Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Hasan
Satrio duduk melamun di kursi kebesaran nya, sembari mengeruk- ngetukkan alat tulis yang ada di tangannya ke meja, Ia mengingat semua kilas balik perjalanan hingga sampai kemarin.
" Hei Satrio, melamun saja, kesambet hantu siang bolong baru tau rasa. "
Satrio menoleh ke asal suara, ternyata itu adalah temannya yang memang memiliki sifat usil namun perhatian.
" Haish mana ada hantu siang bolong, duduklah. Kamu dari mana saja, tumben baru nongol. "
" Ada noh hantunya. Cantik lagi. "
Satrio menoleh kiri dan kanan, mencari sesuatu yang mungkin keberadaannya abstral.
" Mana hantunya, kamu jangan bercanda, nggak lucu. "
Athifa tertawa geli, Ia merasa lucu melihat reaksi Satrio .
" Hei, kamu cari siapa. Nih hantunya ada di depan mu, cantik dan..... "
" Athifa cukup, ini tidak lucu. Gimana hasil penyelidikan mu kemarin, apa kamu menemukan sesuatu yang ganjal. "
Thifa nampak berpikir sambil manggut-manggut, raut wajahnya kembali berubah serius.
" Untuk saat ini, aku belum bisa mengatakan nya padamu Rio. Aku belum terlalu yakin, tapi kamu jangan khawatir. Aku akan segera memberitahu semuanya padamu disaat aku sudah memastikan nya dengan benar. "
Satrio mengangguk, sejauh ini dia tau bagaimana kinerja sahabatnya itu. Tidak perlu di ragukan lagi.
" Baiklah, aku akan menunggunya. "
Jam makan siang seperti biasa Hasan bertemu dengan kekasih hatinya di restoran mewah.
" Bagaimana sayang, apa kamu sudah membicarakan nya dengan wanita itu soal kita. "
Hasan mengangguk pelan
" Lalu, apa katanya. "
Hasan menggeleng pelan, Ia bingung dengan syarat yang di berikan Sya ketika dirinya minta ijin menikah lagi.
" Kenapa sayang, apa dia tidak mau merestui kita. Egois sekali, itu sama saja dia menghalangi dua orang yang saling mencintai, apa hak dia melakukan itu padaku. Sayang, aku sangat mencintaimu. Tidak bisakah kamu memperjuangkan aku, cintaku. Atau jangan-jangan kamu sudah mencintainya, benar begitu. "
Melihat Hasan diam saja, Lusi langsung berdiri sembari menangis menatap Hasan. Ia melangkah pergi namun di tahan oleh Hasan, Hasan memeluknya erat.
" Lepaskan aku Mas, aku ingin pergi. "
Lusi berusaha menepis tangan kokoh Hasan yang memeluknya erat.
" Jangan berontak sayang, atau aku akan mencium mu di depan orang banyak. "
Lusi tidak peduli, Ia berontak sekuatnya dan berlari keluar.
" Ah sial. " Umpat Hasan ketika Lusi lepas dari dekapannya.
Dengan cepat Hasan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan di atas meja, Ia membayar makanan yang bahkan belum mereka sentuh sama sekali.
" Pak, tunggu. Ini mau di bungkus, tunggu sebentar Pak. "
Hasan menoleh, Ia menatap hidangan yang tersaji di atas meja itu dan juga Lusi yang berlari ke arah mobil.
" Berikanlah ke mereka yang ingin saja Mbak. "
Hasan berlari mengejar Lusi, karena langkahnya yang panjang- panjang akhirnya Ia bisa menyusul Lusi yang ingin menutup pintu.
" Keluar tidak Mas, aku ingin pergi. "
Lusi tidak bisa menutup pintu karena terhalang dengan tubuh Hasan. Tanpa ba-bi-bu lagi Hasan mel***t bi**r Lusi dengan rakus, Ia tidak peduli dengan penolakan Lusi.
Hasan sedikit mendorong tubuh Lusi agar masuk kedalam mobil, begitu juga dengan Hasan. Ia ikut masuk dan menutup pintu, Ia masih melanjutkan aktivitasnya.
Ciumannya baru terhenti ketika Lusi kesulitan bernapas, Ia memukul- mukul dada bidang Hasan.
" Jangan uji kesabaran ku Lusi. "
Keduanya terdiam sesaat, tidak ada yang bicara. Hasan mengelus bibirnya yang sedikit berdarah karena tanpa sengaja tergigit oleh Lusi.
" Lusi, kamu sangat tau bagaimana aku. Aku sangat mencintai kamu, kenapa kamu bisa- bisanya meragukan aku. "
Lusi menunduk, meskipun Ia menyukai hal yang barusan mereka lakukan namun melihat kemarahan Hasan membuat nyalinya ikut menciut.
" Beri aku waktu, aku akan memperjuangkan cinta kita. Bagaimana pun caranya aku akan menikahi mu, itu janjiku. "
Lusiana mengangguk pelan berulang kali, Ia menatap lurus kedepan.
" Maafkan aku sayang, sebenarnya aku melakukan ini hanya karena aku takut kehilanganmu. Aku takut kamu mencintainya karena bagaimana pun juga, saat ini kalian berdua tinggal di bawah satu atap. "
Hasan menarik tubuh Lusi dan menariknya kedalam pelukannya, Ia memaklumi apa yang dirasakan Lusi saat ini.
" Percayalah padaku juga dengan cintaku. Sudah sekarang senyum, mana cantiknya. Kita cari restoran lain saja ya buat makan, kamu pasti lapar.
Lusi menggeleng pelan, rasa laparnya tiba- tiba hilang karena perdebatan mereka.
" Tidak usah sayang, antarkan saja aku ketempat kerjaku. Ini sudah masuk jam kerja, nanti lagi kita berdua. "
Hasan pun setuju, Ia menghidupkan mesin mobilnya dan melesat meninggalkan restoran mewah itu.
" Itu tadi kan Hasan dan yang wanitanya adalah Lusi, apa ini. Apa mereka masih punya hubungan di belakang Raisya, Astagfirullah Raisya. Hubungan apa yang tengah kamu jalani saat ini, kamu menikahi seorang Pria yang masih memiliki hubungan dengan masa lalunya, belum move on dari mantannya. "
Satrio menghubungi seseorang dan kini mereka berada di sebuah taman.
" Thifa, tadi aku baru saja melihatnya di restoran Dharmawangsa. Dia sedang bersama wanita itu, dari yang aku lihat mereka sepertinya sedang berselisih faham. Tapi tetap saja, mereka masih bersama dan bahkan melakukan..... "
Satrio menghentikan ucapannya, Ia ingat bagaimana keduanya berciuman dengan panas membuat bulu kuduk Satrio merinding.
" Tidak perlu di lanjutkan, aku akan mencari tau semua secepatnya. "
Thifa merona menahan malu, Ia bisa menebak apa yang akan di katakan sahabatnya itu.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan