NovelToon NovelToon
Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Algoritma yang Kacau

𝙎𝙚𝙠𝙞𝙡𝙖𝙨 𝙞𝙣𝙛𝙤 ....

𝐒𝐨𝐣𝐮 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐢𝐧𝐮𝐦𝐚𝐧 𝐤𝐡𝐚𝐬 𝐊𝐨𝐫𝐞𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮𝐢 𝐩𝐫𝐨𝐬𝐞𝐬 𝐝𝐢𝐬𝐭𝐢𝐥𝐚𝐬𝐢. 𝐒𝐚𝐭𝐮 𝐛𝐨𝐭𝐨𝐥 𝐬𝐨𝐣𝐮 (𝟑𝟔𝟎𝐦𝐥) 𝐫𝐚𝐭𝐚-𝐫𝐚𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝟏𝟓% 𝐚𝐥𝐤𝐨𝐡𝐨𝐥. 𝐊𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐤𝐨𝐡𝐨𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐭𝐢𝐠𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐤𝐚𝐥𝐞𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐫 (𝟑𝟓𝟎 𝐦𝐥).

𝐍𝐨𝐭𝐞: 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙧𝙚𝙡𝙞𝙜𝙞!

𝐍𝐢 𝐋𝐮𝐡 𝐀𝐧𝐣𝐚𝐧𝐢 𝐝𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐝𝐢𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐮𝐬𝐥𝐢𝐦, 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐬𝐢𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧𝐚𝐢 𝐥𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐚𝐥𝐤𝐨𝐡𝐨𝐥.

...----------------...

...꧁🎀 𝒫𝑒𝓇𝓃𝒾𝓀𝒶𝒽𝒶𝓃 𝓀𝑒𝒹𝓊𝒶 𝒹𝒾 𝒩𝑒𝑔𝑒𝓇𝒾 𝒢𝒾𝓃𝓈𝑒𝓃𝑔 🎀꧂...

Suasana tenang di tepi sungai Hangang, dua kursi berhadapan dengan meja bundar menyekat di tengah antara kedua manusia. Terhidang satu kotak kertas ayam goreng keju dan dua botol soju untuk dinikmati bersama.

Angin bertiup sedang saja dan bintang-bintang tidak ramai berkedip. Udara tidak secerah dua hari lalu.

Anjani yang meminta ke tempat itu saat Jeong menawarkan makan lebih nyaman di restoran sesuai isi kantongnya. Dunia wanita itu hanya dipenuhi hal-hal sederhana yang sulit dipahami oleh nalar seorang dengan banyak uang seperti Jeong yang notabene seorang pengacara tajir.

Kendati sesederhana itu, malam ini terasa begitu damai.

Anjani merasa lepas, bebas sepertiga bebannya.

Antara mereka, awalnya hanya obrolan biasa dan tetap masih terasa canggung, sampai Anjani menggoyang-goyang botol yang sudah kosong di depan wajah.

Jeong yang peka langsung menawarkan, "Kau boleh minum punyaku." Sambil disodorkan botol miliknya ke hadapan Anjani.

“Tapi itu kanー”

“Jika aku mabuk juga, tidak akan ada yang menggendongmu pulang!”

Psss!

Wajah Anjani memerah, tercenung diam memikirkan kalimat itu.

Benar juga.

“Kenapa?” tanya Jeong saat botol didorong kembali oleh Anjani ke hadapannya.

“Aku tidak mau merepotkanmu."

Jawaban simple dan paling masuk akal, memancing tarikan lebar di bibir Jeong. “Padahal aku tak keberatan.”

“Tidak! Aku minum air putih saja!” tukas Anjani, menarik botol air mineral lalu menenggaknya seperempat volume. Setelah itu mengambil sepotong ayam dan mengunyahnya sambil membuang wajah.

Itu malah jadi kesenangan sendiri untuk Jeong. Menopangkan kedua sikutnya di atas meja, menyangga dagu dengan kepalan tangan, senyum tipis-tipis memulas wajah, senang jadi penonton.

Diperhatikan tak wajar, Anjani menghentikan kunyahannya. "Kau tidak makan?"

"Aku tidak lapar.”

“Terus kenapa membeli banyak?”

“Untukmu. Aku hanya ingin mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih karena pertolonganmu kemarin."

Anjani teredam menatapnya. Padahal dia ikhlas sudah menolong karena itu bukan apa-apa. Jeong hanya diobati seadanya dan langsung melejit pulang, tidak ada yang istimewa dengan itu. Dan pria itu juga telah menolongnya, jadi keadaan ini lebih tak adil.

“Meski begitu kau seharusnya tetap ikut makan. Ayam goreng ini terlalu banyak untuk kunikmati seorang diri. Jangan membuatku jadi terlalu serakah."

Jeong terkekeh kecil. “Tak apa. Kau bisa bawa pulang sisa ayamnya. Atau kau ingin yang lain? Akan aku berikan."

"Tidak. Ini sudah lebih dari cukup.”

“Hmm, baiklah.”

Setelah menghabiskan satu potong ayam dan meneguk air, Anjani jadi penasaran untuk bertanya.

"Sebenarnya seberapa kaya dirimu? Apa pekerjaanmu? Pakaian, sepatumu, lalu sekarang motormu yang keren itu." Sekilas menoleh kendaraan Jeong yang terparkir di sisi lumayan jauh. "Rasanya jadi tak yakin kau hanya orang biasa seperti aku.”

Tapi Jeong juga tak pernah mengaku jika dia seorang miskin yang melarat, tidak pernah mengakui apa pun.

Pertanyaan dan pernyataan itu membuat Jeong tersenyum. Tapi satu hal lain cukup membuatnya sedikit merasa takjub, Anjani yang biasa terlihat pendiam, ternyata bisa banyak bicara. Jika digali lebih jauh, seberapa banyak kepribadian menarik lain yang dia punya?

Ah, Jeong jadi sangat penasaran ingin tahu semua.

 "Aku bukan siapa-siapa," tukasnya kemudian. “Tentang pekerjaanku ... aku hanya seorang yang suka berdebat lalu memenangkannya. Barang-barang yang kumiliki, kudapatkan dari pekerjaan itu.”

Cerna otaknya melambat, sedikit pun Anjani belum menangkap apa inti dari untaian jawaban yang baru saja didengar dari mulut lelaki itu.

“Aku butuh jawaban jelas, bukan teka-teki!” Dia menegur. “Suka berdebat dan memenangkannya ...." Kini matanya menyipit, mencoba memikirkan dan menghubungkan melalui clue yang disebutkan, lalu berkumpullah kemungkinan itu beberapa saat setelah berusaha keras. “Kau seorang ... mafia?!”

Jeong terperangah, bisu dan beku, tidak menyangka terkaan Anjani sampai ke sana, lalu detik kemudian .... “Haha.” Malah tertawa. “Boleh kau anggap begitu.”

Sayangnya bagi Anjani itu sama sekali tidak lucu, wajahnya memberengut karena ditertawakan setelah berpikir keras mencari yang paling mungkin. “Jangan membuat semakin ambigu! Sebaiknya kauー”

“Sekarang aku yang ingin tahu mengenaimu!" potong Jeong, lebih cepat mengalihkan sebelum Anjani merambah keingintahuannya pada banyak pertanyaan lain. Dia belum siap jati dirinya dikupas sekarang. Bagaimana pun ada kebohongan tentang nama marga, dan ada rahasia, itu belum diperlukan penjelasannya, bukan untuk menarik perhatian Anjani yang masih dalam tahap dikejar oleh dirinya.

"Aku?” Anjani menunjuk dirinya sendiri.

"Ya, dirimu."

 "Apa ... yang ingin kau ketahui dariku? Bukankah kau sudah tahu semua? Dari pekerjaan, sampai rumahku?"

“Tidak! Selain kau yang seorang pekerja paruh waktu di tiga tempat berbeda dan letak tempat tinggalmu, tentang dirimu yang lain ... aku tidak tahu apa pun. Jadi boleh kau ceritakan itu?”

Anjani tercenung.

Keanehan sikap Jeong yang memutus pertanyaannya tadi, dia bukan tak bisa memahami sama sekali. Orang punya privasi yang tidak ingin diungkap secara murah. Mungkin itu berlaku juga untuk seorang Jeong, juga dirinya sendiri.

Merenung sebentar untuk berpikir, lalu .... "Satu pertanyaan saja! Kau boleh lontarkan satu hal yang ingin kau ketahui dari diriku."

Punggung diempas Jeong ke sandaran kursi yang diduduki. “Hmm ... satu, ya?”

"Iya. Satu pertanyaan saja."

Jeong sedang berpikir sekarang, lalu tersenyum setelah mendapatkan apa yang diminatkan.

“Anjani ... cuaca Seoul selalu dingin, kenapa di rumahmu tidak ada penghangat ruangan? Aku tahu seberapa kuat kau bekerja untuk uang, kau bukan tak mampu membelinya, 'kan?"

Mulut Anjani melongo, 'tak menyangka bunyi pertanyaannya akan sejenis itu. "Hanya itu ... yang ingin kau tahu?" tanyanya, 'tak percaya.

"Bukan! Hanya iklan!"

“Ck! Bicara yang benar.”

Jeong terkekeh. “Oke. Satu pertanyaan pentingnya, akan kutanyakan setelah itu. Tapi kau tetap harus menjawab karena bagiku pertanyaan barusan juga sama pentingnya.”

“Kalau begitu jadi dua, kau serakah!"

“Kubilang yg tadi itu iklan!”

Pria itu cukup senang bermain-main, Anjani mendelik.

“Baiklah. Akan kuberitahu," tukasnya.

Satu embusan napas terdengar berat, bahkan ada jeda diam yang cukup lama, membuat Jeong mengerut kening. Tapi tidak bertanya lagi saat Anjani mulai beriak, memapar satu penggal cerita.

 “Awalnya aku berniat membeli karena beban utang sudah bebas dari pundakku, tapi setelah lama berpikir, sebentar lagi akan musim panas, jadi aku tidak akan memerlukannya lagi."

“Tapi musim akan kembali berganti dengan cepat dan kau akan segera membutuhkan itu! .... Kalau hanya alasan konyol, aku yang akan belikan! Saat ini juga.”

“Aku sedang menabung. Aku ingin pulang ke Indonesia!”

WUSH!

Angin menampar wajah Jeong seiring jawaban yang mengejutkan dari mulut wanita itu.

“Kau ... akan pulang ke negaramu?” tanyanya, sedikit bergetar.

“Ya.”

Meski jawaban Anjani terdengar tegas, tapi sorot matanya menguar sesuatu yang sangat berat, Jeong bisa tahu itu hanya dengan sekali tatap. “Kenapa?"

Anjani menjawab setelah meraup napas yang cukup panjang, “Aku kira aku bisa baik-baik saja. Tapi yang terjadi, semakin lama, aku semakin merasa kosong. Sekarang Seoul seakan terus menjadi hal yang menyakitkan sepanjang waktu yang kujalani.”

Jeong tertegun, pancaran matanya bergulir kacau. “Dia sedang membahas bajingan itu.” Sekilas membuang wajah, lalu menatap Anjani lagi. “Kau sudah lebih dulu menjawab pertanyaan yang akan kulontarkan sebagai pertanyaan inti.”

“Maksudmu?”

“Itu hal yang ingin kuketahui dari dirimu. Apakah kau bahagia sekarang?” Tersenyum miring saat mata Anjani menatap bingung. “Ternyata jawabannya tidak.”

Saat itu ada yang melintas dalam hati Anjani, sesuatu yang terasa salah. Dalam matanya menatap Jeong sebelum kemudian merunduk.

"Keluargaku berharap banyak padaku sejak aku kecil. Aku selalu merasa tertekan untuk menyenangkan mereka, dan semua berlanjut hingga aku dewasa. Aku tak sanggup, lalu aku memutuskan melarikan diri ke sini. Berharap menemukan kehidupan lain yang tidak ada tekanan di dalamnya karena di sini semuanya asing. Sampai aku bertemu dia." Anjani menegakkan kepalanya lagi. “Ahn Woojun!" Tegas nama itu disebutnya, membuat Jeong dalam sekejap merasa kalah.

“Aku merasa hidupku berubah dan akan menemukan bahagia yang panjang jika bersamanya. Tapi nyatanya ... ekspektasiku yang terlalu tinggi. Aku gagal.”

“Dan setelah gagal seperti itu ... kau akan pulang ke Indonesia untuk mengulang kembali tekanan dari keluargamu?!”

1
Batsa Pamungkas Surya
woojoon.. kau yg buat luka seolah olah kau yg jadi korban... hadeeech😄
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hadeuh banget emang, Kak
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
👍 mantap
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan⏩ laah🙏
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap, Kak.
makasih masi membaca. Up-nya agak slow. aku sedang menggarap satu buku pria--action--lagi. do'akan lancar ya.
total 1 replies
Machan
kesian amat ya. padahal banyak yg nganggur di pasar
Machan
aku lebih romantis dari mereka lho, nyonya ju. klo mo tau, sini mampir😜
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
sebut saja, Malaikat tanpa saraf 😝
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Sepertinya kenalan lama 🤔
Batsa Pamungkas Surya
jangan tunggu lama lama
Batsa Pamungkas Surya
semngat up nya💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hehe, insyaAllah, Kak.
total 1 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Hmmh... blekok 😌
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Iklannya sekarang makin meresahkan, asal scroll bab berikutnya, pasti disambut dua iklan yang syulit diskip 🥴
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Babu!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Bajjjjjiiiingaaaaaan....!!!
DZIIIING... 🤜🥴💨
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Idungnya pesek gak, Pak? 😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Hahaha 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Tipsnya buat Tuan Berkaki Panjang!
Selamat jingkat buat Author!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Jingke... jingke...
total 2 replies
Drezzlle
nah gitu pintar dikit 😒
Drezzlle
udah beban masih juga bisa ngasih janji palsu ke wanita lain😒
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Ketidakbergunaan rata2 jarang disadari sama pelakunya🤣
total 1 replies
Drezzlle
dan kau masih percaya mereka akan bercerai. bulol/Curse/
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan lah
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap.
Btw, terima kasih selalu hadir, Kakak😍
total 1 replies
Drezzlle
trik apa ini? apakah menyembunyikan bangkai lagi/Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!