novel ini untuk sementara sedang direvisi mohon maaf kalau ada ketidak nyamanan dalam membacnya🙏🙏,
Dinda,Arin,Dimas,Dani dan Wiira berencana mengisi liburan setelah ujian akhir sekolah,mereka berencana pergi ke naik ke gunung ciremai.
Fadilah dan Farhan teman teman Dani yang mendengarnya ikut bergabung,mereka adalah seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi dikota Jakarta sedang liburan ditempatnya Dani.
Mereka tak menyangka liburan mereka jadi bencada dan mengakibatkan kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JK Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinda kabur dari Gua
Dimas berada didekat air terjun,ia melihat kesekeliling,"rupanya mereka sudah berhasil mendekat,aku tidak akan membiarkannya."
Dimas kemudian duduk bersila,ia membaca mantra,bola-bola api berdatangan dari semua penjuru hutan bergerak liar menunggu perintah.
Dimas bangun,ia mengangkat kedua tangannya,"halangi setiap yang akan masuk kesini,buat mereka celaka karena sudah mencampuri urusanku."
Farhan dan Fadilah yang melihatnya bergidik ngeri melihat kemampuan Dimas.
"Gila,kalau begini akan susah bagiku untuk membu***nya,"gumam Farhan sambil melirik Fadilah yang terkesima dengan kemampuan Dimas.
Sementara bola-bola api merah itu sudah melesat menembus pepohonan dan berpencar menghampiri,menyerang Dani dan Tim penyelamat.
"Pak lihat!!"
"Apa itu?"
"Awas mereka menuju kesini."
"Bola api,banas pati,"ujar salah seorang yang mengetahui jenis bola-bola api tersebut.
Semua orang terlihat panik begitu melihat banyak cahaya merah seperti bola-bola api yang melesat diantara pepohonan menuju kearah mereka.
"Semua merunduk tiarap,jangan ada yang bergerak,"perintah Pak Santoso.
Semua orang bergegas menjatuhkan dirinya ketanah,tapi ada beberapa orang yang terlambat,tubuh mereka dihantam bola-bola api yang datang,mereka berteriak kesakitan dan kepanasan,tubuh mereka menggelepar-gelepar.
"Panas......"
"Panas......"
"Sakittt....."
"Akhhhh...."
Semua orang terlihat panik,mereka sangat ketakutan melihat teman-teman mereka menggelepar kesakitan.
"Semua orang jangan panik,terus berdoa,berzikir,aku akan coba mengusir mereka,"ujar pak Santoso.
Keadaan kemudian bertambah kacau,pak Santoso terlihat kewalahan menghadapi bola-bola api yang sangat banyak.
"Pak Santoso,kita harus bagaimana sekarang?"Pak Yitno berusaha menolong orang-orang yang terkena sambaran banas pati,ia menyiramkan air ditubuh mereka,tapi tidak bisa menghentikan rasa panas dan sakit yang mereka rasakan dadanya terasa sesak dan sulit bernafas.
Sementara diatas masih banyak bola-bola berputar-putar dan siap menyerang mereka.
Pak Santoso kemudian berdiri,ia membacakan air dicampur dengan serbuk putih yang diberikan kyai Safi'i,lalu menyiramkan kearah bola-bola api yang menyerang mereka.
Satu persatu mereka menghilang setelah terkena percikan air,tapi disana masih banyak yang berputar-putar ingin menyerang mereka.
Pak Santoso terlihat kelelahan,ia terhempas dan terlempar ketika bola-bola api menyerangnya.
"Akhhhh....."
"Brukhhh...."
Tubuh pak Santoso terpental jauh membentur pohon yang ada dibelakangnya.
"Akhhhh....."
Pak Santoso memegang dadanya yang terasa terbakar,ketika bola-bola itu akan menyerang kembali tiba-tiba banyak cahaya putih melesat bermunculan entah dari mana datangnya,cahaya-cahaya itu menghantam dan memusnakan bola-bola itu.
Setelah beberapa saat,bola-bola api itu lenyap,cahaya-cahaya itu juga menghilang.
Dani melihat kesekeliling,memastikan semuanya benar-benar sudah aman,ia bergegas menghampiri pak Santoso.
"Pak,bagaimana keadaan Bapak?"tanya Dani khawatir.
"Aku tidak apa-apa,hanya dadaku terasa panas dan sakit,tolong ambilkan air zam-zam yang ada ditasku,bawa kesini."
Dani bergegas mencari tas pak Santoso,setelah menemukannya ia segera mengambil air dibotol mineral yang ada didalam tas.
"Mungkin ini air yang beliau maksud,tidak ada lagi air selain air ini,"gumam Dani.
Dani bergegas memberikan pada pak Santoso,pak Santoso bergegas meminumnya,setelah beberapa saat ia memejamkan matanya dan kemudian memuntahkan darah hitam dari mulutnya.
"Huekkkkk...."
"Cuihhh......"
Pak Santoso muntah darah berwarna hitam,kemudian ia berusaha mengeluarkan semuanya .
"Pak,Bapak baik-baik saja?"tanya Dani penuh khawatir.
"Aku tidak apa-apa,darah hitam sudah keluar,sebentar lagi juga baikan,minumkan sedikit-sedikit yang lain dan usapkan juga dadanya,"ujar pak Santoso lagi.
Sementara di Gua Dinda ditinggal sendirian,semua orang bersiap-siap sedang mempersiapkan buat ritual nanti.
Dinda tampak hanya diam,tatapannya kosong lurus kedepan,tiba-tiba dari pojok Gua terlihat satu sosok menatap Dinda dengan sedih,sosok itu kemudian melayang mendekati Dinda.
"Dindaaaaa......"
"Dindaaaaa....."
"Dinda,bangun."
Dipegangnya pipi Dinda,sosok itu kemudian membuka mulut Dinda dan berusaha menghisap sesuatu yang berada didalam tubuh Dinda,setelah beberapa saat ia kembali memanggil nama Dinda.
"Dindaaaaa...."
"Dindaaaaa...."
Tapi Dinda masih tidak merespon,tatapannya masih kosong.
"Kuat sekali mantra itu,"ia kembali membuka mulut Dinda dan menghisap asap hitam yang keluar dari mulut Dinda kembali,tak berapa lama Dinda tersentak,matanya menatap nyalang,ia kebingungan,ia terkejut melihat sosok Arin didepannya.
"A apa yang terjadi,"ia kebingungan menatap sekitar.
"Din,kamu sudah sadar,syukur lah,cepat pergilah dari sini,banyak orang yang sedang mencarimu,cari mereka,cepat pergi sebelum terlambat,"ujar Arin.
"Tapi Rin!!"
"Pergilah,selamatkan dirimu,cepat sebentar lagi waktunya tiba,aku tidak ingin melihatmu jadi korban berikutnya,cepatlah...."
Dinda bergegas bangun,tapi ia terkejut melihat dirinya sekarang memakai gaun pengantin,ia menatap Arin.
"Sudah pergilah jangan banyak berfikir lagi,pergi sebelum terlambat,"Arin berteriak pada Dinda.
Dinda cepat berbalik,mengangkat roknya dan berlari keluar dari Gua,ketika ia berada dimulut Gua,ia melihat banyak lilin besar dinyalakan dan ditengah nya ada altar batu dan ada juga sesaji dimeja didepan sebuah patung bertanduk,terlihat Dimas,Farhan dan Fadilah sedang mempersiapkan sesuatu.
"Aku harus kabur,tak akan kubiarkan mereka mendapatkanku,"Dinda bergegas menyusuri tepian mulut Gua,menjauh dari tempat itu,jalan yang licin dan gaun yang panjang membuatnya susah untuk melangkah.
"Akhhhh...,"Dinda hampir terjatuh,untung ia masih bisa berpegangan pada bebatuan yang berada disekitar,ia kembali naik,dengan susah payah ia bisa mencapai tepian Gua,ia kemudian kembali melangkah dengan hati-hati salah langkah sedikit ia bisa jatuh diantara bebatuan dibawah.
"Aku pasti bisa,aku harus bisa pergi dari sini,"Gumam Dinda.
Ia terus melangkah sampai mencapai belakang Gua,belakang Gua lebih sulit lagi,ia harus menuruni batu yang sangat licin.
"Apa yang harus aku lakukan,"Dinda melihat kesana kemari,ia melihat salah satu batu yang menonjol,ia kemudian menyobek bagian bawah gaun dan diikat jadi tali,setelah selesai ia melompat ketonjolan batu itu.
"Akhhhh...."
Dinda terpeleset hampir jatuh,untungnya ada satu tangan yang memegangnya,tangan itu begitu dingin.
"Cepatlah,kamu tidak mempunyai waktu banyak,"tangan itu menarik Dinda keatas batu yang menonjol.
"Wiraaa...."
Dinda terkejut ketika ia akan jatuh,satu tangan dingin memegangnya dan tangan itu adalah tangan Wira.
"Cepat,pergilah,banyak yang mencarimu,pergilah sebelum terlambat,aku tidak bisa menolongmu,hanya ini yang bisa aku lakukan."
Dinda menganguk,ia kemudian mengikat tali dari gaun dan mengikat tubuhnya sendiri dengan ujung tali yang lain,ia kemudian memegang tali itu.
"Terima kasih Wira,"ucap Dinda sambil menangis sedih.
"Pergilah cepat,aku sudah berjanji pada kalian kalau kita akan saling menjaga satu sama lain,aku sudah memenuhi janjiku."
"Iya terimakasih Wira,selamat tinggal,"Dinda bergegas turun sambil terisak sedih.
Setelah sampai bawah Dinda menatap bayangan Dimas yang masih berada diatas,ia tersenyum dan melambai pada Dinda.
Dinda bergegas berlari menjauh,ia kemudian berhenti setelah berada didalam hutan,ia bingung harus kemana.
Lalu satu suara menyuruhnya untuk terus melangkah kedepan,ia berlari terus kedepan tanpa memperdulikan kakinya yang terluka kena goresan semak yang berduri.
"Cepatlah Dinda jangan berhenti,mereka sudah tahu kamu melarikan diri,"suara itu kembali terdengar ketika Dinda berhenti berlari.
Sementara didalam Gua,Dimas yang marah melihat Dinda kabur melampiaskan pada Farhan dan Fadilah.
"Goblok kalian,kenapa kalian lengah,aku sudah bilang awasi dia,"Dimas melilit mereka dengan tali yang berupa cahaya merah dan kemudian membaca mantra penarik sukma.
"Ampun Dimas,bukankah kamu yang memerintahkan kami untuk mempersiapkan buat ritual nanti,"ucap Farhan kesakitan.
"Iya Dimas,tolong lepaskan kami,sakit Dimas,tolong,"wajah Fadilah memerah matanya melotot menahan sakit.
"Jangan banyak alasan kalian,kalian sudah melakukan kesalahan,aku akan mengirim jiwa kalian untuk menjadi budak disana menggantikan dia,"ujar Dimas,ia kembali membaca mantra.
"Akhhhh...."
"Dimas,sakit,"Fadilah berteriak menahan sakit.
"Aku tidak suka kegagalan,kalian tidak bisa menjaganya,inilah hukuman yang pantas untuk kalian."
mana berkuasa pula kepala sekolah
ruwet
supaya aman di pesantren kan saja
pergilah ke alam baka buat makhluk tekutuk di hutan itu
jangan sembarang ke tempat orang.. semua tempat ada peraturannya masing-masing. saling menghargai...
kembali jadi ke aslinya kakek peot
dr awal aku juga udah curiga sama Dimas...