Pernikahan atas dasar cinta adalah pilihan setiap umat manusia, tetapi bagaimana jadinya jika di dalam kata cinta dan pernikahan itu ada orang ketiga?
Begitulah kisah Bima dan Nadia, kehidupan rumah tangga yang sangat harmonis telah mereka rasakan hingga pada akhirnya Bima memutuskan untuk mendua lalu membuat pernikahan mereka berujung perceraian.
Disaat sedang patah hati, Nadia di pertemukan oleh seorang pria dewasa dan karena kebersamaan mereka akhirnya benih-benih cinta pun mulai tumbuh. Namun, sebuah kejutan mengangetkan Nadia yang mana ternyata pria itu adalah Ayah dari selingkuhan Bima.
Bagaimana kisah Nadia selanjutnya?
So Stay Tune 🥰
Follow Ig: ningsihartono ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Pembalasan Untuk Suamiku
Bima telah selesai melakukan pertemuan tepat pukul lima sore, dia berniat untuk pulang ke hotel karena dirinya sangat rindu dengan sang istri.
Namun ketika Bima ingin masuk ke dalam mobil terdengar suara teriakan seorang wanita yang tidak jauh dari parkiran mobilnya dan hal itu mampu membuat atensi mata Bima teralihkan.
"Aira?" gumam Bima segera berlari menghampiri Aira.
Sementara Aira.
"TOLONG! COPET! TASKU!" teriaknya dengan menitikkan air mata.
"Aira!" Bima berteriak ketika dia sudah berada di dekat Aira.
Aira segera menoleh dan menghampiri Bima.
"Mas, tolong ada copet yang mengambil tasku. Di dalam tas itu ada berkas penting dan beberapa kartu penting juga! Tolong bantu aku menangkapnya, Mas." pinta Aira dengan memohon.
Bima tidak tega melihat Aira dan dia langsung mengejar pencopet itu.
"WOI! Berhenti!" teriak Bima sambil berlari kencang.
Bima melepaskan sepatunya dan menimpuk punggung belakang perampok itu menggunakan sepatu.
Perampok tersebut berhasil menghentikan langkahnya dan dia melihat ke sekeliling. Sekitaran sangat sepi, waktunya dia beraksi menghajar Bima.
Bima menatap perampok itu dengan tatapan sengit.
"Ayo maju kalau Anda memang jantan." Bima menantang tanpa rasa takut.
Perampok itu mulai menghajar Bima dan kemenangan perkelahian saat ini masih berada di tangannya.
Bugh.
Bima jatuh tersungkur karena dia sudah merasa lemas.
Perampok itu segera menghajar Bima hingga babak belur.
"Berhenti!" Aira datang bersama dengan beberapa warga sekitar.
Perampok itu kaget dan dia ingin berlari tetapi kakinya berhasil Bima tangkap dan membuat sang perampok jatuh. Perampok itu pun meninggalkan tas milik Aira dan dia berlari tunggang langgang menghindar dari kerumunan massa.
Aira menghampiri Bima dan dia berjongkok di samping Bima.
"Ayo Mas, aku bantu." Aira memapah Bima.
Tak lupa Aira mengambil tas miliknya.
"Terima kasih karena kamu sudah mau menolongku." ucap Aira saat mereka sudah berada di mobil Bima.
"Tidak masalah, siapapun yang mendapat musibah sepertimu pasti aku juga akan menolongnya."
Aira menyunggingkan senyum tipis. 'Sudah gampang, baik pengertian dan berwibawa. Benar-benar pria impianku.' batinnya dalam hati.
"Oh ya, karena kamu sudah menolongku bagaimana jika aku mengobati lukamu?" pinta Aira dengan penuh harapan.
Bima terdiam sejenak. "Tidak perlu karena aku akan mengobatinya dirumah, Istriku bisa membantuku."
Aira mendegus kesal karena lagi-lagi Bima harus membawa nama istrinya.
"Tidak-tidak, biar aku saja! Aku mohon jangan menolak karena ini semua terjadi karena aku." pinta Aira untuk kedua kalinya dan saat ini dia memasang wajah melas.
Bima menghela nafas dan dia mengangguk.
Aira bersorak riang dalam hati.
Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing dan pergi menuju apartemen milik Aira yang tak jauh dari restauran itu.
Beberapa menit kemudian
Sampailah mereka di apartemen megah milik Aira.
Bima masuk dan duduk di sofa sementara Aira bergegas mengambil kotak obat.
"Sebelum mengobati lukamu, aku akan membuatkan minum sebentar." Aira ingun ke dapur tetapi langkahnya terhenti oekh ucapan Bima.
"Tidak perlu, Aira! Selesai kamu mengobati lukaku maka aku akan segera pulang. Aku tidak ingin membuat istriku khawatir."
Aira semakin kesal dan terbakar api cemburu ketika Bima berbicara soal istrinya lagi.
'Aku sangat penasaran seperti apa Istri Bima hingga dia sangat menempel sekali kepada istrinya.' batin Aira menggerutu.
"Aku tidak ingin mendengar penolakan, Bapak Bima yang terhormat. Diam di tempat dan aku akan membuatkan jus sebentar.''
Setekah mengatakan itu, Aira langsung pergi ke dapur.
Selesai membuat Jus, Aira meletakkan nampan berisi dua gelas jus jeruk dan dia duduk di sebelah Bima dengan memangku kotak obat.
"Tahan ya, ini sedikit perih." ujar Aira sambil menempelkan kapas yang sudah diberi alkohol dan dia menekannya sedikit di bagian wajah Bima yang lebam.
Bima hanya mampu meringis dan hal itu semakin membuatnya terlihat gagah juga mempesona.
Otak kotor Aira sudah traveling entah kemana, dia melirik jajun Bima yang terlihat naik turun.
Beberapa saat kemudian
Aira selesai mengobati.
"Ayo Mas, diminum dulu baru setelah itu kamu boleh pulang." Aira mengambil gelas jus nya
Tanpa rada curiga sedikitpun, Bima langsung mengambil gelas dan menenggak habis jus buatan Aira.
Aira tersenyum lebar.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi. Maaf jika merepotkan." Ujar Bima sambil beranjak dari sofa, tetapi baru saja ingin bangkit ternyata dia merasakan kepalanya yang sangat pusing.
"Ada apa, mas?" Aira memegang kedua pundak Bima.
" Entahlah, kepalaku pusing sekali." Bima merasa jika seluruh ruangan berputar dengan cepat
Aura tertawa dalam hati dengan rasa lega.
•
**TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGAN JIKA KALIAN SUKA, YUK BERKOMENTAR 🥰
🏵️🏵️🏵️🏵️
MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR YUK 🤗**