Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak!
Sore itu, sinar matahari sudah tidak lagi terik, melainkan berubah menjadi cahaya keemasan yang lembut, menyelimuti seluruh wilayah kediaman Duke Volkov. Angin berhembus perlahan membawa aroma wangi bunga mawar, melati, dan tanaman herbal yang tumbuh rapi di sepanjang jalan setapak. Setelah merasa cukup berlatih sihir dan bercengkrama dengan kedua orang tuanya, Bellatrix merasa ingin berjalan-jalan sendirian sejenak untuk menikmati suasana yang tenang dan menenangkan.
“Bunda, Ayah… aku mau jalan-jalan sebentar ke taman bagian dalam saja, tidak akan pergi jauh,” ucapnya sambil tetap menggandeng lengan ibunya, nada bicaranya masih terdengar lembut dan sedikit manja.
Elara tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja, Nak. Tapi jangan terlalu lelah, ya. Kalau butuh apa-apa, panggil saja pelayan atau gunakan sihirmu.”
“Siap, Bunda!” jawabnya riang, lalu melambaikan tangan kecil sebelum melangkah pergi dengan langkah yang ringan dan santai.
Taman keluarga Volkov sangat luas dan indah, dipenuhi pepohonan rindang, kolam-kolam kecil dengan air mancur, serta jalur setapak yang dihiasi batu-batu halus. Bellatrix berjalan perlahan, menikmati setiap sudut pemandangan, merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Pikirannya melayang sesekali mengingat kehidupannya yang dulu sebagai tentara, di mana tempat seindah ini hanyalah mimpi yang jauh dari jangkauan.
Namun, saat ia berbelok di balik rimbunnya pohon cemara besar, langkahnya tiba-tiba terhenti seketika. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada, napasnya tertahan, dan matanya terbelalak lebar seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Di ujung jalan setapak itu, berjalan dengan tenang dan tegap, adalah sosok yang sangat ia kenali sosok yang selalu melindunginya, mengajari dia bertahan hidup, dan menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia lamanya. Wajah itu, postur tubuhnya, caranya melangkah, bahkan cara ia sedikit memiringkan kepala saat mendengarkan orang di sampingnya… semuanya persis sama dengan kakak kandungnya yang paling ia cintai dan rindukan.
Bellatrix berdiri terpaku, air matanya langsung menggenang di sudut matanya. Ia pikir ini hanya ilusi, atau hanya kebetulan wajah yang mirip. Namun saat pria itu menoleh sedikit ke arahnya, dan tatapan matanya bertemu tatapan yang tegas namun menyimpan kelembutan yang hanya ia kenal ia tidak bisa lagi menahan diri.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari sekuat tenaga, melompati semak bunga kecil yang menghalangi, dan dengan suara terisak memanggil, “KAKAK!!!”
Pria itu terkejut mendengar suara panggilan yang begitu penuh emosi. Belum sempat ia berbalik sepenuhnya, tubuh kecil Bellatrix sudah melompat dan memeluk pinggangnya dengan sangat erat, seolah takut jika ia melepaskan sedikit saja, sosok ini akan menghilang kembali. Wajahnya dibenamkan kuat di dada bidang kakaknya, bahunya terguncang hebat sambil menangis sejadi-jadinya.
“Kak… Kakak ada di sini… aku pikir aku tidak akan pernah bertemu Kakak lagi… maafkan aku… maafkan aku yang dulu membencimu, yang menjauhimu, yang tidak mau mendengarkan kata-kata Kakak… aku salah, aku sangat salah…” isaknya terputus-putus, suara itu terdengar sangat menyedihkan namun penuh rasa rindu dan penyesalan yang mendalam.
Alexander yang memang adalah kakak kandung Bellatrix di dunia ini, yang selama ini selalu berusaha mendekat namun selalu ditolak oleh Bellatrix yang dulu —berdiri membeku di tempatnya. Matanya terbelalak lebar, seluruh tubuhnya kaku karena keterkejutan yang luar biasa. Ia bahkan hampir tidak bisa bernapas.
Selama ini, adiknya ini selalu bersikap dingin, angkuh, dan acuh tak acuh. Ia selalu menganggap bahwa kakaknya ini menghalangi keinginannya, selalu berbicara dengan nada tinggi, bahkan sering menghindar saat Alexander mencoba mendekat. Berulang kali ia memberi nasihat, memperingatkan tentang bahaya obsesinya pada Putra Mahkota, namun selalu dijawab dengan ketus dan penolakan.
Namun sekarang? Gadis yang memeluknya erat-erat ini menangis tersedu-sedu, memanggilnya dengan panggilan yang lembut dan penuh kasih sayang, bukan lagi sebutan kaku atau nada bicara yang dingin. Ia meminta maaf, memeluknya seolah ia adalah harta paling berharga di dunia.
Di samping mereka, berdiri seorang pria muda lain yang tidak dikenal Bellatrix temannya Alexander yang ikut tertegun melihat pemandangan tak terduga ini. Ia ingin berbicara, namun Alexander segera mengangkat tangannya memberi isyarat agar diam, matanya tetap terpaku pada sosok adiknya yang menangis di pelukannya.
Perlahan namun pasti, rasa kaget itu perlahan berubah menjadi rasa haru yang meluap-luap. Jantungnya yang selama ini terasa sakit melihat sikap adiknya, kini terasa hangat dan penuh kelegaan. Ia perlahan mengangkat kedua tangannya, lalu membungkus tubuh Bellatrix dengan pelukan yang sangat erat dan melindungi, persis seperti yang selalu ia inginkan selama ini. Tangan besarnya mengusap lembut punggung dan kepala adiknya, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap.
“Bella… adikku… apa yang terjadi? Kenapa menangis seperti ini? Ada siapa yang berani mengganggumu? Katakan pada Kakak, siapa pun itu, Kakak tidak akan membiarkannya lepas begitu saja,” tanyanya dengan nada cemas dan tegas, naluri melindungi yang sudah melekat kuat langsung muncul begitu ia melihat adiknya menangis. Dalam benaknya, ia langsung berpikir pasti ada seseorang yang telah menyakiti hatinya atau menakut-nakutinya, hingga adiknya yang biasanya keras kepala ini menjadi begitu rapuh.
Bellatrix menggeleng kuat di dalam pelukan itu, air matanya semakin deras mengalir membasahi pakaian dada Alexander. “Tidak ada yang menggangguku, Kak… tidak ada siapa pun… aku hanya rindu… sangat rindu padamu… dan aku minta maaf… maafkan aku yang dulu bodoh, yang membenci Kakak tanpa alasan, yang mengabaikan semua kebaikan dan perhatian Kakak… aku sadar sekarang, semua yang Kakak katakan itu benar… aku salah besar, Kak…”
Mendengar penjelasan itu, hati Alexander terasa semakin terenyuh. Ia bisa merasakan ketulusan yang mendalam dalam setiap kata dan isakan adiknya. Ini bukan pura-pura, bukan tingkah laku yang dibuat-buat. Ini adalah perubahan yang nyata, perubahan yang membuatnya merasa seolah beban berat yang bertahun-tahun membebani hatinya akhirnya terangkat sepenuhnya.
Ia mengeratkan pelukannya lagi, mencium puncak kepala Bellatrix dengan penuh kasih sayang, matanya pun kini ikut berkaca-kaca dan basah oleh air mata bahagia.
“Sudah… sudah jangan menangis lagi, Nak… Kakak sudah mengampunimu sejak lama, bahkan sebelum kamu meminta maaf. Kakak tidak pernah membenci adikku ini, tidak pernah sedikit pun. Selama ini Kakak hanya khawatir, takut kamu tersesat dan terluka. Selama kamu sadar dan kembali seperti ini, itu sudah lebih dari cukup untuk Kakak,” ucapnya dengan suara lembut namun tegas, menenangkan hati adiknya yang sedang terguncang emosi.
Bellatrix baru melepaskan pelukannya sedikit setelah beberapa menit berlalu, lalu mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Ia menatap wajah kakaknya dengan tatapan yang penuh rindu dan rasa syukur, lalu mengusap pipinya sendiri dengan lengan gaunnya sambil tersenyum tipis senyum yang tulus dan manis, belum pernah dilihat Alexander sebelumnya.
“Kakak tetap sama… tetap baik dan sabar sekali padaku,” gumamnya pelan, lalu ia menyadari keberadaan pria lain yang berdiri di samping mereka, sehingga pipinya sedikit memerah karena malu menangis di depan orang asing. Ia menoleh dengan rasa ingin tahu, lalu menatap Alexander. “Dia… temannya Kakak?”
Alexander tersenyum lebar, rasa bahagia yang meluap membuatnya terlihat lebih cerah dari biasanya. Ia mengusap sisa air mata di pipi Bellatrix dengan lembut, lalu memperkenalkan temannya.
“Iya, ini Lucas, sahabat karib Kakak. Dia orang yang bisa dipercaya, jadi tidak perlu malu. Lucas, ini adikku, Bellatrix seperti yang sering aku ceritakan padamu,” ujarnya dengan nada bangga, seolah ingin memperkenalkan harta berharga yang baru ia dapatkan kembali.
Lucas hanya tersenyum ramah dan mengangguk sopan, tidak bertanya banyak hal karena ia sudah melihat sendiri betapa dalamnya hubungan saudara itu.
Bellatrix kembali menatap Alexander, lalu tanpa ragu kembali menggandeng lengan kakaknya dengan erat, meletakkan kepalanya di bahu pria itu persis seperti yang ia lakukan pada kedua orang tuanya menunjukkan sisi manjanya yang kini dia tunjukkan pada Alexander.
“Kakak janji jangan pergi jauh-jauh lagi ya… sekarang aku ingin selalu bersama Ayah, Bunda, dan Kakak. Aku tidak mau lagi menjauh dari keluarga ini,” ucapnya dengan nada lembut dan sedikit merajuk, matanya bersinar penuh harapan.
Alexander hanya tertawa bahagia, lalu mengelus punggung tangan adiknya yang menggenggam lengannya. “Janji. Mulai hari ini, Kakak akan selalu ada untukmu. Tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Sekarang, ceritakan pada Kakak… apa yang membuatmu berubah secepat ini? Tapi apa pun itu, Kakak sangat bersyukur akan hal ini.”
Mereka pun berjalan perlahan menyusuri taman, dengan Bellatrix yang terus menggandeng lengan kakaknya, sesekali masih terisak kecil karena sisa emosi, namun di wajahnya kini tergambar kebahagiaan yang tulus. Di dalam hatinya, ia merasa semakin yakin takdir benar-benar memberinya kesempatan kedua yang sempurna, bahkan mempertemukannya kembali dengan kakak yang sangat ia cintai, seolah semua rasa rindu dan penyesalan di kehidupan lamanya telah terbayar lunas di dunia ini.