Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Satu minggu setelah pertemuan di Villa Awan, nama Keira dipanggil ke ruang dosen pembimbing.
Pagi itu kampus UI tampak seperti biasa. Mahasiswa berjalan cepat di bawah pohon besar, ojek online berhenti di pinggir jalan, dan kantin fakultas sudah ramai oleh suara sendok serta obrolan tugas akhir. Keira baru saja keluar dari perpustakaan ketika pesan dari dosen pembimbingnya masuk.
Keira, ke ruangan saya sekarang.
Tidak ada penjelasan.
Keira menatap layar ponsel sebentar, lalu memasukkannya ke tas. Di luar, ia berjalan tenang. Di dalam, pikirannya mulai mengurutkan kemungkinan.
Vanya sudah bergerak.
Di depan ruang dosen, ia melihat Vanya duduk di kursi tunggu. Rambutnya dikuncir rendah seperti biasa. Kemeja putih. Rok hitam sederhana. Wajahnya pucat, mata sedikit merah, seolah semalam menangis.
Aktingnya semakin bagus.
"Kak Keira," panggil Vanya pelan.
Keira berhenti. "Vanya."
"Maaf. Aku tidak tahu harus bagaimana."
"Tentang apa?"
Pintu ruangan terbuka sebelum Vanya menjawab. Dosen pembimbing Keira, Bu Ratri, berdiri dengan wajah serius. Di belakangnya ada satu dosen lain dari komite akademik.
"Keira, masuk."
Keira masuk. Vanya ikut setelah dipanggil.
Di meja Bu Ratri ada dua bundel skripsi. Satu memakai nama Tan Keira. Satu lagi memakai nama Vanya. Di sampingnya, laptop terbuka menampilkan halaman dengan warna merah dari perangkat pemeriksa kemiripan.
Bu Ratri melipat tangan. "Saya akan bicara langsung. Ada laporan bahwa skripsi kamu memiliki kesamaan sangat tinggi dengan skripsi mahasiswa lain."
Keira menatap dua bundel itu. "Mahasiswa lain itu Vanya?"
Vanya menunduk cepat.
Bu Ratri mengangguk. "Kami belum mengambil kesimpulan. Tapi tingkat kemiripan ini tidak bisa diabaikan."
Keira mengambil napas pelan.
Ini lebih cepat dari perkiraannya. Vanya tidak hanya menyalin. Ia melapor lebih dulu agar posisinya menjadi korban. Bagus. Serangan pertama yang cukup berani.
"Saya boleh melihat bagian yang dianggap sama, Bu?"
Bu Ratri memutar laptop. "Bab dua dan bab empat. Beberapa paragraf bahkan identik."
Keira membaca sekilas. Kalimatnya memang miliknya. Bahkan catatan kecil yang pernah ia buat sebagai placeholder masih ada di salah satu paragraf. Vanya mencuri bukan hanya hasil akhir, tetapi draft yang belum dibersihkan.
Vanya mengangkat wajah dengan mata basah. "Aku juga bingung, Bu. Aku tidak berani menuduh Kak Keira. Tapi fileku sudah ada sejak lama. Aku takut kalau nanti malah aku yang dianggap meniru."
Keira menatapnya.
Vanya menunduk lagi, seperti takut.
Bu Ratri berkata, "Keira, apa penjelasanmu?"
"Saya punya semua draft, dari awal sampai akhir. File revisi, catatan bimbingan, metadata, dan email pengiriman ke diri sendiri. Bisa saya tunjukkan?"
Bu Ratri tampak sedikit lega karena Keira tidak histeris. "Bisa. Tapi komite tetap perlu memeriksa secara formal."
"Saya mengerti."
Dosen komite menatap Keira. "Untuk sementara, proses administrasi wisuda kamu akan ditahan sampai pemeriksaan selesai."
Vanya mengangkat wajah cepat, lalu menunduk lagi. Terlalu cepat. Keira melihat kilatan puas itu.
Keira tersenyum samar. "Baik, Pak."
Bu Ratri memperhatikan reaksinya. "Kamu tidak keberatan?"
"Saya keberatan difitnah, Bu. Tapi saya tidak keberatan diperiksa."
Ruangan itu hening sebentar.
Bu Ratri mengangguk. "Kirim semua bukti hari ini. Kami akan panggil kalian lagi setelah komite melihatnya."
Ketika keluar dari ruangan, koridor sudah tidak sama.
Beberapa mahasiswa yang tadinya duduk di bangku panjang langsung pura-pura menatap ponsel. Dua orang berbisik terlalu keras. Satu mahasiswa mengangkat kamera ponsel, lalu menurunkannya saat Keira menoleh.
Dalam waktu kurang dari satu jam, berita itu menyebar.
Cucu konglomerat Tan plagiat skripsi.
Keira melihat kalimat itu di grup fakultas yang diteruskan Mira kepadanya dengan deretan pesan panik.
Kei, ini bener?
Lo di mana?
Gue sumpah ini pasti kerjaan cewek itu.
Keira belum membalas.
Ia berdiri di taman kecil dekat fakultas, membuka folder cloud di ponselnya. Semua draft ada. Dari outline pertama, revisi teori, komentar Bu Ratri, sampai file lama dengan kesalahan ketik yang sama seperti di skripsi Vanya. Ia punya bukti. Banyak.
Namun ia tidak langsung menyerahkan semuanya.
Ia menunggu berita menyebar cukup jauh.
Fitnah yang dipadamkan terlalu cepat hanya menjadi gosip kecil. Fitnah yang dibiarkan naik sebentar akan membuat pelakunya jatuh lebih keras ketika bukti muncul.
Ia mengambil tangkapan layar grup satu per satu. Nama-nama yang paling keras ia simpan dalam folder terpisah. Bukan untuk dibalas hari ini. Untuk nanti. Keira percaya pada bukti, tetapi ia lebih percaya pada waktu. Orang yang menertawakan orang lain saat belum ada keputusan biasanya paling takut ketika diminta bertanggung jawab.
Mira akhirnya menemukannya di taman.
"Kei!" Mira hampir menabrak bangku. "Lo ngapain diem di sini? Grup fakultas udah kayak pasar kebakaran."
"Aku sedang mengumpulkan bukti."
"Bukti buat dosen?"
"Bukti buat semua orang yang terlalu cepat percaya."
Mira terdiam sebentar, lalu pelan-pelan tersenyum. "Oke. Itu baru sahabat gue."
"Tapi jangan ribut dulu."
"Gue tahan. Tapi kalau ada yang ngomong plagiat di depan muka gue, gue cuma bisa janji tidak pakai kekerasan fisik."
Keira akhirnya tertawa kecil. Tawa itu pendek, tetapi cukup untuk membuat napasnya lebih stabil.
"Dosen udah lihat draft lo?"
"Belum semua."
"Kenapa?"
Keira menatap gedung fakultas. "Karena Vanya memilih panggung. Aku hanya membiarkan panggungnya penuh dulu."
Mira merinding kecil. "Kadang gue lupa lo ini sahabat gue atau pemeran utama drama balas dendam."
"Dua-duanya bisa."
"Fix. Kalau nanti ada yang nangis, gue duduk paling depan."
Keira menepuk tangan Mira pelan. "Jangan terlalu senang. Ini baru serangan pertama."
Kalimat itu membuat Mira berhenti bercanda. Ia akhirnya melihat wajah Keira dengan lebih serius, seolah baru sadar sahabatnya tidak sekadar membela skripsi, tetapi sedang mempertahankan hidup yang lebih besar dari kampus.
"Kalau begitu gue tetap di sini," kata Mira. "Sampai selesai."
Vanya keluar dari gedung bersama dua mahasiswa lain. Salah satunya memeluk bahunya.
"Sabar, Van. Orang kaya memang kadang merasa semua bisa dibeli."
Vanya menggeleng. "Jangan ngomong begitu. Kak Keira mungkin punya alasan."
Keira hampir bertepuk tangan.
Sempurna.
Ia berjalan mendekat. Semua mata langsung tertuju padanya.
"Vanya."
Vanya menoleh, matanya kembali basah. "Kak..."
"Kalau kamu memang tidak tahu kenapa skripsimu sama dengan punyaku, kita tunggu hasil komite."
"Aku juga ingin begitu."
"Bagus." Keira tersenyum. "Karena aku punya semua draft."
Wajah Vanya membeku sepersekian detik.
Keira melihatnya. Beberapa mahasiswa juga melihat, meski belum mengerti.
Ponsel Keira bergetar.
Nama Om Lim muncul di layar.
Pesannya singkat.
Aku dengar ada masalah di kampus. Tunggu di sana.
Keira menatap pesan itu.
Kali ini, Richard datang.