian menautkan jemari. “Jadi totalnya sudah fix dari awal, Pak? Tidak berubah meski tenor lima belas tahun?”
“Betul,” jawab Adnan sambil menunjuk angka di lembar simulasi. “Harga rumahnya 650 juta. Margin kami transparan. Total menjadi 820 juta. Itu yang dicicil. Tidak ada denda berbunga kalau terlambat, hanya ta’zir sesuai kesepakatan.”
Istrinya mengangguk pelan. “Lalu bagaimana dengan sertifikat?”
“Atas nama Bapak-Ibu sejak akad. Kami hanya pegang pengikatan sampai lunas.”
Staf menyerahkan draft akad. Suasana hening beberapa detik, hanya suara kertas dibalik.
Pak Rian menarik napas.
“Baik, Pak Adnan. Kami lanjut.”
Adnan tersenyum tipis, menjabat tangan mereka mantap. “InsyaAllah, semoga jadi rumah yang membawa berkah.”
Setelah pasutri itu pamit. Adnan duduk di kursinya. Yang sepersekian detik berikutnya. Mama menelfon. Adnan menerimanya dengan cepat.
"Assalamualaikum." Mama menyapa lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam. Ma?"
"Nan, kamu sudah nerima surat undangan khitan dari keponakanmu?"
"Iya, Ma."
"Kalau sudah. Kamu ajak Zahra untuk kondangan sekalian ya."
"Ma, aku kayaknya nggak bisa pergi sama Zahra."
"kenapa? Dia kan istrimu. Kamu jangan gitu dong," ujar Mama.
Adnan masih bergeming memainkan pena yang sedang ia pegang.
"Intinya kamu harus pergi ke sana sama istrimu. Ayo, kenalkan pada mereka, Ya."
Adnan menghela nafas berat. Mengiyakan saja meskipun kadang tidak saras dengan hatinya. Panggilan pun berakhir. Disusul berikutnya pesan dari Zahra yang mengucapkan terima kasih setelah Adnan mengirim dokter untuknya. Kini i merasa lebih baik setelah mengkonsumsi obat.
Adnan mengetik pesan balasan, namun buru-buru dihapus. Ia meletakan kembali ponselnya kemudian melanjutkan pekerjaannya.
semoga saja otor memberi kamu kesengsaraan dan penyesalan yang lebih dari kamu kehilangan istri pertamamu.