NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — HUKUMAN UNTUK SEORANG WANITA

​Tinta hitam di atas kertas perkamen itu sudah mengering, meninggalkan jejak kata-kata kejam yang ditulis dengan tangan gemetar. Setiap goresan pena Alena terasa bagai sabetan sembilu pada jiwanya sendiri. Di lembar itu, ia mengaku tidak pernah sungguh-sungguh mencintai Adrian. Ia menyebut hubungan mereka sebagai sekadar pelarian sesaat dan pengisi kekosongan, lalu menutupnya dengan kebohongan terbesar dalam hidupnya: bahwa ia memilih pergi bersama seorang pemuda dari kampung halamannya yang telah lama menunggunya.

​Penasihat Rowan mengambil perkamen itu dengan gerakan perlahan. Matanya yang dingin menyapu baris demi baris tulisan Alena sebelum mengangguk puas.

​"Pilihan yang sangat bijaksana, Nona Virelle," ujar Rowan pelan. Ia melipat surat itu, lalu menyegelnya tanpa stempel, seolah-olah surat tersebut ditulis tanpa paksaan sama sekali. "Kau mungkin merasa tindakan ini kejam, tetapi percayalah, suatu hari nanti—jika kau cukup beruntung untuk bertahan hidup—kau akan sadar bahwa ini adalah satu-satunya cara agar semua orang tetap bernapas."

​Alena tidak menjawab. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Ia berdiri membisu, menatap lantai batu Menara Selatan yang kelam.

​"Gareth," panggil Rowan ke arah pintu.

​Pintu kayu tebal berderit terbuka, memperlihatkan sosok pria bertubuh kekar dengan seragam perwira Pengawal Kerajaan. Gareth—kepala pengawal pribadi Pangeran Adrian—melangkah masuk. Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan emosi, namun matanya yang tajam sempat menatap Alena dengan kilat keprihatinan yang tersembunyi rapat.

​"Pastikan Nona Virelle tetap berada di dalam kediamannya hingga jamuan makan malam dimulai," perintah Rowan kepada Gareth. "Setelah perayaan pertunangan diiringi musik keras dan perhatian seluruh istana terpusat ke Aula Utama, bawa dia keluar melalui gerbang barat. Berikan kereta kuda tanpa lambang dan sekantong koin perak ini padanya."

​"Diterima, Lord Rowan," jawab Gareth pendek.

​Alena mendongak, matanya yang sembap menatap Rowan dengan sisa keberanian terakhirnya. "Saya ingin menyampaikan satu permintaan."

​Rowan menaikkan sebelah alisnya. "Kau tidak berada dalam posisi untuk menawar, Alena."

​"Ini bukan tawaran. Ini permohonan seorang wanita yang tidak akan pernah kembali ke tempat ini," potong Alena, suaranya parau namun tegas. "Izinkan saya melintas di balik balkon Aula Utama sebelum saya pergi. Hanya lima menit. Saya ingin melihatnya... untuk terakhir kalinya dari jauh. Tanpa bicara, tanpa menunjukkan diri."

​Pria berzirah Ardent yang berdiri di dekat jendela hendak memprotes dengan hardikan keras, namun Rowan mengangkat tangannya, menahannya. Pria tua itu menatap Alena cukup lama, mengukur apakah ada potensi bahaya dalam permintaan itu.

​"Lima menit di balkon atas," kata Rowan akhirnya. "Di bawah pengawasan ketat Gareth. Jika kau membuat gerakan sekecil apa pun yang menarik perhatian bawah, atau mencoba memanggil pangeran, Gareth memiliki wewenang penuh untuk mengeksekusimu di tempat demi keamanan kerajaan."

​"Saya mengerti," bisik Alena.

​Malam merayap turun membawa hawa dingin yang menusuk. Istana Valerian menjelma menjadi panggung megah berhiaskan ribuan lilin lebah dan karangan bunga mawar putih. Suara musik simfoni dari para pemain musik istana bergema hingga ke koridor-koridor terluar, bersahut-sahutan dengan gelak tawa para bangsawan yang mengenakan gaun sutra dan perhiasan berkilauan.

​Dari celah tirai beludru di galeri lantai atas Aula Utama, Alena berdiri dalam kegelapan. Di sampingnya, Gareth berdiri membisu seperti patung batu, tangannya bersandar kaku pada gagang pedangnya.

​Alena mencengkeram pembatas kayu berukir. Matanya menyapu aula besar di bawahnya.

​Di pusat ruangan, berdiri Raja Cedric Valerian dengan mahkota emas di kepalanya, tampak megah dan tidak tersentuh. Di sampingnya, Ratu Eleanor tersenyum lembut namun matanya memancarkan kecemasan yang samar. Dan di hadapan mereka berdua, berdiri Pangeran Adrian Valerian bersama Lady Seraphina Ardent.

​Seraphina tampak sempurna. Gaun berwarna perak berhias batu permata biru membuatnya terlihat bagai seorang dewi dari legenda tua. Ia tersenyum anggun, memegang lengan Adrian dengan kebanggaan seorang wanita yang tahu bahwa ia telah memenangkan hadiah terbesar di kerajaan ini.

​Namun mata Alena hanya tertuju pada Adrian.

​Pria itu mengenakan pakaian kebesaran Putra Mahkota berwarna hitam bersulam benang perak. Wajahnya tampan, namun dingin luar biasa. Tidak ada senyuman di bibirnya. Tatapan matanya yang berwarna abu-abu pekat menyapu kerumunan bangsawan di bawahnya dengan keheningan yang hampa, seolah-olah ia sedang berdiri di tengah kuburan dan bukan perjamuan megahnya sendiri.

​Adrian... batin Alena menjerit, suaranya terkunci rapat di dalam dada. Maafkan aku...

​Tiba-tiba, lonceng besar istana berdentang tiga kali, menandakan saatnya pengumuman resmi pertunangan dipanjatkan. Raja Cedric mengangkat piala emasnya, suara nyaringnya memenuhi aula, memuji aliansi baru antara keluarga Valerian dan Ardent yang akan membawa kedamaian dan kejayaan bagi Aveloria.

​Seraphina membungkuk anggun menyambut tepuk tangan riuh para tamu. Sementara itu, Adrian melangkah maju sejenak untuk menerima ucapan selamat dari para menteri dewan.

​Pada momen itulah, tangan Adrian tanpa sengaja meraba bagian dalam saku jubahnya. Alena tahu apa yang dicari pria itu secara refleks. Adrian mencari liontin batu mawar perak yang biasa ia pegang ketika merasa tertekan atau terbebani. Namun jemari pangeran itu menyentuh saku yang kosong—karena liontin itu kini tersembunyi aman di balik dada Alena.

​Alena melihat Adrian menghentikan gerakannya sekilas. Kerutan halus muncul di dahi pangeran itu, dan matanya secara spontan terangkat, menatap ke arah galeri atas tempat Alena tersembunyi di balik bayangan tirai tebal.

​Untuk satu detik yang terasa seperti keabadian, mata abu-abu Adrian seakan menembus kegelapan dan menatap langsung ke dalam mata hijau hazel milik Alena.

​Jantung Alena serasa berhenti berdetak. Ia terengah pelan, melangkah mundur selangkah secara naluriah. Rasa ingin melompat turun dari galeri itu, berlari ke pelukan Adrian, dan membisikkan seluruh kebenaran hampir saja mematahkan akal sehatnya.

​"Waktu lima menitmu sudah habis, Nona," bisik Gareth pelan di sampingnya. Suara perwira itu tidak lagi terdengar galak, melainkan dipenuhi simpati tersembunyi yang dalam. "Kita harus pergi sekarang sebelum pengawal lain memeriksa area ini."

​Alena memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata hangat meluncur turun melintasi pipinya, menetes ke gaun sederhananya. Ia memaksa dirinya berbalik dan membelakangi kemegahan cahaya Aula Utama, melangkah masuk ke dalam kegelapan lorong rahasia bersama Gareth.

​Kereta kuda kusam tanpa lambang keluarga bangsawan menunggunya di luar gerbang barat istana. Malam begitu pekat, diiringi angin malam yang melambaikan pepohonan Hutan Elaris di kejauhan.

​Gareth membantunya naik ke dalam kabin kereta yang berbau kayu lembap dan jerami kering. Sebelum menutup pintu kayu kereta, sang kepala pengawal menyerahkan sebuah kantong kain kecil yang berdenting pelan oleh koin perak, serta surat pengunduran diri palsu Alena yang nantinya akan diserahkan kepada Adrian setelah wanita itu menghilang sepenuhnya.

​"Nona Alena," kata Gareth, menatap wanita muda di dalam kabin dengan raut wajah serius. "Saya tidak berhak bertanya apa yang sebenarnya terjadi antara Anda dan Lord Rowan. Tetapi jika boleh saya memberi satu nasihat... pergilah selauh mungkin dari batas Kerajaan Aveloria. Jangan pernah menginjakkan kaki di tanah ini lagi, apa pun yang terjadi."

​Alena menggenggam kantong koin itu kaku. "Terima kasih, Gareth. Untuk semuanya."

​"Semoga dewa melindungimu dan... kehidupan yang kau bawa," gumam Gareth pelan, sebuah pengakuan tersirat bahwa sang perwira sebenarnya tahu rahasia kehamilannya.

​Pintu kereta ditutup dengan dentuman kencang. Kereta kuda itu mulai melaju, roda-roda kayunya berderit menyusuri jalan setapak berbatu meninggalkan Istana Valerian yang megah di belakang mereka.

​Di dalam kabin kereta yang bergoyang keras, Alena duduk bersandar pada dinding kayu yang dingin. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan liontin perak pemberian Adrian, dan memeluknya erat di dada. Di balik kegelapan kereta yang membawa dirinya menuju pengasingan tanpa kepastian, Alena akhirnya membiarkan dirinya menangis terisak-isak, meratapi cinta yang harus ia korbankan dan masa depan yang kini harus ia raih sendirian demi keselamatan buah hatinya.

​Sementara itu, di dalam aula megah istana yang dipenuhi gelak tawa dan denting piala perak, Pangeran Adrian Valerian meraba sakunya yang kosong sekali lagi. Ia berdiri kaku di samping calon tunangannya, tidak tahu bahwa wanita yang memegang jiwanya baru saja melewati gerbang istana untuk terakhir kalinya, membawa serta rahasia terbesarnya yang kelak akan mengubah takdir Aveloria tujuh tahun kemudian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!