Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memergoki Abi dan Wulan
Tiga hari berlalu begitu saja, Dewi sudah berada di restoran milik pak Dhe sedang Abi bahkan lupa kalau Dewi masih di kalimantan karena kesibukannya sendiri.
Hari ini Abi mengajak Wulan untuk makan siang di luar, keduanya nampak sangat senang karena barusaja mendapat proyek baru dari sang papa.
"Kalau kamu kayak gini terus aku yakin papa makin suka sama kamu mas" ucap Wulan dengan yakin sembari memeluk Abi.
"iya sayang, kamu benar..aku sudah banyak berkontribusi dalam beberapa proyek papa, sebentar lagi papa pasti akan mempercayakan perusahaannya sama kita, lalu kita akan siap memiliki keturunan, apa kamu enggak mau punya anak sayang hemmm?!" ucap Abi sembari menoel dagu Wulan.
"Tentu saja mau lah mas, itu kan buah cinta kita!" jawab Wulan dengan serius.
"Bagus lah aku senang mendengarnya sayang, aku akan mengajakmu makan di luar, perusahaan baru saja memberiku bonus, aku akan memanjakanmu hari ini" ucap Abi pada Wulan supaya sang istri makin sayang padanya.
"Boleh mas, aku sudah lama enggak belanja, aku mau hari ini belanja sepuasnya dan kamu yang bayar!" ucap Wulan dengan senang hati.
Mereka berdua pun segera berangkat keluar kebetulan hari ini adalah hari minggu.
Hp Abi tiba-tiba bergetar, ada panggilan masuk dari Bu Kokom.
"Halo" sapa Abi lirih sembari menjauh dari Wulan.
"Abi, ibu mu mau bicara" ucap bu Kokom pada Abi.
"Ya bu silahkan" jawab Abi sopan. Abi tak berani sombong pada Bu Kokom karena dia tahu Bu Kokom paling jago ngegosip di kampung, tak berapa lama kemudian Bu Kokom pun memberikan Hp nya pada Bu Raminah.
"Abi, apa Dewi sudah sampai di sana, apa kamu sudah ketemu sama dia, apa dia baik-baik saja?!" Bu Raminah bertanya dengan tidak sabar.
"Bu...satu satu nanya nya, gimana Abi mau jawab kalau kayak gitu!" protes Abi.
"Abi, Dewi pergi ke sana dan tidak kasih kabar ke ibu, ibu cemas, tolong katakan sama ibu, apa menantu ibu baik-baik saja hah, kamu enggak marahin dia kam enggak pukul dia kan?!" desak Bu Raminah.
"Bu..Ibu ngomong apa sih, mana ada Abi sejahat itu, dia baik-baik saja kok, sekarang dia sudah bekerja dan tidak ada di rumah" jawab Abi yang terpaksa berbohong sama ibunya.
"Ah syukurlah kalau kalian sudah ketemu, ibu tenang jadinya, Abi kamu jangan sekali-kali sakitin Dewi, dia sudah banyak menderita bersama ibu, dia merawat ibu dengan sangat baik di sini, sekarang saatnya kalian bersama, dan secepatnya kasih ibu cucu ya nak, ibu rindu kalian!" ucap Bu Raminah sembari meneteskan air mata.
"Bu..ibu jangan cemas, Abi janji akan menjaganya, kami akan pulang kalau uang kami sudah cukup nanti ya bu, sekarang ibu jaga diri baik-baik di rumah Abi akan kirim uang buat ibu. Jangan lupa minum obat yang rutin ya bu, Abi masih ada kerjaan Abi tutup dulu, ibu baik-baik di sana!" ucap Abi yang kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Ada apa mas?" tanya Wulan saat Abi mendekat.
"Telpon dari ibu, kangen katanya" jawab Abi pelan.
"Hah..ibu kamu itu pasti mau minta uang lagi kan!" tebak Wulan.
"Ah enggak kok, dia hanya ingin dengar suaraku saja, lagian sayang ibu aku sudah tua dan aku anak satu-satunya, kalau aku nggak kasih dia uang bagaimana dia bisa makan" ucap Abi sedikit tersentil dengan ucapan Wulan, jujur saja Abi juga tidak senang jika Wulan menghina ibunya namun Abi pun tak berdaya dan tak berani membantah Wulan.
"Ya sudah aku enggak mau bahas ibu kamu lagi itu urusan kamu, aku enggak mau ambil pusing, ayok kita berangkat jangan sampai mood ku hilang gara-gara ini!" ucap Wulan ketus.Abi pun mengikutinya dari belakang, mereka segera berangkat.
Kita berpindah ke tempat lain, Dewi sudah bekerja di resto pal Dhe 2 hari ini, dia pun sudah bisa menyesuaikan diri, untung saja para pelayan di sana semua baik sama Dewi.
"Bagaimana, betah kerja di sini?" tanya Pak Dhe pada Dewi.
"Betah pak Dhe, ini mah enteng..sebelumnya Dewi kerja di pasar jadi kuli panggul lebih berat dari ini" ucap Dewi pada pak Dhe.
"Astagah kasihan sekali kamu ini, syukurlah kalau kamu betah di sini, pak Dhe ikut senang, mulai sekarang kamu harus pikirkan diri kamu sendiri, hargai diri kamu" ucap pak Dhe menasehati.
"Iya pak Dhe, mulai sekarang Dewi akan menjaga diri Dewi sendiri" jawab Dewi dengan yakin.
"Ya sudah kamu lanjut kerja, pak Dhe mau ke belakang dulu" pamit pak Dhe pada Dewi.
Dewi pun langsung kembali bekerja dengan yang lainya, melayani tamu yang datang.
Abi dan Wulan tiba di sebuah resto, setelah parkir mereka pun langsung turun dari mobil.
"Ini tempatnya?" tanya Abi.
"Iya...makanan di tempat ini enak makanya papa rekomendasiin resto ini saat ada rapat atau pertemuan di kantor" jawab Wulan sembari merapikan pakaiannya setelah itu mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam resto.
"Selamat pagi, selamat datang, silahkan masuk tuan dan nyonya!" sapa pelayan resto yang bertugas di depan.
Abi dan Wulan dengan langkah tegap masuk ke dalam resto dengan di antar pelayan menuju ke tempat yang masih kosong.
"Silahkan tuan nyonya, mau pesan apa?" tanya pelayan dengan sopan.
"yang ini, ini dan ini, lalu minumnya ini dan ini, udah itu saja!" ucap Wulan sembari menyerahkan buku menu pada pelayan.
"Baik, mohon di tunggu sebentar, permisi" ucap pelayan dengan sopan kemudian segera pergi ke bagian dapur untuk mempersiapkan pesanan Wulan.
"Dewi ini pesanan meja nomer 20 yang di pojok itu mereka baru datang tolong nanti kamu antarkan sebentar ya, aku lagi kebelet nih" ucap Luky pada Dewi.
"Oh baik, tenang saja serahkan padaku!" jawab Dewi dengan senang hati, Dewi memang paling gampang kalau di mintai tolong sama yang lain makanya mereka paling suka sama Dewi.
Setelah beberpa lama kemudian pesanan Wulan pun selesai di buat, Dewi hendak mengantarkan ke tempat mereka.
"Wi pakai masker, biar pelanggan nggak jijik sama makan kita!" ucap bagian dapur saat menyerahkan makanan itu pada Dewi.
"Ah iya sampai lupa aku, untung kamu ingatkan!" jawab Dewi sembari memakai masker di wajahnya kemudian kepala memakai topi supaya rambut tak jatuh ke makanan, dengan begitu wajah Dewi pun tak terekspos.
Dewi segera membawa nampan berisi pesanan meja nomor 20, dia membawa dengan sangat hati-hati supaya tidak terjatuh atau terjadi kesalahan yang tak di inginkan.
"Permisi pesanan meja 20 telah siap!" ucap Dewi dengan sopan tanpa memperhatikan wajah tamu tersebut.
"Ah terima kasih!" jawab Wulan, Dewi pun segera menyajikan mekanan ke atas meja dengan tenang dan rapi.
"Sayang ini makanan kesukaan kamu loh" ucap Wulan pada Abi yang masih asik main Hp.
"Iya, kamu makan saja dulu" jawab Abi, Dewi yang mendengar suara Abi pun sontak langsung menoleh le arahnya.
Dewi hampir tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"A...apa, sa..sayang!, jadi ini wanita selingkuhan kamu mas Abi, aku enggak salah dengar dan salah lihat kan, Ya Tuhan inikah suami yang 5 tahun ini aku nikahi!" jerit Dewi dalam hati sembari terpaku di tempat dan memandangi mereka berdua.
"Mbak....helooooo, masih ada lagi?!" ucap Wulan yang membangunkan lamunan Dewi.
"Ah maaf, maaf..silahkan menikmati hidangan di resto kami, saya permisi dulu!" pamit Dewi tergesa-gesa, Abi yang mendengar suara pelayan itu merasa familiar dan menoleh ke arahnya, namun Abi tak mengenali Dewi dengan topi di kepala seragam pelayan dan masker di wajah seperti itu.
"Ah mungkin hanya pikiranku saja, mana mungkin Dewi bekerja di sini apa lagi jadi pelayan, setidaknya di sini haruslah lulusan SMA, sedang Dewi hanya lulus SMP, pasti itu bukan dia, itu hanya pikiranku saja" gumam Abi dalam hati.
Dewi segera berlari ke kamar mandi setelah mengantar makanan untuk Abi dan Wulan. Dia pun menangis terisak-isak di kamar mandi sembari menyalakan keran air supaya tak ada orang yang mendengarnya.
Dewi memilih bersabar dan tak membongkar perselingkuhan Abi saat itu karena dia punya rencana lain.
"Mas Abi, aku enggak nyangka kamu beneran menghianati pernikahan kita, apa salahku mas, apa dosaku, kurang apa diriku hilz... hikz...hikz...!!" keluh Dewi saat di kamar mandi.
Setelah puas menangis dan menenangkan hatinya Dewi pun keluar dari kamar mandi, Dewi langsung pergi menemui pak Dhe.
Saat ini pak Dhe sedang memeriksa beberapa bahan makanan di bagian gudang di belakang.
"Pak Dhe!" sapa Dewi.
"Eh wi...ada apa?" tanya Pak Dhe yang sembari sibuk mengecek bahan makanan yang baru saja datang.
"Mereka ada di sini, Dewi sudah melihat dengan mata kepala Dewi sendiri" ucap Dewi pada Pak Dhe, seketika Pak Dhe menghentikan aktifitasnya dan meminta orang lain melanjutkan kerjaannya.
"Ikut saya!" ajak Pak Dhe pada Dewi, mereka pun pergi ke ruang kerja pak Dhe, sesampainya di sana mereka pun berbincang bincang.
"Jadi kamu sudah tahu dan lihat sendiri?" tanya pak Dhe memastikan, Dewi pun mengangguk sedih sembari tangan memilin bajunya karena perasaan yang tak menentu.
"Kenapa enggak kamu grebek saja tadi langsung, itu kan kesempatan kamu untuk membuktikan kalau mereka bersalah?" tanya pak Dhe pada Dewi, Dewi pun menggeleng pelan.
"Dewi ada rencana lain, pak Dhe apakah bisa bantu Dewi?" tanya Dewi memberanikan diri.
Pak Dhe menghela nafas kemudian menghembuskannya setelah itu beliau kembali bertanya.
"Katakan, apa yang bisa pak Dhe bantu?" jawab pak Dhe dengan tenang dan menatap ke arah Dewi.
"Pak Dhe kan tau Dewi masih baru di sini dan juga belum punya tabungan, tapi Dewi ingin bisa segera cerai sama mas Abi, Dewi mau sewa pengacara untuk membantu Dewi, apa pak Dhe bisa bantuin Dewi?" jawab Dewi dengan tekad kuat dalam hati.
"Maksutnya kamu mau pinjam uang buat sewa pengacara?" tanya pak Dhe memastikan, Dewi pun mengangguk.
"Iya, nanti bisa pak Dhe potong dari haji Dewi selama kerja di sini!" bujuk Dewi pada pak Dhe, pak Dhe pun berfikir sejenak, dan menimang-nimang apakah langkah yang di ambil Dewi memang sudah benar.
"Oke, pak dhe akan bantu kamu, soal pengacara nanti akan pak dhe carikan yang terbaik untuk kamu!" jawab pak Dhe dengan tegas dan yakin
"Terima kasih pak Dhe, terima kasih banyak, !" ucap Dewi dengan rasa syukur rasa lega dan rasa bahagia.
cinta boleh wi gobloogg jangan