Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Kepanikan Bintang
"Apa yang sebenarnya terjadi pada mu, gadis sekecil ini harus menanggung beban yang begitu besar." Ucap Xavier lirih sambil mengelus lembut pipi Bintang yang tampak masih tertidur pulas.
"Apakah ini alasanmu yang sebenarnya? Inikah alasan yang membuatmu bagitu sangat ingin masuk kedalam keluarga Alexander? Maaf jika awal kita bertemu meninggalkan kesan yang kurang menyenangkan." Ucap Xavier sambil mengecup dahi Bintang ringan sebelum beberapa saat kemudian ikut juga terlelap disampingnya.
####
Tok! Tok! Tok!
"Kak! Kak! Kak!" Teriak Axel dari luar kamar itu.
"Berisik sekali," Gerutu Xavier sambil mengusap wajahnya kesal.
"Masuk," Teriak Xavier dari dalam.
"Kak... Kakak kemanakan Bintang?" Tanya Axel sambil terus melangkah masuk kedalam kamar itu.
Kamar dengan nuansa yang monokrom, semuanya didominasi dengan warna hitam dan abu-abu. Dari wallpaper, hingga semua furniturenya, Benar-benar mencerminkan kepribadian seorang Xavier yang datar dan dingin.
"Adik Bintang?" Ucap Axel lagi sambil membelalakan matanya dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya yang terbuka lebar.
"Jangan ganggu, biarkan Dia istirahat dengan tenang," Ucap Xavier sambil duduk kembali disofa dan meneruskan memeriksa berkas yang baru saja dikirimkan oleh Mark padanya.
"Kak... Adik Bintang sakit apa?" Tanya Axel pelan sambil menatap wajah bintang yang sudah mulai terlihat memerah dan tidak memucat lagi.
"Hanya kelelahan, dan kurang istirahat." Sahut Xaviera singkat sambil terus membuka lembaran berkas itu lalu menanda tanganinya.
"Benarkah?" Axel bertanya seolah tidak percaya tanpa mengalihkan pandangannya dari atas ranjang.
"Tunggu saja, sebentar lagi mungkin sudah bangun," Xavier sontak menatap Axel yang bertanya seolah meragukan perkataannya.
"Kak... Besok Adik Bintang kira-kira sudah sehat kembali belum ya?" Tanya Axel lagi dengan raut wajah yang khawatir bercampur takut.
"Besok hari pertama masuk sekolah, kemarin Dialah yang paling bersemangat untuk sekolah," Sambung Axel lagi.
Lalu, tak lama kemudian, dengan lancar Axel menceritakan semua kejadian yang menimpa Bintang saat bertemu dengan Kalla dan Aurora kemarin.
Xavier hanya mendengarkan saja apa yang diceritakan oleh Axel dengan tangan yang menggenggam erat pena yang ada dalam genggamannya itu, walau diakuinya kemarin dirinya sendiri juga ikut menyaksikan langsung semua rentetan kejadian itu.
#####
"Akhh..." Terdengar suara lirih dari atas ranjang.
"Ada dimana aku? Sepertinya ini bukan kamarku... " Ucap Bintang pelan sambil memperhatikan sekelilingnya, dan saat dirinya melihat keatas meja, disana terpampang foto Xavier.
"Astaga... Ya Tuhan... Apa yang sudah aku lakukan? Mengapa aku didalam kamar singa itu..." Ucap Bintang pelan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dan mata yang melotot.
"Sepertinya aku mempunyai penyakit tidur sambil berjalan," Gerutunya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dan mencoba mengingat kejadian sebelumnya, mengapa dirinya bisa berada dalam kamar itu.
"Untung Si singa itu belum pulang," Ucap Bintang lagi sambil menurunkan kakinya pelan, dan dengan berjalan mengendap dan berjinjit, Bintang meninggalkan kamar itu.
Xavier hanya tersenyum tipis, merasa lucu melihat kelakuan Bintang yang tampak takut dan mengendap-ngendap keluar dari kamarnya dengan kaki yang berjinjit.
"Dasar bodoh... Apa Dia tidak berfikir jika aku yang membawanya masuk kedalam kamar ini." Ucapnya lagi sambil melangkah keluar dari kamar mandi itu dengan menggunakan piyama.
*
*
*
"Selamat pagi... Pagi Nek, pagi Kakak keempat," Sapa Bintang dengan ceria, lalu mengambil tempat duduk disamping Axel yang sedikit lebih jauh dari Xavier.
Xavier tampak menatap Bintang sambil mengerutkan dahinya, karena hanya dirinya saja yang tidak disapa, dan bahkan Bintang juga tampak sangat menghindari dirinya itu terlihat dari sikap Bintang yang tidak menatap pada dirinya sedikitpun, padahal dirinya duduk di kursi kepala keluarga.
Lalu, tanpa disadarinya Xavier mendengus lirih, membuat semua orang menatap dirinya, Axel dengan gerakan pelan menyenggol tangan Bintang lalu memberikan isyarat untuk menyapa Xavier.
Membuat Bintang menelan ludahnya kasar, karena tiba-tiba teringat, jika dirinya sudah berani tidur dalam kamarnya.
"Pagi, Tuan muda..." Sapa Bintang lalu dengan cepat menundukkan kembali kepalanya, setelah melihat sekilas wajah Xavier yang terlihat tidak suka.
#####