NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Boneka Hidup

Pagi datang membawa rasa kenyang yang aneh.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku bangun tanpa rasa sakit yang melilit di perutku. Roti lapis selai stroberi buatan Ciarán semalam telah melakukan tugasnya dengan baik—memberi makan monster di dalam diriku agar dia tidur tenang, setidaknya untuk beberapa jam.

Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.

Pintu kamarku diketuk dua kali. Ketukan cepat dan efisien yang tidak menunggu jawaban, sebelum daun pintunya terbuka lebar.

Bukan Ciarán.

Itu Eleanor.

Dia masuk seperti angin puyuh yang wangi, diikuti oleh Greta dan dua pelayan lainnya. Eleanor mengenakan gaun pagi sutra bermotif bunga peony yang cerah, wajahnya sudah dirias tipis namun sempurna. Di tangannya, dia memegang segelas jus jeruk, seolah-olah dia adalah iklan berjalan tentang kehidupan yang sehat dan makmur.

Aku duduk tegak di tempat tidur, menarik selimut menutupi dadaku, insting defensifku langsung menyala.

"Selamat pagi, Elara," sapa Eleanor dengan senyum cerah yang tidak mencapai matanya. Senyum itu adalah senyum seorang jenderal yang sedang meninjau pasukannya yang berantakan.

"Pagi," jawabku serak.

Eleanor berjalan ke tengah ruangan, matanya menyapu tumpukan kardus berisi baju-baju lamaku yang diletakkan Greta di sudut kamar kemarin sore. Kardus-kardus itu terlihat menyedihkan di atas karpet Persia yang mewah. Kardus mie instan yang penyok, berisi kaos-kaos pudar dan celana jeans yang sudah tipis di bagian pantat.

Hidung Eleanor berkerut sedikit. Sangat sedikit, tapi aku melihatnya.

"Greta," panggil Eleanor tanpa menoleh.

"Ya, Nyonya?"

"Bakar itu."

Darahku mendesir. "Apa?"

Eleanor menunjuk kardus-kardus itu dengan gelas jusnya. "Baju-baju itu. Bawa ke insinerator di belakang. Bakar semuanya. Jangan sampai ada sisa abu yang beterbangan ke taman."

"Tunggu!" Aku melompat turun dari tempat tidur, mengabaikan nyeri di kakiku. "Itu barang-barangku! Anda tidak berhak—"

"Elara," potong Eleanor lembut, tapi nadanya sekeras baja. Dia menatapku dengan tatapan seorang ibu yang lelah menghadapi balita yang tantrum. "Lihat tempat ini. Lihat ukiran di dinding. Lihat sutra di tempat tidurmu."

Dia berjalan mendekat, menyentuh bahuku dengan ujung jarinya.

"Kau sekarang adalah seorang Vane. Atau setidaknya, kau tinggal di bawah atap Vane. Dan aturan pertama di rumah ini adalah estetika."

Dia menatap kardus itu lagi dengan jijik. "Kalian tidak bisa memakai baju gembel itu di sini. Itu merusak pemandangan. Itu bau kemiskinan, sayang. Dan di rumah ini, kita alergi pada kemiskinan."

"Tapi hanya itu yang kupunya," kataku, suaraku mengecil. Baju-baju itu memang jelek, tapi itu sejarahku. Itu saksi bisu perjuanganku bertahan hidup. Membakarnya terasa seperti membakar kulitku sendiri.

"Tidak lagi," kata Eleanor. Dia menepuk tangannya dua kali.

Pintu kamar terbuka lebih lebar.

Dan masuklah parade itu.

Bukan satu, bukan dua, tapi tiga rak pakaian beroda didorong masuk oleh orang-orang asing berpakaian hitam modis. Mereka membawa serta kotak-kotak sepatu, tas-tas belanja, dan koper-koper berisi kosmetik.

"Aku memanggil Maison de Mode ke sini," kata Eleanor puas. "Karena jujur saja, aku tidak tega membawa kalian ke butik mereka dalam keadaan seperti ini. Kita akan melakukan renovasi total di sini. Sekarang."

Dia menatapku dari atas ke bawah, menilai rambutku yang kusut dan wajahku yang pucat.

"Kita akan mengupas kulit lamamu, Elara," bisiknya, terdengar seperti ancaman manis. "Dan kita akan menggantinya dengan sesuatu yang pantas dilihat oleh Ciarán."

Nama itu membuatku terdiam.

Ciarán.

Aku teringat tatapannya semalam. Tatapan yang tidak menghakimiku saat aku mencuri roti. Tatapan yang memberiku makan.

Jika aku ingin bertahan di sarang monster ini... jika aku ingin Ciarán terus menatapku... mungkin aku memang harus membuang kulit gembelku.

Aku menatap Greta yang mulai mengangkat kardus baju lamaku.

"Bakar," kataku pelan, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada pelayan itu. "Bakar saja semuanya."

***

Tiga jam berikutnya adalah neraka jenis baru.

Bukan neraka api, tapi neraka pita ukur.

Aku dan Lily diperlakukan bukan seperti manusia, tapi seperti manekin hidup. Kami disuruh berdiri di atas podium kecil di tengah kamar, sementara tangan-tangan asing meraba, menarik, dan melilitkan pita meteran dingin ke setiap inci tubuh kami.

"Lingkar pinggang enam puluh," gumam seorang asisten dengan mulut penuh jarum pentul.

"Bahu terlalu kurus. Kita butuh bantalan," sahut desainer utama, seorang pria kurus dengan kacamata berbingkai tebal yang menatapku seolah aku adalah kanvas kosong yang mengecewakan.

Lily ada di podium sebelahku. Berbeda denganku yang kaku seperti mayat, Lily menikmati setiap detiknya.

Dia tertawa kecil saat mereka mengukur lengannya. Matanya berbinar menatap deretan gaun yang digantung di rak. Bagi Lily, ini adalah adegan film putri dongeng yang menjadi nyata. Ibu Peri datang dan menyulap Cinderella.

"Kak, lihat warna ini!" pekik Lily riang. Dia menunjuk sebuah gaun musim panas berwarna kuning kenari yang cerah dengan pita-pita merah muda. "Seperti bunga matahari! Aku mau yang ini!"

Desainer itu mengangguk setuju. "Warna itu cocok untuk kepribadiannya yang... bubbly. Sangat muda. Sangat polos."

Lily mengambil gaun itu, menempelkannya ke tubuhnya, dan berputar. Kain kuning itu berkibar, kontras dengan kulit pucatnya. Dia terlihat bahagia. Dia terlihat hidup.

Tepat saat itu, pintu kamar yang terbuka dilewati seseorang.

Isabella Vane.

Dia berhenti sejenak di ambang pintu, memegang gelas latte di tangannya. Dia melirik ke dalam, menatap Lily yang sedang berputar dengan gaun kuning itu.

Hidung Isabella berkerut.

"Norak," celetuknya keras. "Dia terlihat seperti permen karet bekas yang dikunyah lalu dilepeh ke trotoar."

Senyum Lily layu seketika. Dia berhenti berputar, tangannya mencengkeram kain gaun itu erat-erat.

Isabella tidak menunggu reaksi kami. Dia mendengus remeh, lalu melenggang pergi, membiarkan komentar racunnya menggantung di udara.

Desainer itu berdeham canggung. "Abaikan saja. Kuning adalah warna yang... berani."

Aku menatap punggung Isabella yang menjauh. Lalu aku menatap Lily yang kini terlihat ragu dengan pilihannya.

Kemudian mataku beralih ke rak pakaian di depanku.

Desainer itu menyodorkan sebuah gaun pesta berwarna peach dengan banyak renda. "Untuk Anda, Nona Elara? Warna pastel akan melembutkan wajah Anda yang... tegas."

Aku menepis gaun itu pelan.

"Tidak," kataku datar.

Pikiranku melayang ke Ciarán.

Aku mengingat penampilannya. Di mobil saat pertama kali datang: Jas arang (charcoal). Di meja makan: Kemeja hitam. Di dapur semalam: Kaos hitam dan celana abu-abu.

Dia tidak memakai warna. Dia tidak memakai bunga-bunga atau warna pastel yang ceria.

Dunia Ciarán adalah monokrom. Dunia Ciarán adalah bayangan, ketegasan, dan ketiadaan emosi.

Jika aku memakai warna cerah seperti Lily, aku akan terlihat seperti badut di istananya yang gelap. Aku akan menjadi target empuk ejekan Isabella. Aku akan terlihat... lemah.

Aku tidak mau menjadi bunga matahari yang gampang dipetik. Aku ingin menjadi bagian dari bayangan itu.

Aku berjalan melewati deretan gaun warna-warni itu, menuju ujung rak yang paling gelap.

Tanganku menyentuh sebuah gaun sederhana berbahan satin tebal. Warnanya biru tua, sangat tua hingga nyaris terlihat hitam (midnight blue). Potongannya tajam, tanpa renda, tanpa pita. Minimalis. Dingin.

"Aku mau yang seperti ini," kataku, menarik gaun itu keluar. "Warna gelap. Potongan lurus. Tidak ada motif bunga. Tidak ada warna pastel."

Desainer itu mengerutkan kening. "Itu akan membuat Anda terlihat... sangat dewasa. Mungkin terlalu serius untuk usia Anda."

"Aku tidak di sini untuk bermain," jawabku, menatap bayanganku di cermin. "Cari semua yang berwarna hitam, abu-abu, dan biru malam. Buang sisanya."

Aku akan memakai seragamnya. Aku akan memakai warnanya.

Karena jika aku ingin monster itu melihatku sebagai miliknya, aku harus berhenti terlihat seperti korban, dan mulai terlihat seperti dia.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!