Clarissa Atmaja yang baru kembali dari studinya disambut dengan tanggal pernikahan untuk menikahi laki-laki yang sudah menjadi tunangannya, laki-laki pilihan papanya. Namun, saat kembalinya ia dipertemukan dengan laki-laki yang menggetarkan hatinya, dan membuatnya jatuh cinta.
Angga yang dulunya pria yang hangat, berubah jadi dingin dan tak ingin lagi mengenal dengan yang namanya perempuan karena sakit hati dengan perempuan masa lalunya. Sehingga, membuat orang-orang berpikir dan menganggapnya laki-laki yang tidak normal atau tidak menyukai perempuan. Tetapi, Rissa bertekad untuk mengejar cintanya, dan menaklukkan laki-laki yang ia sukai. Tidak peduli dengan statusnya yang sudah bertunangan, dan tentang isu mengenai laki-laki yang ia sukai.
Mampukah Rissa menaklukkan hati Angga Wijaya atau ia akan menikahi laki-laki pilihan papanya yang sudah menjadi tunangannya?
oh ya kak jika berkenan follow Instagram aku mamika759
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi pacar saya
Di kediaman orang tua Angga, maminya tersenyum senang setelah mendapat kabar dari asisten rumah tangga putranya.
"Mi, siapa yang telpon?" Papi Angga penasaran melihat istrinya tersenyum setelah menerima telpon. Siapa, dan berita apa sampai membuat istrinya terlihat bahagia.
"Pi, temenin Mami ke rumah Angga!" Mami Angga meminta suaminya mengantarkan dirinya ke rumah putranya.
Papinya Angga mengernyitkan dahinya, "Mami mau ngapain ke sana? Ini sudah mau malam, besok pagi aja kita ke sana," ucap Papi Angga.
"Nggak bisa, Pi .. Nggak bisa! Kita harus segera ke sana, sebelum terlambat!" Mami menarik paksa tangan suaminya.
"Mi, emang ada apa?" tanya Papi Angga yang sedikit khawatir mendengar kata terlambat dari mulut istrinya.
"Sudah, Pi. Papi jangan banyak tanya lagi! Buruan, kita kesana, sebelum terlambat. Nanti, Papi tau sendiri!" Mami memaksa suaminya untuk bergegas.
Papinya Angga menuruti keinginan istrinya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil, menuju rumah putranya.
*****
"Jangan lakukan hal itu lagi!" ucap Angga dengan tegas, dan penuh penekanan. Angga pun langsung mengangkat tangan Wawan, lalu meletakkan ponsel Wawan di tangannya.
Angga berjalan menghampiri Rissa yang duduk menunggunya di ruang tamu.
"Ya ampun ni cowok bikin gue ngences aja!" dengan mulut ternganga, Rissa melihat Angga berjalan ke arahnya dengan pakaian casual.
"Astaga, apa yang ada di otak Lo, Rissa? Sadar Rissa ... sadar Rissa!" Rissa menarik nafas dalam, membuangnya perlahan.
"Pak!" Rissa segera berdiri, menyapa Angga.
"Kamu duduk aja! Jadi, kamu mau saya antar kemana?" Angga mendudukkan dirinya. Begitupun Rissa yang duduk berseberangan dengan Angga.
Melihat hari sudah mulai malam, Angga berinisiatif untuk mengantarkan Rissa pulang.
Rissa berpikir sejenak, lalu menghedikkan bahunya. Ia tidak tahu ingin kembali kemana, ke apartemen kedua sahabatnya, atau pulang ke rumah orang tuanya.
Angga menatap wajah Rissa, lalu menggelengkan kepalanya.
"Bapak, nggak perlu repot-repot nganter saya pulang. Saya bisa pulang sendiri! Terima kasih, sudah memberi saya tumpangan. Saya permisi pamit, Pak!" ucap Rissa berdiri dengan menundukkan kepalanya.
Angga mendongakkan kepalanya, melihat Rissa, "Saya akan antar kamu!" ucap Angga, yang ikut berdiri.
"Nggak usah, Pak! Terima kasih! Saya bisa naik taksi," tolak Rissa, yang tak ingin merepotkan atasannya. Ia juga belum menentukan kemana ia akan pulang.
Angga menghela nafas panjang, "Saya antar kamu!" ucap Angga yang tak ingin dibantah. Ia merasa sudah terlanjur menolong Rissa.
"Iya Pak," jawab Rissa dengan anggukan kepalanya.
"Ayo!" ajak Angga. Mereka berdua berjalan keluar menuju mobil Angga yang terparkir.
"Kemana?" tanya Angga setelah mereka berdua berada di dalam mobil.
"Sebentar Pak!" jawab Rissa sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Rissa mengaktifkan kembali ponselnya untuk menghubungi kedua sahabatnya.
Rissa menyandarkan punggungnya, dan membuang nafasnya panjang. Wajah cantiknya nampak lesu, tak bersemangat. Ia berharap Angga membiarkan dirinya tinggal di rumahnya.
"Papa sama Erik pasti menyuruh anak buahnya untuk berjaga di sana," pikir Rissa.
"Ke apartemen aja, Pak!" jawab Rissa lesu.
Angga pun langsung melajukan mobilnya menuju apartemen Rissa.
***
Lima belas menit kemudian, mobil Angga tiba di depan lobby apartemen Rissa.
"Sudah sampai," ucap Angga membangunkan Rissa. Rissa yang sedari perjalanan memejamkan matanya, tak sadar jika mereka sudah sampai di depan apartemen.
"Sudah sampai, yah!" Rissa mengucek-ngucek matanya, sambil melihat kaca jendela mobilnya.
"Ya," jawab Angga singkat yang masih memegang setir mobil.
Rissa menghela nafasnya panjang. Tangannya terasa berat untuk melepaskan sabuk pengaman yang mengikat tubuhnya. Begitupun pun dengan kakinya yang terasa lemas untuk melangkah.
"Kali ini selesai hidup gue!" gumam Rissa yang sudah memasrahkan dirinya.
"Terima kasih, Pak, sudah mengantar saya!" Rissa kembali berterima kasih, sembari melepaskan sabuk pengamannya.
"Hem.. sama-sama."
Rissa kembali berbalik menghadap Angga, "Oh.. ya Pak, sebelumnya saya ingin meminta izin, jika besok saya tidak masuk," Angga mengerutkan dahinya.
"Iya Pak, karena saya tidak tahu, apa yang akan terjadi pada saya, setelah saya keluar dari mobil, Bapak. Apa saya selamat atau tidak?" ucap Rissa yang sedikit berlebihan di telinga Angga.
Angga yang mendengarnya sedikit mengulas senyumnya, "Apa sebegitunya, sampai kamu tidak selamat?"
Rissa menjawabnya dengan anggukan kepala, "Ya iyalah, besok mungkin gue dikawinin sama Erik," ucap Rissa dalam hati, sembari membayangkan dirinya menjadi pengantin wanita.
"Iya Pak! Saya juga tidak yakin, kalau saya bisa melihat wajah tampan Bapak lagi," ucap Rissa yang masih sempat-sempatnya menggoda Angga. Pikirnya, ia tidak ada kesempatan lagi untuk menggoda Angga.
Angga kembali tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Memangnya kenapa? Kamu mau resign?" tanya Angga.
"Bisa jadi, kecuali kalo...." Rissa menghentikan kalimatnya.
"Kecuali apa?" tanya Angga dengan kening berkerut yang sedikit penasaran dengan ucapan asisten sepupunya itu. Ia juga akan merasa bersalah pada sepupunya, jika membiarkan Rissa resign begitu saja.
Rissa tersenyum memikirkan kata yang akan ia ucapkan, "Kecuali Bapak...."
"Saya apa?"
"Bapak mau jadi pacar saya," ucap Rissa yang memegang lengan Angga, dengan tersenyum menggoda.
Angga terbatuk mendengar perkataan Rissa, ia pun segera menepiskan tangan Rissa yang memegang lengan.
"Bapak, tidak apa-apa!" Rissa mengusap punggung Angga.
"Saya tidak apa-apa!" Angga pun kembali menepiskan tangan Rissa yang menurutnya begitu agresif.
Rissa menahan tawanya, melihat wajah Angga yang memerah. Apalagi, melihat Angga yang menepiskan tangannya. Ia semakin bersemangat menggoda Angga, dan dirinya juga ingin membuktikan, apakah Angga pria normal atau bukan seperti yang dikatakan kedua sahabatnya.
"Serius, Bapak ngga apa-apa?" tanya
Rissa kembali yang lagi-lagi mengusap punggung Angga, karena Angga masih terbatuk.
"Iya, saya nggak apa-apa. Ya udah, kamu saya izinin nggak masuk besok," jawab Angga.
"Hah ...." ucap Rissa tersentak, mendengar perkataan Angga.
"Wah.. bener-bener homreng ni orang! Gue udah berinisiatif duluan. Dia malah B aja!" ucap Rissa dalam hati, sambil memandangi wajah Angga yang nampak samping.
"Oh.. iya Pak. Sekali lagi terima kasih," ucap Rissa. Rissa mengambil maskernya kembali dari dalam tas, lalu memakainya, dan menguncir rambutnya asal.
Angga kembali menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku asisten sepupunya itu, yang nampak konyol di matanya.
Rissa melirik ke kanan kiri, ke depan dan belakang. la takut, papanya atau Erik menunggunya di sana.
Dirasa sudah sedikit aman, Rissa membuka pintu mobilnya, "Terima kasih, Pak. Bapak pulangnya hati-hati," ucap Rissa lalu menutup pintu mobilnya.
"lya," jawab Angga diikuti dengan anggukan.
"Dasar!" gumam Angga dengan sedikit senyum tersungging dari bibirnya melihat Rissa berjalan memasuki lobby apartemen. Dirinya juga ingin memastikan Rissa masuk dengan aman.
Tak lama, Angga pun melajukan mobilnya, kembali ke rumahnya.
Hai kak...terima kasih udah baca, jangan lupa, like vote dan komentarnya...