NovelToon NovelToon
Membalas Pengkhianatan Suamiku

Membalas Pengkhianatan Suamiku

Status: tamat
Genre:Single Mom / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Chicklit / Tamat
Popularitas:641.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: violla

Setelah menyandang gelar sebagai seorang istri. Rima memutuskan berhenti berkarir agar bisa fokus mengurus suami dan anaknya. Dengan sepenuh hati Rima menyayangi mertua seperti menyayangi ibu kandungnya sendiri. Namun, bukannya kasih sayang dan kebahagiaan yang Rima dapatkan tetapi pengkhianatan dari kedua orang tersebut.

Dengan perasaan hancur, Rima berusaha bangkit dan membalas pengkhianatan suaminya. Balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan diri lebih baik dari para pengkhianat. Hingga perlahan Rima bangkit dari keterpurukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi

"Demi Susan tolong jangan pergi. Pikirkan anak kita." Bang Rama tidak mengindahkan permintaan ibu untuk membiarkan aku angkat kaki dari rumah. Aku tidak tahu mengapa pria itu ingin mempertahankan aku di rumah ini.

"Abang bilang demi Susan?" Aku tertawa miris. "Kalau dari awal abang memikirkan susan nggak mungkin tega mengkhianati aku seperti ini!"

"Udahlah, Mas. Biarkan dia pergi. Soal anak aku juga bisa lahirkan anak untuk Mas. Apa lagi kita sudah melakukannya bisa jadi ada benih yang tumbuh di rahimku!" timpal Susan tidak tahu malu.

Kesabaranku benar-benar sudah habis. Aku mendekatinya dan menampar pipi pelakor itu hingga mengaduh kesakitan.

"Julukan apa yang harus aku sematkan pada wanita sepertimu? Selain tidak tahu diri kamu juga perempuan yang nggak punya perasaan!" sentakku padanya.

"Sudah jangan buat keributan di rumahku. Pergi jauh-jauh dari kehidupan kami. Jangan khawatir Rama pasti akan menalakmu!"

Ibu menuding bahuku hingga aku terhuyung beberapa langkah menjauhi Citra. Wanita paruh baya yang seharusnya memela harga diri ibu dari cucunya malah mengusirku terang-terangan. Di depanku ibu memeluk Citra yang sedang menangis dan cari muka itu.

"Jatuhkan talakmu padanya Rama. Biar perempuan ini nggak banyak drama!" titah ibu kepada bang Rama yang sedari tadi menatapku dengan wajah terkejut. Ya, bang Rama pasti tidak mengira aku berani menampar Citra.

"Jangan khawatir kan apapun. Meskipun kalian mengusirku, bahkan meskipun tidak ada tempat ku di luar sana. Aku yakin hidupku akan jauh lebih baik daripada aku hidup di neraka ini. Cukup sudah ketulusanku kalian balas dengan air mata. Dan ibu... aku harap ibu tidak menyesali perbuatan ibu padaku!" Aku berucap dengan dada bergemuruh penuh emosi.

"Beraninya kamu bilang begitu! Punya menantu sepertmu adalah satu-satunya penyesalanku! Jadi cepat pergi dari sini!"

Ibu menunjuk aku dan Citra tersenyum mengejek aku di pelukan ibu.

"Jatuhkan talakmu untuk aku, Bang." Aku kembali lagi menatap Bang Rama. "Aku akan pergi dengan terhormat karena atas keinginanku sendiri bukan karena kalian usir."

Tanpa kuduga ibu mendorongku sebelum bang Rama bicara. Seketika aku tejatuh di hadapan mereka.

"Rima."

Bang Rama mengulurkan tangan untuk membantuku, tapi langsung ditarik oleh Citra.

"Kamu pilih aku atau dia? Apa kamu mau anak kita lahir tanpa ayah? Ingat, Mas. Ada kemungkinan aku hamil anak kita."

Bang Rama bergantian melihatku dan Citra. Wajahnya menegang dengan bibir terkatup rapat.

"Sudah jangan banyak bicara. Sana pergi dari rumahku! Jangan pernah injakkan kakimu lagi di sini!" sentak ibu padaku.

"Maaf Rima...," ucap Bang Rama lirih. "Lebih baik kamu tenangkan diri dulu, nanti kita bicara lagi."

Aku kuat, aku pasti bisa. Tidak henti aku menyemangati diriku sendiri. Aku tidak ingin tampak menyedihkan di hadapan orang-orang ini. Terlebih lagi Bang Rama tampak enggan melepaskan Citra.

Perlahan, aku bangkit dari keterpurukan yang mereka ciptakan. Ku tatap wajah-wajah para pengkhianatan yang tanpa ampun sudah menyakitiku.

"Tidak ada yang harus kita bicarakan. Sampai bertemu di pengadilan." Suaraky terdengar bergetar, ya aku berusaha menahan geram atas apa yang terjadi.

Bang Rama tidak berucap bahkan untuk menjatuhkan talak padaku pun tidak mau. Akhirnya aku pergi tanpa mau menoleh ke belakang lagi.

***

Aku cepat-cepat mengemas beberapa berkas penting seperti buku tabungan yang sudah lama aku siapkan untuk sekolah Susan. Uang yang aku sisihkan dari sisa uang belanja selama aku menjadi istri bang Rama. Ibu pasti akan tercengang kalau tahu aku tidak seboros yang dipikirkan.

Tidak lupa mengamankan handpone yang tadi diam-diam aku selipkan merekam pertengkaran di taman. Tidak masalah kalau bang Rama tidak mejatuhkan talak padaku, bukti ini bisa membantuku untuk mengurus perceraian dan mendapatkan hak asuh Susan.

"Ibu, kita mau pergi ke mana?" tanya Susan ketika aku mengepak pakaian kami. Wajah Susan tampak sembab seperti habis menangis.

"Apa tadi Susan lihat ibu di belakang?" Aku bertanya sembari melirik jendela. Khawatir tadi Susan mengintip di sana.

Susan menggelengkan kepala. Aku lega mendengarnya.

"Susan ikut ibu aja, ya. Kita harus pergi sekarang." Kupeluk Susan erat karena hanya Susan yang bisa menguatkan aku.

.

.

.

Alam seolah merasakan kesedihan dan derita yang aku alami. Langit malam tanpa dihiasi bintang menemani perjalananku. Rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi menghalangi pandanganku. Sengaja kulajukan sepeda motor dengan kecepatan rendah.

"Ibu, dingin.... "Susan mengeratkan pegangannya di pinggangku. "Kita mau ke mana? Kenapa nggak minta diantar ayah aja? Kenapa ayah nggak ikut?"

Pertanyaan Susan membuat dada ini terasa sesak. Air mata dan air hujan menyatu di wajahku.

"Tenang, ya, Nak. Sebentar lagi kita sampai." Namun tiba-tiba motorku ngadat di tengah jalan. "Susan turun sebentar biar ibu periksa motornya."

Tubuh Susan menggigil kedinginan. Aku membawa Susan untuk berteduh di bawah pohon. Dua tas berisi pakaian kami pun telah basah. Sungguh, Tuhan benar-benar sedang mengujiku.

Berulang kali kutekan tombol starter, namun motor ini tidak mau menyala juga. Sementara hujan bertambah deras aku coba menghentikan mobil yang melintasiku. Namun, tidak ada satu pun yang mau berhenti.

Hingga sorot lampu mobil terarah padaku. Aku memicingkan mata melihat seseorang yang turun dengan memegang payung. Mungkinkah itu bang Rama?

"Rima? Sedang apa kamu di sini?" Dari jarak yang dekat aku bisa mengenali wajahnya. Bukan... pria ini bukan bang Rama. Tapi, Dimas atasanku di kantor.

"A-aku... motornya mogok."

"Hujannya semakin deras, lebih baik kamu menunggu di mobil saya saja." Dimas mengarahkan payungnya padaku, seolah melindungiku dari hujan. "Apa dia anakmu?" tanyanya setelah menyadari ada Susan diantara kami. "Kenapa kalian berkeliaran di jalan dengan tas sebesar itu?"

Dengan masih membawa payung Dimas mendekati Susan. "Kamu bisa sakit kalau main hujan malam-malam begini. Ayo ikut sama Om."

Susan tidak menjawab, anakku itu melihatku dengan memeluk tubuhnya sendiri.

"Rima, apa kamu mau anakmu sakit? Kenapa diam saja di situ? Bawa anakmu masuk ke mobil."

Bagai kerbo yang ditusuk hidungnya aku menurut tanpa protes. Aku tidak mau keegoan orang tuanya membuat Susan menjadi korban.

Dimas membukakan pintu untuk aku dan Susan. "Masuklah, " ujarnya lalu menyuruh sopir mengambil tasku.

"Mo-motorku.... "

"Biar supir ku yang mengurusnya." Pria itu memastikan aku dan Susan duduk dengan nyaman di bangku belakang. Barulah ia mengitari mobil untuk menggantikan posisi supir.

"Pakaikan jaket ini pada putrimu." Dimas menyerahkan jaket kulit yang baru ia tanggalkan dari badannya.

"Terima kasih, aku nggak akan melupakan kebaikan bapak ini."

Dimas menoleh kebelakang seolah memastikan aku melakukan apa yang ia perintahkan.

"Masih dingin? Ini acnya udah nggak nyala."

Susan menggelengkan kepala tanpa mau melihat Dimas. Sepertinya anak ku ini takut padanya.

***

Jangan lupa jempol... nanti update lagi.

1
Betty
Bagus
Karmila Pasinringi Mila
jangan mau balik lagi , tukang selingkuh ibux jg nyebelin
mommy Rini
gantung akhirnya thor
Haryani Yuliwulansih
Rima ambil aja di google foto, biar hpnya hilang atau dihapus msh ada disana
Haryani Yuliwulansih
typo
Haryani Yuliwulansih
wiii kena banget
Haryani Yuliwulansih
Ceritanya bagus, ga bertele² suka sama wanita² kuat yg rendah hati
Haryani Yuliwulansih
mbl mewah, ada asuransinya
Haryani Yuliwulansih
kok aku ikut emosi ya
Riska Desi
semangat rima
Riska Desi
pengenx tu pelakor di jambak rambut,gemes q
Riska Desi
suka gemes klo baca trus ada mertua kayak gini.makin penasaran nih...
👏vanzhoel🖤²²¹º
biar tau rasa mak lo tuh.. punya mantu modelan c handbody lotion.. yang cuma bisa awet sesaat doank ga bisa sampe sepanjang masa😏
👏vanzhoel🖤²²¹º
Rama, otw menggembel aja masih sok coba ancam2 Rima.. ga liat apa backingan Rima itu siapa🤭🤣🤣🤣
👏vanzhoel🖤²²¹º
helleehh ga mau pisah, tapi kau udah celap celup ke gelas teh lain😏
👏vanzhoel🖤²²¹º
balas dendam tahap pertama, sukseesss😏
👏vanzhoel🖤²²¹º
aq pendukung mu Rimaaa😍😍
👏vanzhoel🖤²²¹º
bukan tampol itu valakor nya.. huuuhhh gumuushh aq😤😤😤
👏vanzhoel🖤²²¹º
uppz sorry thor, baru komen.. terlalu terlena aq sama jalan cerita nya.. bikin gregetan pengen nampol c Rama 🤭
Oc Imoet
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!