Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Bayangan dari Masa Lalu
Kehidupan ganda Aluna berjalan bak pisau bermata dua. Di satu sisi, pekerjaan di Rumah Sakit Merdeka memberinya kepuasan profesional dan pelarian mental dari rumah tangga yang dingin. Di sisi lain, setiap kali pulang, ia harus menghadapi dinginnya Arvino yang kini diselimuti rasa cemburu dan marah yang terkendali.
Arvino semakin memperketat kendali. Dia sering menelepon ke rumah saat jam kerjaku, hanya untuk memastikan aku ada. Jika aku terlambat pulang lima menit, dia akan menatapku dengan tatapan mengintimidasi.
"Kau pasti berkencan. Kau sudah berani keluar, jadi kau pasti mencari pengganti," tuduhnya suatu malam.
"Aku bekerja, Kak. Aku menangani pasien. Kau boleh check dengan Rumah Sakit Merdeka kapan pun kau mau," balasku dingin, lelah meladeni paranoia yang berakar dari dendamnya.
Tiga minggu berlalu dalam ketegangan yang konstan. Sampai suatu malam, Papa dan Mama Hardinata mengadakan acara amal tahunan di hotel bintang lima, acara yang wajib dihadiri oleh seluruh direksi dan keluarga besar.
Aku terpaksa berdampingan dengan Arvino. Malam itu, aku mengenakan gaun panjang sederhana berwarna hitam, sementara Arvino mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya tampak luar biasa gagah. Kami berjalan layaknya pasangan suami istri yang sempurna di mata publik: Aku bergelayut di lengannya (sebagai sandiwara), sementara dia memaksakan senyum yang tidak pernah mencapai matanya.
Saat sedang menyapa kolega Papa, Arvino tiba-tiba menegang.
"Arvino?"
Suara itu lembut, bernada manja, dan familiar bagi Arvino. Kami menoleh.
Berdirilah seorang wanita cantik dengan gaun merah maroon yang elegan, rambutnya ditata rapi, dan senyumnya memikat. Dia tampak dewasa dan sangat percaya diri.
"Clara," sapa Arvino. Ada getaran yang tak bisa disembunyikan dalam suaranya—campuran kejutan dan nostalgia.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Aku baru kembali dari Paris. Aku dengar kabar Sarah... aku turut berduka, Vin," ujar wanita itu, Clara. Dia menatap Arvino dengan sorot mata yang penuh simpati, namun matanya sama sekali tidak menunjukkan kesedihan.
Dia kemudian mengalihkan perhatiannya padaku. Matanya menyapu penampilanku dari ujung rambut ke ujung kaki, lalu memancarkan rasa ingin tahu yang samar.
"Dan ini...?" tanya Clara, mengulurkan tangan.
Arvino, yang tadinya menggenggam tanganku, tiba-tiba melepaskannya.
"Ini Aluna. Dia... istriku," kata Arvino, dengan jeda yang terasa seperti penolakan.
"Aluna... oh," Clara tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata. "Adik Sarah, kan? Aku ingat. Dulu masih remaja, sekarang sudah... dewasa. Selamat ya, Aluna. Kalian pasti menikah karena wasiat Sarah. Itu sangat mulia, Vin. Sarah pasti sangat mencintaimu sampai dia mempercayakan adiknya untuk merawatmu."
Kalimat Clara—wasiat, mulia, merawat—bukan pujian, tapi pengingat yang menyakitkan akan statusku. Aku hanya pelayan yang datang karena kewajiban, bukan pilihan.
"Terima kasih, Kak Clara," jawabku, berusaha tersenyum ramah.
"Clara baru kembali dari Paris, dia sedang mengurus pengembangan galeri seninya di sini," Arvino menjelaskan padaku, seolah aku butuh informasi itu. Matanya terpaku pada Clara.
"Aku sangat sedih, Vin. Kamu pasti sangat kesulitan. Jujur, aku terkejut melihatmu sudah menikah lagi. Tapi aku mengerti, Lili butuh sosok ibu. Kuharap Aluna bisa melayani kebutuhanmu di masa sulit ini," kata Clara, kalimatnya manis di luar, tapi racun di dalamnya. Ia memposisikan dirinya sebagai teman lama yang mengerti, dan aku sebagai istri pengganti yang melayani.
"Aku mengurus kebutuhan Lili," balasku cepat, tidak terima dengan kata 'melayani'.
"Tentu saja. Tapi yang kubutuhkan, Clara, adalah seseorang yang mengerti," Arvino menyela, menatap Clara dengan tatapan yang penuh kerentanan—tatapan yang belum pernah kulihat darinya.
Clara mengangguk lembut. "Aku tahu, Vin. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku selalu ada jika kamu butuh teman bicara."
Mereka terus berbicara, mengabaikanku. Mereka memiliki sejarah yang tidak bisa kumasuki, membagi masa lalu yang hangat yang aku—sebagai adik ipar—tidak pernah benar-benar tahu detailnya.
Aku berdiri di sana, di samping suamiku yang sah, tapi aku terasa seperti barang pajangan. Sebuah peringatan bisu tentang wasiat dan kewajiban.
Setelah acara itu, kehadiran Clara terasa nyata, bahkan di dalam rumah kami.
Arvino mulai sering pulang larut. Aku tidak peduli pada awalnya, karena itu berarti aku tidak perlu tidur di sofa yang sama dengannya. Tapi kemudian, aku mendengar percakapan antara Mama dan Nenek di taman.
"Mama tidak suka dengan Clara itu. Dia sengaja datang di saat Arvino sedang rapuh. Dia tahu Arvino putus dengannya karena Sarah, dan sekarang dia mau merebut Arvino kembali," keluh Mama.
"Arvino sedang mencari comfort. Aluna tidak bisa memberikannya," balas Nenek. "Bukan salah Aluna, tapi Arvino menjadikannya musuh. Tentu saja dia lari ke Clara yang pura-pura simpati."
Malam itu, saat Arvino pulang, aku sudah menunggu di kamar utama.
"Kak, jangan lupa nanti malam ada vaksinasi Lili. Aku sudah set up semuanya," kataku datar, sambil berpura-pura membaca jurnal.
Arvino masuk, melepas jam tangannya. Dia tampak lebih santai dari biasanya.
"Clara menanyakan kabarmu tadi," katanya tanpa ekspresi.
Aku mengangkat alis. "Tumben Kakak ingat aku."
"Dia bilang, aku harus lebih rileks. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, apalagi pada 'orang lain'," ujar Arvino, menyindirku. "Dia mengerti bagaimana rasanya terikat pada kewajiban. Dia bilang, aku harus bisa membedakan cinta dan kewajiban."
"Dia benar," jawabku, menutup jurnal. "Lalu? Apakah Kakak ingin membatalkan kewajiban kita?"
Arvino menatapku tajam. "Jangan senang dulu. Aku tidak akan membatalkan kewajiban pada Lili. Tapi aku bisa menemukan comfort di luar rumah ini, tanpa melanggar kontrak dengan Papa."
"Maksudnya Kakak ingin berselingkuh?" tanyaku, nada bicaraku stabil.
"Selingkuh?" Arvino tertawa sinis. "Kau pikir aku ingin tidur dengan Clara? Tidak. Aku hanya butuh teman bicara yang tidak menatapku seolah aku adalah monster yang harus dia hindari."
"Aku tidak pernah menatap Kakak begitu."
"Tatap matamu! Penuh luka! Penuh kebencian yang terpendam!" raungnya. "Aku merasa bersalah setiap kali melihatmu. Tapi Clara, dia melihatku sebagai korban. Dia melihatku sebagai pria yang kehilangan cintanya. Jadi, aku akan sering menemuinya. Dan kau..."
Arvino menunjukku.
"...kau tetap jalankan kontrakmu sebagai ibu Lili. Tapi jangan ganggu urusan pribadiku."
Aku merasa dingin menjalar di punggungku. Ancaman ini lebih berbahaya dari sekadar ancaman cerai. Jika Arvino mulai menemukan kebahagiaan sejati dengan Clara, dia akan memiliki keberanian dan motivasi untuk melepaskan ikatan kontrak ini.
Dan jika ikatan ini putus, aku akan kehilangan Lili.
Aku tidak peduli jika Arvino kembali bersama Clara. Tapi aku tidak bisa kehilangan Lili. Bayi itu adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan di rumah beracun ini.
Aku harus melawan. Tidak hanya sebagai Istri Kontrak, tapi sebagai Dokter yang harus melindungi pasien utamaku: Lili.
...****************...
Bersambung...
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️