Zian Arsya, seorang laki-laki mandiri dan sukses di usia 29 tahun, telah menjadi tulang punggung keluarga setelah di percaya ayah dan ibunya untuk mengelola usaha Hotel dan Restoran. Namun, di balik kesuksesannya, Zian menyembunyikan masa lalu pahit yang membuatnya menjadi pendiam dan jarang bicara. Dia pernah dikhianati kekasihnya semasa kuliah, yang memilih laki-laki lain, membuatnya kehilangan kepercayaan pada cinta.
Suatu hari, Zian dijodohkan dengan Raya, seorang gadis cantik, ramah, dan pintar yang sangat perhatian. Zian setuju dengan perjodohan itu, tapi dia tidak berani mengungkapkan masa lalunya kepada Raya dan keluarganya. Dia takut kehilangan kesempatan untuk memiliki keluarga dan cinta yang sebenarnya.
Namun, kehadiran Raya membuat Zian perlahan-lahan membuka diri dan menghadapi masa lalunya. Apakah Zian akan mampu mengungkapkan kebenaran kepada Raya dan keluarganya? Atau akankah rahasia itu menjadi beban yang menghancurkan kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Zian
Raya Pulang
Sore itu, langit sedikit mendung ketika Raya menuruni angkot di depan rumahnya. Rumah lama yang sederhana, catnya mulai pudar, tapi selalu terasa hangat. Entah kenapa, langkah Raya terasa lebih berat dari biasanya.
Ada sesuatu di dadanya yang tidak tenang.
Ia membuka pintu perlahan.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam,” sahut Ibu Raya cepat dari dalam.
Raya melepas sepatu dan masuk. Di ruang tamu, ayah dan ibunya sudah duduk rapi. Terlalu rapi. Terlalu siap. Seolah sedang menunggu momen penting.
Raya berhenti di ambang pintu.
“Kenapa semuanya kelihatan serius?” tanyanya sambil tersenyum kecil, berusaha mencairkan suasana.
Ayah Raya menepuk sofa di sebelahnya. “Duduk dulu, Nak.”
Nada itu membuat Raya patuh tanpa banyak tanya.
Begitu ia duduk, Ibu Raya langsung menggenggam tangannya. Hangat… tapi jemarinya sedikit bergetar.
“Raya,” suara ibu pelan, “kalau Ayah dan Ibu bicara nanti… kamu dengarkan dulu, ya.”
Jantung Raya berdetak lebih cepat. “Bicara apa, Bu?”
Ayah Raya menghela napas panjang. Tatapannya lurus ke depan, seolah sedang menyiapkan diri menghadapi sesuatu yang sudah lama disimpan.
“Kami akan kedatangan tamu.”
“Tamu?” Raya mengerutkan kening. “Siapa?”
Ayah Raya menoleh padanya. “Keluarga lama. Sahabat Ayah dan Ibu.”
Ada jeda.
Lalu kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam keras.
“Mereka ingin bersilaturahmi… sekaligus membicarakan masa depanmu.”
Raya tertawa kecil, refleks. “Yah… Raya masih kerja. Masa depan Raya masih panjang...”
“Bukan soal kerja,” potong Ibu Raya lembut. “Soal pendamping hidup.”
Dunia Raya seperti berhenti sejenak.
“Pendamping… hidup?” suaranya melemah.
Ayah Raya mengangguk. “Kami tidak akan memaksa. Tapi ada janji lama yang harus kami jelaskan padamu.”
Raya menelan ludah.
Janji.
Kata itu terasa asing… sekaligus berat.
Bel rumah berbunyi.
TING TONG.
Ketiganya terdiam.
Ibu Raya berdiri lebih dulu. “Mereka… sudah datang.”
Raya ikut berdiri, kaku. Kepalanya penuh tanda tanya. Siapa? Kenapa secepat ini? Kenapa dadanya terasa sesak?
Pintu dibuka.
Dan dunia Raya runtuh dalam satu detik.
Di ambang pintu berdiri sepasang suami istri berwibawa wajah yang asing tapi auranya kuat.
Dan di belakang mereka…
Zian.
Dalam balutan kemeja gelap dan jas sederhana, berdiri tegak dengan wajah yang sama dinginnya seperti di kantor.
Namun matanya, Mata itu menatap Raya.
Terkejut. Membeku.
Sama seperti dirinya.
“P-Pak Zian…?” suara Raya nyaris tak keluar.
Zian menegang.
Dari sekian kemungkinan yang terlintas di kepalanya sejak sepuluh hari terakhir… ini adalah yang paling tidak ia bayangkan, tapi entah kenapa… paling masuk akal.
Mamah Zian melangkah maju, tersenyum hangat.
“Assalamu’alaikum, Nak. Kamu pasti Raya.”
Raya reflek membungkuk. “I-iya ibu… Wa’alaikumsalam…”
Ayah Zian menyusul. “Kami orang tua Zian.”
Raya menoleh cepat ke arah Zian.
Matanya bertanya.
Ini apa?
Zian tidak menjawab.
Ia sendiri sedang berusaha berdiri di tengah badai yang tiba-tiba nyata.
Ayah Raya mempersilakan semua duduk. Suasana ruang tamu mendadak terasa sempit oleh ketegangan yang tak terucap.
Raya duduk di ujung sofa, punggungnya lurus tapi tubuhnya gemetar.
Zian duduk berseberangan.
Jarak mereka hanya beberapa meter.
Tapi rasanya seperti dua dunia yang baru saja bertabrakan.
Mamah Zian membuka pembicaraan, suaranya lembut namun mantap.
“Raya… apa yang akan kami bicarakan mungkin mengejutkanmu. Tapi percayalah, ini bukan keputusan yang lahir tiba-tiba.”
Raya mengangguk kaku.
“Kami sudah mengenal orang tuamu sejak puluhan tahun lalu,” lanjut beliau. “Di rumah sakit. Saat kamu dan Zian baru lahir.”
Raya membelalak.
Zian menegang.
Ayah Zian menimpali, “Ada janji yang terucap saat kami sama-sama berada di titik terlemah hidup kami.”
Raya memandang ayah dan ibunya. “Yah… Bu…?”
Ibu Raya mengusap punggung tangannya. Matanya berkaca-kaca. “Kami tidak pernah berniat menyeretmu ke masa lalu kami, Nak. Tapi janji itu… tumbuh bersama kalian.”
Sunyi.
Lalu Ayah Raya berkata pelan, tapi jelas.
“Kami… ingin mempertemukan kalian secara resmi. Sebagai calon.”
Kata itu menggema di kepala Raya.
Calon.
Raya berdiri mendadak. “Maaf… maaf, aku ... aku butuh waktu.”
Semua terdiam.
Zian ikut berdiri. Refleks.
“Raya...”
Nama itu keluar dari bibirnya tanpa sadar.
Raya menatapnya. Matanya berkabut.
“Pak Zian,” suaranya bergetar, “tolong bilang ini juga mengejutkan buat Bapak.”
Zian menelan napas.
Untuk pertama kalinya di hadapan orang tua mereka semua, ia berkata jujur.
“Iya,” ucapnya pelan. “Aku juga baru tahu hari ini.”
Kejujuran itu membuat Raya sedikit… runtuh.
Mamah Zian berdiri mendekat, suaranya penuh empati. “Kami tidak meminta jawaban sekarang. Kami hanya ingin kalian tahu… jalan ini ada.”
Ayah Zian mengangguk. “Dan apa pun keputusan kalian nanti… kami akan mendengarnya.”
Raya terdiam.
Zian menatapnya lama.
Dua orang yang baru sepuluh hari lalu hanya atasan dan bawahan.
Kini…
Ditempatkan di satu garis takdir yang sama. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar siap.
Hening kembali menyelimuti ruang tamu.
Raya masih berdiri, napasnya belum sepenuhnya tenang. Zian juga berdiri di tempatnya, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh bukan karena marah, tapi karena sedang menahan sesuatu yang jauh lebih berat.
Ayah Raya berdehem pelan.
“Raya… duduk dulu.”
Raya menatap ayahnya, lalu ibunya. Perlahan ia duduk kembali, kali ini di ujung sofa, menjaga jarak seolah jarak itu satu-satunya benteng yang ia punya.
Zian ikut duduk kembali. Punggungnya tegak, rahangnya mengeras. Ia menatap lantai beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat wajahnya.
“Ayah… Mamah,” ucapnya pelan namun jelas, “aku ingin bicara.”
Semua mata tertuju padanya.
Mamah Zian mengangguk. “Kami mendengarkan.”
Zian menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan ini dimulai, ia tidak berbicara sebagai pemimpin hotel, bukan sebagai pria dingin yang selalu memegang kendali. Ia bicara sebagai anak… dan sebagai lelaki yang sedang memilih.
“Aku tidak pernah percaya perjodohan,” katanya jujur. “Aku juga tidak pernah membayangkan akan berada di posisi ini.”
Raya menunduk. Tangannya saling menggenggam erat.
“Tapi…” Zian berhenti sejenak. Tatapannya beralih ke Raya tidak dingin, tidak mengintimidasi. Hanya serius. Dalam.
“Kalau orang yang kalian maksud adalah Raya… maka aku tidak bisa bilang ini sepenuhnya asing bagiku.”
Raya terkejut. Ia mengangkat wajahnya.
Zian melanjutkan, suaranya stabil meski dadanya bergejolak.
“Aku mengenalnya sebagai pekerja yang bertanggung jawab. Sebagai perempuan yang berdiri dengan caranya sendiri. Dan sebagai seseorang… yang tanpa sadar sudah masuk ke dalam pikiranku, bahkan sebelum aku tahu kenapa.”
Mamah Zian menutup mulutnya pelan. Ibu Raya menunduk, menahan haru.
Zian menatap kedua orang tuanya.
“Aku tidak bisa menjanjikan cinta yang instan. Aku juga tidak ingin Raya merasa terpaksa.”
Ia menoleh pada Raya. Kali ini lebih lembut.
“Tapi kalau yang diminta adalah kesempatan… untuk mengenalmu dengan benar, tanpa posisi atasan dan bawahan… aku bersedia.”
Ruang tamu itu seolah kehilangan udara.
Raya menatap Zian, matanya berkabut.
“Pak Zian…” suaranya lirih.
“Panggil aku Zian,” potongnya pelan. “Kalau kita akan bicara soal ini … aku ingin setara.”
Satu kalimat sederhana. Tapi cukup membuat jantung Raya bergetar.
Ayah Raya menghela napas berat bukan karena ragu, melainkan lega.
“Kami tidak menginginkan keterpaksaan,” katanya tegas. “Kami ingin anak kami dihormati.”
Zian mengangguk mantap.
“Itu juga keinginanku.”
Mamah Zian tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Jadi… kamu menerima?”
Zian terdiam sejenak. Lalu mengangguk satu kali. Tegas.
“Iya, Mah. Aku menerima… Raya.”
Kata itu jatuh seperti palu keputusan.
Raya terdiam lama. Dadanya sesak takut, bingung, tapi juga ada sesuatu yang hangat merayap pelan.
Semua mata beralih padanya.
Ibu Raya menggenggam tangannya. “Ray y… kamu tidak harus menjawab sekarang.”
Raya menggeleng pelan. Ia menarik napas dalam, lalu menatap Zian.
“Aku juga tidak pernah membayangkan ini,” katanya jujur. “Aku takut. Aku kaget. Tapi…”
Ia berhenti. Menelan ludah.
“Aku ingin mengenalmu… sebagai Zian. Bukan bosku.”
Zian mengangguk pelan.
“Itu sudah lebih dari cukup.”
Keputusan itu tidak diakhiri pelukan atau sorak bahagia.
Tidak ada euforia.
Yang ada hanyalah kesadaran dua hidup telah resmi bersinggungan.
Ayah Zian berdiri.
“Kalau begitu, kita sepakat. Tidak ada paksaan. tanggal akan di tetapkan bila mereka sudah siap. Sekarang biarkan mereka berjalan saling mengenal.”
Ayah Raya mengangguk. “Dengan cara yang terhormat.”
Di sudut ruangan, Mamah Zian mengusap air matanya dengan senyum lega.
Sementara Zian dan Raya…
Mereka duduk berhadapan.
Masih canggung.
Masih takut.
Namun kini, takdir tak lagi hanya berbisik di belakang mereka.
Ia sudah berdiri di depan.
Dan mereka suka atau tidak telah memilih untuk melangkah ke arahnya bersama.
duhh Derry jahil mulu suka godain Zian 😄😄
di tunggu updatenya ya Sayyy quuu Author kesayangan🥰🤗 semangat terus Sayyy🤗
duhh Derry godain Raya dan Zian mulu bikin ngakak 😆😆😆
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
jangan² Raya juga jatuh cinta sama Zian 😄😄
bener kata Zian ada seseorang yang harus dia jaga yaitu Raya..
perhatian nya ma Raya,
Zian sepertinya emang jatuh cinta sama Raya 😅😅
duhh Zian minta Derry antar Raya plg gk tuh 😅😅
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu 🥰 semangat terus Sayyy 🤗💪
tapi bnr kok Zian emng sepertinya jatuh cinta sama Raya 😅😅😅
tapi Zian gk mengakuinya 😅😅😅
ledekin terus Zian ya Derry lucu soalnya 😅😅😅
untungnya Zian baik baik Saja...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy makin seru cerita nya🥰🤗
Derry ada² saja blg nnt juga bakal tau
tau apa yaa kira² apakah Zian dan Raya akan menikah? 😄😄
bener banget Raya hrs mengenal Zian lagi...
tinggal di tunggu kapan nikah nya😄😄
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
jgn dong Zian harus menjauh dari Raya 🥲..
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhh gmn yaa klo Raya dan Zian tau soal perjodohan 😌😌
Ya ampuun Derry usil banget suka jailin Raya sampai malu malu dong 😆😆😆
. penasaran dg lanjutannya, di tunggu kekocakan Derry Sayyy quuu Author kesayangan tetap semangat ya Sayyy 🤗quuu🤗 🥰💪
Zain minta Derry antar Raya plg buat mastiin Raya aman gk tuh 😄😄
ciieee Raya dahh nyaman tuh dg Zain 😄😄
namun gmn dg perasaan Zain? mungkin Zain juga sama😄😄
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy quu🤗🥰💪
siapa tuhhh yg menghubungi Raya?? jgn² masa lalu Zian duhh Raya dalam bahaya dong 😌😌
yg menghubungi Raya cowok yaa, ada hubungan apa Raya dg cowok itu?
l
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🤗🥰💪
Duhh Raya merasa ada yg mengikutinya... 😄😄
Derry blg ke Zian lapor polisi dong... 😁😁
Siapa yaa yg mengikuti Raya 🤔🤔
Derry menggaruk kepala gk tuh 😆😆
Derry bingung dong menatap bos nya 😄😄
Zian blg Raya harus mendapatkan pengawasan khusus gk tuh 😆😆
Bener tuh Derry sejak kapan Raya sepenting itu buat bos 😄😄
Duhhh siapa sihh pria bertato leher itu... 😌😌
Waduhh Derry ngomong Bos yang dulu belain cewek waktu itu, berani nyaa Derry 😆😆
Derry di suruh diam gk tuh 😆😆
Derry nanya mulu 😆😆
Penasaran dg lanjut nya.
Di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat Sayyy 🥰🤗💪
Zian pasti nya akan cari tau siapa mereka 🥲🥲
duhhh Zian blg ke Raya klo ada apa-apa ksh tau dong 😄😄
mengapa tuh Raya berdebar debar jgn² Raya bnran suka sama Zain 😄😄
duhh siapa yaa Pria yg mengintai Raya??
penasaran dg lanjut nyaa...
Di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhhh Zian tiba ingat masaalu nya 🥲
ada seseorang yg mengancam Zian dongg...
kasihan Zian🥲🥲
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy 🤗🥰💪
duhhh seperti nya Zian bakal suka sama Raya😄😄