Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingan Himsa?
Ahimsa melayangkan protesnya. Setelah memergoki kembali anak laki-lakinya yang mencium calon menantunya, Mami Anin melarang Ahimsa untuk mengantar Sevim pulang.
" Mi..Himsa kan yang jemput Sevim, pulangnya harusnya Himsa yang nganter..",
" Nggak boleh!! bukannya kerumah, malah kamu belokin ke hotel..."
" Nggak Mi..Himsa janji. Nggak enak sama om Fandy sama tante.."
" Di rumah aja kamu berani nyosor-nyosor, apalagi cuma berdua di mobil. Mami tadi udah bilang sama om tante, Sevim di anter sama sopir.."
" Ckckck..
" Hmmm...., ya udah yuk keluar, Sevim udah nunggu di ruang tengah..",
Dengan berat hati, Ahimsa merelakan Sevim pulang dengan diantar oleh sopir. Sevim sendiri merasa malu sekaligus tidak enak hati dengan calon mertuanya. Sudah dua kali dipergoki, mau ditaruh mana mukanya? Apalagi, jika tante Anin mengadu pada papa dan mamanya? Malu setengah mati.
" Tante,,Sevim pamit pulang dulu. Terima kasih untuk jamuan makan malamnya..",
" Sama-sama sayang,, salam buat papa mama ya.."
" Iya tante..om Sevim pamit ya.."
" Hati-hati Vim.."
Setelah menyalami kedua calon mertuanya, Sevim masuk ke dalam mobil, disusul oleh Ahimsa yang berdiri di luar mobil dengan kaca pintu terbuka.
" Maaf ya, kamu pulangnya jadi diantar sama sopir.."
" Iya..nggak apa-apa"
" Soal Dirga, nggak usah kamu fikirin.., aku sudah mengatasinya.."
" Dia jahat.."
" Iya..aku tau, begitu sampai rumah. Langsung istirahat, jangan begadang ya. Besok pagi aku jemput.."
" Nggak usah, aku sama sopir aja.."
" Pokoknya besok aku jemput.
Pak, hati-hati. Nggak usah ngebut, ada calon istriku..", ucapnya kepada sopir yang mengantarkan Sevim.
" Baik Den..",
Mami Anin, senang dengan interaksi antara Ahimsa dan Sevim. Ternyata anaknya itu sudah mulai menerima kehadiran Sevim.
" Uda ngebet banget ya Aa', dulu aja ogah dijodohin...sekarang..",
" Nggak usah bahas mi..."
" Hmmm, mantu mami cantik kan? "
" Iya..kenapa baru dikenalinnya sekarang Mi?"
" Kalo dari dulu Papi mami kenalin dia sama kamu. Yang ada kamu nggak mau sekolah, nggak mau kuliah, tapi langsung minta di nikahin..",
" Mami...bisa aja..kan bagus malah bisa cepet punya cucu..",
" Iya punya cucu, tapi ini mu nggak ada isinya, gimana bisa mimpin perusahaan..", ucapnya dengan menoyor kepala sang putra.
Menjadi anak satu-satunya yang tinggal di rumah, Ahimsa memang kerap menjadi subyek pelampiasan Maminya. Marah, kesal, sedih, bahagia, Ahimsa yang sudah pasti akan merasakannya.
Ahimsa sudah berada dalam ruangan Kakeknya, pagi tadi saat baru sampai di kantor, dia sudah dipanggil oleh pak Adhiguna. Sudah tau apa yang akan dibicarakan oleh kakeknya. Pasti mengenai kerja sama dengan perusahaan Globalindo yang sudah diputus sepihak oleh Ahimsa.
" Coba kamu bilang alasannya.., kakek mau denger. Kamu pasti udah tau kalo mereka adalah salah satu klien penting kita.."
Meskipun dari awal Ahimsa sudah siap, namun tetap saja ada perasaan takut yang menyelimutinya. Apalagi, karena keputusan cerobohnya, Sanjaya group harus mengalami kerugian milyaran rupiah karena harus membayar penalty yang jumlahnya memang tidak sedikit.
" Dirga, pewaris Globalindo melecehkan Sevim yang saat itu ikut meeting dengan Himsa kak..",
" Melecehkan? Sevim diapain?",
" Dia menyebut Sevim perempuan jal*ang.., Himsa pukul dia, memutuskan sepihak kerja sama, Himsa marah, nggak terima.."ucapnya jujur. Ahimsa sudah siap dengan apa yang akan dilakukan kakek kepadanya. Ahimsa memang tidak berpikir panjang kala itu, perasaanya sudah dikuasai oleh emosi.
" Oke..alasan kamu bisa kakek terima..",
" Kakek nggak marah..?",
" Kakek juga akan bertindak sama sepertimu, kalo sampai ada yang mengusik milik kakek..",
Pengaruh Sevim memang sangat luar biasa, Kakeknya bahkan terlihat biasa saja. Tidak menunjukkan kemarahan atau kemurkaan seperti biasa jika Ahimsa salah mengambil keputusan. Sepertinya, Sevim memang ditakdirkan untuk menyelamatkan nasib Ahimsa.
" Biar kakek yang akan bicara dengan kakeknya Dirga. Biar tahu kelakuan cucunya sudah bertindak kurang ajar sama menantu keluarga Sanjaya",
" Gimana sama Penaltynya kek..?", tanya Ahimsa.
" Kakek akan nego sama mereka, lagi pula uang kakek banyak, perusahaan nggak bakalan jadi bangkrut hanya karena membayar milyaran rupiah", ucap kakeknya,
Sudah tau kan kesombongan yang dimiliki Ahimsa selama ini menurun dari siapa ? Tentu saja dari Ayah maminya.
Semenjak menjadi sekretaris Ahimsa, ini pertama kalinya Sevim menunjukkan kinerjanya dengan mengikuti meeting di perusahaan. Sedari tadi, dia nampak menyimak penjelasan laki-laki tampan yang mempresentasikan hasil uji risetnya. Terkesima, Sevim memandangnya dengan tatapan mata kagum. Harsa, kakak angkat Ahimsa itu memang cerdas, pembawaannya yang tenang memang seringkali membuat pegawai perempuan di Sanjaya grup menjadi kelabakan. Dengan tatapan matanya saja, mampu membuat mereka salah tingkah.
" Mbak,, aku kok baru lihat pak Harsa hari ini ? selama ini dimana?"tanya Sevim kepada Rani.
" Di KL..kenapa ? jangan bilang kamu naksir ya Vim..itu kakaknya pak Himsa.. ".
" Cuma kagum aja, tadi pas meeting dia presentasi, ngomongnya kalem, tapi tegas. Beda sama Aa', bar-bar.."
" Aa'? cieh..."
" Himsa maksudnya.. "
" Iya..iya.., jaga hati jaga pandangan Vim, jangan sampe ya kamu malah kepincut sama pak Harsa.
" Nggak janji deh,, dia udah punya pacar belum,,?"
" Mau tau aja apa mau tau banget.."
" Banget lah, siapa tau bisa di nego , aku nikahnya sama dia aja bukan sama Aa'....."
" Husttt, mimpi kali ye. Udah deh, yuk balik ke atas jam istirahat udah selesai, daripada kamu ngomong ngelantur nggak jelas.
Jika dibandingkan dengan fisik, Ahimsa tidak kalah tampannya dengan Harsa. Keduanya, sama-sama mempunyai daya pikat bagi perempuan. Namun, pertemuan pertama dengan Harsa lebih berkesan bagi Sevim dibandingkan pertemuan pertamanya dengan Ahimsa dulu.
" Mau langsung dianterin pulang apa jalan-jalan dulu..?" tanya Himsa kepada Sevim.
" Langsung pulang aja ya..",
Mereka berdua berjalan berdampingan, menuju pintu keluar. Namun, saat melewati lobby, seseorang memanggil nama Ahimsa. Spontan, Ahimsa langsung menghentikkan langkahnya, sedangkan Sevim langsung berubah wajahnya menjadi kesal dan marah.
" Beb..." , ucap Rosy dengan centilnya yang langsung menghambur memeluk Ahimsa. Berani-beraninya perempuan ular ini, memeluk Ahimsa di depan calon istrinya.
" Ros, lepasin...",
" Aku kangen..," ucapnya dengan melihat ke arah Sevim yang membuang pandangannya, gadis itu enggan melihat pemandangan menjijikkan yang ada di hadapannya.
" Kamu kesini, ngapain. Gimana kalo kakek lihat kamu?"
" Kamu nggak kangen ya sama aku? Kalo kakek nggak mau lihat aku disini, yuk kencan.."
" Nggak bisa, aku harus antar Sevim pulang.."
" Nggak perlu Him, aku bisa telepon sopir Papa atau naik taksi.."
" Beb..",
" Lepasin..",
Ahimsa yang melihat kakeknya dari kejauhan menjadi panik, jika sampai beliau melihat kedatangan Rosy ke perusahaan, bisa gawat. Tamatlah riwayatnya. Ahimsa, langsung menarik Rosy dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Ahimsa bahkan lupa dengan keberadaan Sevim. Tega.
" Kamu kenapa sih Ros..nekad kayak tadi.."
" Aku kangen, udah lama nggak ketemu sama kamu.."
" Kamu kemana aja? Seneng liburan di Bali?"
" Bukan liburan, tapi kerja Beb.."
" Kamu kenal sama Dirga..?", tanya nya tanpa basa-basi.
" Dir..dirga? Siapa?"
" Nggak usah sok kaget. Kamu pernah tidur sama dia?"
" Engggakk beb, dia bohong.."
" Aku mau kita putus.."
" Kenapa? Karena perempuan tadi? Kamu tergoda sama dia? Udah ngapain aja?Pegang-pegang, ciuman atau tidur bareng..?"
Ciiiiiiiittttt...
Ahimsa menginjak remnya dengan mendadak , setelah mendengar ucapan Rosy barusan, emosinya tersulut. Dia meminggirkan mobilnya ke tepi jalan.
" Sevim, bukan perempuan murahan kayak kamu yang bisa tidur sama laki-laki manapun.."
" Aku bukan perempuan seperti itu beb, jangan percaya sama Dirga.."
" Kita putus..",
" Aku nggak mau..",
" Aku mau nikah sama Sevim, aku nggak bisa lagi jalanin hubungan sama kamu..",
" Nikah nikah aja, kalian nikah karena perjanjian kan? Ya udah aku terima. Aku bakalan nunggu sampe kalian pisah.."
" Aku berubah pikiran.., aku nikah sama Sevim, bukan karena perjodohan, tapi karena keinginanku.."
" Aku nggak mau.., sampai kapanpun aku nggak mau putus.."
" Kamu sadar nggak sih, kalo hubungan kita ini bukan hubungan yang semestinya. Kamu sibuk dengan dunia kamu sendiri. Kamu bahkan nggak anggep aku ini ada, hubungan kita nggak bisa diterusin..",
" Kalo kamu berani mengakhiri hubungan kita, aku bakal nekad ngomong sama kakek, kalo sebenarnya kamu dan Sevim punya perjanjian pernikahan. Kamu mau pernikahan kalian batal? Otomatis, kamu batal jadi presdir, mau?", ancam Rosy.
" Licik kamu..",
" Sudah sejak dulu sayang..", ucap Rosy.
Setelah mengantarkan Rosy ke Apartemennya, Ahimsa langsung pergi menuju ke rumah Sevim. Dia ingin meminta maaf karena sudah meninggalkan Sevim tanpa pamit. Namun, sayangnya ketika bertemu dengan Mamanya, tante Eliza mengatakan jika Sevim belum sampai ke rumah.
" Tadi Sevim sempet telepon, katanya pergi jalan-jalan sebentar"
" Sama siapa tante?"
" Temen katanya Aa'.."
" Himsa tunggu disini, boleh?"
" Iya nggak apa-apa, tante tinggal dulu ya. Mau nyiapin baju ganti buat Om.."
" Iya tante.."
Ahimsa yang tidak tenang karena calon istrinya belum pulang, memutuskan untuk menunggunya di luar. Sekaligus, ingin melihat teman yang pergi bersama Sevim. Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Sevim pulang .
" Kamu kok bisa diantar sama dia?"
Ahimsa cemburu, begitu melihat teman yang dimaksud Sevim ternyata adalah seorang laki-laki. Sevim tidak menggubris ucapan Ahimsa. Apa yang dilakukan Sevim belum seberapa jika dibandingkan dengan perbuatan Ahimsa yang meninggalkannya tadi.
Sepertinya Ahimsa mendapatkan saingan. Rasakan.
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl