NovelToon NovelToon
Setelah Lima Tahun Berlalu

Setelah Lima Tahun Berlalu

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Tamat
Popularitas:394.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.

Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.

Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.

" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Sudah empat hari setelah kedatang Bagas waktu itu, batang hidung pria itu tidak pernah muncul lagi di kontrakan ataupun saat kyra di kerja, dia tidak pernah melihatnya lagi.

Malam ini tubuhnya terasa remuk redam, kepalanya juga sangat pusing.

Keesokan paginya, Kyra terbangun dengan kondisi yang jauh lebih buruk. Seluruh tubuhnya panas, kepalanya seperti dihantam godam, dan ia kesulitan untuk bangkit. Ia mencoba duduk, namun pandangannya langsung berkunang-kunang.

“Aduh…” rintih Kyra pelan sambil memegangi dahinya yang terasa membakar.

Aldian, yang tidur nyenyak di sebelahnya, terbangun karena suara rintihan itu. Ia menatap wajah Kyra yang terlihat sangat pucat dan berkeringat.

“Bunda, Bunda kenapa?” tanya Aldian, suaranya terdengar cemas. Ia menyentuh dahi Kyra.

“Panas sekali, Bunda!” seru Aldian, segera panik.

Kyra memaksakan diri tersenyum. “Bunda cuma sakit sedikit, Sayang. Mungkin Bunda kecapekan.”

Aldian langsung merasa sedih dan takut. Setelah baru sembuh dari sakit, ia harus melihat Bundanya terbaring tak berdaya. Ia ingat bagaimana Bundanya selalu kuat dan bangun pagi-pagi sekali.

Aldian memeluk tangan Kyra yang tergeletak di atas selimut. “Maafin Aldian, Bunda. Bunda sakit karena kemarin marah-marah ya?” tanyanya polos, rasa bersalah dari kejadian kemarin langsung muncul.

“Bukan, Sayang. Ini bukan salah Aldian. Sudah, kamu tidak usah khawatir,” hibur Kyra, mencoba mengelus rambut putranya meskipun tangannya terasa sangat lemas.

Aldian beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan ke meja bar kecil dan mengambil segelas air putih. Dengan hati-hati, ia kembali dan menyodorkan gelas itu pada Kyra.

“Bunda minum. Biar cepat sembuh,” kata Aldian dengan suara bergetar.

Kyra menerima gelas itu dengan susah payah dan meneguk airnya perlahan. Melihat kepolosan dan ketulusan anaknya, ia merasa terharu.

“Makasih, Nak. Anak Bunda pintar sekali,” bisik Kyra.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Biasanya, pada jam ini Kyra sudah menyelesaikan putaran pertama pekerjaannya di kantor. Namun, kini ia terbaring lemah. untung saja saat menghubungi HRD dia di izinkan untuk libur lagi.

Sementara itu, di lantai eksekutif, Bagas tiba di kantor dengan mood yang tidak lebih baik dari hari sebelumnya.

Bagas duduk di kursinya. Pandangannya lurus ke meja kerja, tetapi pikirannya terus tertuju pada Kyra dan Aldian. Ia ingin tahu, apakah Kyra akan muncul pagi ini.

Bagas mengangkat telepon internal dan menekan hotline ke ruangan Dika.

“Dika, kemari sebentar,” perintah Bagas.

Dika segera masuk. “Ya, Pak?”

Bagas tidak menatap Dika. Ia memandangi pemandangan kota di luar jendela.

“Kyra... office girl yang kemarin aku panggil. Dia sudah datang hari ini?” tanya Bagas, berusaha membuat pertanyaannya terdengar kasual, seolah dia hanya memeriksa kehadiran karyawannya.

“Sebentar, Pak. Saya cek data absen cleaning service pagi ini,” jawab Dika profesional, segera memeriksa tabletnya.

Setelah beberapa detik, Dika kembali melapor. “Kyra tidak hadir, Pak. Dia mengajukan cuti mendadak untuk hari ini. Alasannya… sakit.”

Mendengar kata ‘sakit’, Bagas langsung berbalik dari jendela. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut dan sedikit khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Sakit? Kenapa bisa mendadak sakit?” tanya Bagas, nadanya berubah menjadi tajam, seolah mempertanyakan kebenaran alasan Kyra.

“Hanya disebutkan sakit, Pak. Permintaan cuti diajukan melalui rekan kerjanya barusan."

Bagas terdiam sejenak " Dika, hari ini kamu yang menghladle semuanya, jika tidak bisa batalkan saja. Saya ingin keluar"

Sedangkan di sisi lain Aldian kini duduk di samping Bundanya, air mata membasahi pipi kecilnya. Bundanya tidak bergerak sejak beberapa menit lalu setelah mencoba minum air.

“Bunda… bangun, Bun,” bisik Aldian, mengguncang pelan lengan Kyra yang terbaring.

Wajah Kyra benar-benar pucat, bibirnya membiru, dan keringat dingin membasahi dahinya. Kyra telah pingsan karena demam tinggi dan kelelahan.

Aldian tidak tahu harus berbuat apa. Ia takut dan bingung. Ia memeluk tangan Bundanya, lalu menangis tersedu-sedu. Ia ingat, ia pernah sakit seperti ini, dan Bundanya selalu ada. Tapi sekarang, Bundanya sendiri yang tidak berdaya.

“Bunda… tolong…” tangis Aldian.

TOK! TOK! TOK!

Tiba-tiba, terdengar ketukan keras di pintu depan.

Aldian terdiam, takut. Ia tidak berani bergerak.

“Aldian! Kyra! Buka pintunya!” seru sebuah suara tegas dari luar. Itu suara yang ia kenal—Om Bagas.

Aldian langsung melangkah maju membuka pintu itu untuk Bagas " om, mama" ucap bocah itu dengan air mata yang terus mengalir.

Wajah Bagas berubah seketika. Rasa panik dan bersalah yang akut menyergapnya.

"bunda kamu mana" tanyanya

Aldian langsung menunjuk kyra yang terbaring tak berdaya di atas ranjang tipis itu.

“Ya Tuhan, Kyra!”

Bagas segera menghampiri tempat tidur. Ia menyentuh dahi Kyra. Panasnya terasa membakar telapak tangannya.

“Bunda pingsan, Om Bagas,” tangis Aldian. “Bunda sakit, Bunda nggak bangun-bangun!”

“Tenang, yaa. Om akan bantu Bunda,” kata Bagas, berusaha menenangkan diri.

Ia berusaha menyadarkan Kyra, namun gagal. Bagas melihat Kyra kesulitan bernapas.

Bagas segera mengangkat tubuh Kyra yang terasa ringan ke dalam pelukannya.

“Aldian, dengarkan Om. Kita akan ke rumah sakit sekarang. Kamu ikut sama Om, ya,” ujar Bagas.

Aldian, meskipun masih ketakutan, mengangguk cepat. Ia berjalan mengikuti langkah Bagas menuju mobilnya.

Bagas mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan mata warga kontrakan yang terkejut melihat mobil mewahnya dan pemandangan dirinya menggendong Kyra yang pingsan. Saat tiba di IGD rumah sakit swasta yang elit.

Kyra segera dibawa ke ruang pemeriksaan, sementara Bagas berdiri di koridor dengan Aldian yang menggigil ketakutan di gendongannya. Aldian menenggelamkan wajahnya di bahu Bagas, memeluk leher pria itu erat-erat.

“Om, Bunda tidak akan kenapa-kenapa kan?” bisik Aldian, suaranya parau karena menangis.

Bagas mengelus punggung kecil putranya. “Tidak apa. Bunda itu kuat. Dia cuma perlu istirahat sebentar, Om janji.” Meskipun mencoba terdengar meyakinkan, hati Bagas dipenuhi rasa cemas yang dalam.

Tidak lama kemudian, seorang dokter muda bernama Dokter Rian keluar dari ruang pemeriksaan. Ia mendekati Bagas dengan ekspresi serius.

“Pak Bagas?” sapa Dokter Rian.

“Ya, saya Bagas. Bagaimana kondisi Kyra?” tanya Bagas cepat, langkahnya mendekat.

Dokter Rian menghela napas. “Pasien, Nona Kyra, saat ini sudah stabil. Namun, kondisinya cukup parah, Pak. Dia mengalami demam tinggi akibat infeksi dan overworked yang ekstrem.”

Bagas mengeratkan pelukannya pada Aldian, merasa semakin bersalah.

“Infeksi apa, Dokter? Dan apa maksud Anda overworked?” tanya Bagas.“Infeksi virus, Pak. Tapi kondisi fisiknya yang sangat lemah memperburuk keadaan. Dari hasil pemeriksaan cepat, pasien mengalami dehidrasi berat dan kelelahan akut yang parah. Tekanan darahnya sangat rendah. Tubuhnya benar-benar kehabisan energi, Pak. Jika telat sedikit saja, bisa saja terjadi hal yang lebih fatal, mengingat demamnya sudah mencapai 38°C.

"Dia juga menunjukkan gejala kurang gizi kronis, Pak. Bukan hanya kekurangan istirahat. Fisiknya sudah terkuras habis selama beberapa waktu terakhir,” tambah Dokter Rian, menatap Bagas dengan pandangan yang penuh makna.

Bagas terdiam. Kata-kata dokter itu terasa seperti vonis. Ia telah menyiksa ibu dari putranya sendiri.

"Kami sudah memberinya infus dan obat penurun panas. Kami akan memindahkannya ke kamar rawat inap VIP sesuai dengan permintaan bapak untuk pemantauan intensif,” lanjut Dokter Rian. “Untuk saat ini, pasien harus benar-benar istirahat total. Tidak boleh ada tekanan pikiran, tidak boleh bekerja, dan asupan gizinya harus sangat diperhatikan.”

Bagas mengangguk pelan, otaknya mulai menyusun rencana. “Lakukan yang terbaik, Dokter"

Bagas menatap Aldian yang kini mengangkat kepalanya dari bahunya. Aldian menatap Bagas dengan mata penuh harap dan kesedihan.

“Om Bagas… Bunda akan sembuh, kan?” tanya Aldian lagi, memegang kemeja Bagas erat-erat.

Bagas menatap mata polos Aldian. Tekadnya semakin kuat. Ia tidak akan pernah lagi membiarkan Kyra dan putranya hidup dalam kesulitan seperti ini.

1
Lia Handayani
lho tadi mah, sekarang bunda 🤣🤣
Eka Hardianti
ngak lanjut nih ..
suka banget cerita nya.
mas bagas nya baik bangettttt
bapak2 kesayangab
Yuningsih Nining
bagas baiknya lapor rt jg yng punya kontrakan setempat biar jelas posisi kalian wlu rt jg yang punya kntrkn yang tau, yang lain minggir, biarin
Yuningsih Nining
baru ni ni....kyara dewasa'an nama nya, kyara turunin ego👍
semoga kalian bahagia sampe maut memisahkan uuuhh seneng nii
Ocha Ari Kara
tadinya ga espek sama alur ceritanya diawal .. lama-lama ..
eng ing eeeng
bagus ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
Ocha Ari Kara
ceritanya menyayat hati.. sedih pake kebangetan..
author piawai bikin yg baca ini novel mewek/Sob//Sob/
Yuningsih Nining
asli jadi kessel minta ampun sm si kyara ngotot ngeyel egois harga diri boleh, anak jg pikirin Kiara?!!
Yuningsih Nining
lagian kyara di antara km sm bagas masih terikat blm cerai, coba lah kasih perlahan kasitau aldi klu om bagas sebenar nya ayah kandung aldian
Yuningsih Nining
kyara demi aldian melunak lah, toh km udah tau bagas udah bnyk mencoba segala demi aldian jg kamu, hargai perjuangan bagas kyara.....
Yuningsih Nining
lanjut thorr
Yuningsih Nining
senengnyaaa aldi tidur bareng ayah om 🤭 yaa
bagas cepetan bilang ke aldian kamu boleh atau panggil om sekarang Ayah aja ya, kan klo om buat revan
Hanja
🤍
Yuningsih Nining
Bagas cepetan ke aldian sruh panggil ayah jg bilang aldian klu km bp kandung nya, nyambi jg ngomong ke ibu mu tentang kyara+ aldian, kayk nya akan di sambut bahagia sm ibu mu apalagi bonus Cu²
Yuningsih Nining
usaha terooos bagas dekt²in jg aldi terus jg kasihtau klu km tuh sebener nya bpk nya aldian
iiih gereget dech sm lemot nya si bagas
Yuningsih Nining
cara mu ke kyara itu bagas makin buat bkn gak mungkin malah ngejauhin km sm anak mu aldi
Yuningsih Nining
gercep tes DNA aja, buktiin kyara yng ngeyel ngaku bkn anakmu bagas, ajak bersama lg biar Aldian dapt kasih sayng, perhatian dsb dari kalian berdua b'2 jg klg km bagas
Isabela Devi
💪💪💪💪
Isabela Devi
betul itu kata mama Ratna
Isabela Devi
kenapa jd pemaksa ya
Isabela Devi
itu papamu aldy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!