Karya ini merupakan karya jalur kreatif.
Adiyasa, pria berusia 18 tahun itu di temukan tewas mengenaskan oleh warga, jazadnya mengapung di sungai kumuh bersamaan dengan sampah yang juga bau busuk.
Yang menjadi pertanyaannya adalah, kenapa sekarang ia bangun, apakah dia mati suri? Setelah itu, Adiyasa seolah mengalami transformasi dari korban bully menjadi pria tangguh tak terkalahkan, inilah kembalinya kesatria pedang hitam.
Seperti kata Noveltoon dan Mangatoon kalau berkarya tidaklah mudah, maka dari itu mari dukung karya author dengan like, komen, subscribe dan bintang lima. Selamat membaca. Yang nggak pelit dukungan hidupnya bahagia. 🥰
Cover by Mak R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati-hati Dengan Adiyasa!
"A-Adi," lirih Diki terbata, ia takut melihat tatapan itu dan segera teringat kalau Adiyasa hilang ingatan dan mana mungkin akan ingat dengannya membuatnya sedikit merasa lega.
Sekarang, Adiyasa mendekatinya, ia menahan lengan Diki. "Antar aku pulang!" pinta Adiyasa dan Diki mengangguk.
Di perjalanan, Adiyasa menunjukkan arah lainnya yang ternyata membawanya ke tepi sungai. "Kenapa ke sini?" tanya Diki dan Adiyasa turun dari motor, pria itu berpegangan pada gagang jembatan.
"Katanya, aku ditemukan di sini!" kata Adiyasa seraya menoleh dan Diki seger menelan salivanya.
"Jangan-jangan, Adi udah ingat semua!" kata Diki dalam hati, kemudian, Diki pun memilih untuk pamit dan Adiyasa terkekeh.
Sungguh, suara tawanya di tengah malam yang sunyi dan hening seperti ini mampu membuat bulu kuduk Diki berdisko.
Kemudian, Adiyasa yang kembali duduk di motor itu mulai mencekik Diki yang menatapnya dari kaca spion.
"Gue mohon, lepasin gue, Di!" pinta Diki dengan suara yang tertahan.
"Gue cuma diminta sama Ra-ja!" ucapnya lagi dan sempat terbata di ujung kalimat.
Dan saat nafasnya hampir habis, Adiyasa pun melepaskan Diki. "Baiklah, aku akan memaafkanmu, tapi... kamu harus membalaskan dendam ku sama mereka, setuju?"
Mendengar itu, Diki terdiam karena mana mungkin akan sanggup untuk menghabisi temannya sendiri.
"Lu gila, Di, gila. Lu minta gue habisin sahabat gue sendiri!" Diki pun berontak, ia mendorong Adiyasa sampai pria itu terjungkal dari motor dan sekarang, Diki pergi dari sana.
Karena ketakutan, Diki melaju dengan kecepatan tinggi dan saat itu dia tertabrak oleh minibus yang pengemudinya sedang mabuk.
Diki terpental dan tubuhnya melayang sampai kepalanya terbentur dua kali, pertama membentur tiang listrik yang kedua saat terjatuh ke trotoar.
Malangnya, Diki juga harus dilindas oleh si pengemudi yang ingin melarikan diri dan itu membuat kaki Diki cidera parah.
Melihat itu, Adiyasa terkekeh, ternyata karma itu ada dan beruntungnya ia dapat menyaksikan juga tidak perlu mengotori tangannya sendiri.
Adiyasa pun pergi meninggalkan Diki begitu saja. Sempat, hati kecilnya itu meminta untuk menolongnya dan Adiyasa yang sedang dikuasai sisi kejamnya itu pun menolak.
Pria kurus itu memilih untuk pulang dan dia diam-diam masuk melalui jendela. Di kamarnya, ia segera berbaring dan memikirkan uang sebanyak itu akan dipergunakan untuk apa. Ya, Adiyasa pulang dengan membawa uang lagi dan sekarang, lemarinya bagaikan harta karun.
Adiyasa pun bangun dan ia menatap uangnya seraya berpikir untuk membagikan uang itu kepada yang membutuhkan.
Sekarang, Adiyasa pergi ke dapur, ia mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk membungkus uangnya. Adiyasa yang melihat plastik ukuran setengah kg itu pun mengambilnya.
Adiyasa membolak-balikan plastik itu, ia sedang mencari tau seperti apa cara menggunakannya dan saat itu, Adiyasa terkejut lantaran Kinanti datang dan menepuk lengan kakaknya.
"Abang!" sapa Kinanti.
"Hah!" Adiyasa terkejut, seperti melihat hantu saja. Ia pun berbalik badan menatap adiknya yang juga sedang menatapnya.
"Abang ngapain? Malam-malam gini mau bikin es?" tanya Kinanti seraya mengucek matanya.
"Es?" tanya Adiyasa yang tidak tau itu es. Sekarang, Adiyasa pun meminta pada Kinanti untuk membuatkannya es, tapi, gadis remaja itu menolak.
"Abang, Kinan takut dijewer ibu kalau ketahuan bikin es malam-malam," jawab Kinanti seraya menggeleng.
Kemudian, Adiyasa pun mengajak Kinanti ke kamarnya dan meminta padanya untuk tidak berisik. "Janji!" ucap Adiyasa dan Kinanti yang sangat penasaran itupun mengiyakan.
Kemudian, Adiyasa mengajak Kinanti untuk ke depan lemari kecilnya dan terlihat bayangannya di cermin, gadis itu pun tersenyum manis dengan berbagai pose nya membuat Adiyasa segera membuka pintu lemari itu dan seketika membuat Kinanti melongo.
"Abang!" seru Kinanti dan Adiyasa segera menutup mulut adiknya itu menggunakan tangannya.
"Jangan berisik!" kata Adiyasa dan Kinanti mengangguk, kemudian, pria kurus itu pun melepaskan adiknya.
Sekarang, Kinanti mengambil gepokan uang itu, ia mengecek apakah itu uang asli dan benar-benar asli membuatnya lemas dan sekarang duduk di lantai di susul oleh kakaknya.
"Abang, kamu dapat uang ini dari mana?" tanya Kinanti seraya menatap Adiyasa.
"Kamu nggak perlu tau," jawab Adiyasa.
"Abang jadi maling?" tanya Kinanti yang masih menatap kakaknya itu.
"Bodoh, aku bukan maling, aku bukan penjahat!" ketus Adiyasa dan Kinanti menatap tajam kakaknya.
"Lalu?" tanya Kinanti.
"Aku khawatir kamu akan membocorkan rahasiaku!" jawab Adiyasa seraya mengambilkan lagi uang satu gepok untuk adiknya.
"Ini semua buat kamu!" kata Adiyasa dan Kinanti segera menerima uang itu. Ia sangat senang karena baru pertama kali ini memegang uang sebanyak itu.
Khayalannya, Kinanti bisa belanja dan mentraktir teman-temannya di sekolah.
"Se-serius, Bang?" tanya Kinanti terbata.
"Iya, tapi ingat, jaga rahasia ini dari ibu!" kata Adiyasa dan Kinanti pun mengangguk.
Sekarang, Kinanti keluar dari kamar dan Adiyasa menahannya. Ia harus tau cara menggunakan plastik yang diambilnya dari dapur.
"Oh, cara pakai ini?" tanya Kinanti seraya mengambil plastik dari tangan Adiyasa dan Kinanti pun mulai mengajarinya dari cara membuka plastik dan meniupnya supaya menggelembung, kemudian dipelintirnya ujung plastik itu lalu diikat.
"Gampang!" kata Kinanti seraya tersenyum dan Adiyasa terdiam melihat itu, ia merasa kalau itu sangat mudah dan saat praktek sendiri justru kesulitan.
Kinanti yang mengantuk pun pergi kembali ke kamarnya, ia melupakan dirinya yang berniat ke kamar mandi untuk pipis.
Sekarang, Kinanti menyimpan uangnya itu di bawah bantal. "Semoga, ini bukan mimpi!" kata Kinanti dan sekarang ia tidur dengan senyum yang terus terukir di bibirnya.
Sementara Adiyasa, ia merasa sebal dan sekarang membuang plastiknya ke tempat sampah, pria yang lelah itu pun memilih untuk istirahat lebih dulu dan akan membagikan uangnya di lain hari.
****
Esok harinya, Arland, Miko dan Raja sedang menunggu Diki di rumah sakit dan karena kecelakaan itu, Diki mengalami patah tulang di kakinya.
Kepalanya diperban, pria malang itu masih belum sadarkan diri dan tiba saatnya bagi teman-temannya untuk sekolah dan mereka pun mengatakan akan kembali ke rumah sakit setelah sekolah dan Diki yang baru membuka mata itu ingin sekali mengatakan pada temannya untuk berhati-hati dengan Adiyasa, tapi, entah kenapa terasa sangat berat untuk bicara sehingga teman-temannya tidak tau kalau dirinya sudah siuman.
Di sekolah Kinanti, gadis itu menjadi sorotan lantaran sudah membuat ramai kantin dengan jajan gratisnya.
"Lu serius traktir mereka semua?" tanya Lili, sahabat dekat Kinanti dan Kinanti yang berdiri di sebelahnya itu tersenyum.
"Seriuslah," jawab Kinanti dan ia juga mengatakan akan mengajaknya belanja ke mall.
Dan benar saja, sepulang sekolah, Kinanti dan Lili berbelanja apa saja mereka mau sampai tak terasa ternyata uangnya sudah menipis. Kinanti yang melihat banyaknya barang itu menjadi bingung.
"Li, gue takut diomelin Ibu, boleh nggak gue titip sebagian di rumah lu," ujar Kinanti dan Lili yang membonceng itu mengiyakan.
Sekarang, Kinanti pun membayar parkir dan segera pulang. (Kinanti parkir di parkiran umum, bukan di mall, ya, guys)
Sesampainya di rumah, Kinanti yang membawa beberapa belanjaan itu tersenyum pada ibunya yang sedang mengangkat jemuran.
"Kinan, kamu bawa apa? Sebanyak ini?" tanya Mirah seraya mendekat dan mengambil belanjaan putrinya.
"Eh, itu, Bu. Anu...," jawab Kinanti seraya tersenyum, ia bingung sendiri harus menjawab apa.
Karya ini merupakan karya jalur kreatif.