🏆 Juaranya 2 Lomba Tema Chiklit - Wanita Kuat S3
Aku Lucia. Seorang agent peringkat SSS di sebuah organisasi yang mengembangkan Sistem Reinkarnasi dunia modern di masa depan.
Masalah muncul pada dunia kecil yang terus bermunculan akibat manusia terus membuat novel dan komik.
Aku sebagai salah satu agent menjalankan reinkarnasi dan memainkan peran untuk mengubah isi novel atau komik karena permintaan dan ketidakpuasan pemeran pendukung pada bagian akhir cerita.
Aku bersama Momo si pendamping sistem menjelajahi berbagai dunia kecil dan dengan cepat meraih peringkat tinggi di organisasi.
"Nona, ada misi lagi. Wah, hadiahnya besar sekali kalau bisa menyelesaikan dengan peringkat sss."
Aku mendorong Momo ke pinggir hingga dia terjatuh karena kucing gemuk itu menutupi layar.
"Menjelajahi dunia kecil dan membersihkan sampah-sampah ini. Misi yang begitu mudah dengan hadiah yang besar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Ruangan aula pesta tersebut memang sangat besar. Ruangan tersebut memang khusus didirikan untuk pesta-pesta besar seperti saat ini. Walaupun Aula tapi mereka masih memiliki 3 lantai yang memiliki balkon di dalam masing-masing. Sehingga saat mereka di atas pun mereka bisa melihat area lantai di bawahnya dengan jelas.
Duke dan rombongannya pun menaiki tangga di atas lantai 2. Terdapat tangga besar yang menghubungkan lantai 1 dan 2, begitu juga tangga besar yang menghubungkan lantai 2 dan 3.
Ada beberapa kursi di atas tangga menuju lantai 3 yang diperuntukan untuk Keluarga Lamboerge dan Keluarga Kerajaan.
Di atas tangga lantai 2 ada beberapa kursi yang memang diperuntukan untuk Keluarga Duke lainnya. Sedangkan lantai bawah memang diperuntukan oleh bangsawan dengan gelar count ke bawah.
Acara yang cukup besar ini tentu saja dihadiri oleh sebagian besar Duke dan tentu saja Raja dari Kerajaan Salvavor pun akan tiba.
Setibanya di lantai 2, Duke langsung melepas genggaman Lucia dan menunjukkan sebuah kursi yang bisa Lucia duduki untuk sementara menunggu Raja Salvavor tiba.
Lucia menduduki sebuah kursi yang berada di ujung dan melihat beberapa Duke mulai berbincang dengan ayahnya.
Selama perbincangan tersebut beberapa bangsawan terus menerus melirik Lucia. Ada beberapa nona bangsawan yang juga ingin mendekatinya tapi merasa ragu.
Edith, Danny, dan Lion juga berbincang dengan putra-putra duke yang lain. Hanya Lucia saja yang sendirian. Saat itu seorang gadis berambut biru tua menyapanya. Dia nampak imut dan manis. Namanya Bella, dia berasal dari Keluarga McLaren sekaligus cucu dari Nyonya Sofia Mclaren.
"Kakak cantik, perkenalkan namaku Bella. Bella Mclaren. Bolehkah aku duduk disebelahmu?" Gadis kecil yang terlihat berusia 12 tahun itu terlihat antusias untuk berteman dengan Lucia.
"Silahkan! Lagi pula kursi ini kosong,"jawab Lucia sembari mengelus Momo yang mendengkur di pahanya. Bella melihat kucing gembul itu dan sangat ingin memegangnya. Sayang sekali belum sempat tangannya menyentuh bulu Momo, kucing itu langsung terbangun dan turun dari pangkuan Lucia dan mendengus ringan.
Terlihat kekecewaan di mata Bella. "Bella, Momo memang tidak suka ada orang asing yang menyentuhnya. Jangan terlalu bersedih." Bella yang mendengar perkataan Lucia malah semakin sedih. Tapi segera dia mengubah ekspresi wajahnya.
"Kak Lucia. Bella tidak punya teman. Kakak mau gak jadi teman Bella?" Mata Bella berbinar dengan penuh harapan dan hanya dibalas dengan senyuman oleh Lucia. Entah mengapa Lucia merasa bahwa Bella ini akan merepotkan suatu saat nanti. Dia berpikir untuk tidak terlalu dekat dengan orang-orang disini. Lagi pula Villa di dekat gunung sudah menunggu untuk ditempati.
Suara teriakan penjaga terdengar saat dia menyebutkan nama orang yang hadir
"Grandmaster Benedict III memasuki aula."
Lucia menatap seorang pria yang seusia Lion dengan rambut panjang seputih kapas bersama beberapa master di belakangnya. Wajahnya terlihat indah dan menyejukkan. Lucia mengingat bahwa pria yang baru saja tiba itu adalah pemimpin Organisasi Penyembah Dewa. Lebih tepatnya organisasi tersebut bisa dibilang agama/kepercayaan yang di anut orang-orang disini.
Tidak lama setelah Pemimpin itu masuk, teriakan penjaga atas kehadiran keluarga kerajaan pun kembali terdengar. "Raja Elmer Salvavor,raja pemilik Kerajaan Salvavor memasuki aula."
"Ratu Elliah Salvavor, pemilik cahaya Raja Salvavor memasuki aula."
"Pangeran Clair memasuki aula."
"Pangeran Damian memasuki aula."
"Pangeran Evan memasuki aula."
Merasa semua sudah hadir, Duke Lamboerge mempersilahkan Keluarga Kerajaan dan Pemimpin organisasi Penyembah Dewa duduk di lantai 3 sedangkan untuk Duke yang lainnya duduk di lantai 2. Sebagai tuan rumah, Duke Lamboerge beserta Tuan Muda dan Lucia pun pindah duduk di lantai 3
Duke berdiri dan mulai membuka acara dengan sambutannya. "Terima kasih atas kehadiran semuanya di ulang tahun putra kedua saya Edith Lamboerge. Semua yang hadir disini adalah orang-orang yang membentuk Kerajaan Salvavor menjadi Kerajaan yang paling kuat di Dunia."
"Selain dari pesta ulang tahun putra kedua saya. Saya juga akan membuat pesta pelantikan penerus Kediaman Lamboerge pada tiga bulan kedepan." Pandangan Duke kemudian beralih pada Lion. Orang-orang sudah tahu bahwa dialah yang paling cocok menjadi Penerus Lamboerge.
"Dan satu hal yang penting lagi. Saya ingin memperkenalkan putri saya kepada kalian semua. Lucia kemarilah!" Duke mengulurkan tangannya pada Lucia yang duduk di belakang tidak jauh dari tempat dia berdiri.
"Apa? Putri? Jadi Duke Lamboerge punya seorang putri? Kenapa aku tidak pernah dengar ini sebelumnya?"
"Ini aneh. Apa itu anak kandung Duke? Atau justru anak haramnya. Pernahkah kalian mendengar kalau Duke Lamboerge memiliki seorang putri?"
Beberapa bisikan para bangsawan yang meragukan tentang Lucia samar-samar terdengar. Tapi saat mereka melihat perawakan Lucia, mereka akhirnya menutup mulut. Mengapa? Lucia begitu mirip dengan mendiang Duchess Lamboerge. Warna rambut dan matanya sama.
Lucia berdiri dan meraih tangan Duke serta menatap kerumunan di bawahnya dengan tatapan yang cukup membuat suasana jadi lebih dingin. Wataknya cukup mirip dengan Duke. Itu yang dipikirkan orang-orang.
"Saya Lucia Lamboerge. Putri satu-satunya dari Duke Afsan Lamboerge,"ucap Lucia datar. Tiba-tiba terdengar tertawa bahagia dari belakang yang ternyata itu milik Raja Elmer Salvavor.
"Hahaha, aku tidak menyangka ternyata kau memiliki seorang putri. Afsan, bagaimana jika menjodohkan putrimu dengan salah satu putraku?" Raja Elmer turun dari kursinya setelah itu menepuk pundak Duke dengan akrab. Memang Raja Elmer dan Duke Afsan sudah lama berteman sehingga mereka begitu akrab.
Ratu yang melihat Raja kurang sopan langsung berdehem untuk memberi isyarat agar Raja kembali ke tempat duduknya. Raja Salvavor tersebut pun menuruti isyarat istrinya.
"Itu semua tergantung putriku." Duke Lamboerge menatap Lucia berharap anak itu bisa menjawab pertanyaan Raja dengan cerdas.
"Yang Mulia, saya masih 14 tahun. Waktu masih ada beberapa tahun lagi. Bagaimana jika menunggu beberapa waktu untuk mengenal para pangeran?"
Ratu menangguk setuju dengan pikiran cerdas Lucia dalam menjawab. Dia tidak menjatuhkan martabat Kerajaan dengan menolaknya atau membuat suasana menjadi aneh dengan menerima ucapan santai dari Raja. Lagi pula Ratu belum begitu mengenal sosok Lucia ini.
"Baiklah, aku akan segera menunggu kabar baik ini," jawab Raja lagi dengan antusias. Pangeran Damian yang mendengar ucapan tersebut merasa gembira. Damian berpikir bahwa dia bisa mendapatkan Lucia. Sementara Clair hanya menatap datar Lucia tidak peduli. Evan memiliki tatapan yang unik pada Lucia. Seperti mata anak kucing yang penasaran akan sesuatu.
Edith yang sedari tadi tidak terlalu peduli dengan mereka dan malah menghitung hadiah bersama Momo yang terus-terusan meminta camilan. Bella yang melihat Momo begitu senang makan mulai mencari cara untuk mendapatkan perhatian Momo.
Setelah menyampaikan beberapa patah kata tersebut beberapa acara pembuka seperti tarian pun menghiasi Aula. Para tamu juga makan-makanan ringan yang disediakan.
Beberapa saat kemudian, Lawson sebagai pembawa acara berkata, " Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Pangeran, para hadirin Tuan dan Nyonya sekalian tidak terlalu menyenangkan jika hanya ada di dalam ruangan."
"Atas perintah Duke, saya telah menyiapkan acara di hutan belakang kediaman Lamboerge. Persaingan dari para Pangeran dan Tuan Muda tentu akan membuat suasana lebih meriah."
"Kami telah menyiapkan arena pacuan kuda, Panahan, dan lapangan Tembak untuk Pangeran dan Tuan Muda bertanding."
Beberapa Tuan Muda yang memang sudah sangat bosan dengan acara tersebut pun melonjak girang dan mereka semua segera menuju hutan di belakang kediaman Lamboerge.
Tentu saja hutan tersebut masih termasuk wilayah Lamboerge. Beberapa area sudah dibersihkan dan dijadikan area berkuda, panahan, dan lapangan tembak.
Semua orang pun duduk di tempat masing-masing yang telah disediakan. Pertandingan yang pertama adalah panahan.
Para Tuan Muda pun turun ke arena panahan secara bergilirian untuk bertanding. Masing-masing dari Tuan Muda harus bisa memanah 2 burung sekaligus dengan satu kali tembakan panah.
Pada pertandingan pertama ini nyaris 70% semua Tuan Muda gugur dalam pertandingan. Di sela-sela pertandingan saat ada kesempatan, Damian mendekati Lucia dan memulai percakapan.
"Nona Lucia. Aku telah mengirimkan surat beberapa kali. Kenapa surat ku tidak dibalas? Atau surat ku tidak sampai ke tanganmu?"
Lucia yang saat itu sedang berdiri melihat pertandingan jujur saja merasa terganggu dengan kedatangan Damian. "Maaf pangeran, tapi aku tidak memiliki kesempatan untuk membalas suratmu karena aku agak sibuk."
Damian agak kesal mendengarnya. Sesibuk apa sampai tidak bisa membalas pesan dari seorang pangeran? Padahal semua wanita di Kerajaan Salvavor mengejar-ngejar cintanya. Tidak terkecuali Selviana yang sedang menatap marah Lucia yang sedang berinteraksi dengan Pangeran Damian saat itu.