Maula, harus mengorbankan masa depannya demi keluarga.
Hingga suatu saat, dia bekerja di rumah seorang pria yang berprofesi sebagai abdi negara. Seorang polisi militer angkatan laut (POMAL)
Ada banyak hal yang tidak Maula ketahui selama ini, bahkan dia tak tahu bahwa pria yang menyewa jasanya, yang sudah menikahinya secara siri ternyata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Setelah berfikir semalaman, aku akhirnya memutuskan untuk bekerja menjadi guru privat sekaligus pengasuh untuk dua anak berusia sepuluh dan enam tahun.
Aku juga sudah menghubungi bu Ella dan minggu depan baru bisa mulai bekerja.
Duduk di depan meja rias, ku sibukkan diri untuk memanjakan diri sendiri. Merawat tubuh dengan lulur, hingga memotong kuku yang sudah mulai memanjang.
Saat tengah fokus dengan gunting kuku, aku di kejutkan oleh suara dering ponsel.
Otomatis, aktivitasku terhenti dan sepasang iris bulatku melirik ke arah ponsel yang tadi ku letakkan di atas meja rias.
Muncul nama mr F di layar pop up, karena blokirannya memang sudah ku buka, jadi pria itu sudah bisa menghubungiku.
Dengan keberanian yang cukup besar, juga karena tidak mau di katai kabur darinya, aku pun mengangkat panggilannya.
Ku geser ikon berwarna hijau, kemudian menempelkan gawaiku di salah satu telingaku.
"Ada apa?" Tanyaku datar.
"Persiapkan dirimu besok malam, aku akan menikahimu secara agama"
"What? Aku nggak mau" Tolaku cepat campur kaget tentunya.
"Lho, bukannya itu yang kamu mau?" Pria itu sepertinya sedikit kesal. "Kamu ini sebenarnya niat bayar hutang apa enggak? Kalau mau mengembalikan dalam bentuk uang, sekarang juga kamu transfer ke rekeningku, dan kalau nggak bisa, kamu harus menemaniku sampai sembilan malam, baru ku anggap lunas"
"Kalau aku nggak mau menikah denganmu, apa yang akan kamu lakukan?" Tantangku dengan berani.
"Ya aku akan penjarakan kamu lah, enak saja sudah bawa uangku empat puluh lima juta terus aku bebasin, ya nggak bisa dong"
"Apa kamu nggak takut karirmu hancur? Aku bisa saja melaporkanmu loh" Kali ini dengan percaya diri aku mengancamnya.
"Melaporkan apa?"
"Kamu ini seorang pomal, kan? Aku bisa saja mengadukanmu ke pihak yang berwajib. Menikah diam-diam tanpa sepengetahuan istrimu itu melanggar aturan kedisiplinan, apalagi selingkuh hingga membayar wanita malam untuk memuaskanmu"
"Dari mana kamu tahu aku anggota pomal?"
"Hhh... Itu nggak penting" Jawabku dengan tawa penuh kemenangan.
"Kamu pikir aku benar-benar seorang pomal? Ckckk kamu salah"
"Nggak usah mengelak, aku tahu dari T-shirt kamu kok"
"T-shirt? Oh, itu T-shirt milik majikanku, aku hanya seorang sopir, dan kaos itu aku dapat bekasan dari bosku"
"A-apa?"
"Lain kali cari tahu identitas seseorang dengan lebih cermat"
"J-jadi kamu bukan anggota pomal?"
"Bukan, aku seorang sopir" Ucapnya dengan nada tegas.
"Halo" Sapanya ketika aku mengunci rapat mulutku.
"I-ya"
"Besok sore aku akan jemput ayahmu untuk jadi wali, dan kamu harus datang ke apartemen floresta, gedung C, lantai empat, room A. Minta kunci apartemen ke satpam"
"Sopir kok punya apartemen?"
"Kamu nggak tahu kalau orang jaman sekarang banyak yang sok kaya padahal duit pas-pasan?"
"Oh, jadi kamu termasuk orang yang pura-pura kaya?"
"Ya begitulah"
Aku mencebik dalam hati. Bisa-bisanya dia terlalu jujur di depan orang lain, padahal banyak orang yang justru jaim dan nggak mau di katain pura-pura kaya.
"Halo" Sentaknya lagi, membuatku sedikit berjengit.
"Iya"
"Semua sudah ku persiapkan, jangan macam-macam denganku, mengerti!"
"Okay! Hanya sembilan malam, setelah itu kita tidak ada hubungan apapun" Kataku karena tak ada pilihan lain. Tapi di sisi lain, tidak masalah menikah dengan pria itu. Dia tidak terlalu jelek, tapi justru sebaliknya, dari segi fisik pria itu terlalu sempurna menurutku.
"Sebelum pukul satu, kamu sudah harus di apartemen, ngerti?"
"Hmm" Sahutku malas.
Bukannya meresponku lagi, dia malah memutus panggilan secara sepihak.
Aku terpaku sambil menatap layar ponsel. Mulutku bergumam kecil kketika teringat ucapannya beberapa menit lalu.
"Hanya seorang sopir saja belagunya minta ampun"
"Dan ternyata aku salah, dia bukan seorang pomal"
Ku letakkan kembali benda tipis milikku di tempat semula, lalu melanjutkan aktivitasku yang sempat tertunda.
****
Seolah sudah di persiapkan dengan matang, begitu aku sampai di apartemen floresta, tak ada siapapun di sini, tapi semua terlihat rapi dan sudah ada seperangkat alat sholat, cincin emas, dan juga uang tergeletak di atas meja.
Mungkin ini yang di namakan mahar pernikahan. Tapi semua itu bagi aku nggak penting, sebab pernikahan ini hanya main-main untuk menutupi hutang dan supaya terhindar dari zina.
Tak apa aku berkorban, andai saja ada pria yang benar-benar mencintaiku kelak, dia pasti akan menerimaku apa adanya, meski aku sudah pernah menikah secara siri.
Mendesah pelan, langkahku tertuju ke arah kamar yang pintunya terbuka. Tadi saat aku masih di jalan, pria itu mengirimiku pesan singkat.
Dia bilang aku bisa masuk ke kamar untuk bersiap dan mengenakan gaun kebaya milik istrinya saat dia menikahinya beberapa tahun lalu.
Miris bukan main nasibku ini, baru lahir sudah di tinggal ibunya, kemudian di perlakukan buruk oleh ibu tiri, menjadi pelacur, dan kini harus menikahi pria beristri. Parahnya lagi aku harus memakai kebaya bekas perempuan lain.
Reflek, bibirku tersungging tipi meratapi kemalangan nasibku.
Menjadi cinderela benar-benar hanya ada dalam khayalanku.
Ah ngomong-ngomong soal ayah, apa benar mr F akan membawanya ke sini untuk menjadi wali nikah. Kalau iya, hati ayah pasti sakit melihat putrinya justru di nikahi secara siri.
Apa kira-kira yang ada dalam benak ayah?
Tiba-tiba lamunanku di interupsi oleh suara riuh dari ruang tamu.
Ketika perlahan ku buka sedikit pintu kamar, aku melihat ada empat pria yang datang, salah satunya adalah ayah.
Sementara tiga orang itu adalah mr F, seorang kyai, dan juga satu lagi pria yang kemungkinan di tunjuk sebagai saksi.
Ku tutup lagi pintunya dengan cepat karena mr F sepertinya akan menuju ke sini.
Pria itu ternyata tidak bisa di tantang, dia benar-benar serius menikahiku.
Aku berucap dalam hati, tentu saja di iringi dengan jantung berdebar, menunggu pria itu sampai di kamar ini.
Selang beberapa menit pintu kamar pun terbuka. Aku menoleh dengan rasa gugup yang kian merongrong.
"Sudah siap?" Tanyanya to the point.
"Sudah" Sahutku tanpa ekspres.
"Bagus!" Katanya, membuatku menyimpan rasa kesal.
"Ayahmu ingin bertemu denganmu, aku akan menyuruhnya ke sini"
Aku tak merespon, dan pria itu kembali keluar.
Tak lama setelah itu, ayah tiba-tiba masuk, dan langsung melempar tatapan marahnya padaku.
"A-ayah?"
"Sudah hamil berapa bulan kamu, Maula?"
"H-hamil?" Jujur aku kaget mendengar pertanyaan ayah. Padahal baru beberapa hari aku selesai haid.
"Kamu benar-benar mempermalukanku, Maula. Setelah kamu bekerja menjadi wanita malam, sekarang kamu malah hamil dengan pria pelangganmu, untung saja ibumu sudah tiada, kalau tidak dia pasti akan sangat sedih memikirkan betapa hinanya putri yang sudah ia lahirkan"
"Bagaimana bisa ayah berfikir aku hamil?"
"Siapa lagi kalau bukan pria itu yang mengatakannya?"
"Tapi ak_"
"Cukup Maula!" potong ayah, membuatku shock setengah mati.
"Lebih baik kamu keluar sekarang juga, cepatlah menikah, karena ayah nggak mau lama-lama berada di sini. Ayah ingin acara ini segera selesai"
"Tapi yah_"
Belum juga aku menyelesaikan kalimatku, ayah sudah buru-buru keluar dari kamar yang cukup mewah ini.
"Aahhh.." Geramku dengan suara tertahan.
Aku nggak menyangka kalau si kurang ajar itu membujuk ayah dengan cara seperti ini.
semoga cepet ada petunjuk buat menjebloskan Airin ke penjara
biar ga makin banyak korban dari keiblisan Airin
semoga kebusukan Airin cepet ke bongkar