Disarankan untuk membaca terlebih dahulu Terjebak Pesona Mamah Muda.
Ricky memiliki anak diluar nikah, akibat dari perbuatannya dimasa lalu. Anak itu bernama Maira yang dibesarkan oleh ibu angkatnya yang bernama Aida.
Ibu Juwita menginginkan agar Maira diasuh oleh Ricky. Agar Aida mau menyerahkan Maira kepada Ricky, Ricky harus menikah dengan seorang perempuan yang mau menerima Maira dan menerima masa lalunya.
Follow Ig Deche : @deche62
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kejadian Yang Tak Disangka.
Jarak antara restaurant dan kamar memang cukup jauh. Mereka harus melewati tempat yang sepi. Ditambah lagi kurangan pencahayaan dari lampu jalan sehingga jalan menuju kamar mereka lumayan gelap. Ricky takut kalau ada yang berniat jahat pada Hanifa dan Maira.
“Jangan lupa kunci kamarnya! Periksa semua jendela sudah diikunci atau belum. Jangan buka pintu kalau ada yang mengetuk! Kecuali Abang yang mengetuk pintu,” kata Ricky.
“Baik, Bang,” jawab Hanifa.
“Kalau ada yang mencurigakan atau ada apa-apa telepon Abang langsung!” pesan Ricky.
“Baik, Bang,” jawab Hanifa.
Ricky maju mendekati Hanifa. Melihat Ricky yang mencoba untuk lebih dekat dengannya Hanifa langsung mundur. Namun Hanifa hendak mundur, Ricky berbisik, “Mendekatlah pada Abang. Ada yang ingin Abang katakan padamu. Beraktinglah seperti kita sepasang kekasih yang sedang dilanda cinta.”
Hanifa tidak jadi untuk mundur. Ricky mendekatkan wajahnya ke pipi Hanifa sebelah kiri, seolah ia sedang mencium pipi Hanifa. Padahal Ricky membisikkan sesuatu di telinga Hanifa. “Ada kunci Inggris di dalam tas travel Abang. Kamu bisa gunakan untuk menjebol kaca jendela atau pintu jika kamu dalam bahaya.”
Hanifa terkejut mendengar bisikan Ricky. Lalu Ricky beralih ke pipi kanan Hanifa, seolah ia sedang mencium pipi kanan Hanifa. “Ada semprotan merica, hair spray dan parfum di tas dalam tas Abang. Kamu bisa jadikan sebagai alat pertahanan diri. Dan jangan lupa taruh beberapa jarum pentul di bajumu yang mudah kau jangkau.”
Mendengar semua bisikan Ricky membuat Hanifa menjadi lemas, seolah-olah ia sedang dalam bahaya. Wajah Hanifa langsung berubah pucat.
“Bang,” kata Hanifa.
“Sssttt. Masuk dan istirahatlah! Abang masih ada acara,” kata Ricky.
“Baik, Bang,” jawab Hanifa.
“Assalamualaikum,” ucap Ricky.
“Waalaikumsalam,” jawab Hanifa.
Hanifa masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu. Setelah Hanifa mengunci pintu kamar barulah Ricky meninggalkan kamar mereka. Ketika Ricky berjalan menuju ke ballroom hotel Ricky berpas-pasan dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu tidak nampak mencurigakan, ia berjalan biasa seperti hendak menuju ke kamarnya. Ricky tidak menyimpan curiga pada laki-laki itu, ia langsung saja berjalan menuju ke ballroom.
Sementara itu di dalam kamar Hanifa sedang menggosok gigi Maira. Selesai menggosok gigi Maira, Hanifa wudhu untuk sholat isya. Ketika Hanifa keluar dari kamar mandi, Maira mengatakan, “Kaka, pintunya gelak-gelak.” Hanifa kaget mendengar Maira mengatakan demikian.
“Apanya yang gerak-gerak?” tanya Hanifa. Maira turun dari tempat tidur lalu menunjuk ke handel pintu.
“Inyina gelak-gelak,” jawab Maira. Deg, seketika Hanifa langsung merasa ketakutan.
“Maira, televisinya matikan dulu. Kakak mau sholat,” kata Hanifa.
“Iya,” jawab Maira. Maira langsung mematikan televisi dengan menggunakan remote.
“Maira duduk sini dekat Kakak,” Hanifa menunjukkan ke pinggir sajadah. Maira pun menurut, ia turun dari tempat tidur dan duduk di sebelah Hanifa. Hanifa mengeluarkan semua barang-barang yang dikatakan oleh Ricky lalu di letakkan di sebelahnya. Serta ponselnya pun ia taruh di sebelahnya.
“Icu ntuk, apa?” tanya Maira melihat barang-barang yang dikeluarkan.
“Ssstt,” Hanifa meletakkan telunjuknya di bibir. Lalu membisikkan sesuatu kepada Maira,” Maira jangan kemana mana! Tetap di samping Kakak, ya!” Maira langsung mengangguk, tanda ia mengerti dengan apa yang dibisikan oleh Hanifa.
Arah kiblat di kamar itu menghadap ke pintu, sehingga Hanifa sholat bisa melihat ke pintu. Hanifa memulai sholat isya. Hanifa berusaha fokus sholat isya, namun handel pintu bergerak-gerak lagi. Hanifa langsung beristigfar di antara bacaan sholatnya. Hanifa fokus lagi ke bacaan sholatnya, handel pintu bergerak lagi dan terdengar suara jendela seperti dicongkel. Maira yang duduk di sebelah Hanifa sambil melihat handel pintu yang bergerak lagi. Dengan ketakutan Hanifa terpaksa mempercepat bacaan sholatnya dengan secepat kilat. Setelah selesai sholat tanpa berzikir dan berdoa Hanifa membuka mukenanya dan membawa Maira beserta barang-barang yang sudah ia siapkan ke dalam kamar mandi lalu mengunci pintunya. Ia tidak mungkin berteriak, karena kamar yang di sekitar kamar mereka nampak sepi tidak ada tamu yang menginap. Kalaupun ia berteriak tidak akan ada yang mendengar.
Dengan gemetaran Hanifa langsung menelepon Ricky, namun tidak diangkat oleh Ricky. Hanifa mengirim pesan ke Ricky dan menceritakan apa yang terjadi. Setelah mengirim pesan, Hanifa terus saja berusaha menelepon Ricky. Tetap saja Ricky tidak mengangkat teleponnya. Hanifa hampir menangis ketika tidak Ricky bisa menghubungi Ricky. Ketika Hanifa hendak menelepon Ricky kembali, tiba-tiba Ricky menelepon balik.
“Assalamualaikum. Ada apa, Fa?” tanya Ricky.
“Waalaikumsalam. Ada yang berusaha masuk ke dalam kamar. Handel pintunya bergerak-gerak dan berusaha mencongkel jendela,” jawab Hanifa sambil menangis.
“Kamu dimana sekarang?” tanya Ricky.
“Hanifa dan Maira ada di dalam kamar mandi,” jawab Hanifa.
“Kamu tetap di sana. Jangan keluar dari kamar mandi! Abang akan segera ke sana,” kata Ricky.
“Iya, Bang,” jawab Hanifa.
“Assalamualaikum,” ucap Ricky. Ricky langsung mengakhiri pembicaraannya.
“Waalaikumsalam,” jawab Hanifa. Hanifa mematikan ponselnya. Hanifa langsung memeluk Maira dengan erat. Air matanya terus mengalir.
“Kaka napa angis?” tanya Maira melihat air mata yang mengalir di pipi Hanifa.
“Kakak tidak apa-apa, Maira,” jawab Hanifa. Hanifa mencium pipi Maira lalu memeluknya.
Tak lama kemudian Hanifa mendengar suara ribut-ribut di luar kamar. Terdengar suara orang menggedor pintu dengan kencang dari luar kamar. Hanifa membuka pintu kamar mandi.
“Hanifa,” Ricky memanggilnya dari luar kamar.
“Abang.” Hanifa dan Maira keluar dari kamar mandi dan membuka pintu kamar. Ricky sedang berdiri di luar pintu kamar bersama dengan beberapa orang laki-laki.
“Aya,” Maira memeluk Ayahnya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ricky.
“Hanifa tidak apa-apa, Bang,” jawab Hanifa.
“Aya, Kaka menangis telus,” kata Maira.
Ricky memandang wajah Hanifa. “Kamu menangis?” tanya Ricky.
“Hanifa takut, Bang,” jawab Hanifa.
“Pelakunya langsung kabur ketika melihat Abang datang,” kata Ricky.
Tiba-tiba Zuldin melihat sesuatu yang bergerak dari balik pohon. “Hei! Siapa di situ?” seru Zuldin.
Dua orang perempuan keluar dari balik pohon teh-tehan. “Kalian? Sedang apa kalian di situ?” tanya Arga.
“Pak Ricky! Ita dan Intan mengumpat di belakang pohon teh-tehan,” kata Arga.
Ricky kelusr dari kamar dan menghampiri Ita dan Intan. “Ngapai kalian di situ?” tanya Ricky.
Ita dan Intan tidak berani menjawab, mereka hanya menundukkan kepala.
“Kalian sudah lama di situ?” tanya Ricky. Intan dan Ita mengangguk.
“Berarti kalian melihat kejadian tadi?” tanya Ricky. Ita dan Intan mengangguk.
“Kalian melihat kejadian itu, tapi kalian tidak memberitahu kepada saya?” tanya Ricky dengan marah.
“Apakah kalian tau kalau kalau nyawa calon istri saya dan nyawa anak saya terancam? Dan kalian anggap itu cuma tontonan biasa?” tanya Ricky.
“Hah, calon istri? Bukankah dia pengasuh anak Bapak?” tanya Ita kaget.
“Dia pengasuh anak saya sekaligus calon istri saya,” jawab Ricky.
“Maafkan kami, Pak. Kami tidak tau kalau orang itu berniat jahat kepada pengasuh. Eehhh salah, maksud saya calon istri dan anak Bapak. Tadinya kami mengira lelaki itu kekasih calon istri Bapak, yang sengaja datang di saat Bapak sedang tidak di kamar. Terbesitlah niat kami untuk merekam dan melaporkannya kepada Bapak. Tapi ternyata lelaki itu bukan kekasih calon istri Bapak, melainkan orang yang berniat jahat,” kata Intan.
“Mana ponselnya? Saya mau melihat hasil rekaman kalian,” kata Ricky.
Ita memberikan ponselnya kepada Ricky. Ricky melihat hasil rekaman Ita.
“Loh, ini bukannya laki-laki yang menghampirimu ketika makan malam?” tanya Ricky.
“Coba Hanifa lihat, Bang,” kata Hanifa.
Ricky memberikan ponsel Ita kepada Hanifa. Hanifa memperhatikan rekaman itu.
“Iya, Bang. Mirip dengan lelaki itu,” kata Hanifa.
“Sepertinya ia sudah mengincarmu. Kita harus segera lapor ke polisi,” kata Ricky.
“Kalian berdua ikut dengan saya ke kantor polisi. Kalian menjadi saksi kejadian ini,” kata Ricky.
“Kami tidak mau ikut! Kami takut,” kata Intan.
“Kalian kan yang membuat ulah. Kalian malah merekam kejadian itu bukan memberitahu kepada saya kalau ada yang berusaha masuk ke kamar saya,” kata Ricky dengan kesal.
“Bagaimana caranya kami memberitahu Bapak? Sedangkan kami saja tidak berani keluar dari tempat persembunyian kami,” jawab Ita.
“Kalian bisa kirim pesan ke saya atau video call saya memperlihatkan kejadian itu ke saya. Bukannya malah asyik melihat orang yang sedang berbuat jahat,” kata Ricky.
“Maafkan kami, Pak,” ucap Intan.
“Jangan ulangi lagi perbuatan seperti itu! Sekarang kalian ikut dengan saya ke kantor polisi,” kata Ricky.
Ricky masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil.
“Ayo kita ke kantor polisi,” kata Ricky kepada Hanifa.
Hanifa menggendong Maira dan membawanya keluar kamar. Sementara itu Ricky mengunci pintu kamar.
“Zuldin, kalau ada yang mencari saya bilang saya pergi ke kantor polisi,” kata Ricky.
“Baik, Pak,” jawab Zuldin.
“Kalian berdua, masuk ke dalam mobil!” seru Ricky kepada Intan dan ita.
Ricky dan Hanifa masuk ke dalam mobil. Ita dan Intan juga ikut masuk ke dalam mobil. Merekapun pergi ke kantor polisi terdekat.
SEMOGA NOVEL VIVIN & ERIC SGERA LAUNCING...