NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Lamaran yang Ditolak

Keesokan sore, kalung safir itu tergeletak di atas meja kafe seperti barang bukti.

Rayhan melepasnya sendiri dari leher Keira lima menit setelah mereka duduk. Tidak ada kata manis. Tidak ada permintaan maaf panjang. Ia hanya membuka kait di belakang tengkuknya, meletakkan kalung itu di kotak beludru, lalu mendorong kotak itu ke sisi meja yang jauh dari tangan Keira.

"Aku lepas," katanya.

Keira menyentuh kulit lehernya yang terasa ringan kembali. Bekas dingin rantai masih seperti garis tipis di sana.

"Setelah kamu pasang tanpa izin."

Rayhan menerima kalimat itu tanpa membantah.

Kafe di kawasan pusat Jakarta itu tidak terlalu ramai karena Rayhan menyewa seluruh lantai dua. Di bawah, pelanggan biasa masih datang dan pergi, tetapi area mereka dipisahkan tangga kayu, dua pelayan, dan jarak yang sengaja dibuat agar tidak ada orang mendengar percakapan.

Keira duduk di dekat jendela. Ia memakai kardigan tipis di atas blus putih, pakaian yang dipilihnya sendiri setelah bangun di kamar tamu Hartono Estate pagi tadi. Rayhan mengirim tiga staf perempuan dengan koper pakaian baru, lalu berdiri di luar pintu sampai ia selesai berganti.

Ia tidak menyentuhnya sejak pesawat mendarat.

Seolah satu malam penuh kekacauan bisa dihapus dengan menjaga jarak beberapa jam.

Pelayan datang membawa teh putih untuk Keira dan kopi hitam untuk Rayhan. Di piring kecil ada kue pandan, croissant almond, dan dua potong lapis legit.

Rayhan mendorong teh ke arahnya. "Kamu belum makan sejak pagi."

"Aku tidak lapar."

"Minum dulu."

Keira menatap cangkir itu, lalu menatap Rayhan. "Kalau aku minum, kamu akan menganggap kita baik-baik saja?"

Tangan Rayhan di sisi meja berhenti.

"Tidak."

"Bagus."

Ia mengambil cangkir itu, menyesap sedikit. Tehnya terlalu tepat. Suhu pas, aroma daun muda bersih, sedikit floral di ujung. Dulu perhatian seperti ini pernah membuatnya goyah. Sekarang, detail yang sama terasa seperti ruangan terkunci dengan karpet lebih mahal.

Rayhan memperhatikan gerak kecil di wajahnya.

"Aku salah semalam."

Keira tidak menoleh. "Kamu tahu bagian mana?"

Pertanyaan itu membuatnya diam.

"Memukul Kevin? Membawa aku paksa? Mencium tanpa izin? Mendobrak pintu? Membuatku pingsan? Memasang pelacak? Mengganti pakaianku dan menyebut staf perempuan seolah itu menyelesaikan semuanya?"

Setiap kalimat pendek jatuh seperti sendok logam di atas marmer.

Rayhan menunduk. "Semuanya."

Keira tertawa pelan. "Cepat juga kamu belajar menyebut daftar."

"Keira."

"Jangan pakai nada itu. Aku bukan pasien yang perlu ditenangkan."

"Aku tidak menganggap kamu begitu."

"Kamu menganggap aku sesuatu yang bisa kamu pindahkan dari Surabaya ke Jakarta karena kamu tidak suka melihatku tertawa."

Rayhan menatap kopi di depannya. Uapnya naik, lalu hilang. "Aku tidak tahan."

"Itu masalahmu."

"Aku tahu."

Keira akhirnya menoleh. Di wajah Rayhan ada lelah yang jelas. Di bawah matanya ada bayangan gelap, pipinya masih menyimpan bekas tamparan kemarin, buku jari kanannya dibalut perban baru. Jika ini terjadi beberapa minggu lalu, mungkin ia akan bertanya apakah tangannya sakit.

Hari ini, ia memilih diam.

Rayhan menangkap diam itu. Luka kecil melintas di matanya, tetapi ia tidak menuntut belas kasihan.

"Aku tidak akan memasang pelacak lagi."

"Janji itu pernah kamu ucapkan di Bali."

"Kali ini aku lepas di depanmu."

"Karena kamu sudah membawaku kembali ke Jakarta."

Rayhan tidak punya jawaban.

Makanan datang. Pelayan menata hidangan utama dengan gerakan hati-hati: nasi daun jeruk, ikan dori saus lemon, sup bening jamur, dan salad kecil. Keira makan tiga suap karena tubuhnya memang butuh tenaga, bukan karena ingin menerima perdamaian.

Rayhan tidak banyak makan. Ia lebih sering memotong dori di piringnya menjadi bagian kecil, lalu berhenti, seolah lupa apa tujuan pisau makan di tangannya.

Setelah makan, ia berkata, "Aku sewa bioskop."

Keira meletakkan garpu. "Aku tidak mau."

"Dua jam saja."

"Aku bilang tidak."

"Kalau setelah itu kamu tetap ingin kembali ke Surabaya, aku antar."

Keira menatapnya tajam. "Dengan syarat apa?"

"Tidak ada."

"Rayhan Hartono tiba-tiba belajar tidak memberi syarat?"

"Aku sedang mencoba."

Kalimat itu tidak cukup untuk menghapus apa pun. Tetapi Keira juga tahu, jika ia menolak terus di ruangan ini, Rayhan mungkin akan menahan lebih lama dengan cara lain. Ia perlu melihat celah. Perlu tahu sampai mana ia bisa bergerak.

"Dua jam," katanya. "Setelah itu aku pulang ke Surabaya."

Rayhan mengangguk terlalu cepat.

Bioskop yang ia sewa berada di pusat belanja mewah, satu studio kecil premium dengan kursi kulit berbaring, selimut bersih, dan hanya dua gelas minuman di meja samping. Tidak ada penonton lain. Tidak ada suara berisik. Layar besar menampilkan trailer film romantis Prancis lama yang Keira pernah sebut saat mereka di Bali.

Ia ingat.

Tentu saja ia ingat.

Kadang Rayhan mengingat hal kecil dengan cara yang hampir menyakitkan, lalu gagal memahami hal besar yang paling sederhana: berhenti ketika seseorang berkata tidak.

Keira duduk di kursi paling pinggir. Rayhan duduk satu kursi di sebelahnya, menyisakan jarak. Di antara mereka ada sandaran lengan dan meja kecil.

Film mulai.

Di layar, sepasang kekasih bertemu di stasiun hujan. Musik piano lembut mengisi ruangan. Keira menonton tanpa benar-benar masuk ke cerita. Kepalanya masih menghitung pintu keluar, posisi petugas bioskop, ponsel yang sudah dikembalikan tapi baterainya tinggal dua belas persen.

Rayhan tidak menonton film.

Ia menonton wajah Keira.

Pada menit keempat puluh, Keira berkata tanpa menoleh, "Kalau kamu terus menatapku, film ini makin tidak berguna."

Rayhan mengalihkan mata ke layar.

Lima menit kemudian, ia bertanya, "Kamu benar-benar ingin kembali malam ini?"

"Ya."

"Safira aman?"

Nama itu membuat Keira menoleh cepat.

Rayhan segera berkata, "Aku tidak akan menyentuh urusan rumah sakitnya. Aku hanya bertanya."

"Jangan sebut namanya kalau kamu tidak mengerti apa pun."

"Aku ingin mengerti."

"Terlambat."

Film berjalan lagi. Di layar, tokoh perempuan meninggalkan laki-laki itu di peron. Tokoh laki-laki mengejar sampai pintu kereta tertutup. Musik naik, dramatis, indah, tetapi Keira merasa adegan itu terlalu sopan dibanding hidupnya sendiri.

Dalam hidupnya, pintu yang ia kunci bisa ditendang sampai patah.

Di akhir film, pasangan itu bertemu kembali bertahun-tahun kemudian. Mereka berdiri di bawah lampu jalan, basah oleh hujan, lalu berciuman. Kamera berputar lambat, musik membesar.

Rayhan bergerak.

Keira belum sempat mundur ketika tangannya menyentuh sisi wajahnya. Ciuman itu jauh lebih lembut daripada semalam, hampir hati-hati, tetapi tetap datang sebelum izin keluar dari mulut Keira. Tubuhnya menegang. Ia menarik napas pendek, lalu mendorong dada Rayhan.

Rayhan berhenti.

Di saat yang sama, sesuatu yang dingin menyentuh telapak tangannya.

Keira melihat ke bawah.

Cincin safir.

Batu biru 3,14 karat itu berada di tengah telapak tangannya, dingin, indah, terlalu berat untuk sebuah benda sekecil itu.

Refleksnya muncul lebih dulu daripada pikiran.

Ia menarik tangan.

Cincin itu terlepas.

Ting.

Benda itu jatuh ke lantai kayu di bawah kursi, memantul sekali, lalu berguling ke arah cahaya layar. Safirnya menangkap warna biru dari film, berkilat seperti mata yang terluka.

Rayhan membeku.

Keira juga diam.

Suara film masih berjalan, tetapi ruangan terasa kosong.

Rayhan menunduk melihat cincin itu. Lalu, perlahan, ia menatap Keira.

"Bilang saja itu tidak sengaja."

Suaranya sangat pelan.

Keira bisa saja berbohong. Satu kata kecil bisa membuat malam itu berhenti memburuk. Ia bisa berkata tangannya kaget, ciumannya tiba-tiba, ia tidak sempat memegang.

Tetapi sejak awal, seluruh hidupnya bersama Rayhan dibangun di atas cukup banyak kebohongan.

Ia tidak ingin menambah satu lagi untuk menyelamatkan perasaan laki-laki yang baru belajar terluka.

"Memang sengaja."

Wajah Rayhan tidak berubah banyak. Justru karena tidak berubah, kehancurannya terlihat lebih jelas.

Ia membungkuk dan mengambil cincin itu. Debu halus menempel di lingkar platinum. Ia mengusapnya dengan ibu jari, tetapi tidak langsung memasukkan ke kotak.

"Kamu tahu ini apa?"

"Cincin."

"Cincin lamaran."

Keira tidak menjawab.

Rayhan menggenggam cincin itu sampai buku jarinya memutih. "Aku memesannya di Jerman. Tidak ada pelacak. Tidak ada alat. Aku ingin memberikannya ketika pulang dari sana. Aku ingin membuatmu jadi Nyonya Hartono secara resmi. Bukan di belakang pintu, bukan sebagai perempuan yang dibicarakan orang. Resmi. Di depan Engkong, Mama, seluruh keluarga."

Setiap kata terdengar seperti sesuatu yang sudah ia simpan terlalu lama.

"Aku mau menikah dengan kamu, Keira."

Keira menatap layar yang masih menampilkan pasangan film berpelukan di bawah hujan. Adegan itu begitu rapi. Begitu mudah.

Ia bertanya pelan, "Kenapa?"

Rayhan tertegun. "Karena aku menginginkanmu."

"Itu bukan alasan menikah."

"Karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu."

"Itu juga bukan alasan. Itu ancaman untuk dirimu sendiri."

Rayhan berdiri. "Lalu alasan apa yang kamu mau dengar?"

Keira ikut berdiri, tetapi ia menjaga jarak satu langkah. "Alasan yang tidak membuat aku terdengar seperti obat untuk luka kamu."

Napasinya Rayhan tersendat.

Keira melihat cincin di tangannya. Cantik. Mahal. Dipilih dengan teliti. Seandainya benda itu datang dari pria yang memahami batas, mungkin cincin itu akan terasa seperti janji.

Di tangan Rayhan malam ini, cincin itu terasa seperti kunci sangkar yang dipoles sampai berkilau.

"Aku tidak mau menikah denganmu."

"Karena Kevin?"

Keira menutup mata sejenak. "Kamu masih saja kembali ke sana."

"Jawab."

"Tidak."

"Karena apa?"

Keira membuka mata. Suaranya dingin, bersih, tanpa ragu. "Karena aku sudah bosan."

Kata itu akhirnya menghancurkan sesuatu yang sejak tadi Rayhan tahan.

Ia tertawa sekali, pendek, nyaris tidak terdengar. "Bosan?"

"Ya."

"Enam bulan, semua itu cuma sampai bosan?"

"Kamu sendiri yang sejak awal membuat hubungan ini seperti transaksi. Aku datang ketika dipanggil. Aku pergi ketika sudah selesai. Kenapa sekarang kamu marah kalau aku memakai aturan yang kamu buat?"

Rayhan menatapnya lama. Sorot matanya berubah dari sakit menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih putus asa.

"Aku tidak setuju."

Keira mengernyit. "Apa?"

"Aku tidak setuju kamu selesai."

"Hubungan bukan rapat direksi, Rayhan. Kamu tidak punya hak veto."

Rayhan memasukkan cincin itu ke saku jasnya, bukan ke kotak. Gerakannya lambat, tetapi rahangnya keras.

"Kalau kamu bosan, aku buat kamu ingat."

Keira mundur setengah langkah.

"Kalau kamu mau pergi, aku buat kamu berhenti."

"Kamu baru saja bilang sedang mencoba."

"Aku mencoba." Matanya merah, tetapi suaranya tetap rendah. "Tapi kamu menjatuhkan cincin itu."

Keira menatapnya tanpa berkedip. "Aku menjatuhkan cincin. Kamu yang menjatuhkan dirimu sendiri."

Di layar, kredit film mulai naik.

Lampu studio menyala perlahan, menerangi dua orang yang berdiri berjauhan di tengah ruangan kosong, dengan lamaran yang tidak pernah sempat menjadi lamaran.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!