Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adam kehilangan kendali
Malam itu Adam kembali dilanda kegelisahan.
"Esok hari Harun akan pulang dari Australia." Berkali-kali tangannya meraih ponsel di atas meja, namun selalu ia urungkan.
Adam ingin menyuruh Harun menunda kepulangannya, tetapi alasan apa yang bisa ia berikan? Justru dialah yang seharusnya sudah kembali ke Australia sejak kemarin.
Adam terduduk di tepi ranjang, menatap lampu kamar yang menyala temaram. Dadanya terasa sesak, pikirannya kacau. Dengan suara lirih bercampur frustasi, ia bergumam,
“Ayo, Kek… datanglah lagi. Hantui aku sekali saja… supaya Hawa kembali berada di kamar ini.”
Saat terbangun, Adam menyadari ia tertidur sangat lelap malam itu, tanpa gangguan mistis dari sang kakek seperti biasanya.
“Sial… di saat aku membutuhkannya, justru ia tidak datang.” Kalimat itu keluar begitu saja, ngawur, tapi jujur, mencerminkan betapa rapuhnya hati Adam malam-malam tanpa Hawa.
Pukul 08.00 WIB
Pagi itu rumah besar terasa berbeda. Udara masih dingin, namun dapur justru hangat oleh aroma masakan yang menyeruak. Hawa tampak sibuk sejak subuh. Rambutnya diikat rapi, wajahnya segar, dan kedua tangannya tak henti bergerak, mengaduk, mencicipi, menata hidangan satu per satu di atas meja.
Wanita itu membuka ponsel sesekali, memastikan waktu sudah berjalan artinya:
"Sebentar lagi Mas Harun akan sampai…" batinnya, bersemangat menyudahi kesibukannya di dapur.
Senyum tipis tersungging di bibirnya. Hari ini ia ingin semuanya sempurna. Ia mencoba beberapa resep baru dari buku masak koki terkenal dan menu sarapan favorit Harun dari Rani si ibu mertua. Ia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Harun.
Langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Adam turun perlahan, satu anak tangga ke anak tangga berikutnya, seolah menghitung jarak. Namun bukan tangga yang menjadi fokusnya, melainkan sosok Hawa di dapur. Matanya mengintai tajam, memperhatikan setiap gerakan kecil wanita itu.
Entah sejak kapan pemandangan itu justru membuat dadanya panas.
"Begitu sibuk… begitu perhatian…tapi bukan untukku," batinnya.
Adam duduk di kursi meja makan dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar.
“Harun tidak pantas mendapatkan perhatian istimewa seperti ini,” gumamnya penuh kecemburuan.
Ia menyandarkan punggung dengan suara datar, namun dingin berkata,
“Aku mau kopi.” Nada suaranya seperti perintah, bukan permintaan.
Hawa menoleh. “Sebentar ya, Mas,” jawabnya lembut, tanpa menyadari sorot mata Adam yang menggelap.
Ia segera menuangkan kopi panas ke dalam cangkir dan membawanya ke meja. Meletakkannya perlahan di depan Adam.
“Sebentar lagi Mas Harun datang,” ujar Hawa sambil tersenyum tipis. “Kita sarapan sama-sama, ya.”
Kalimat itu menusuk Adam lebih dalam dari yang ia duga.
Belum sempat Hawa berbalik, tangan Adam tiba-tiba meraih pergelangan tangannya. Tarikannya kuat dan mendadak, membuat tubuh Hawa kehilangan keseimbangan.
“Mas!”
Dalam sekejap, Adam menarik Hawa ke pangkuannya. Tubuh Hawa kaku. Napasnya tercekat, jantungnya berdentum keras seolah hendak keluar dari dadanya.
Adam memeluknya dari belakang, cukup hangat dan terlarang..
“Apa kamu tahu,” ucap Adam dengan suara rendah dan dingin, “harummu hari ini berbeda.” Ia mengendus punggung Hawa, membuat bulu kuduk wanita itu meremang ketakutan.
“Kamu benar-benar sudah siap menyambut Harun,” lanjutnya sinis. “Mandi, rapi, cantik… perhatianmu luar biasa.” pungkasnya, ada balutan kecemburuan yang terlalu gengsi untuk diungkapkan.
Mata Hawa melebar. Tenggorokannya kering.
“Mas, lepaskan aku,” ucapnya bergetar. “Ini tidak pantas. Kamu kakak iparku!”
Ia berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman Adam justru semakin menekan. Ketika kesempatan datang, Hawa menginjak kaki Adam sekuat tenaga.
“Au!”
Adam refleks melepas pegangan.
Hawa segera berdiri dan berlari menjauh menuju dapur, napasnya memburu penuh kebingungan.
“Sadar, Mas!” bentaknya dengan suara bergetar namun tegas. “Aku bukan istrimu!”
Namun Adam tidak berhenti. Ia mendekat, langkahnya cepat dan penuh tekanan. Hawa mundur hingga punggungnya menyentuh meja dapur. Otaknya berpacu, ingin sekali berteriak memanggil Bik Atun atau Pak Arga yang tengah sibuk menata taman di depan rumah, namun ketakutan dan rasa malu masih menahannya.
Adam mendorongnya hingga tubuh Hawa terjepit di antara meja dan dirinya.
“Adam!” teriak Hawa marah sekaligus panik.
“Bukankah Hawa tercipta untuk Adam?” ucapnya dengan tatapan yang membuat Hawa gemetar.
Hawa terus berontak, air matanya mulai menggenang ketakutan jikalau ada yang melihat “Lepaskan aku!”
Adam semakin mendekat, napasnya berat, kendali dirinya runtuh oleh kecemburuan dan nafsu yang salah arah.
“Kalau Harun tidak bisa menyelesaikan malam pertamanya biar aku yang selesaikan!” ucap Adam lirih namun tajam dibawah kendali nafsu, “kita bisa mulai sekarang...”
“Jangan gila kau Adam!” potong Hawa histeris.
Tenaganya mulai habis. Tubuhnya gemetar hebat. Saat Adam hampir berhasil menarik wajahnya dan mendapatkan bibir Hawa...
"TLING!!" Suara bel rumah memecah udara.
“Hawa!” Suara itu begitu dikenalnya.
Di saat Adam lengah dengan suara bel, Hawa mengerahkan sisa tenaganya, mendorong Adam sekuat mungkin hingga pria itu hampir terhuyung. Hawa segera berlari menuju pintu, langkahnya goyah, tubuhnya masih bergetar, ia buru-buru memperbaiki rambutnya yang sempat berantakan akibat ulah Adam.
“Mas Harun…” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, menahan tangis agar tidak jatuh di tempat.
Di belakangnya, Adam berdiri terpaku, napasnya masih kasar.
“Sial…” geramnya pelan, amarah dan frustrasi membakar dadanya karena gagal menuntaskan niat kotor yang bahkan ia sendiri tahu itu salah.
“Mas…!” Hawa langsung memeluk Harun dengan erat, seolah mencari perlindungan dari suaminya sendiri.
Dari kejauhan, Adam menatap tajam pemandangan itu sambil mengepal tangannya kuat-kuat. Dadanya bergemuruh oleh amarah. Hawa memeluk Harun.
Pria yang diam-diam telah mengkhianatinya, sementara ia hanya bisa berdiri menjadi saksi.
“Aku bawa semua yang kamu mau. Semuanya ada di mobil,” ucap Harun dengan nada manis menatap Hawa.
“Makasih ya, Mas,” balas Hawa tersenyum.
Harun mengamati wajah istrinya. “Kamu kenapa?”
“Gak apa-apa, Mas. Mataku cuma kelilipan,” jawab Hawa sambil menghela napas pelan. Menyembunyikan apa yang terjadi.
“Oh…” Harun mengangguk.
Tak lama kemudian, Hawa menoleh ke arah ruang makan.
“Mas Adam sudah ada di meja makan. Ayo sarapan," ajak Hawa kepada Harun.
“Pas banget, sayang. Aku lapar sekali,” ujar Harun ringan.
“Run, mari sarapan,” ajak Adam santai. Suaranya terdengar normal, tenang, stabil, seolah tak ada apa pun yang mengusik pikirannya sejak pagi tadi.
Namun jantung Hawa masih berdebar tak karuan. Perasaan gelisah itu tak juga reda. Semakin ia mencoba memahami Adam, semakin ia merasa asing. Padahal selama ini, Hawa benar-benar tulus menganggap Adam tak lebih dari seorang kakak ipar yang baik, sosok yang disegani, dihormati, dan seharusnya berada di batas aman perasaannya.
Hawa menghidangkan sarapan dengan gerakan hati-hati, lalu duduk di sebelah Harun. Tangannya sedikit gemetar saat menyendokkan nasi, berusaha bersikap setenang mungkin.
“Istrimu pintar memasak,” puji Adam tiba-tiba, disusul senyum yang tampak ramah namun terasa dibuat-buat. “Dan dia juga begitu sabar merawat aku.” Tatapannya melirik ke arah Hawa. Sekilas saja, tapi cukup membuat Hawa menunduk lebih dalam. Ia tak berani membalas pandangan itu, takut perasaannya terbaca.
“Kak sebaiknya segera kembali ke Australia, Felix butuh pengawasan mu!" ucap Harun akhirnya, memecah keheningan.
Adam menghela napas pelan. “Aku masih ingin di sini,” ucapnya. “Aku janji akan memantau semua jalannya kerja Felix dari sini. Lagipula tubuhku belum sepenuhnya pulih…” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah, “dan aku takut kakek menghantuiku lagi di sana.”
Suasana meja makan mendadak terasa berat.
“Ah, sebaiknya kita sarapan dulu, baru bicara banyak” Adam menyudahi pembicaraan sambil tersenyum lebar. Tapi dua bola matanya kembali tertuju pada Hawa yang sejak tadi hanya menunduk, seakan bersembunyi di balik piringnya sendiri.
Keheningan pun kembali menyelimuti
mereka, menyisakan perasaan-perasaan yang tak terucap namun terasa semakin nyata.