Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.
Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Dansa di Kesunyian
Setiap pulang dari istana, aku selalu membawakannya aneka makanan yang sebenarnya disediakan untukku. Duduk di depan meja makan, ia melihat aneka menu yang sudah terhidangkan di hadapannya.
"Habiskan makanan ini!" pintaku.
Bukannya segera makan, dia malah memanggil tiga pengawal yang berdiri di depan pintu.
"Hei, kalian bertiga, ayo ke sini! Kita makan sama-sama!"
Aku melebarkan mata. "Aku membawakan ini khusus untukmu. Lagi pula mereka juga sudah makan di istana."
"Makanan sebanyak ini mana bisa kuhabiskan. Bahkan kau membawakan lebih banyak dari biasanya."
"Itu karena sampai sekarang berat badanmu belum juga naik. Jika sampai hari pernikahan tiba badanmu seperti ini terus, seragam militer yang akan kau pakai kelihatan longgar di badanmu!"
"Ya, sudah, tinggal bilang saja aku terkena cacingan saat berada di Amberstone," ucapnya sambil bersedekap.
"Mana ada sekelas pangeran mengidap cacingan!"
"Kalo begitu tinggal bilang aku sempat jatuh sakit dan kehilangan nafsu makan berkepanjangan. Lagi pula dokter kerajaan itu ayahmu kan, kita bisa saling kerja sama soal ini." Dia malah mengedipkan sebelah matanya sekarang.
Napasku berembus kasar. "Pokoknya kau harus habiskan seluruh makanan ini. Setelah itu, temui aku kembali. Ingat, malam ini kita harus latihan dansa."
Dia memetik jari. "Ah, justru itu. Aku tidak boleh banyak makan. Kekenyangan akan membuatku sulit bergerak!"
Aku tak berniat berdebat dengannya. Namun, sepasang mataku sudah memancarkan tombak api diikuti bibir yang mengerucut berkumpul menjadi satu.
Melihat ekspresiku seperti itu, ia segera berkata, "Baiklah, baik. Akan kumakan semuanya! Jangan menatapku seperti hewan predator yang hendak menerkam mangsa!"
Ketika malam mulai membentangkan selimut gelapnya, aku kembali menghampirinya.
"Seperti yang sudah kau ketahui, akan ada pesta dansa di malam perayaan pesta pernikahan kita nanti. Kita berdua akan tampil di lantai dansa sebagai pasangan. Jika kau tak tahu berdansa, orang-orang akan curiga karena pangeran Julian terkenal dengan kemahirannya berdansa."
"Baik, Nona. Kalau begitu ... mohon ajari aku," ucapnya dengan tangan kanan terulur ke depan dan kaki kiri tertekuk ke belakang.
Aku menyambut uluran tangannya. Kami bersama-sama menuju ke tengah ruangan yang lenggang.
Berdiri seraya saling berhadapan, aku pun bertanya, "Bisakah kita mulai sekarang?"
Dia mengangguk mengiyakan. Kakiku maju selangkah mendekat ke arahnya. Dia sedikit tersentak saat kuraih lengan kanannya, kemudian mulai menuntun tangan lebar nan kekar itu ke bagian kiri tulang belikatku. Kuletakkan tangan kiriku di bahu kanannya, menyentuh pundaknya dengan lembut. Sementara tangan kananku mulai menyusuri lengan kirinya. Pelan dan perlahan hingga telapak tangan kami saling menyatu dengan jari-jari yang bergenggaman erat. Setelah itu kuposisikan tautan tangan kami setinggi mata. Tak lupa kubenamkan pandanganku pada dua bola matanya yang sepekat malam.
Pada saat ini, aku bisa melihat dengan jelas sepasang bola matanya yang bergerak liar, seolah enggan bertatapan langsung denganku.
"Tatap mataku!" pintaku.
"Hah?"
"Kubilang tatap mataku."
"Ba–baik," ucapnya dengan kegugupan yang tergurat jelas di wajahnya.
"Pegang aku erat-erat!" pintaku.
"Hah?"
"Pegang aku erat-erat!" Kuulangi sekali lagi.
Tak cukup sedetik, ia langsung mengeratkan rangkulan tangannya di pinggangku dan menarik tubuhku ke sisinya. Aku sedikit tersentak ketika tubuh kami saling menempel hingga tak ada jarak lagi di antara kami.
"Ini terlalu dekat!"
"Maaf ...." Ia buru-buru memundurkan badannya.
"Kali ini agak jauh," ucapku sambil maju selangkah hingga jarak kami hanya sejengkal.
Ia kembali menatap ke sembarang arah. Bibirnya pun terkatup rapat seolah sedang menahan napas. Ternyata membuat orang salah tingkah itu, semenyenangkan ini.
"Ikuti aku! Mundur saat aku melangkah maju, begitu pun sebaliknya," ucapku lagi.
Dia mengangguk saru. Tangan kami terangkat seiring langkah-langkah kecil mulai terbentuk. Di bawah pendaran lampu temaram, aku bisa mengamati tiap garis wajahnya. Sejumput rambut hitamnya yang jatuh ke dahi membuatnya semakin menawan. Ketika aku mencoba menyelami matanya yang sekelam malam itu, kutemukan sebuah kehangatan di sana.
"Ikuti irama tarian. Berdansa adalah tentang irama. Rasakan tempo gerakanmu. Jangan lupa rilekskan tubuhmu," paparku sambil terus menatapnya.
"Apa kau sering ke pesta dansa, Nona?" tanyanya sambil berusaha menyesuaikan langkah kakiku.
Aku menggeleng. "Tidak sekali pun."
"Lantas, mengapa Anda bisa berdansa dengan baik?"
"Karena aku terlahir sebagai perempuan."
Tampak kerutan samar muncul dari sudut sebelah matanya.
"Sebagai perempuan kami dilahirkan dan dibesarkan hanya untuk menggaet para pria. Kami dituntut untuk bisa memasak, berdandan, menyulam dan menari. Semua keahlian yang harus kami kuasai itu semata-mata agar bisa menarik perhatian pria. Nilai kami hanya ditentukan seberapa banyak pria yang akan menoleh ke arah kami dan siapa yang akan menjadikan kami sebagai istrinya. Kami juga dituntut untuk tetap suci dan bersih. Sementara pria, tak peduli sering keluar masuk rumah bordil, mereka tetap akan diperebutkan perempuan-perempuan polos yang takut tak laku karena termakan usia. Sangat miris, tapi begitulah dunia bekerja. Keadilan itu tak pernah ada," paparku sambil tersenyum miris.
(Ket. Rumah bordil: tempat p3l4cvran)
"Kau bisa mendobrak stigma tersebut," balasnya pelan.
Aku mengernyitkan kening.
"Kau bisa mengubah hal-hal yang telah mengakar di pikiran masyarakat khususnya terhadap para wanita. Tanamkan ke mereka bahwa wanita harus berdaya untuk dirinya sendiri, bukan untuk menarik perhatian para pria. Nilai wanita tidak ditentukan dari seberapa banyak pria tertarik pada mereka dan di usia berapa mereka akan dinikahi.
"Apa hanya dengan itu bisa membuat keadilan tercipta untuk kaum kami?"
"Bukankah keadilan itu tumbuh mulai dari pikiran? Sebelum bertindak adil, manusia seharusnya lebih dulu memiliki pikiran yang adil."
"Sayangnya, memengaruhi pikiran orang lain itu sangat sulit."
"Kau bisa memanfaatkan posisimu setelah menjadi adipatni¹. Itulah fungsi kekuasaan," ucapnya dengan sorot mata yang berpendar serius.
"Omong-omong ... kau menginjak kakiku!" ungkapku sambil sedikit menahan sakit.
Dia buru-buru menggeser posisinya, lalu menunduk. "Apa itu menyakitkan?"
Aku menggeleng. "Tidak. Mari lanjutkan."
Detik terentang panjang saat garis pandang kami masih bertaut. Kebisuan membentang pekat di ruangan itu. Tidak ada obrolan. Tidak ada musik penggiring hanya ada suara gesekan dari kaki-kaki kami. Tidak ada siapa pun selain aku dan dia. Dalam sunyi yang mengalun itu, aku dapat mendengar suara detakan jantung. Entah itu berasal darinya atau dari diriku sendiri.
.
.
.
Jejak kaki :
Adipatni (Dukes): istri dari pangeran yg bergelar Adipati/duke
Jadi guys, eropa yang kita kenal liberal itu, ternyata pernah sepatriarki dan sehierarki itu terhadap manusia.
Like dan komeng
kenapa ga langsung aja, Barbara ini anunya gitu
pastinya luar dalam dilayani🤭
Bgmn y Bright memperlakukan Barbara serba salah y......
dan selanjutnya apa yang akan terjadi...Kooong
Pangeran bright.....,, waspada,, hati2 jangan smpe si batubara mencurigaimu....