Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Namun bagaimana jika seseorang di tuntut untuk selalu sempurna?
Arkabian Selat Muara. Ketua besar dari ALTARES Gang. Laki-laki yang memiliki paras hampir sempurna di SMANBA. Hal yang paling tidak ia sukai adalah, ada orang yang mengusik kehidupannya.
**
"Menurut lo cinta itu apa?"
"Cinta itu luka, cinta itu sakit. Dunia itu jahat Lun, kita dipertemukan oleh semesta tapi tidak ditakdirkan bersama."
Akankah kehadiran seseorang mampu membuat Arka berubah? Yuk baca dan pergi ke dunia Arka»
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ejubestie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Hari Sedih Luna
"Pulang aja ya."
"Nggak papa Dev, gue mau nungguin sampai pestanya selesai."
Setelah Luna tercebur di kolam renang, Devano membantu dirinya mengeringkan diri bahkan Devano meminjamkan jaketnya agar dirinya tidak kedinginan.
"Potongan pertama buat siapa, Ka?" Tanya Nisa saat Arka sudah memotong kue pertamanya.
"Buat orang tua gue."
Arka bergantian menyuapi kedua orang tuanya. Clara menerimanya dengan senang hati lalu kembali menyuapi putranya, lalu dengan terpaksa Arka menyuapi Prama kue tersebut.
Walaupun sikap Prama selama ini tidak baik tetap saja ia adalah orang tuanya.
"Sekarang yang ke dua pasti buat orang spesial, iya kan?" Seru Nisa membuat Arka menoleh ke kanan dan kiri.
Di sebelah kiri Arka terdapat Lolly sedangkan disebelah kanan ada Luna.
Entah kenapa Arka menjadi bimbang sekarang. Luna adalah pacarnya sekarang namun Lolly seakan punya tempat tersendiri di hati nya.
"Hei Arka," suara lembut Lolly membuat Arka menoleh. Cewek itu tetap sama seperti terakhir kali ia bertemu.
Arka menoleh ke sebelah kanan, disana Luna tersenyum dengan tulus. Kaki Arka menuntun mendekati Luna namun suara Lolly menghentikan langkahnya.
"Arka, itu buat aku kan?"
Arka memandang kue nya dan melihat Luna dan Lolly bergantian. Dirinya benar-benar bimbang sekarang.
"Ayolah Arka cepetan biar gue bisa makan setelah ini." Teriak Karlo yang sudah tidak tahan banyak berbagai makanan disini.
"Makan aja pikiran lo," sentak Razi menggelengkan kepalanya heran.
Arka terdiam cukup lama sebelum akhirnya cowok itu memilih Lolly sebagai pemenangnya. Arka menyuapi Lolly dengan sedikit senyum. Sedangkan Luna menatap tidak percaya apa yang terjadi didepannya.
"Makasih Arka, kue nya enak." Lolly mengandeng lengan Arka memperlihatkan ke semua orang bahwa orang lama lah pemenangnya.
"Sama-sama," bahkan Arka tidak masalah dengan apa yang cewek itu lakukan.
Acara potong kue selesai semua tamu mulai mencicipi makanan yang disediakan. Sedangkan inti ALTARES tidak menyangka apa yang diperbuat ketuanya itu. Nisa mendekati Luna yang sudah berkaca-kaca.
"Luna," panggil Nisa pelan
Luna mengusap matanya tidak membiarkan air mata itu jatuh. "Gue nggak papa."
Luna berlari keluar dari rumah Arka dengan perasaan sakit di dadanya. Luna sudah tidak tahan berada disini. Ia pergi berlari menuju halte terdekat. Duduklah Luna disana sambil menunduk membiarkan air matanya yang ia tahan terjatuh begitu saja.
Luna melihat sebuah batu didepannya lalu menendangnya asal karena kesal.
"Emang ada salah apa batu itu sama lo?"
Suara berat seseorang membuat Luna menghentikan tangisnya. Ia melirik sekilas lalu memandang jalanan yang sepi.
"Gue tau rasanya pasti sakit." Pemuda itu berucap lalu duduk disebelah Luna
"Tapi cinta memang butuh perjuangan kan? Kalau memang ditakdirkan sebagai jodoh kita, mau dengan siapapun dia pergi pasti bakal balik lagi kerumahnya."
Cinta? Apa gue cinta sama Arka. Batin Luna
"Kalau gue boleh saran—"
"Lo siapa si? Nggak usah ikut campur bisa." Luna memotong ucapannya karena merasa kesal.
Cowok itu tersenyum sebelum menjawab per Luna.
"Gue satu sekolah sama lo. Gue cuma mau nasehatin lo, Luna. Kalau memang lo suka sama seseorang lo harus kejar dan nyatain perasaan lo. Jangan sampai lo nyesel karena nggak bisa ngungkapin itu semua."
Cowok itu berdiri dan memberi uluran tangannya. "Nama gue Putra. Ayo gue anterin pulang ini udah malam."
...****...
Rintik gerimis mulai jatuh menyentuh tanah pada pukul 9 malam. Dari suaranya sepertinya rintik itu semakin lebat menjadi deras.
Ada seorang perempuan yang mengurung dirinya dikamar. Suara gemuruh petir menyamarkan suara tangisnya. Dadanya terasa sesak mengingat kejadian pesta tadi.
Ponselnya terus berbunyi sejak tadi namun ia enggan menyentuh benda pipih tersebut.
"Kenapa Arka?" Lirih Luna
Ketukan pintu mengalihkan perhatian Luna. Ia mengusap air matanya lalu berdiri berjalan menuju pintu, kemudian menarik knopnya dan membukanya. Terdapat seorang laki-laki paruh baya berdiri disana dengan paper bag ditangannya.
"Ayah."
Luna menghampur ke pelukannya. Reyhan yang baru pulang terkejut melihat kondisi putrinya. Sebenarnya ia pulang karena ada sesuatu yang tertinggal namun pemandangan ini yang ia lihat pertama kali.
"Princess. Putri ayah kenapa?'' Reyhan mengelus pipi Luna lembut.
"Dia jahat ayah dia jahat."
Reyhan mengerutkan keningnya mendengar putrinya mengadu. Laki-laki itu menuntun putrinya masuk dan duduk diruang tamu. Reyhan pergi ke dapur lalu kembali membawakan air putih untuk Luna.
"Diminum dulu ya, kalau udah tenang baru cerita." Ucap Reyhan mengusap kepala Luna lembut.
Luna meminum air itu sampai tersisa setengah gelas. Sekarang Luna sedikit tenang, ia bersandar di dada ayahnya menyalurkan rindu yang tak terbendung.
"Kok ayah pulang nggak ngabarin?" Tanya Luna sedikit sesegukan
"Luna pulang karena ada sesuatu yang tertinggal, tadinya mau ngasih kejutan buat putri ayah. Ternyata ayah yang mendapatkan kejutan."
"Maaf ya kalau buat ayah khawatir."
"Its oke nggak papa. Luna bisa cerita kalau udah siap."
Reyhan mengelus pipi Luna lembut lalu memberikan paper bag yang ia bawa. Luna yang penasaran lalu langsung membuka nya dengan semangat.
Matanya berbinar melihat dua boneka unicorn kesukaan nya.
Warna Lilac adalah kesukaannya. Luna memeluk boneka itu dengan gemas. Boneka ini akan menambah koleksi unicorn miliknya.
"Makasih ayah."
"Suka?"
"Suka banget. Ini cantik banget unicorn nya,'' Luna tak berhenti memeluk boneka itu sesekali menciumnya.
Drt drt
Ponsel Reyhan berbunyi lalu laki-laki paruh baya itu menekan tombol hijau lalu mengangkatnya.
"Hallo."
"Batalkan saja. Urusan saya lebih penting disini, kalau mau kamu urus saja sendiri disana."
Reyhan menutup teleponnya. Luna menatap bingung ayahnya. "Telepon dari siapa yah?"
"Sekretaris ayah."
"Kenapa dibatalkan. Emang urusan apa yang sangat penting?
Reyhan mengelus tangan Luna dan menciumnya dengan kasih sayang.
"Tentu saja hal penting itu adalah putri kesayangan ayah."
"Tapi bisnis ayah gimana?''
''Itu bukan masalah sayang. Yang terpenting adalah putri ayah yang cantik ini."
Bahkan jika Reyhan harus mempertaruhkan semua bisnisnya demi kebahagiaan putri nya maka ia akan suka rela melakukan nya.
Hanya Luna sekarang yang Reyhan punya, ia akan memastikan yang terbaik buat putri nya.
"Luna ada tugas nggak?"
Luna nampak mengingat-ingat sesuatu lalu cewek itu menepuk dahinya pelan. "Ada yah, untung ayah ngingetin. Luna ke kamar ngerjain tugas dulu ya."
"Ya udah sana."
Luna berlari menuju kamarnya lalu belum lama cewek itu kembali ke ruang tamu.
"Ada apa sayang?" Tanya Reyhan melihat putri nya kembali ke ruang tamu.
"Hehe boneka Luna ketinggalan,'' jawab Luna lalu mengambil dua boneka unicorn dan kembali ke kamarnya.
Reyhan sibuk dengan ponselnya lalu menghubungi seseorang diseberang sana.
"Saya mau ketemu di tempat biasa besok."
semangat kak... ☺