Ini sakuel dari cerita "Pengasuh Tangguh Violetta"
Berawal dari sebuah janji di masa kecil membuat Violetta menutup rapat hatinya untuk Pria lain, ia senantiasa menunggu kedatangan pria di masa kecil yang pergi entah kemana.
Violetta menghabiskan sebagian banyak waktunya untuk bekerja dan berkarya, sesekali ia datang ke tempat dimana ia bertemu dengan Aksara dengan harapan ia akan bertemu dengannya dalam versi dewasa. Waktu terus berjalan, sampai dimana ia hampir putus asa akan penantiannya seseorang datang kedalam kehidupannya tetapi dengan cara misterius.
Akankah Violetta bertemu dengan Aksara?
Yuk, ikuti terus kelanjutannya sambil kasih dukungan untuk author agar tetap semangat dalam berkarya 🤩
Kalau yang suka boleh lanjut, kalau tidak suka boleh skip ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni mardiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu piring berdua
Pagi harinya.
Azrio sudah menghubungi keluarga Violetta, dia akan meminta izin secara langsung pada Bram dan juga Renata. Si kembar dan juga kedua orangtuanya tengah dalam perjalanan menuju negara K, Renata juga ingin menemui Azrio membicarakan semuanya agar ia bisa mengambil keputusan yang tepat.
Violetta keluar dari dalam kamarnya berniat turun ke lantai bawah, tapi ia di kejutkan oleh sosok Azrio yang tengah bersandar tepat di dekat pintu kamarnya.
"Astaga! Monyet!" Pekik Violetta.
Violetta refleks memegangi dadanya karena terkejut melihat Azrio, dia memukul lengan pria itu dengan keras.
Geplak.
"Ouucchhh, Tata. Sakit tau, belum juga nikah udah kdrt duluan." Keluh Azrio mengusap-usap lengannya.
"Badan segede gitu malah nangkring di deket pintu, siapa yang gak kaget coba? Mana baju serba item kayak rentenir lagi." Omel Violetta.
"Sembarangan aja kalo ngomong. Ayo turunlah, kita sarapan dulu soalnya yang lain sudah nungguin di bawah." Ajak Azrio.
"Yaudah ayo, tadi bunda sama daddy udah ngabarin kalau mereka udah nyampe di airport. Palingan nanti jam 9 udah nyampe ke mansion, kayaknya kita ngobrolin kerjasama perusahaannya disini aja kali ya." Ucap Violetta.
Azrio dan Violetta mengobrol sambil berjalan menyusuri tangga, tampaknya Azrio mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Violetta.
"Iya, kita bahas di ruang kerja aja. Takutnya mereka keburu sampe, masa calon mantu gak nyambut camernya sih." Ucap Azrio dengan senyum yang sangat sedikit.
"Emang bunda bakalan setuju? Jangan percaya diri dulu gak sih?" ledek Violetta.
"Haruslah, kalau pun gak di restuin ya harusnya lebih di yakinin lagi. Pantang bagi lelaki menyerah sebelum bendera kemenangan berkibar." Ucap Azrio mantap.
"Nyenyenyenye." ejek Violetta.
"Dibilangin malah ngeyel nih bocah." Ucap Azrio.
"Mentang-mentang udah ketemu, sekalinya deket nempeeeellll mulu." Seru Zergan.
Azrio menatap Zergan dengan tatapan malasnya, ia dengan sengaja merangkul pinggang Violetta berjalan menuju meja makan. Abigail tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat ke possesifan cucunya, sedangkan Ramdan dan Liona hanya tersenyum.
"Makanlah dulu, sepertinya cucuku akan menyusahkanmu." Ucap Abigail.
"Tidak apa grandpa, daripada dia nakal aku lebih suka kalau dia menyusahkanku." Ucap Violetta.
Azrio tidak menghiraukan ucapan kakek dan juga Violetta, dia lebih memilih mengisi piringnya dengan lauk yanh dia sukai.
"Buka mulutnya." Ucap Azrio.
"Hah?" Violetta melongo dibuatnya.
Azrio langsung memasukkan satu sendok nasi kedalam mulut Violetta, dia merapatkan kembali mulut Violetta yang masih terbuka. Violetta mengerjap-ngerjapkan matanya seakan tidak percaya jika Azrio menyuapinya, sedetik kemudian dia mngunyah makanannya. Azrio juga menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri, dia sengaja makan sepiring berdua agar lebih nikmat rasanya.
Zergan memutar bola matanya malas melihat sikap berbanding terbalik Azrio, setahunya Azrio paling anti berbagi dengan orang lain dalam hal apapun itu. Sarapan berlangsung dengan hangat dan sesekali bercanda.
Selesai sarapan. Violetta membawa piring-piring yang kotor ke dapur, Abigail dan Azrio sudah melarangnya. Tetapi kebiasaan yang di terapkan oleh Renata sudah menjadi rutinitasnya, jadi tidak hedan jika dia melakukan hal kecil tersebut.
Telpon Azrio berderdering. Dilihatnya asisten pribadinya yaitu Jay menghubunginya, dia mengusap layar hp nya kemudian panggilan pun tersambung. Jay memberitahukan kabar yang membuatnya tersenyum smirk, setelah panggilan selesai ia segera mengajak Violetta, Ramdan dan Zergan masuk kedalam ruang kerja.
"Zergan, ada tugas penting untukmu." Ucap Azrio tersenyum miring.
"Tugas apa? Kenapa senyummu menyeramkan seperti itu?" Tanya Zergan.
"Dia sudah datang tanpa perlu kita undang, lebih baik kau saja yang bermain dengannya. Aku akan fokus dengan pencarian ayah kita, kau tidak perlu ikut ke negara A." Terang Azrio.
"Maksudy?" Tanya Zergan memicingkan matanya.
"Perusahaan Vincent mengajukan kerjasama dengan Makropionophella, dia tidak tahu kalau aku adalah pemilik perusahaannya. Kau bermainlah dengan cantik Zergan, buat dia kesulitan dan aku percayakan semuanya padamu." Ucap Azrio.
"Dengan senang hati aku menghadapinya, aku akan merekrut bodyguard terbaik untuk berjaga-jaga." Ucap Zergan.
"Lakukan yang kau rasa perlu di lakukan." Ucap Azrio.
"Kesuksesanmu akan mempermudah jalanmu sendiri Sara, aku yakin kalau Vincent akan bertekuk lutut dihadapanmu tanpa bisa melawanmu lagi. Kelemahannya sudah kita ketahui, tapi sebelum itu pastikan dulu kalau anak angkatnya sedang dalam
pengawasan orang kepercayaanmu." Terang Violetta.
Zergan merogoh ponselnya memperlihatkan sesuatu pada Azrio dan juga Violetta, sebuah gambar yang berisi foto seorang gadis cantik berkecamata.
"Siapa dia?" Tanya Violetta.
"Dia yang sedang kita cari, anak angkat Vincent. Namanya Seora, dia kuliah di universitas ternama di negara K." Jawab Zergan.
"Wajahnya mirip teman ayah yang di bunuh, grandpa pernah menunjukkan fotonya padaku." Ucap Azrio.
"Hah? Benarkah? Apa dia anaknya? Kenapa wajahnya bisa mirip?" Cecar Zergan.
"Kau bisa mengurusnya bukan?" Tanya Azrio.
"Tentu saja, bodyguard yang dikirimkan oleh detektif Lee sudah memberitahu seperti apa perempuan ini. Dia sering di bully oleh mahasiswa lain, menurutku aku bisa meluluhkannya dengan caraku sendiri." Ucap Zergan dengan santai.
"Aku sama sekali kurang paham, jadi aku hanya bisa menyimak saja." Ucap Ramdan.
"Cukup kau dengarkan saja Ram, ini urusan orang dewasa. Bocil pastinya gak bakalan nyampe otaknya, soalnya ini rumit banget masalahnya kayak benang kusut." Ucap Violetta.
Keempatnya kembali mengobrol seraya membahas kerjasama yang sudah terjalin. Terdengar suara ketukan dari luar yang membuat keempatnya terdiam, Amir masuk kedalam ruang kerja atas izin dari Azrio.
"Tuan muda, keluarga Bramasta sudah sampai." Lapor Amir.
"Baik, aku akan segera keluar." Ucap Azrio dengan datar.
Amir membungkukkan badannya, kemudian ia keluar dari ruang kerja Azrio. Violetta dan yang lainnya bangkit dari duduknya, mereka berempat keluar menemui Bram dan yang lainnya yang sudah sampai di mansion kediaman Pradana.
"Daddy, bunda." Panggil Violetta.
Bram dan Renata mengalihkan pandangannya kearah Violetta, mereka berdiri dari duduknya menyambut pelukan Violetta.
"Pantesan betah, orang tempatnya nyaman kayak gini." Ucap Renata.
"Hehehe, ada yang lebih nayaman daripada mansion bun." Cicit Violetta.
"Emm, yang lagi kasmaran nih yee." Renata menyenggol lengan Violetta.
"Apa aku harus memanggil kak Rena? Atau tante Rena?" Tanya Azrio.
"Ya ampun, benarkah kau Aksara? Oh, ya Tuhan kau sudah besar Aksara, panggil saja aku bunda. Aku tidak menyangka kau sekarang ada di hadapanku, oh ya. Kemana bu Sarina? Kenapa aku tidak melihatnya?" Ucap Renata.
"Nenek sudah meninggal beberapa hari yang lalu bun, maaf aku tidak bisa memberitahu kalian mengenai kondisi nenek. Aku mengalami kecelakaan sampai hilang ingatan, tapi aku bersyulur masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan kalian lagi." Ucap Azrio.
"Innalillahi, pantas saja kau tidak datang Aksara. Aku sama sekali tidak tahu kalau bu Sarina sudah meninggal dunia." Ucap Renata.
"Tidak apa bunda, ini semua sudah menjadi takdir." Ucap Azrio.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya bu Sarina, aku berhutang budi padanya karena dia sudah membantuku dulu." Ucap Bram.
"Iya om, nenek pasti senang kalian bisa datang kesini." Ucap Azrio.
Bram dan yang lainnya kini berkumpul mulai mengobrol. Berbeda dengan yang lainnya yang tengah asyik bercanda dan sesekali tertawa, Bara dan Gala justru menatap sinis kearah Azrio.
Up nya satu dulu, riweuh sama bocil 🙏
tu kan istri brandon mantannya vincent..his yg selingkuh malah dia yg gila dasar iblis ni