Namanya Ainun, seorang gadis berwajah elok. Ia seorang mahasiswi di perguruan tinggi terfavorit dikotanya. Hidupnya yang terlampau monoton, menjadikannya sosok yang cuek dan cenderung galak, terutama pada lawan jenis.
Siapa sangka, pertemuannya dengan Reza yang berawal dari pertengkaran dan permusuhan, malah membuat hari-harinya berwarna. Di selingi dengan permasalahan keluarga di masa lalu yang selalu menghantuinya.
Cinta keduanya tumbuh membuat lengah Sang Ayah dalam penjagaanya. Ada banyak pelajaran yang Ainun dapatkan saat-saat Tuhan menguji cintanya. Terlebih bayang- bayang masa lalu yang terus saja menguntitnya.
Ini adalah Novel perdana Author, semoga readers suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olive Sparkly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15. menyambut kecewa
Happy reading....🌹
Reza POV
Dalam beberapa hari ini aku seperti orang kehilangan akal, melihatnya dimana mana, bahkan suaranya pun seperti terdengar memekak gendang telingaku. Gadis itu seperti menguntitku kemanapun aku berada.
Sebenarnya ingin ku ceritakan tentang perasaanku ini pada Vino, tapi pasti aku akan menjadi bulan-bulanan dan bahan ejekannya saat ku ceritakan, apalagi aku pernah berkata sarkas dan sangat buruk tentang gadis itu. Sungguh memalukan.
Perasaan aneh menyerbu setiap inci hatiku, merasakan senang saat bertemu , bahagia yang menggunung saat menerima balasan pesannya, aaaahhh... Aku mengguling gulingkan badanku diatas kasur, seperti manusia bodoh yang sedang kasmaran. Alay sekali bukan?
Apakah benar aku menyukainya? kurasa iya, aku menyukainya! Wahai gadis jutek, semua hal tentang mu pun kini aku menyukainya. Ini bukanlah yang pertama bagiku menyukai seorang gadis, tapi tidak segila ini. aaaalamaaakkk!
Bagaimana ini bisa terjadi?
ini seperti kutukan! benar benar kutukan yang menyenangkan!!
.
Pagi ini, semangatku tumbuh berkali kali lipat, dikepalaku bermunculan ide ide konyol untuk mendekati si keriting. Hanya saja apakah aku bisa melakukannya.
Aku mengingat ingat daftar nama teman dekatnya, si keriting pernah bilang diantara para sahabatnya, yang paling terdekat adalah Gita.
Ahhhaaaaa!
Gita. Selain dia teman gadis itu, dia juga akan menjadi kakak iparku. Apa salahnya meminta bantuan darinya. Aku juga pernah membantunya kan? ini sangatlah adil, okey lets do it!
Sesampainya di kampus, aku berkeliling mencari sosok manis yang akan menjadi iparku itu. Tapi untuk bertanya keberadaanya, aku merasa gengsi. jadi kuputuskan untuk mencarinya sendiri.
Kulihat Gita yang tengah berlari ke arah kelas, aku mengikutinya, tapi ternyata dia menemui si keriting. Aku memutar badanku menyelinap ke sudut tiang bersembunyi dari keduanya, aku belum siap bertemu si keriting saat ini.
Siang ini lelah rasanya berkeliling mencari calon kakak iparku itu. Rasa lapar mulai mengusik gendang didalam perut. sepertinya asupan gizi dan tenaga lebih penting sekarang. Aku berjalan ke arah kantin, memesan makanan dan menyantapnya seorang diri. hah! sendiri. karena misiku kali ini hanya sendirian. aku tidak akan melibatkan Vino, bisa kacau jadinya.
Aku duduk sambil menunggu makananku datang, ku ambil ponsel dalam saku ku dan astagaaaa.!!! kenapa aku jadi bodoh sekali, dunia ini sudah sangat canggih, tapi karena satu gadis yang dalam beberapa hari ini mengganggu otakku, menjadikanku melupakan teknologi zaman modern ini. Payah sekali!
Kenapa tidak ku kabari saja dulu Gita? supaya dia bisa menunggu atau menghampiri ku, gampang bukan? rasanya aku ingin membuang otakku yang bodoh ini, dan menggantikannya yang baru.
Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan atau berada diluar jangkauan.
Beberapa kali mencoba menelpon Gita, tapi nomornya tidak aktif. Kemana kau wahai kakak ipar??
"huh" nafasku semakin berat.
Banyak hal yang harus kutanyakan, tapi mencari sang pemberi jawaban sungguh sulit sekali.
Tujuan terakhir pencarianku adalah taman, jika masih tidak kutemukan, aku berniat mendatangi rumahnya sepulang kuliah.
Langkah kakiku semakin malas tatkala orang yang sedari tadi kucari cari tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Kuedarkan pandangan mengelilingi setiap sudut taman, tepat dipojokan sana, aku melihat gadis manis calon kakak iparku itu. huh! Akhirnya.
"Gita..."
Sedikir berlari ku menghampirinya, "Gita, kamu disini aku mencari mu dari tadi, ditelpon pun tidak aktif"
Semangatku pulih saat menemukan sang pemberi jawaban atas segala pertanyaanku nanti. Bahkan berbicara tanpa menyadari lawan bicara Gita yang sedari tadi duduk memunggungiku.
Terhenyak, susah payah menelan ludahku yang sepertinya mengeras ditenggorokan. Dia disini.
Desiran hangat memenuhi rongga dadaku, bahkan Jantungku berdentum lebih keras, sehingga aku takut terdengar olehnya, atau bahkan sebentar lagi akan copot. Ya Tuhaaann!! Beginikah rasanya kasmaran versi dewasa?
Aku mencoba menetralkan segala rasa yang ada. Meliriknya sejenak memastikan apakah dia mendengar dentum jantungku? ahhh.. konyolnya aku!
"Hai, Nun... kamu disini juga." hanya itu yang keluar dari mulutku,
Aku tidak bisa berlama lama, segera ku bawa pergi Gita dari sampingnya. terlalu lama didekatnya aku pastikan jantungku akan berhenti mendadak.
Reza POV end
.
Reza membawa Gita ke tempat lain, tidak jauh dari taman. Gita yang masih bingung hanya bisa menurut dan mengikuti Reza.
Reza menepuk dadanya pelan, mengusapnya kemudian.
"Ada apa?" tanya Gita yang melihat Reza tampak gusar.
"Hei..." Gita melambai lambaikan telapak tangannya tepat didepan wajah Reza membuat reza mengerjapkan matanya.
Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung memulainya dari mana.
"Emm, bagaimana dengan Rezi,?" sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak ada dalam listnya.
"maksudmu?"
"ya.. apakah kalian melanjutkan perjodohan ini?" Rezi yang sudah kepalang bertanya melanjutkan pertanyaan seputar mereka. Padahal awalnya ia hanya sekedar berbasa basi.
Air muka Gita berubah, ada guratan kecil yang terlihat di keningnya, Gita hanya tersenyun samar. Reza sama sekali tidak mengerti, menundukkan wajahnya dan terdiam.
Apakah pertanyaanku terlalu sensitif? kenapa dia terlihat sedih.
"Oke oke, tidak usah dibahas aku mengajakmu kemari ingin membahas masalah lain."
senyum Gita mengembang, meski sesikit ada terlihat sedikit paksaan disana. Ia menghargai keberadaan Rezi.
"Hei, kakak ipar kau baik baik saja, kan?" Reza yang sudah menyadari ada yang tidak beres pada Gita.
"ssstttt... jangan panggil aku seperti itu,"
"Bukankah sebentar lagi juga kamu akan menjadi kakak iparku? ada baiknya kan jika aku mulai belajar memanggilmu dengan sebutan itu," Reza tersenyum genit, mengangkat alisnya.
"Tapi tidak sekarang, disini dan saat ini," kilah Gita cemberut.
"kamu menarikku kemari hanya untuk ini?" lanjutnya bertanya.
Ingatannya kembali muncul, karena alasan mencari Gita sejak tadi untuk menanyakan beberapa perihal Si Keriting.
"Eemm itu,... aku mau minta bantuanmu" jawabnya sedikit ragu.
Tanpa berlama-lama Reza menceritakan semua perasaanya akhir akhir ini, diiringi senyuman dan cekikikan kecil dari Gita yang sesekali meledeknya.
"Kenapa kamu terus tertawa?" Reza memukul kecil bahu Gita menahan malu.
Gita merapatkan bibirny, menahan tawanya untuk yang kesekian kalinya, tapi tetap saja tawanya meledak. meskipun raut wajah Reza sudah memerah, entah itu karena marah atau malu. Gita tidak perduli.
Reza menunjuk kening Gita dengan balpoinnya, "sebenarnya apa isi kepalamu ini heh?"
"singkirkan itu dariku, bukah kamu akan menjadi adik iparku," Gita menangkis tangan Reza dari kepalanya.
heh, baiklah.
"Jadi bagaimana?" tanya Reza penuh harap.
"Apanya?"
"Yang tadi..." Gita berfikir sejenak, mengetuk ngetukan jari telunjuk di pelipisnya.
Gita menarik bahu milik Reza, mendekatkan bibirnya ketelinganya, membisikkan sesuatu. Reza membelalakkan matanya, mendengar penuturan Gita lewat bisikannya itu.
"Apakah begitu?" Reza menarik kepala mengernyitkan dahinya.
Gita mengangguk, "Coba saja,!"
"Aku dekat dengannya sejak SMA, jadi aku tau banyak." lanjutnya meyakinkan.
Reza nampak berfikir, mencerna isi bisikan Gita tadi, "apa kau yakin?"
"he'em" angguknya lagi.
.
Ainun masih menunggu Gita ditempat yang sama ketika ditinggalkan. Ada fikiran untuk pergi dari tempat itu, tapi ia lebih mementingkan Gita. Jika ia tinggalkan, Gita pasti akan tersinggung. Ainun tidak mau itu sampai terjadi.
Hatinya sakit, tapi harus merelakan. Jikapun kesal, takkan mungkin akan terlampiasakan. Ainun menekankan hatinya rasa ini hanyalah sebatas rasa nyaman, tidak lebih. Nyaman sebagai teman mungkin.
Tapi mata ini tidak dapat berbohong, sejak tadi ada bulir bening hangat mengalir menemani kesendiriannya. Mencoba untuk berdamai dengan rasa yang tidak sepantasnya, Ainun menarik nafasnya dalam dan dihembuakannya perlahan, begitu ia ulang berkali kali.
" Hei Nun, kamu menangis?" terdengar suara dari arah samping Ainun.
Ainun mengusap lelehan hangat dipipinya secepat kilat, agar tak terlihat oleh orang itu. Tapi percuma, sejak tadi Vino memperhatikannya swdang menangis diam.
"Ada masalah?" cemas Vino menatap Ainun.
Yang ditatap hanya menggelengkan kepala "tidak kak", "tadi ada debu masuk ke mataku, jadi sedikit pedih" Kilah Ainun sambil mencoba tersenyum.
Vino dapat menyimpulkan ketidak benaran perkataan Ainun baru saja. Ainun berbicara tapi matanya entah kemana.
"Dia menyembunyikan sesuatu,." gumam Reza dalam hatinya.
Akhirnya
mereka hanya terduduk diam bersampingan. Menanti kedua insan yang meninggalkan Ainun sedari tadi.
Vino yang kebingungan hanya bertanya sekedarnya, itupun hanya dijawab anggukan dan gelengan kepalanya saja.
Tak berselang lama Gita dan Reza datang menghampiri, Ainun yang masih gamang, harus tersenyum melihat keceriaan wajah Gita. Senyumnya merekah, sepertinya ada kabar gembira yang baru saja didengarnya.
"Kalian sangat cocok, bahkan Gita sangat terlihat bahagia sekali" , Ainun membatin.
Berbeda dengan Gita, Reza menampakkan raut wajah yang sulit ditebak. Pria yang biasanya sangat pandai mencairkan suasana ini mendadak kalem.
"Sejak kapan Vino duduk berdua bersama Si Keriting?" Reza menerka nerka
Gita mengajak Ainun masuk, meninggalkan dua pria yang masih belum berbicara satu sama lain.
To be continue...
🌹🌹🌹
Sebenarnya apa yang dibisikkan Gita ya?
Ada yang penasaran.?...
Ditunggu up selanjutnya yaaa...
Terima kasih banyak banyak banyak kepada readers yang sudah meluangkan waktunya untuk cerita Ainun. Semoga kalian suka yaa...
Rate bintang 5, like dan komen jangan lupa... vote seikhlasnya🤗
Salam Luvvvv
Olive Sparkly
ada kalimat hamil dan kehilangan anaknya . yg di suruh ambil ngerawat si bibi sebelumnya itu yg mengenali dika. tp dia taruh di panti.
g mungkin dika muncul segini banyak partnya kalau bukan penting. entah saingannya si reza atau malah jd benar kakaknya
Ainun punya hape nih skg. tapi jika dia sangat terluka oleh apa yg diprbuat Bara pada Ridho. kenapa Ainun pas ngelihat nggak ada papinya malah menghubungi Reza?
bukannya dia mengkhawatirkan papinya? tp kok malah minta tolong sama Reza yg notabene jauh (5 jam perjalanan) dalam kondsi sakit, dan bukan bagian dr carut marut keluarganya.
pdhl papinya paling dkt jaraknya. misalpun di usir masih ada di sekitar situ. dan dia papinya bukan orang lain.
biar bagaimanapun yg bisa menyelesaikan masalahnya kan ttp aiunan dan keluarganya.
dia hnya menarik reza dlm bahaya.
papinya masih dibelain sma rekha
ainun sndr jls g bkl diapa2in
tp reza??
mlh jd ngeri.
hangat hangat, makan kolak
selalu semangat, kakak...
pantunku gak nyambung🙈tapi semoga itu bisa menambah semangat kakak dalam berkarya❤
tapi bahagia aku bacanya, ikut prok prok aja deh👏👏❤
kakak memang the best merangkai kata..😍🍃
aq smpe bingung cari 🥴🥴
terus paragraf terakhir coba d baca lagi, ad yang janggal g???
sorry sedikit bawel, soalnya aq baca isi ceritamu, bukan baca komen mu😎😎😎
kurang enk d baca
aku nyacroll kok teman kondangan nggak update tapi malah ilang.
aku smp buka profilmu buat nyariin judul.
CMIIW ya readers semua.
sebenarnya semua orang yg punya luka benturan di kepala, (entah apapun penyebabnya) tidak disarankan untuk diguncang2kan, digoyangkan, dipindahkan posisinya. efeknya fatal. dari memperparah keadaan sampai dengan meninggal. karena kepala itu identik dengan saraf dan pembuluh darah.
tapi kita bicara di Indonesia. cederung semua kecelakaan yg terjadi akan dipindahkan dl. entah karena ditengah jalan, panik, atau dianggap harus segra sadar. tanpa tahu proses yg kita berikan justru memperbesar resikonya..
saya pernah lihat kecelakaan dan menyarankan untuk menunggu petugas medis datang sebelum dipindahkan. tp malah saya yg kena omelan. buru2 mereka ingin bawa kr rs.
namun keadaan yang enggan Qt bertemu
seoalah tk ingin Qt bersatu
memecahkan rindu yg membatu