NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Kembali ke Swarna Dwipa

Kembali ke Swarna Dwipa

Sebuah kapal layar besar bersiap merapat di pelabuhan Batang Hari. Seorang pria muda tampan berdiri di anjungan kapal menatap daratan Swarna Bhūmī. Tiupan angin laut membuat pakaian biru muda yang dia kenakan berkibar. Begitu juga dengan rambut panjangnya yang diikat seperti ekor kuda. Angin memainkan anak anak rambutnya.

Ada sinar kerinduan dibalik bola matanya. Sebuah senyuman unik terukir di bibirnya.

"Uda..." Seorang wanita cantik jelita berpakaian serba kuning muda  muncul bersama gadis berpakaian serba putih yang tidak kalah cantik dengan wanita yang berpakaian serba kuning muda.

Pria muda tampan yang tidak lain adalah Pandeka Pedang Suling Kumala tersenyum lembut kepada kedua gadis cantik jelita itu.

"Lala, Reno... Kalian datang kesini ? Mana yang lain ??"

"Ayaa Lingga dan Nilam masih di kamar mereka. Mantiak Suri, Nguyen Lan dan Ngo Chian juga ada dikamar mereka. Indra Kiemas dan Tombak Maut serta Pendekar Bayangan sedang ngobrol di buritan kapal."  Dewi Rimau Kumango menjawab pertanyaan Pandeka Pedang Suling Kumala.

Mereka sudah berlayar lebih dari dua bulan. Meninggalkan daratan Tionggoan melalui teluk Pohai. Mereka meninggalkan daratan Tionggoan setelah menghadiri pernikahan Angku Mantiko Sangek dan Kao Lan murid dalam sekte Hati Pedang. Sekarang Angku Mantiko Sangek bersama istrinya Kao Lan melakukan petualangan sebagai sepasang pendekar yang menumpas kejahatan di dataran Tionggoan.

Para Patriak sekte dan tetua serta murid mereka telah kembali ke negeri mereka masing-masing. Mereka semua berpisah setelah pesta pernikahan Angku Mantiko Sangek dan Kao Lan.

Hanya Pangeran Muda yang mendapat beban saat pulang. Dia harus memberi tahukan kepada ayah Nguyen Lan dan Ngo Chian. Bahwa kedua gadis itu ngotot pergi untuk melihat tanah Swarna Bhūmī. Hati Pangeran Muda terasa sangat berat melepas kepergian Ngo Chian. Gadis mungil yang diam diam telah mengisi penuh hatinya.

Tombak Maut dan Pendekar Bayangan juga ikut. Kedua pendekar itu sudah bertekad akan ikut Pandeka Pedang Suling Kumala kemanapun. Jadi mereka ikut ke Swarna Bhūmī dan mengabdi kepada Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Rimau Kumango toanio.

Menjelang sore, kapal layar besar itu merapat di dermaga pelabuhan Batang Hari. Para penumpang mulai turun meninggalkan kapal layar besar itu.

Tujuh orang biharawan mengenakan pakaian dengan selempang kain kuning bergaris merah. Mereka adalah para bhiksu yang hendak menuju vihara Buda di kota raja lama kedatuan Sriwijaya. Juga turun beberapa kelompok pedagang.

Beberapa waktu kemudian, Pandeka Pedang Suling Kumala juga turun. Menyusul setelah itu Dewi Rimau Kumango bersama Dewi Bulan, kemudian Mantiak Suri diapit oleh Nguyen Lan dan Ngo Chian. Selanjutnya menyusul pendekar Golok Ganda Talaud bersa istrinya Walet Pasisia. Dibelakang sepasang pendekar Golok Ganda Talaud, menyusul Malin dan Denok Mantiak. Terakhir disusul oleh Indra Kiemas dan Tombak Maut serta Pendekar Bayangan.

Sementara itu, diluar pelabuhan Batang Hari. Banyak orang berkerumun melihat kearah pelabuhan.  Tiga kereta besar kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya berjejer rapi di kawal oleh dua puluh empat pasukan khusus. Ada seorang Senopati Muda yang memimpin dua puluh empat orang prajurit pasukan khusus itu.

Semua menunggangi kuda hitam.  Kereta paling depan ditarik oleh empat ekor kuda hitam besar. Kereta itu dihiasi dengan lapisan plat emas berukir pada sudut atap kereta. Dipuncak atap kereta terdapat tutup menyerupai tahta. Jelas itu merupakan kereta resmi Yuvaraja (putra mahkota) kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.

Mungkin itu yang menyebabkan orang orang berkumpul begitu banyak di luar pelabuhan Batang Hari.

Ketika Pandeka Pedang Suling Kumala keluar diapit oleh Dewi Rimau Kumango dan Dewi Bulan. Dua puluh empat prajurit pasukan khusus melompat turun dari kuda mereka. Senopati Muda Hanusa segara mendatangi Pandeka Pedang Suling Kumala dan menyapa dengan hormat dan ramah.

"Selamat datang kembali di Swarna Bhūmī, Pandeka Pedang Suling Kumala. Selamat datang Yang Mulia Dewi Bulan. Selamat datang Dewi Rimau Kumango. Selamat datang semua."

Pandeka Pedang Suling Kumala sempat tertegun sejenak. Hanya sejenak lalu tersenyum lebar.

"Senopati Muda Hanusa ?! Kejutan apa yang kau berikan untuk kami. Ada hal apa sehingga kau datang menjemput kami ?"

Senopati Muda Hanusa tersenyum gembira. Hatinya senang karena Pandeka Pedang Suling Kumala tidak lupa dengan dirinya.

"Yang Mulia Yuvaraja Mauli Balanaga memberi perintah kepada kami untuk menjemput Pandeka Pedang Suling Kumala dan rombongan.

Anda tentu sangat letih setelah berlayar hampir tiga purnama. Kami menyiapkan tiga kereta kuda untuk Pandeka Pedang Suling Kumala dan rombongan.

Melihat Senopati Muda Hanusa, Pati Mantiak Suri, Pati Malin dan Pati madya Indra Kiemas maju memberi salam penghormatan.

"Sendika Senopati Muda."

"Baguslah kalian bertiga telah kembali dengan selamat." Senopati Muda Hanusa menepuk pundak Pati Malin."

"Terimakasih Senopati."

Pati Malin memberikan sikap hormat. Begitu juga dengan Pati Mantiak Suri dan Pati madya Indra Kiemas.

Putri Nguyen Lan dan Ngo Chian melihat kearah Senopati Muda Hanusa dengan sorot mata kagum. Kemudian dia melihat Senopati Muda Hanusa mendekati pendekar Golok Ganda Talaud.

"Selamat datang kembali iyaa Lingga, dan Pati madya Nilam." Pendekar Golok Ganda Talaud tersenyum lebar dan berucap.

"Lama tidak melihat mu Hanusa. Engkau tampak semakin gagah." Hanusa tertawa dan bercanda sejenak dengan pendekar Golok Ganda Talaud. Dua orang ini memang cukup dekat sejak perkenalan mereka di tataran Sunda.

"Hormat ku Senopati." Walet Pasisia memberi penghormatan ala militer kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya.

Setelah menyapa semua orang yang dia kenal. Senopati Muda Hanusa berdiri di hadapan Tombak Maut dan Pendekar Bayangan.

"Salam kami untuk Anda, tuan Senopati. Aku Tombak Maut..."

"...dan aku Pendekar Bayangan." Tombak Maut dan Pendekar Bayangan memperkenalkan diri.

"Mereka berdua adalah kawan ku, Senopati." Ucap Pandeka Pedang Suling Kumala. Namun Pendekar Bayangan dengan cepat menukas ucapan Pandeka Pedang Suling Kumala.

"Kami berdua adalah pengikut tuan Pandeka, tuan Senopati." Senopati Muda Hanusa tersenyum, tapi sedikit bingung. Dia bisa merasakan dua orang itu adalah pendekar suci puncak. Bahkan setengah langkah menuju pendekar agung.

"Salam kembali Tombak Maut dan Pendekar Bayangan. Selamat datang di kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya. Semoga Anda berdua betah dan kita bisa berteman baik." Senopati Muda Hanusa balas menjura. Kemudian dia melanjutkan kearah putri Nguyen Lan dan Ngo Chian.

Dewi Rimau Kumango mendekati Senopati Muda Hanusa dan berucap.

"Perkenalkan saudara Hanusa. Putri yang cantik ini adalah putri dari pangeran Nguyen Gou. Seorang putri dari negeri Campha, namanya Nguyen Lan."

"Salam hormat hamba untuk anda putri Nguyen Lan. Hamba Hanusa, Senopati Muda kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya."

"Salam kembali tuan Hanusa. Aku rasa kita tidak usah bersikap formal. Aku lihat, tuan juga teman dari udda Bagaga dan atasan guru ku Walet Pasisia." Nguyen Lan berkata dengan sikap berkawan.

"Terimakasih Nona Nguyen Lan, dengan senang hati. Panggil saja aku Hanusa."  Senopati Muda Hanusa tersenyum dan menjura. Kemudian dia melihat kearah Ngo Chian. Dia tertegun sejenak. Diam diam senopati yang muda dan gagah terpesona melihat pesona unik dari gadis imut yang cantik jelita itu.

Dewi Rimau Kumango tersenyum kecil melihat tingkah Senopati Muda Hanusa. "Nona cantik mungil ini, adalah Ngo Chian, putri tunggal Patriak sekte Lembah Api dari negeri Campha."

Senopati Muda Hanusa segara menjura. "Selamat datang di kerajaan Bhūmī Malayu Dharmasraya nona Ngo Chian. Aku harap, Nona betah di negeri kami."

Ngo Chian tersenyum sedikit dan mengangguk.

"Terimakasih tuan Senopati. Tidak perlu sungkan."

Senopati Muda Hanusa menjura dan berbalik mendekati Pandeka Pedang Suling Kumala.

"Silahkan naik ke kereta. Kereta paling depan untuk Dewi Bulan, Pandeka Pedang Suling Kumala dan Dewi Rimau Kumango.

Kereta ke dua untuk putri Nguyen Lan, nona Ngo Chian dan kereta ke tiga untuk Pati Mantiak Suri, Pati madya Nilam dan Nyonya Pati Denok Mantiak. Maaf untuk yang lain, silahkan naik kuda atau kereta di sebelah sais kereta."

Semua orang menaiki kereta kuda. Pendekar Golok Ganda Talaud duduk disebelah sais kereta ke tiga. Adapun Tombak Maut naik kereta kedua, sedangkan Pendekar Bayangan menaiki kereta pertama. Pati Malin dan Pati madya Indra Kiemas menunggang kuda yang telah disiapkan oleh prajurit pasukan khusus.

Senopati Muda Hanusa memberi sinyal dan kereta mulai bergerak meninggalkan pelataran pelabuhan Batang Hari.

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!