Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Adrian di Medan Latihan
Adrian di medan latihan tampak sangat berbeda dengan sosok yang ia temui di meja makan mansion mewah tadi pagi. Dari balik jendela kelas di lantai dua, Lana memperhatikan suaminya yang sedang memberikan instruksi tegas kepada barisan prajurit bersenjata lengkap.
Pria itu melepaskan baret hitamnya, membiarkan rambut pendeknya tersapu angin sementara keringat membasahi seragam loreng yang melekat gagah di tubuh tegapnya. Setiap gerakan Adrian memancarkan kekuatan yang sangat dominan hingga membuat para siswa laki-laki di kelas Lana menatap dengan penuh kekaguman.
Namun bagi Lana, pemandangan itu adalah pengingat bahwa ia terikat pada seorang pria yang terbiasa hidup di antara desing peluru dan bau mesiu. Lana mencengkeram pinggiran jendela kayu dengan jemari yang memucat karena rasa takut yang kembali merayap di relung hatinya.
"Kenapa pria sehebat itu berada di lapangan dekat sekolah kita, apakah sedang ada ancaman bahaya?" tanya Maya sambil ikut melongok ke arah jendela.
Lana tersentak dan segera mundur beberapa langkah untuk menghindari tatapan tajam yang mungkin saja diarahkan Adrian ke arah kelasnya. Ia menggelengkan kepala dengan cepat sambil menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik punggung seragam putih abu-abu miliknya.
Ketegangan di dalam kelas semakin meningkat saat terdengar suara dentuman keras dari arah medan latihan yang menandakan latihan peledakan dimulai. "Mungkin saja itu hanya latihan rutin militer yang sudah dijadwalkan sejak lama oleh pemerintah," jawab Lana dengan nada suara yang terdengar sangat kaku.
Maya memicingkan mata sambil terus memperhatikan reaksi tidak wajar yang ditunjukkan oleh teman sebangkunya yang tiba-tiba menjadi sangat pendiam. Dari kejauhan, Adrian tiba-tiba memutar tubuhnya dan menatap tepat ke arah barisan jendela ruang kelas tempat Lana berada sekarang.
Meskipun jarak mereka cukup jauh, Lana bisa merasakan tatapan mata elang itu seolah menembus kaca jendela dan menguliti seluruh rahasianya. Adrian kemudian memberikan isyarat kepada seorang ajudan yang langsung berlari cepat menuju gerbang sekolah dengan membawa sebuah amplop cokelat.
Lana merasakan firasat buruk yang sangat kuat saat melihat ajudan tersebut berbicara dengan satpam sekolah sambil menunjuk ke arah lantai dua. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia merasa sulit untuk sekadar menghirup udara yang terasa sangat tipis di ruangan itu.
"Lana, ada seseorang yang mencarimu di depan kelas sekarang juga," teriak seorang siswa dari arah pintu masuk dengan wajah penuh kebingungan.
Lana melangkah keluar dengan kaki yang terasa seberat timah sementara seluruh pasang mata di koridor sekolah tertuju sepenuhnya kepada dirinya. Di sana berdiri sang ajudan yang tadi ia lihat di medan latihan dengan posisi tegak sempurna sambil memegang amplop cokelat berstempel resmi militer.
Sang ajudan memberikan hormat yang sangat kaku hingga membuat beberapa guru yang lewat berhenti untuk menyaksikan kejadian langka tersebut. "Nyonya, Kolonel Adrian memerintahkan Anda untuk segera pulang karena ada situasi darurat yang tidak bisa ditunda lagi," ucap sang ajudan dengan suara yang lantang.
Kata nyonya yang diucapkan dengan sangat jelas itu seketika membuat suasana koridor sekolah menjadi sunyi senyap seperti kuburan di tengah malam. Lana merasa dunianya seakan berhenti berputar saat menyadari bahwa rahasia pernikahannya telah terbongkar di hadapan seluruh warga sekolah tanpa sisa.
Ia tidak berani menoleh ke arah teman-temannya yang kini sedang menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan keterkejutan dan juga kecurigaan. "Apa yang terjadi, apakah ada musuh yang sedang menyerang mansion kami?" tanya Lana dengan suara yang nyaris hilang karena rasa panik.
Ajudan tersebut tidak memberikan penjelasan lebih lanjut dan hanya memberikan isyarat agar Lana segera mengikuti langkahnya menuju area parkir. Di lapangan latihan, Lana bisa melihat Adrian sedang masuk ke dalam mobil baja hitam dengan raut wajah yang tampak sangat gelap dan penuh kemarahan.
Lana menyadari bahwa kedamaian singkatnya sebagai seorang siswi telah hancur selamanya karena perintah sang suami yang tidak bisa dibantah. Pulang sekolah dijemput pasukan bersenjata lengkap akan menjadi awal dari konfrontasi hebat yang harus ia hadapi setibanya di kediaman mereka nanti.