Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Pagi yang cerah menyapa kota dengan sinar matahari yang lembut menyusup melalui jendela-jendela kelas. Ruangan kelas yang luas dan berwarna-warni itu dipenuhi suara tawa kecil anak-anak berusia tiga hingga empat tahun. Dindingnya dihiasi gambar-gambar binatang, huruf alfabet raksasa, dan kerajinan tangan dari kertas warna-warni yang bergoyang pelan ditiup angin dari kipas langit-langit.
Di salah satu sudut kelas, di atas karpet bulat besar bermotif pelangi, Keysa duduk bersila bersama teman-temannya. Gadis kecil itu mengenakan seragam berwarna biru muda dengan rok lipit yang lucu, rambutnya dikucir dua dengan pita pink favoritnya. Wajahnya masih terlihat segar meski semalam ia pulang larut malam.
Sekarang saatnya pelajaran musik dan bernyanyi. Guru mereka berdiri di depan sambil memegang gitar kecil, siap memimpin anak-anak menyanyikan lagu anak klasik.
"Kicau-kicau, kicau mania~" nyanyi Keysa dengan suara nyaring dan penuh semangat sambil bergoyang-goyang tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Tangan kecilnya melambai-lambai seperti sedang menari di panggung konser.
Pipinya yang chubby memerah karena asyik, matanya tertutup rapat seolah sedang menikmati lagu hits di kepalanya sendiri.
Di sebelahnya, Zara langsung menoleh dengan ekspresi protes.
"Bukan kicau mania, Key! Bu Gulu culuh nyanyi burung kakak tua," seru Zara sambil menarik lengan seragam Keysa.
Keysa membuka mata, manyun keras sambil menggelengkan kepala dengan yakin. "Nda celu, Zala! Celuan kicau mania. Itu lagu yang enak di dengal. Bulung kakak tua nda acik, cuma kukuluyuk' doang," ngeyelnya dengan logat khas anak kecil yang lucu. Ia bahkan berdiri sebentar untuk mendemonstrasikan goyangannya yang lebih heboh.
Zara menggeleng-gelengkan kepala, tapi ikut tertawa. Kedua gadis kecil itu mulai berdebat kecil dengan suara yang semakin ramai, sampai akhirnya beberapa anak lain ikut menoleh dan ikut-ikutan cekikikan.
Guru mereka yang sabar dengan rambut diikat ponytail, akhirnya menghentikan petikan gitarnya. Ia menghampiri kedua muridnya dengan langkah ringan, senyumnya campur antara gemas dan putus asa.
"Keysa, lagunya salah, Sayang. Kita lagi mau nyanyi Burung Kakak Tua, bukan Kicau Mania," tegur sang guru dengan suara lembut tapi tegas, sambil berlutut di depan Keysa agar sejajar dengan tinggi gadis kecil itu.
Keysa mendongak, matanya yang besar dan polos menatap gurunya tanpa rasa bersalah. "Burung kakak tua kulang celu, Bu Gulu. Cepelti anak kecil lagunya. Kicau mania lebih celu, bica goyang gini loh!" Ia kembali mendemonstrasikan gerakan goyang pinggul dan tangan yang lucu, membuat beberapa teman sekelasnya tertawa terbahak-bahak.
Sang guru tak kuasa menahan senyum. Ia menepuk keningnya sendiri pelan, menggelengkan kepala. Murid ini tidak sadar kalau dia juga masih kecil, batinnya sambil menahan tawa.
Keysa memang selalu seperti ini, penuh energi, keras kepala dengan cara yang menggemaskan, dan selalu punya pendapat sendiri tentang segala hal.
"Keysa, sayang… lagu Burung Kakak Tua itu untuk belajar tentang binatang dan suara mereka. Nanti kita nyanyi Kicau Mania nya di waktu istirahat boleh, tapi sekarang ikut Bu Guru dulu ya?" bujuk guru sambil mengusap rambut Keysa dengan sabar.
Keysa mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah sedang mempertimbangkan tawaran itu dengan serius. Akhirnya ia mengangguk pelan, tapi bibirnya masih manyun. "Baik, Bu Gulu… tapi Key boleh tambahin goyangnya dikit nda? Bial nda bocen."
Bu guru tertawa kecil. "Boleh, tapi secukupnya ya. Ayo, teman-teman semua ikut lagi dari awal."
Kelas pun kembali riuh dengan suara anak-anak bernyanyi bersama. Keysa ikut menyanyi Burung Kakak Tua meski sesekali masih menyisipkan nada kicau maniadi bagian refrain dengan suara kecil. Zara di sebelahnya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil ikut bernyanyi.
Setelah sesi bernyanyi selesai, Bu guru mengajak anak-anak duduk melingkar untuk bercerita. Saat giliran Keysa, gadis kecil itu langsung berdiri dengan semangat.
Anak-anak lain mendengarkan dengan mata berbinar, sementara Bu Rina hanya tersenyum lebar. Ia sudah sering mendengar cerita Keysa tentang papanya dan kini muncul yang baru tentang Alya.
"Kayaknya Keysa lagi senang sekali ya hari ini," komentar Bu Rina sambil mengusap punggung gadis kecil itu.
"Iya, Bu! Key mau Aunty Alya jadi mama Key. Tapi aunty bilang halus kenal papa dulu. Papa Key aneh cih emang," jawab Keysa polos, membuat seluruh kelas meledak dalam tawa riang.
Bu Rina hanya bisa geleng-geleng kepala lagi, tapi hatinya hangat melihat keceriaan muridnya. Keysa memang anak yang istimewa ceria, penuh imajinasi, dan selalu membawa kebahagiaan ke mana pun ia pergi, meski kadang membuat guru harus menahan tawa sambil menepuk kening.
Waktu istirahat pun tiba. Keysa dan teman-temannya berbondong-bondong keluar kelas untuk bermain dan makan bekal. Keysa dan Zara memilih duduk di bangku taman yang agak jauh dari perosotan, seperti biasa mereka hanya berdua.
"Belalti cebental lagi Keyca mau punya mama balu ya? Zala cenang dengalnya," ucap Zara tulus sambil membuka kotak bekalnya.
"Belum, Zala. Macih dalam ploces," jawab Keysa sambil mengunyah roti.
Zara mengangguk paham. "Nanti kalau cudah belhacil, gililan caliin jodoh buat aunty Zala ya. Kacihan cekali dia celalu jadi obat nyamuk papa cama mama."
Zara memiliki tante yang bernama Zelia, sampai sekarang aunty nya itu masih belum memiliki kekasih. Sehingga dia mencoba meminta bantuan pada Keysa, sahabatnya.
"Zala tenang aja. Nanti kalau aunty Alya cudah telima papa Key, kita cali calon juga buat aunty-nya Zala," ucap Keysa penuh semangat.
"Cepat ya. Cemoga aunty Alya cepat telima papa Key," seru Zara.
Mereka berdua melompat-lompat sambil berpelukan gembira. Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba sekelompok anak yang biasa merundung Keysa mendekat.
"Aunty itu pasti nda bakal terima papa kamu. Dia nda mau punya anak jelek dan nakal seperti kamu," ejek salah seorang dari mereka.
Keysa dan Zara melepaskan pelukan. Keysa langsung membalas, "Nda! Aunty Alya pasti mau jadi mama Key!"
"Nda usah percaya diri. Terbukti kan dia nda mau terima langsung papa kamu. Dia pasti benci melihat kamu, tidak mau kamu jadi anaknya"
"Huuu... anak haram, haram!"
"AKU BUKAN ANAK HARAM!" teriak Keysa sambil menatap mereka tajam."KALIAN YANG ANAK HARAM!" balasnya emosi.
Anak-anak itu tidak terima. Salah satu mendorong Keysa keras hingga gadis kecil itu terjatuh. Keningnya membentur besi mainan perosotan. Darah segar langsung mengalir dari luka tersebut.
Keysa meringis kesakitan, air matanya merebak. Zara langsung panik dan berteriak memanggil guru.
"BU GULU...TOLONG. KEYCA KELUAL DALAH" teriak Zara. Anak-anak yang merundung Keysa seketika berlari meninggalkan tempat itu sebelum guru mereka datang, mereka takut bakal kena hukuma.
"Key, nda nakal" lirih Keysa dan padangannya menggelap. Gadis kecil itu pingsan dengan kening yang penuh dengan darah.