Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12
Pagi datang membawa suasana yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela kaca besar di ruang depan sanggar milik Anindiya. Dari luar, deru halus kendaraan yang berlalu-lalang mulai memenuhi jalanan. Kota A kembali berdenyut, seolah tak peduli pada musibah tragis yang baru saja merenggut nyawa seseorang sehari sebelumnya.
Anindiya sudah turun ke lantai bawah sejak pukul tujuh pagi. Meski semalaman tidurnya tidak nyenyak dan dihantui mimpi buruk, ia tetap memaksa dirinya untuk beraktivitas. Baginya, roda bisnis harus terus berputar. Banyak calon pengantin yang sudah membuat janji temu dan tidak mungkin dibatalkan secara sepihak.
Di atas meja kasir, buku jadwal tebal sudah terbuka. Nama-nama klien memenuhi hampir tiap lembar kalender kerjanya. Beberapa di antaranya dijadwalkan datang hari ini untuk berkonsultasi mengenai konsep riasan dan memilih gaun.
Anindiya menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa ganjil yang mengganjal di dadanya. Namun, tiap kali memori tentang senyum bahagia Siska sebelum berangkat menuju gedung resepsi berkelebat, dadanya seketika terasa amat sesak.
Beberapa saat kemudian, Rina datang.
Seperti biasa, gadis itu langsung membantu menyapu lantai, membuka tirai jendela, dan menyalakan lampu ruang koleksi. Tidak banyak kata yang terucap pagi itu. Suasana duka masih menggantung tebal di antara mereka.
Setelah ruangan siap, Anindiya melangkah menuju ruang penyimpanan gaun di bagian belakang.
Gaun pengantin putih gading itu tergantung anggun di dalam kantong pelindung (garment bag). Malam sebelumnya, Anindiya sudah merapikan dan menyemprotkan cairan pewangi khusus kain agar bahannya tetap segar.
Saat ritsleting kantong dibuka, aroma wangi yang lembut langsung merebak halus.
Anindiya mengeluarkannya dengan sangat hati-hati. Kainnya masih terlihat seindah dan semewah pertama kali ia membelinya dari butik tua di kota lama. Renda-renda putihnya tersusun rapi, sementara payet-payet kecil di bagian dada memantulkan cahaya lembut ketika tersirat sinar matahari pagi.
Tidak ada bekas robekan. Tidak ada noda. Gaun itu terlihat seolah-olah belum pernah dipakai sama sekali.
Anindiya memandangi gaun itu cukup lama. Di dalam hati, rasa kagumnya kembali membuncah. Sulit dipercaya gaun yang baru saja dievakuasi dari dalam sedan yang hancur itu masih tampak begitu sempurna tanpa cacat. Namun, Anindiya menolak berpikiran aneh-aneh. Menurutnya, ini bukti sahih kalau bahan gaun itu memang berkualitas amat tinggi.
Tak lama kemudian, Rina melangkah masuk ke ruang penyimpanan. Begitu melihat Anindiya sedang memegangi gaun tersebut, langkah kaki Rina mendadak terhenti.
Tatapannya berubah ragu dan tegang. Selama beberapa detik, ia hanya diam mematung memperhatikan kain putih gading itu. Tiap kali melihat gaun tersebut, bayangan wajah Siska yang ditutupi kain putih di jalan raya langsung terbayang jelas di benaknya.
Rina menghela napas pelan sebelum akhirnya memberanikan diri angkat bicara.
"Mbak Anin..." panggil Rina pelan, dengan nada suara ekstra hati-hati. "Apa... gaun ini nggak sebaiknya kita simpan dulu di lemari dalam untuk sementara waktu?"
Anindiya menoleh, jemarinya masih merapikan lipatan lengan gaun. "Kenapa disimpan, Rin?"
"Bukan karena gaunnya rusak atau gimana, Mbak..." Rina menelan ludah. "Tapi... menurut aku, kayaknya lebih baik kalau gaun ini ditutup dulu beberapa hari. Biar suasana hati kita tenang dulu. Lagian kan... baru kemarin tragedinya..."
Anindiya mendengarkan ragu. Ia paham maksud Rina baik dan murni karena rasa empati. Namun, dari sudut pandang bisnis, Anindiya merasa tidak ada alasan logis untuk menyembunyikan gaun itu. Kecelakaan yang menimpa Siska adalah musibah jalan raya yang tidak bisa diprediksi siapa pun—murni akibat rem truk yang blong.
Gaun ini hanyalah benda mati. Tidak ada sangkut pautnya dengan musibah tersebut.
"Nggak apa-apa, Rin," sahut Anindiya mantap seraya menggeleng pelan. "Kecelakaan kemarin itu murni musibah. Gaun ini kan nggak salah apa-apa. Kalau kita sembunyikan, kasihan calon pengantin lain yang sudah jauh-jauh hari antre mau lihat gaun ini."
Rina mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tahu jika Anindiya sudah membuat keputusan, argumennya tak akan bisa goyah. Ia akhirnya hanya mengangguk pasrah dan mengekor di belakang Anindiya.
Di ruang koleksi, manekin kayu berwarna putih berdiri tegak di sudut favoritnya dekat jendela besar. Dengan telaten, Anindiya memasangkan gaun putih gading itu ke tubuh manekin.
Bahu dirapikan, ritsleting belakang ditarik pelan, dan ekor roknya diatur sedemikian rupa hingga jatuh meliuk indah menyentuh karpet. Terakhir, veil panjang dipasangkan di bagian kepala manekin.
Setelah selesai, Anindiya mundur beberapa langkah. Ia tersenyum puas.
Gaun itu memang ditakdirkan berada di posisi paling depan. Siapa pun yang melangkah masuk ke sanggar pasti akan langsung tersihir oleh keindahannya. Gaun ini adalah aset berharga yang dibelinya dengan harga fantastis, sekaligus menjadi kunci utama melambungnya nama Anindiya Bridal. Anindiya tidak akan membiarkan satu musibah mengacaukan rencana besarnya.
Tak lama kemudian, rombongan klien pertama hari itu tiba. Seorang calon pengantin wanita datang berkonsultasi bersama ibu dan sepupunya.
Suasana sanggar kembali ramai oleh riuh pembicaraan mengenai tema pernikahan, pilihan kosmetik, dan paket bridal. Namun, seperti skenario yang sudah-sudah, saat diajak memasuki area koleksi gaun, pandangan mata calon pengantin itu langsung terkunci rapat pada manekin di dekat jendela.
Matanya seketika berbinar-binar. Tanpa diminta, wanita muda itu melangkah mendekat, mengusap pelan renda di bagian lengan gaun dengan raut wajah penuh takjub.
Anindiya tersenyum lebar menyaksikan reaksi tersebut. Rasa bangga memenuhi dadanya. Dugaannya tidak meleset sedikit pun—gaun ini adalah magnet rezeki yang tak tertandingi.
Sepanjang hari itu, beberapa klien lain datang silih berganti. Hampir seluruh calon pengantin mendadak lupa pada gaun-gaun koleksi lama dan selalu menunjuk gaun putih gading itu. Ada yang sibuk bertanya kapan jadwal kosongnya, ada yang memaksa minta di-booking-kan, bahkan ada yang rela menggeser tanggal acara demi bisa mengenakan gaun tersebut.
Melihat antusiasme yang begitu masif, rasa percaya diri Anindiya makin membumbung tinggi. Ia merasa keputusannya untuk tetap memajang gaun itu adalah langkah paling tepat dalam kariernya.
Di sisi lain, Rina berulang kali memperhatikan manekin itu dari balik meja kasir. Perasaan ganjil dan gelisah yang menghantuinya sejak kemarin belum juga surut. Rasanya seperti ada bahaya tak kasat mata yang sedang mengintai, namun Rina tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada Anindiya.
Menjelang sore hari, seluruh sesi konsultasi berakhir. Para klien telah pulang dengan raut puas.
Anindiya menutup buku pesanan dengan wajah lega. Hari ini saja, belasan uang muka baru berhasil dikantongi. Usahanya kian melesat tinggi.
Ia melangkah berdiri di tengah ruangan, menatap manekin itu sekali lagi. Gaun putih gading itu berdiri anggun dipeluk sinar sore yang keemasan. Terlihat begitu bersih. Begitu megah. Begitu memikat.
Anindiya tersenyum puas. Baginya, gaun itu adalah mahkota keberhasilannya.
Ia sama sekali tidak menyadari... bahwa sejak gaun itu kembali berdiri di atas manekin...
Aroma wangi bunga melati yang amat dingin dan pekat perlahan-lahan kembali merembes masuk, memenuhi setiap celah udara di ruang sanggar.
Wanginya begitu halus, merayap lembut hingga menyamarkan bahaya yang tersimpan di dalamnya.
Dan dari luar jendela kaca besar yang memantulkan bayangan interior sanggar...
Di dalam pantulan kaca tersebut, tampak samar sosok seorang perempuan bergaun kusam berdiri tepat di belakang manekin, seolah sedang memeluk gaun itu dari belakang.
Hanya berkedip satu detik, bayangan itu menghilang tanpa bekas.
Tak seorang pun melihatnya. Tak seorang pun menyadari bahwa entitas pembalas dendam itu kini telah kembali bersiap menagih korban berikutnya.