NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Maysha

Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Berpura-pura Menjadi Pasangan Bahagia

Mobil mewah berwarna hitam mengilap itu melaju tenang membelah jalanan kota yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kuning keemasan, memantul di kaca jendela mobil yang tertutup rapat. Di dalamnya, suasana terasa hening, hanya terdengar suara mesin yang halus dan detak jarum jam yang terpasang di dasbor.

Anya duduk di kursi penumpang, tangannya tergenggam erat di pangkuan. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih cepat dari biasanya. Ia menatap ke luar jendela, tapi pikirannya tidak tertuju pada pemandangan yang lewat, melainkan pada apa yang akan dihadapinya sebentar lagi. Ini adalah acara resmi pertamanya sebagai istri Arga Wijaya, dan ia tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun.

Sejak tadi sore, ia sudah berusaha menenangkan diri. Ia melatih senyum di depan cermin, membayangkan bagaimana cara berdiri, cara menjawab sapaan, dan bagaimana bersikap agar terlihat alami. Namun meskipun sudah berusaha sekuat tenaga, rasa gugup itu tetap ada, menggelitik di perutnya.

Arga yang duduk di sampingnya menyadari kegelisahan itu dari sudut pandangnya. Ia memegang setir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar di jendela. Wajahnya tetap datar, namun suaranya terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya saat ia berbicara.

“Tenang saja. Tidak perlu tegang berlebihan,” ucapnya tanpa menoleh, tapi cukup jelas terdengar. “Yang perlu kamu lakukan hanya tersenyum, berdiri di samping saya, dan menjawab pertanyaan yang diajukan dengan sopan. Jangan memulai topik pembicaraan yang tidak perlu, dan jangan menatap orang terlalu lama. Itu saja.”

Anya menoleh, lalu menarik napas panjang sebelum menjawab, berusaha menenangkan suaranya agar tidak terdengar bergetar. “Saya mengerti, Tuan. Saya hanya takut melakukan kesalahan, atau bertindak di luar batas yang seharusnya.”

Arga mengangguk pelan. “Selama kamu ingat posisimu dan menjalankan apa yang sudah disepakati, semuanya akan berjalan lancar. Mereka hanya ingin melihat bahwa saya sudah memiliki pendamping, bukan menyelidiki kebenaran pernikahan kita. Jadi cukup buat mereka percaya bahwa kita adalah pasangan yang serasi.”

Nasihat itu sedikit menenangkan hati Anya. Ia memejamkan mata sejenak, mengulang kata-kata Arga di dalam pikirannya, berusaha menyingkirkan rasa takut yang menyelimuti. Ia harus kuat, ini demi masa depan ibunya dan demi menyelesaikan semua beban utang yang ada.

Tak lama kemudian, mobil itu berbelok masuk ke sebuah gerbang tinggi yang dijaga ketat. Di dalamnya terbentang kawasan perumahan elit yang sangat luas, di mana hanya orang-orang terpandang dan pemilik kekayaan besar yang bisa tinggal di sana. Deretan rumah megah berdiri rapi, masing-masing memiliki taman dan fasilitas yang mewah.

Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah yang paling besar dan megah di ujung jalan. Lampu-lampu hias menyala terang menghiasi halaman depan, menciptakan suasana yang hangat namun mewah. Dari balik pintu utama yang terbuka, terdengar suara musik lembut dan gelak tawa tamu yang sedang berkumpul.

Sopir segera turun dan membukakan pintu untuk Arga terlebih dahulu. Begitu Arga melangkah keluar, ia segera berjalan memutar ke sisi lain untuk membukakan pintu Anya. Saat Anya melangkah turun, Arga tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arah gadis itu.

“Berikan tanganmu,” bisiknya pelan. “Di depan mereka, kita bukanlah orang asing yang terikat kontrak. Kita adalah suami istri yang baru menikah dan saling menyayangi.”

Jantung Anya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menatap tangan Arga yang terlihat kokoh dan bersih, lalu perlahan-lahan meletakkan telapak tangannya di atasnya. Sentuhan itu terasa hangat, dan entah mengapa membuat detak jantungnya kembali berpacu lebih cepat dari sebelumnya, meskipun ia tahu ini hanyalah sandiwara belaka.

Mereka berdua melangkah masuk berdampingan, tangan mereka tetap tergenggam. Begitu melangkah masuk ke ruang tamu yang luas dan megah, seketika ratusan pasang mata tertuju ke arah mereka. Semua orang mengenali sosok Arga Wijaya, pewaris kekayaan terbesar di kota itu, dan penampilan barunya membawa pasangan membuat rasa penasaran melonjak di antara para tamu.

“Wah, akhirnya datang juga, Arga! Kami sudah menunggu kedatanganmu,” sapa seorang pria paruh baya dengan pakaian jas rapi dan senyum lebar. Itu adalah Pak Hartono, pemilik rumah sekaligus pengusaha besar yang sudah lama menjalin kerja sama dengan keluarga Wijaya.

Arga membalas sapaan itu dengan senyum tipis, senyum yang jarang sekali terlihat di rumahnya sendiri. “Maafkan keterlambatan kami, Pak Hartono. Ada sedikit urusan mendadak yang harus diselesaikan sebelum berangkat.”

Ia lalu menoleh ke arah Anya, mengangkat tangan yang tergenggam itu sedikit lebih tinggi agar terlihat jelas oleh semua orang. “Perkenalkan, ini istri saya, Anya Wijaya.”

Mendengar namanya disebut demikian, Anya tersenyum lembut dan anggun, lalu sedikit membungkukkan badan memberi salam. “Selamat malam, Pak Hartono, dan semuanya. Senang sekali bisa bertemu dengan Bapak dan Ibu sekalian malam ini.”

Pak Hartono menatap Anya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan kagum, lalu menoleh kembali ke Arga sambil tertawa kecil. “Pantas saja kamu menolak semua wanita yang diperkenalkan orang tua selama ini. Istri yang cantik, lembut, dan sopan. Selamat ya, semoga kalian bahagia selamanya.”

Mereka pun berjalan menyusuri ruangan, disapa oleh satu per satu tamu yang hadir. Setiap kali bertemu wajah baru, Arga dengan tenang memperkenalkan Anya sebagai istrinya, dan Anya pun memainkan perannya dengan sangat baik. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan nada lembut namun tegas, tidak terlalu banyak bicara namun cukup untuk terlihat ramah dan menyenangkan.

Di dalam hatinya, ia merasa seperti sedang memerankan tokoh dalam sebuah drama. Ia harus mengatur setiap gerak-gerik, setiap ekspresi wajah, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya agar tidak ada yang curiga. Selama ini ia hanya hidup dalam kesederhanaan, dan sekarang ia harus berbaur dengan kalangan atas yang gaya hidupnya sangat jauh berbeda. Namun, ia berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat canggung.

Di tengah keramaian, sekelompok pengusaha yang sudah lama mengenal Arga menghampiri mereka. Salah satu dari mereka bertanya dengan nada santai namun penuh rasa ingin tahu.

“Arga, sejak kapan kalian menikah? Kami tidak mendengar kabar apa pun sebelumnya, bahkan tidak ada undangan pesta pernikahan. Apa kamu sengaja merahasiakannya dari kami?”

Arga tertawa kecil, jawabannya sudah disiapkan dengan matang. “Kami memutuskan untuk menikah secara sederhana dan tertutup saja. Tidak ingin mengundang banyak orang atau membuat keributan. Bagi kami, yang terpenting adalah ikatan yang sah di hadapan Tuhan dan negara, bukan kemeriahan pesta.”

Saat itu, tanpa diduga-duga, Arga merangkul bahu Anya dan menarik tubuh gadis itu lebih dekat ke sisinya. Sentuhan yang tiba-tiba itu membuat Anya terkejut, jantungnya berdebar kencang. Ia menoleh ke arah Arga, tapi pria itu tetap menatap para tamu dengan ekspresi tenang, seolah apa yang dilakukannya adalah hal yang paling wajar.

Anya pun segera mengikuti alur, sedikit menundukkan kepala seolah merasa malu, padahal di dalam dadanya sedang bergemuruh. Ia sadar, ini adalah bagian dari sandiwara agar terlihat lebih meyakinkan. Semakin terlihat akrab, semakin kecil kemungkinan ada yang mencurigai hubungan mereka.

Setelah berbincang cukup lama, Arga membisikkan suara sangat pelan hanya agar bisa didengar oleh Anya. “Kita ke teras belakang sebentar. Saya butuh udara segar, dan kamu juga butuh istirahat sebentar dari keramaian ini.”

Mereka pun melangkah perlahan menuju pintu kaca yang mengarah ke teras belakang. Begitu sampai di tempat yang lebih sepi dan jauh dari keramaian, Arga segera melepaskan rangkulannya. Suasana hangat dan akrab yang tercipta di depan orang lain seketika hilang, digantikan oleh sikap dingin dan jarak yang biasa mereka jalani.

Arga bersandar di pagar besi yang menghadap ke taman yang terang benderang, menghirup udara malam yang segar. “Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik tadi,” ucapnya singkat, namun nadanya terdengar seperti pujian yang jujur. “Lebih baik dari yang saya duga sebelumnya. Tidak ada yang terlihat curiga sedikit pun.”

Anya menghela napas panjang, merasakan ketegangan yang menekan dadanya perlahan menghilang. Ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke dinding, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih, Tuan. Saya hanya berusaha mengikuti apa yang Bapak ajarkan. Saya tidak punya pilihan lain selain melakukannya dengan sempurna.”

Arga menoleh dan menatap wajah Anya lekat-lekat, seolah ingin membaca pikiran yang tersembunyi di balik tatapan matanya. “Apakah kamu tidak merasa tertekan dengan semua ini? Berpura-pura menjadi orang yang bukan dirimu, hidup di dunia yang bukan duniamu?”

Pertanyaan itu membuat Anya terdiam sejenak. Ia memandang ke arah bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit malam, lalu menjawab dengan suara yang tenang namun penuh makna. “Tentu saja terasa berat. Semua ini terasa asing dan tidak wajar bagi saya. Tapi ketika saya mengingat mengapa saya melakukannya — demi ibu saya, demi melunasi utang, dan demi masa depan yang lebih tenang — maka beban itu terasa lebih ringan. Saya tahu batas waktu yang saya miliki, jadi saya hanya perlu bertahan sampai masa itu tiba.”

Jawaban itu membuat Arga terdiam lebih lama. Ia terbiasa bertemu dengan wanita yang mendekatinya hanya karena kekayaan, jabatan, atau statusnya. Tapi Anya berbeda. Ia melihat ketegasan, kesabaran, dan harga diri yang tinggi dalam diri gadis itu. Hal itu membuat rasa hormat perlahan tumbuh di hatinya, meskipun ia tidak ingin mengakuinya.

“Baiklah,” jawab Arga akhirnya. “Tetaplah memegang prinsip itu. Itu akan membantumu melewati satu tahun ke depan dengan lebih mudah. Sebentar lagi kita harus kembali masuk, acara makan malam akan segera dimulai.”

Setelah beberapa menit beristirahat, mereka kembali masuk ke ruang makan. Meja panjang yang megah sudah terisi berbagai hidangan lezat dan mewah dari berbagai belahan dunia. Arga memimpin Anya duduk di kursi yang disiapkan tepat di sebelahnya.

Sepanjang jamuan makan, Arga tetap memerankan perannya dengan baik. Ia sesekali menyodorkan makanan ke piring Anya, bertanya dengan nada lembut apakah gadis itu menyukai hidangannya, dan berbicara seolah mereka adalah pasangan yang sudah lama hidup bersama. Di mata semua tamu, pemandangan itu terlihat sangat harmonis dan membahagiakan. Tidak ada yang menyangka bahwa semua itu hanyalah lakon yang dibangun di atas selembar kertas perjanjian.

Namun ketenangan itu terganggu sesaat ketika seorang wanita berjalan mendekat dengan langkah anggun dan penuh percaya diri. Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah menyala yang sangat mencolok, dengan perhiasan berlian yang berkilauan di leher dan telinganya. Kehadirannya langsung menarik perhatian banyak orang.

Itu adalah Rina, putri dari salah satu pengusaha terkaya di kota itu. Sudah lama Rina mengagumi Arga dan berharap bisa menjadi istrinya. Mendengar kabar bahwa Arga sudah menikah membuatnya merasa kecewa, dan kehadiran Anya malam ini membuat rasa penasarannya berubah menjadi rasa tidak suka.

“Selamat malam, Arga,” sapa Rina dengan nada lembut namun menyembunyikan ketajaman di matanya. Lalu ia menoleh ke arah Anya, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan yang merendahkan. “Dan ini tentu istri barumu? Cantik sekali, tapi rasanya saya belum pernah melihatnya di lingkungan kita sebelumnya. Dari keluarga mana, kalau boleh tahu?”

Anya tersenyum tetap sopan, meskipun ia bisa merasakan ketidaksukaan yang tersembunyi itu. “Selamat malam. Saya Anya, dan saya bukan berasal dari kalangan ini.”

Sebelum Rina sempat melontarkan pertanyaan lain yang mungkin menyudutkan, Arga langsung menyela dengan nada tegas namun tetap sopan. “Asal-usulnya tidak penting. Yang penting dia adalah istri saya, dan dia sudah sah menjadi bagian dari keluarga Wijaya. Saya harap kamu bisa menghormatinya seperti menghormati saya.”

Jawaban Arga yang tegas membuat Rina tertegun sejenak. Wajahnya sedikit memerah karena malu, namun ia berusaha menutupinya dengan senyum terpaksa. “Tentu saja, saya hanya ingin mengenalnya lebih dekat. Semoga kalian berdua bahagia,” ucapnya sebelum berbalik dan pergi dengan langkah tergesa.

Setelah wanita itu pergi, Anya menatap Arga dengan pandangan bertanya. “Siapa dia?”

“Tidak perlu dipikirkan,” jawab Arga singkat. “Hanya seseorang yang terlalu mencampuri urusan orang lain. Mulai hari ini, kamu akan sering bertemu orang-orang seperti dia. Ada yang akan bersikap baik, ada pula yang akan mencoba menguji atau menjatuhkanmu. Tetaplah tenang, jangan terpancing emosi, dan ingat posisimu. Selama kamu bersikap benar, tidak ada yang bisa menyakitimu.”

Nasihat itu terserap baik oleh Anya. Ia sadar, hidupnya sekarang tidak akan semudah yang dibayangkan. Selain harus beradaptasi dengan gaya hidup baru, ia juga harus siap menghadapi berbagai tatapan, bisikan, dan sikap orang-orang yang mungkin tidak menyukai kehadirannya.

Acara malam itu berlangsung hingga larut malam. Setelah berpamitan dengan tuan rumah dan tamu lainnya, mereka pun melangkah keluar menuju mobil untuk pulang. Di dalam perjalanan pulang, suasana kembali hening seperti tadi. Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Arga sesekali melirik ke arah Anya, memikirkan sikap gadis itu malam ini. Ada sesuatu dalam diri Anya yang membuatnya merasa tidak biasa, sesuatu yang belum pernah ia temukan pada wanita lain sebelumnya.

Sesampainya di rumah, mereka turun dan berjalan masuk menuju lantai dua. Saat sampai di depan tangga yang memisahkan jalan menuju kamar masing-masing, Arga berhenti dan menoleh ke arah Anya.

“Malam ini kamu sudah melakukannya dengan sangat baik,” ucapnya, kali ini dengan nada yang lebih lembut dan tulus dari biasanya. “Lebih baik dari yang saya harapkan. Istirahatlah yang cukup, besok pagi saya harus berangkat ke kantor lebih awal, jadi kita tidak akan bertemu di meja makan.”

Anya terkejut mendengar pujian itu, lalu tersenyum tulus untuk pertama kalinya malam itu. “Terima kasih banyak, Tuan. Selamat beristirahat juga.”

Melihat senyum yang tulus dan alami itu, jantung Arga berdegup sedikit lebih cepat tanpa ia sadari. Ia segera mengangguk singkat, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya, seolah ingin menghindari perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam hatinya.

Sementara itu, Anya masuk ke kamarnya, menutup pintu dan bersandar di belakangnya. Ia menghela napas panjang, melepaskan semua ketegangan yang terpendam selama berjam-jam tadi. Malam ini adalah ujian pertamanya, dan ia berhasil melewatinya dengan baik. Namun, di dalam hatinya, ia sadar bahwa ini hanyalah permulaan. Perjalanan satu tahun ke depan pasti akan menghadirkan lebih banyak tantangan, kejutan, dan mungkin juga perasaan-perasaan yang tidak ia duga sebelumnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!