Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesal yang Tak Terucap
Elara menarik napas panjang, lalu bersedekap. “Dia menyuruhku mengantar bunga, memindahkannya ke kamar, lalu menyuruhku membuangnya begitu saja. Setelah itu aku dipaksa memasak. Padahal jelas-jelas aku bukan pelayan dapur.”
“Apa?” Mata Eryn membulat. “Kurang ajar sekali.”
“Belum selesai,” lanjut Elara dengan nada semakin tajam.
“Saat aku hendak pulang, dia masih sempat memerintahku membuatkan jus. Seolah aku tidak memiliki hak atas waktuku sendiri.”
Eryn mengepalkan tangan. “Ini keterlaluan. Dia Marquis, benar, tapi bukan berarti bisa bertindak sewenang-wenang seperti itu.”
Elara melirik Eryn. “Dari pagi hingga sore dia seperti sengaja menguji kesabaranku.”
“Kalau begitu,” Eryn menegakkan bahunya, suaranya meninggi penuh percaya diri,
“besok aku akan menemuinya. Aku akan bicara langsung pada Marquis Lucein. Tidak bisa dia memperlakukanmu seperti itu.
Elara menatap Eryn ragu. “Kau serius?”
“Tentu,” jawab Eryn cepat.
“Aku tidak takut. Apa yang bisa ia lakukan padaku?”
Belum sempat Elara menjawab, terdengar dehaman berat dari belakang mereka.
“Ehem.”
Tubuh Eryn langsung menegang. Bahunya yang tadi tegap mendadak turun. Wajahnya memucat sepersekian detik sebelum ia berbalik.
“P-Paman Alden!” serunya, lalu seketika memasang senyum lebar yang dibuat-buat.
“Sore yang sangat cerah, ya? Cuacanya sungguh bersahabat hari ini.”
Alden menatap Eryn dengan sorot mata datar.
“Kalian berdua sedang apa disini?.”
“Kami hanya berbincang ringan. Sama sekali tidak membicarakan hal penting.” sahut Eryn dengan cepat.
Elara menahan diri agar tidak mendesah kesal.
Alden mengalihkan pandangan pada Elara.
“Kau sudah pulang dari mansion?”
“Sudah, Paman,” jawab Elara sopan, meski nadanya terdengar lelah.
“Baik. Mari kita pulang.”
“Iya, Paman,” ujar Eryn patuh, masih dengan senyum cengengesannya.
Saat Alden berjalan lebih dulu, Elara melirik Eryn tajam.
“Katanya tadi ingin melabrak Marquis,” bisiknya.
“Kita… bicarakan lain kali saja. Dengan perhitungan yang matang.” Eryn tertawa kecil, kering.
Elara menggeleng pelan. “Pengecut.”
Eryn hanya terkekeh, tidak berani membantah.
Di kejauhan, lampu-lampu Valenbourg mulai menyala, sementara kesal di dada Elara belum juga mereda.
Elara duduk di depan meja belajarnya dengan punggung tegak, namun jemarinya saling bertaut gelisah. Sebuah buku terbuka terbengkalai di hadapannya, tetapi sejak tadi tak satu pun kata benar-benar ia baca. Pandangannya justru tertuju lurus ke halaman luas di depan rumah, yang kini diselimuti cahaya remang lampu taman.
Angin malam menggerakkan tirai tipis di jendela, menimbulkan suara gesekan pelan yang seharusnya menenangkan. Namun bagi Elara, itu hanya menambah keresahan di dadanya.
Elara menghela napas perlahan.
“Kenapa aku harus memikirkannya…Seenaknya memerintah orang,” desisnya kesal.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.
“Elara,” suara Alden terdengar dari luar
“Apakah kau belum tidur?”
“Belum, Paman. Aku masih belajar.”
Pintu terbuka perlahan. Alden berdiri di ambang pintu, menatap ke arah Elara dengan sorot mata penuh perhatian.
“Sudah larut. Jangan terlalu memaksakan diri.”
“Iya, Paman,” jawab Elara patuh.
Alden melirik sekilas ke arah jendela, lalu kembali pada Elara.
“Sejak pulang tadi, wajahmu tampak murung. Apakah ada sesuatu?”
Elara terdiam sejenak. Bibirnya terkatup rapat, seolah menimbang apakah dia boleh berkata jujur.
“Tidak ada apa-apa, Paman,” ucapnya memilih diam.
Alden tidak memaksa. Dia hanya mengangguk pelan.
“Baiklah. Jika lelah, beristirahatlah. Besok kau harus berangkat sekolah.”
“Terima kasih, Paman.”
Setelah Alden menutup pintu dan langkahnya menjauh, Elara kembali menatap halaman luas itu. Lampu-lampu taman berdiri diam.
“Tidak apa-apa, Elara. Kau hanya perlu menghindarinya,” ucapnya lirih, seolah memberi penguatan pada diri sendiri.
Elara menutup buku di hadapannya, berdiri, lalu melangkah menjauh dari jendela. Malam itu berakhir tanpa kejadian lain.