The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Pelabuhan
Kami bertiga berjalan menyusuri jalanan Kirren seperti pengembara biasa. Tak ada lambang kerajaan pada pakaian kami, tak ada penjaga yang membuka jalan, dan tak seorang pun menundukkan kepala ketika aku lewat. Orang-orang bahkan nyaris tidak memperhatikan keberadaan kami. Di antara kerumunan pekerja pelabuhan, pedagang, pelaut, dan pendatang yang mencari penginapan sebelum malam, kami mungkin tampak seperti seorang ayah yang bepergian bersama kedua anaknya.
Marlow berjalan di depan. Ishar dan aku mengikutinya beberapa langkah di belakang, meskipun tidak benar-benar berdampingan. Ia berada lebih dekat ke sisi bangunan, sedangkan aku berjalan dekat jalan yang masih dipenuhi gerobak. Roda-roda kayu menggilas tanah lembap dan meninggalkan alur berlumpur. Para kusir meneriakkan peringatan kepada orang yang terlalu lambat menyingkir, sementara kuda-kuda menarik beban dengan napas berat dan busa putih pada sudut mulut.
Kirren jauh lebih padat daripada Evergreen. Bangunan-bangunan batu dan kayunya berdiri rapat, sebagian menyisakan gang yang begitu sempit hingga dua orang sulit berpapasan. Toko-toko masih terbuka meskipun matahari mulai turun. Lentera dinyalakan satu demi satu di bawah kanopi. Bau ikan dari pelabuhan bercampur dengan asap perapian, kulit yang sedang disamak, minyak lampu, rempah, kotoran kuda, serta makanan yang digoreng di pinggir jalan.
Aku hampir tidak memperhatikan semua itu. Rasa sakit di perutku sudah menjadi denyutan tumpul. Setiap langkah masih mengingatkanku pada lutut Marlow yang menghantam tepat di bawah tulang dada, tetapi aku bisa bernapas tanpa harus membungkuk. Yang belum mereda adalah panas di dalam dada.
Aku merasa dikhianati. Kata itu terdengar terlalu keras bahkan ketika hanya muncul di kepalaku. Marlow tidak mungkin mengkhianatiku. Kesetiaannya kepada Dad tidak perlu dipertanyakan. Aku yakin, bahkan lebih yakin daripada banyak orang yang pernah tinggal bersamaku di istana, bahwa ia akan berdiri di antara aku dan pedang tanpa ragu. Ia mungkin akan mati demi memastikan aku tetap hidup, bukan karena menyukaiku, tetapi karena Dad telah mempercayakan nyawaku kepadanya.
Namun ia menjual koin itu. Ia mengambil satu-satunya benda yang tersisa dari malam terakhirku bersama Dad, meletakkannya di tangan seorang kapten kapal, lalu menawar nilainya seperti sedang menjual perhiasan tua yang ditemukan di dalam peti.
Aku memahami alasannya. Kami memerlukan uang. Kamar, makanan, pakaian, perlengkapan, dan perjalanan menuju Dark Mountain tidak dapat dibayar dengan kenangan. Tiga puluh tujuh keping perak jauh lebih berguna daripada satu koin yang tak berani kugunakan.
Aku memahami semuanya.
Malam itu, pemahaman tidak cukup.
Aku membenci Marlow.
Ia berjalan seolah tidak ada apa pun yang terjadi di atas kapal. Langkahnya tetap sama, punggungnya tetap lurus, dan matanya terus mengawasi jalan, jendela, serta orang-orang yang bergerak terlalu dekat. Tidak sekali pun ia menoleh untuk memeriksa apakah aku masih marah. Tidak ada penjelasan, permintaan maaf, ataupun pengakuan bahwa benda yang dijualnya memiliki arti lebih besar daripada kandungan peraknya.
Mungkin ia tidak peduli.
Atau mungkin ia tahu bahwa meminta maaf tidak akan mengembalikan koin itu ke kantungku.
Aku menatap bagian belakang kepalanya dan membayangkan tinjuku mengenai wajahnya bila tadi ia tidak menghindar. Pikiran itu tidak memberiku kepuasan. Marlow kemungkinan hanya akan membiarkanku memukul sekali sebelum menjatuhkanku dengan cara lain yang sama memalukannya.
Kami meninggalkan kawasan dermaga dan memasuki jalan yang sedikit lebih tinggi. Genangan air semakin jarang, digantikan batu-batu pipih yang dipasang tidak rata. Beberapa toko mulai menutup daun jendela. Pedagang menarik papan iklan ke dalam, sementara anak-anak berlari membawa keranjang sebelum dipanggil pulang oleh orang tua mereka.
Marlow berhenti di depan sebuah toko yang masih terang.
Papan di atas pintunya memperlihatkan gambar gulungan kain dan jarum. Di balik jendela, beberapa mantel, kemeja, celana, serta gaun digantung pada rangka kayu. Sebagian tampak baru, sebagian lain jelas pernah dipakai dan diperbaiki agar dapat dijual kembali.
Tanpa menjelaskan apa pun, Marlow membuka pintu.
Lonceng kecil berbunyi di atas kepala kami.
Udara di dalam toko berbau kain kering, kapur, debu, dan sedikit minyak lavender. Rak-rak memenuhi dinding sampai hampir menyentuh langit-langit. Gulungan wol, linen, dan kain tebal ditumpuk berdasarkan warna. Beberapa pakaian tergantung dari balok, berayun kecil ketika pintu menutup dan memutus aliran udara dari jalan.
Seorang wanita tua muncul dari balik tirai di bagian belakang. Tubuhnya kecil dan sedikit membungkuk, rambut putihnya ditutup kain abu-abu. Sepasang kacamata bulat bertengger rendah di hidung. Ia memandang Marlow terlebih dahulu, lalu Ishar, dan akhirnya berhenti padaku.
Tatapannya bertahan cukup lama pada memar di wajahku.
“Aku butuh satu setel pakaian untuk anakku,” kata Marlow.
Tangannya mendarat pada bahuku dan mendorong tubuhku satu langkah ke depan.
Aku menoleh tajam.
“Aku tidak butuh pakaian.”
Marlow melihat kemeja yang kupakai. Kainnya masih lembap pada beberapa bagian, warnanya sudah tidak jelas karena debu perjalanan, dan jahitan dekat bahu mulai terlepas. Celanaku memiliki noda lumpur sampai lutut, sementara bagian bawahnya mengeras setelah berkali-kali basah dan kering.
“Kau membutuhkannya,” katanya. “Baumu seperti kandang kuda.”
Suara kecil terdengar dari belakangku.
Ishar mendengus.
Ketika menoleh, aku melihat sudut bibirnya terangkat. Ia mencoba menahan tawa, tetapi bahunya bergerak sekali. Tangannya segera menutup mulut, seolah itu dapat menyembunyikan bahwa ia menikmati penghinaan tersebut.
“Jangan tertawa.”
Kalimat itu membuatnya semakin sulit menahan diri. Ishar memalingkan wajah, tetapi aku masih melihat senyum tipis pada pipinya.
Aku tahu sikapku kekanak-kanakan.
Aku baru melewati enam belas musim dingin. Alasan itu sering terdengar cukup masuk akal dalam kepalaku. Enam belas tahun bukan waktu yang lama untuk memahami kerajaan, kematian, kesetiaan, dan bagaimana seseorang seharusnya bertindak ketika satu-satunya benda peninggalan ayahnya dijual tanpa izin.
Namun aku juga telah menerima marking Jessiah tahun lalu.
Sejak ritual itu, tak seorang pun di istana menyebutku anak laki-laki lagi. Aku berdiri di hadapan imam, keluarga, dan para bangsawan sebagai pria. Dad sendiri meletakkan tangan di bahuku setelah tanda itu diberikan dan mengatakan bahwa sejak hari tersebut, kesalahanku tidak lagi dapat dibebankan pada usia.
Kedua pikiran itu terus beradu di dalam kepala.
Aku masih muda.
Aku sudah seorang pria.
Aku ingin diberi ruang untuk bertindak bodoh.
Aku ingin diperlakukan seolah setiap pilihanku memiliki arti.
Wanita pemilik toko mendekat dan mengitari tubuhku satu kali. Ia menyentuh bahuku, menilai panjang lengan, kemudian menarik sedikit kain celana pada pinggang tanpa meminta izin. Aku menegang, tetapi tidak memprotes. Tatapannya terlalu praktis untuk dianggap merendahkan.
“Kurus,” katanya.
“Aku tidak kurus.”
Ia mengabaikanku dan melihat kepada Marlow. “Tingginya menyulitkan. Tunggu.”
Wanita itu menghilang ke balik tirai.
Aku berdiri dekat meja dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuh. Marlow mulai memeriksa rak mantel seolah percakapan di antara kami telah selesai. Ia menarik satu kemeja gelap, melihat jahitannya, kemudian meletakkannya kembali karena menemukan lubang kecil pada bagian siku.
Ishar berpindah ke sisi toko yang memajang pakaian perempuan. Ia tidak langsung memilih apa pun. Jemarinya hanya menyentuh permukaan beberapa kain, berhenti lebih lama pada mantel wol berwarna hijau tua sebelum menarik tangan.
Marlow melihatnya.
“Pilih yang kau perlukan.”
Ishar menoleh. “Aku sudah memiliki pakaian.”
“Satu gaun yang diberikan orang lain, dan mantel kakekmu.”
Nada Marlow tetap datar, tetapi tidak terdengar seperti ejekan. “Perjalanan menuju Dark Mountain tidak akan selesai dalam dua hari.”
Ishar menunduk pada gaun biru yang dipakainya. Kain itu masih bersih, tetapi bagian bawahnya sudah terkena debu dan noda kapal.
“Aku tidak ingin menghabiskan uang kalian.”
“Sekarang uang itu milik rombongan.”
Pernyataan itu kembali membuat dadaku memanas. Uang rombongan. Seolah koin Dad tidak pernah menjadi milikku.
Marlow pasti melihat perubahan pada wajahku, tetapi memilih tidak menanggapinya.
Wanita tua kembali membawa kemeja linen berwarna cokelat muda dan celana gelap yang dilipat di atas kedua lengan. Ia meletakkannya pada meja, lalu menyuruhku berdiri lebih dekat.
Kemeja itu ditempelkan pada tubuhku untuk mengukur panjang. Lengannya sedikit terlalu panjang, tetapi wanita tersebut melipat ujungnya dan mengatakan itu lebih baik daripada terlalu pendek. Celananya terbuat dari kain yang lebih tebal daripada milikku, cukup kuat untuk perjalanan dan tidak terlalu mencolok.
“Coba,” katanya sambil menunjuk tirai kecil di sudut.
Aku melihat Marlow.
“Sekarang?”
“Tidak,” jawabnya. “Kita tunggu sampai musim panas berikutnya.”
Ishar kembali mendengus.
Aku membawa pakaian ke balik tirai sebelum mengatakan sesuatu yang akan memberinya alasan tertawa lagi.
Kemeja baru terasa kasar pada kulit, tetapi kering dan tidak berbau keringat. Celananya sedikit longgar pada pinggang, meskipun dapat diperbaiki dengan ikat pinggang. Ketika keluar, wanita tua menarik kain pada bahu, memeriksa jahitan, lalu menyatakan itu cukup baik.
Marlow sudah memilih satu kemeja berwarna kelabu, celana cokelat gelap, dan mantel sederhana untuk dirinya sendiri. Ia tidak memilih pakaian terbaik. Semua yang diambilnya kuat, mudah dilipat, dan tidak memiliki hiasan yang dapat menarik perhatian.
Ishar akhirnya membawa satu kemeja panjang berwarna pucat, rok gelap, serta mantel wol yang sebelumnya disentuhnya. Ia memegang semuanya dengan ragu.
“Ini terlalu banyak.”
“Tidak,” kata Marlow. “Sepatu?”
Ishar melihat sepatu yang dipakainya. Sepatu itu masih milik rumah Danmer, kotor dan aus pada bagian tumit, tetapi tidak rusak.
“Masih bisa digunakan.”
Marlow mengangguk dan tidak memaksa.
Kami meletakkan seluruh pakaian di atas meja. Wanita tua menghitung harga dengan memindahkan biji-biji kecil pada papan hitung. Marlow mengeluarkan kantong yang berisi tiga puluh tujuh keping perak.
Bunyi logam yang saling beradu membuat mataku langsung tertuju pada tangannya.
Ia mengambil beberapa keping, menghitungnya, lalu meletakkannya di atas meja. Wanita tua memeriksa setiap koin sebelum memasukkannya ke kotak kayu. Aku melihat tumpukan uang dalam kantong berkurang, berubah menjadi kemeja, celana, mantel, dan pakaian yang dapat kami gunakan untuk bertahan hidup.
Itulah sebabnya koin Dad dijual.
Aku tetap membencinya.
Namun untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kapal, kebencian itu tidak sepenuhnya menutup alasan di balik tindakan Marlow.
Wanita tua membungkus pakaian lama kami dengan kain. Aku memilih mengenakan setel baru dan memasukkan kemeja serta celana lamaku ke dalam bungkusan. Pakaian tersebut masih dapat dicuci dan digunakan kembali. Marlow tidak akan membiarkanku membuang sesuatu hanya karena sudah kotor.
Ketika kami meninggalkan toko, malam telah turun di atas Kirren.
Lentera-lentera menggantung di sepanjang jalan utama. Cahaya kuningnya memantul pada batu yang lembap, sementara udara dari Blue Lake bergerak di antara bangunan dan membawa bau air dingin sampai ke kawasan pasar. Toko-toko yang tersisa mulai menutup. Suara kota berubah dari teriakan pedagang menjadi percakapan para pekerja yang pulang dan musik samar dari kedai-kedai minum.
Marlow kembali berjalan paling depan.
Ishar menyusul dengan pakaian barunya terikat di dalam bungkusan. Aku berjalan di belakang mereka mengenakan kemeja cokelat muda yang masih kaku dan celana gelap yang tidak berbau seperti kandang kuda.
Rasa sakit di perutku belum hilang. Amarahku kepada Marlow juga belum lenyap.
Namun aku tidak lagi mengepalkan tangan.
Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan Kirren untuk mencari penginapan sebelum uang hasil penjualan koin Dad berkurang lebih banyak dan seluruh kamar murah di kota pelabuhan itu terisi.