NovelToon NovelToon
Azura And The Lost King

Azura And The Lost King

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:595
Nilai: 5
Nama Author: HikmahToo

Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.

Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.

Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.

Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.

Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.

Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.

Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.

Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?

Takhtanya...

Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?

up rutin. 06:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mulai menyebar

Selama beberapa hari terakhir, bisik-bisik tentang hilangnya Putra Mahkota Leonard menyebar seperti api yang menjalar di padang rumput kering. Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali memulainya. Namun, ketika sang pangeran tak kunjung terlihat di hadapan rakyat, keraguan perlahan berubah menjadi kepanikan

Sejak matahari belum tinggi, suasana Kerajaan Lunaventia sudah tidak seperti biasanya.

Ratusan rakyat memenuhi halaman depan gerbang utama istana.

Awalnya hanya puluhan orang.

Lalu menjadi ratusan.

Mereka membawa kecemasan sekaligus kemarahan.

Beberapa hari terakhir, Putra Mahkota Leon sama sekali tidak pernah terlihat.

Desas-desus mulai menyebar.

Ada yang mengatakan beliau sakit.

Ada pula yang mengatakan beliau dibunuh.

Bahkan ada yang berbisik bahwa keluarga kerajaan sedang menyembunyikan sesuatu.

Semakin lama, isu itu berubah menjadi amarah.

Para prajurit berdiri membentuk barisan. Berusaha menghalangi rakyat supaya tidak menerobos masuk ke dalam.

Namun jumlah rakyat terus bertambah. Mereka bahkan kewalahan

Suara teriakan saling bersahutan, dan hanya satu yang mereka katakan.

"Kami ingin melihat Putra Mahkota!"

"Yang Mulia putra mahkota harus menemui kami!"

"Kami tidak akan pulang sebelum melihat beliau!"

Beberapa menteri mencoba menenangkan keadaan.

Namun suara mereka tenggelam oleh teriakan rakyat.

Permaisuri berdiri di balik jendela aula istana.

Wajahnya pucat panik.

Tangannya mengepal pelan.

Arya berdiri di sampingnya.

"Apa Mereka sudah menyadarinya?" gumam Arya.

Permaisuri menghela napas pelan.

"Siapa yang telah menyebarkan nya?"

panglima Arkana berlutut.

"Yang Mulia... Apa kita harus sedikit memakai kekerasan? Karna mereka sama sekali tidak mau berhenti."

Permaisuri langsung menggeleng pelan, tangan keriputnya terangkat.

"Tidak." Larangnya "Aku tidak ingin setetes darah rakyat tumpah di depan istana. Karna itu akan membuat situasi semakin runyam."

Arkana kembali menegakan tubuhnya, terus menatap ke depan dengan tatapan cemas.

"Tapi ibu, apa kita hanya akan duduk diam di sini? Tanpa turun tangan sedikit pun?"

Ucap Laurent - adik perempuan dari Qhilandra.

Wajahnya menyiratkan ketakutan.

Permaisuri tetap menggeleng.

"Kita tidak akan berhasil untuk meredam amarah rakyat yang tengah di liputi amarah dan rasa penasaran,"

Di kamar.

Dhapne terus menatap surat di tangannya, dia belum pernah melihat bahasa ini atau pun mendengarnya.

"I wr ote it in th is lang uage on pur pose, beca use may-be they don't k now it" Dhapne terus mengejarnya dengan kaku, sambil sedikit menyipitkan mata. "How to open interdi mensional doors through paint-"

Belum sempat selesai membacanya.

Teriakan dari luar terdengar semakin keras.

Arselia menutup telinganya.

"Kak... di luar berisik sekali."

Katanya, sambil mengerucutkan bibirnya kesal.

Dhapne berjalan menuju jendela, di ikuti Arselia di belakangnya.

Dahinya mengernyit, Begitu melihat ribuan rakyat berkumpul.

Tatapannya berubah serius, tangannya mengepal erat di sisi gaun nya.

Dhapne keluar dari kamar menuju aula depan istana, dia mendapati permaisuri dan yang lain tengah berkumpul.

"Nenek!"

Semua orang mengalihkan pandangannya pada Arselia juga Dhapne yang menghampiri mereka.

Arselia berlari kecil memeluk permaisuri, mata bulatnya menatap bingung pada semua orang yang terlihat cemas.

"Nenek, ada apa dengan mereka? Mereka terus menyebut nama kak Leon, apa dia pulang?"

Tanya Arselia berkedip polos.

Permaisuri mengelus kepalanya lembut, Laurent tersenyum tipis, mengendong bocah 6 tahun itu untuk mengalihkannya.

"Sayang, apa kau ingin bermain?" Arselia mengangguk antusias. "Kita akan bermain di belakang"

Laurent mengendong Arselia menjauh dari kebisingan, dia membawanya ke belakang istana.

Dhapne memegangi pundak permaisuri pelan, matanya terus menatap kumpulan rakyat yang terus berteriak di depan istana.

"Apa yang mereka inginkan?"

Tanyanya pelan.

"Mereka ingin bertemu Leon"

Sahut permaisuri.

Dhapne menyengrit samar.

" Mereka sepetinya sudah curiga atau bahkan tau jika Leon menghilang?"

Sambung permaisuri.

"Siapa yang telah menyebarkan berita itu nenek?"

Tanyanya dingin. "Para penghianat itu telah Memulai lebih cepat rupanya"

Gumamnya pelan.

Gerbang istana perlahan terbuka.

Seluruh rakyat langsung terdiam.

Dhapne turun perlahan dari tangga istana, rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angin, wajah cantiknya memancarkan aura kesatria yang kuat.

Tatapannya lurus ke depan, gaun hijau zamrud yang membalut tubuhnya bergerak indah mengikuti langkahnya.

Di belakangnya berdiri para kesatria.

Keributan yang semula memenuhi halaman istana perlahan mereda.

Rakyat kembali berteriak.

"Di mana Putra Mahkota?!"

"Kami ingin melihat Yang Mulia Leonard!"

"Apa benar beliau telah menghilang?!"

Dhapne berhenti.

Tatapannya menyapu seluruh kerumunan.

"Apakah begini cara kalian membalas keluarga kerajaan yang selama ini melindungi kalian?"

Suaranya tidak keras. Namun setiap katanya terdengar jelas hingga ke barisan paling belakang.

"Kalian datang membawa amarah, tetapi tidak membawa bukti. Kalian datang membawa tuduhan, tetapi tidak membawa kebenaran."

Suaranya rendah namun dingin menusuk.

Salah satu dari mereka melangkah sedikit maju, memainkan tangannya cemas.

"Kalau Putra Mahkota baik-baik saja, kenapa beliau tidak pernah muncul?"

Dhapne mengangkat sebelah tangannya, menatap pria tua itu tajam.

"CUKUP!"

Suaranya menggema memenuhi halaman istana yang mendadak hening.

Bahkan para prajurit ikut menegakkan tubuh.

"Kalian boleh mencintai Putra Mahkota. Namun jangan jadikan rasa cinta itu alasan untuk menginjak kehormatan kerajaan!"

Tatapannya menyapu ke seluruh rakyat yang menatap satu sama lain.

Beberapa orang mulai menunduk.

Tatapan Dhapne berubah dingin.

"Ayahanda dan Bunda telah mengabdikan hidup mereka untuk melindungi negeri ini."

"Leon juga melakukan hal yang sama." Tatapan nya tak lepas dari mereka yang menunduk bungkam "Lalu balasan kalian adalah datang ke istana sambil meneriakkan fitnah?"

Tidak ada yang berani menjawab, keadaan menjadi hening total

Seorang lelaki tua maju.

"Kami hanya khawatir."

Dhapne mengangguk.

"Aku memahami kekhawatiran kalian." Ucapnya tenang "Tetapi jangan biarkan rasa khawatir berubah menjadi senjata yang melukai kerajaan."

Rakyat mulai saling berpandangan.

Satu per satu mundur.

Sampai Akhirnya halaman istana kembali sepi.

Dan Dhapne menghela nafas pelan, berusaha menghalau air mata yang akan menerobos keluar.

'aku harap kau cepat kembali'

Semua petinggi kerajaan berkumpul.

Arkana selaku panglima membuka rapat.

"Berita ini pasti berasal dari dalam istana."

Semua saling memandang.

Dhapne mengepalkan tangan.

"Artinya...mereka telah bergerak"

Permaisuri mengangguk pelan.

" Kita harus memperketat keamanan," katanya, lalu melirik pada shujy-pelayan pribadinya. " Kumpulkan semua pelayan di aula istana! Kita akan memeriksa mereka"

Shujy mengangguk patuh, berjalan mundur sebelum menghilang dari balik dinding.

Ruangan kembali sunyi. Mereka sibuk pada pemikiran masing-masing.

Di lorong gelap.

Seseorang berjubah hitam tersenyum.

Di hadapannya berdiri seorang pelayan istana.

"Rakyat sudah mulai curiga."

Pelayan itu bertanya pelan. "Lalu apa perintah selanjutnya?"

Pria berjubah itu tersenyum tipis.

"Buat mereka semakin membenci keluarga kerajaan."Ia berbalik pergi. "Katakan bahwa Leon yang selama ini mereka puja telah hilang! Sebarkan beritanya secara perlahan, agar mereka percaya" mata pria itu menatap nyalang kedepan, dengan tangan terkepal dan senyum menyeringai. "Permainan ini... baru saja dimulai."

Bersambung...

1
gendiz
semangat lanjutkan menulisnya 💪 kalau sempat mampir baca karyaku juga ya
HikmahToo: iya kak✨ makasih udah mampir
total 1 replies
MayAyunda
mampir tor
HikmahToo: makasih kak🙏😍
total 1 replies
HikmahToo
guys jangan lupa kasih bintang nya ya, maacih
MayAyunda
lanjut kak
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
semangat buat penulis 💚
HikmahToo: makasih ka✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!