NovelToon NovelToon
ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda
Popularitas:724
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Asisten Duda CEO Tajir Melintir

Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.

Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.

Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.

Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musuh di balik bayangan

Malam menyelimuti Kota New York.

Lampu-lampu Wesley Corporation masih menyala meski jam telah melewati tengah malam.

Di ruang CEO, Galaxy berdiri menghadap jendela besar.

Kemenangan atas Victor seharusnya menjadi kabar baik.

Namun firasatnya mengatakan semua ini belum berakhir.

Ucapan terakhir Victor terus terngiang di benaknya.

"Masih ada seseorang yang lebih tinggi dariku."

Grizella masuk membawa dua cangkir kopi hangat.

"Anda belum pulang?"

Galaxy tersenyum tipis.

"Kalau CEO pulang lebih dulu, siapa yang akan menyelesaikan semua kekacauan ini?"

Grizella meletakkan kopi di atas meja.

"Kadang-kadang..."

"Seorang CEO juga butuh istirahat."

Galaxy menatapnya beberapa detik.

"Lalu siapa yang akan mengingatkanku?"

Grizella tersenyum hangat.

"Saya."

Jawaban singkat itu membuat senyum Galaxy semakin lebar.

Di ruang rapat utama, Aaron, Alexander, Vanessa, Adrian, Elena, dan Komandan Ethan telah berkumpul.

Sebuah layar besar menampilkan isi kartu memori emas.

Aaron membuka pembahasan.

"Kami berhasil memulihkan sebagian datanya."

"Namun file-file penting dienkripsi."

Vanessa mengangguk.

"Seseorang sengaja membuat lapisan keamanan yang sangat rumit."

Adrian memperhatikan layar.

"Ini bukan pekerjaan Victor."

Semua menoleh kepadanya.

"Kalau begitu milik siapa?"

Adrian menarik napas panjang.

"Hanya ada satu orang yang mampu membuat sistem seperti ini."

Galaxy memasuki ruang rapat.

"Siapa?"

Adrian menjawab dengan suara pelan.

"Pendiri asli The Black Crown."

Ruangan langsung sunyi.

Alexander mengerutkan kening.

"Dia masih hidup?"

Adrian menggeleng.

"Tidak ada yang tahu."

"Selama puluhan tahun..."

"Tidak seorang pun pernah melihat wajahnya."

Aaron membuka file lain.

Di layar muncul simbol mahkota hitam dengan seekor burung gagak di tengahnya.

"Ini lambang yang berbeda."

Ethan mengangguk.

"Benar."

"Burung gagak adalah simbol kelompok inti."

"Hanya orang-orang tertentu yang pernah melihatnya."

Galaxy memandang simbol itu.

"Berarti..."

"Victor bukan pemimpin tertinggi."

"Tepat."

jawab Ethan.

"Dia hanya menjalankan perintah."

Tiba-tiba komputer berbunyi.

Akses berhasil dibuka.

Semua orang langsung menatap layar.

Sebuah video lama mulai diputar.

Gambar yang muncul masih buram.

Namun perlahan menjadi jelas.

Terlihat seorang pria bertopi duduk membelakangi kamera.

Suaranya terdengar berat.

"Jika kalian menonton rekaman ini..."

"Berarti Victor telah gagal."

Galaxy mengepalkan tangannya.

Pria itu seolah sudah mengetahui semua yang akan terjadi.

Video terus berjalan.

"Namaku tidak penting."

"Dunia mengenalku dengan satu julukan."

Beberapa detik kemudian...

Pria itu berdiri.

Meski wajahnya tetap tersembunyi, sebuah cincin bergambar burung gagak tampak jelas di tangannya.

"Aku adalah..."

"The Raven."

Seluruh ruangan membeku.

Ethan langsung berdiri.

"Itu tidak mungkin."

Galaxy menoleh.

"Kau mengenalnya?"

Ethan mengangguk perlahan.

"Dua puluh lima tahun lalu..."

"The Raven dinyatakan tewas."

Video mendadak terputus.

Layar berubah hitam.

Lalu muncul satu kalimat.

"Sampai jumpa di London."

Semua orang saling berpandangan.

Galaxy memejamkan mata beberapa detik.

Ia sadar...

Perang mereka tidak lagi terbatas di New York.

Musuh baru telah memanggil mereka ke panggung berikutnya.

Dan kali ini...

Lawan mereka adalah sosok yang bahkan ditakuti oleh Victor Wesley.

Ruangan rapat masih diselimuti keheningan.

Tulisan "Sampai jumpa di London." masih terpampang di layar.

Galaxy memecah kesunyian.

"Kenapa London?"

Komandan Ethan Ward menyilangkan kedua tangannya.

"Karena di sanalah markas lama jaringan keuangan The Black Crown."

"Banyak transaksi mereka bermula dari sana."

Vanessa menambahkan, "Kalau The Raven benar-benar masih hidup, kemungkinan besar dia sedang memancing kita."

Aaron membuka peta digital dunia.

Beberapa titik merah bermunculan.

"New York."

"Black Haven."

"Lalu London."

Adrian memperhatikan pola itu.

"Ini bukan titik acak."

Galaxy mengangguk.

"Dia sedang membentuk jalur."

"Dan kita baru melihat sebagian kecilnya."

Grizella yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Kalau memang ini jebakan..."

"Kenapa kita harus datang?"

Semua mata tertuju padanya.

Galaxy tersenyum tipis.

"Karena kalau kita tidak datang..."

"Kita tidak akan pernah menghentikan semua ini."

Elena memegang tangan putrinya.

"Apa pun keputusanmu, Ibu akan mendukungmu."

Grizella mengangguk mantap.

"Kalau begitu saya ikut."

Beberapa jam kemudian, Aaron menerima panggilan dari tim keamanan perusahaan.

"Tuan Galaxy."

"Kami menemukan sesuatu di ruang kerja Victor."

Galaxy langsung berdiri.

"Apa itu?"

"Sebuah brankas rahasia."

"Dan brankas itu hanya bisa dibuka menggunakan sidik jari anggota keluarga Wesley."

Galaxy segera menuju ruang kerja yang sebelumnya ditempati Victor.

Brankas itu tersembunyi di balik lukisan tua.

Galaxy meletakkan telapak tangannya pada pemindai.

Akses diterima.

Pintu brankas terbuka perlahan.

Di dalamnya hanya ada tiga benda.

Sebuah paspor.

Sebuah jam saku antik.

Dan secarik tiket kereta menuju London.

Di balik tiket itu tertulis satu kalimat dengan tinta hitam.

"Jangan percaya orang pertama yang menyambutmu di sana."

Galaxy langsung teringat isi surat Elena.

"Jangan percaya orang yang selalu datang paling akhir."

Dua pesan berbeda.

Dua peringatan.

Seolah mereka tidak tahu lagi kepada siapa harus percaya.

Vanessa memeriksa jam saku antik itu.

"Tunggu."

"Jam ini tidak berjalan."

Ia menekan tombol kecil di sisinya.

Klik.

Bagian belakang jam terbuka.

Di dalamnya tersimpan sebuah kunci kecil dengan ukiran burung gagak.

Ethan menarik napas pelan.

"Ini bukan kunci biasa."

"Ini simbol akses untuk salah satu ruang arsip rahasia di London."

Galaxy menggenggam kunci itu.

"Berarti kita memang harus ke sana."

Di tempat yang tidak diketahui...

Seorang pria duduk di depan perapian.

Wajahnya masih tersembunyi dalam bayangan.

Salah seorang anak buahnya berkata,

"Tuan."

"Mereka menemukan kunci itu."

Pria tersebut hanya tersenyum.

"Bagus."

"Biarkan mereka datang."

"Permainan catur akan jauh lebih menarik jika semua bidak berada di papan."

Ia mengambil sebuah foto lama.

Di dalam foto itu tampak seorang anak laki-laki kecil berdiri bersama ayah Galaxy.

Pria itu mengusap foto tersebut perlahan.

"Lama sekali kita tidak bertemu..."

"Galaxy."

Kalimat itu diucapkan dengan nada yang tidak terdengar penuh kebencian.

Justru...

Seolah menyimpan penyesalan yang sangat dalam.

Di saat yang sama, pesawat pribadi Wesley Corporation kembali dipersiapkan.

Tujuan berikutnya telah ditetapkan.

London, Inggris.

Namun tak seorang pun menyadari...

Seseorang di dalam rombongan mereka diam-diam mengirim pesan rahasia.

"Target sedang menuju London."

Pesan itu berhasil terkirim.

Fajar mulai menyingsing ketika jet pribadi Wesley Corporation lepas landas menuju London.

Di dalam kabin, tidak seorang pun benar-benar bisa beristirahat.

Semua masih memikirkan satu hal.

Siapakah pengkhianat yang diam-diam mengirim informasi kepada musuh?

Galaxy berdiri di dekat jendela pesawat.

Grizella menghampirinya sambil membawa secangkir kopi.

"Anda belum tidur?"

Galaxy tersenyum tipis.

"Masih banyak yang harus kupikirkan."

Grizella menyerahkan cangkir itu.

"Kalau Anda terus memaksa diri, siapa yang akan memimpin kami nanti?"

Galaxy menerima kopi tersebut.

Tatapannya melembut.

"Terima kasih."

Untuk sesaat, keduanya menikmati keheningan tanpa membicarakan perang, pengkhianatan, atau The Black Crown.

Di bagian belakang kabin, Aaron memeriksa rekaman kamera keamanan dari kantor Wesley Corporation.

Ia memperbesar salah satu rekaman.

"Tunggu..."

Alexander mendekat.

"Ada apa?"

Aaron menunjuk layar.

"Sebelum Victor ditangkap, seseorang masuk ke ruang arsip."

Vanessa ikut memperhatikan.

Wajah orang itu tertutup topi dan masker.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian.

Di pergelangan tangan kirinya terdapat tato kecil berbentuk burung gagak.

Ethan menghela napas pelan.

"Berarti penyusup itu memang bagian dari kelompok inti."

Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di bandara pribadi London.

Begitu keluar dari terminal, rombongan sudah disambut oleh iring-iringan mobil hitam.

Seorang pria tua berjas rapi membungkukkan badan.

"Selamat datang di London, Tuan Galaxy."

Galaxy teringat pesan yang ditemukan di brankas Victor.

"Jangan percaya orang pertama yang menyambutmu di sana."

Ia tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia mengamati pria itu dengan tenang.

"Siapa Anda?"

Pria itu tersenyum ramah.

"Saya Arthur Bennett."

"Pengacara lama keluarga Wesley di Inggris."

Galaxy tetap waspada.

"Terima kasih atas sambutannya."

"Tapi kami akan menggunakan kendaraan kami sendiri."

Ekspresi Arthur berubah sesaat, lalu kembali tersenyum.

"Tentu saja."

Ia membungkuk sebelum pergi.

Grizella berbisik pelan,

"Anda curiga padanya?"

Galaxy mengangguk.

"Aku tidak akan mengabaikan peringatan sekecil apa pun."

Mereka menuju sebuah hotel tua yang selama puluhan tahun menjadi properti keluarga Wesley.

Sesampainya di sana, Ethan memeriksa seluruh area bersama timnya.

"Sementara aman."

Aaron kemudian membawa jam saku dan kunci kecil ke atas meja.

"Besok pagi kita menuju ruang arsip rahasia."

Vanessa mengangguk.

"Mudah-mudahan jawaban yang kita cari ada di sana."

Malam mulai turun.

Tanpa sepengetahuan rombongan, Arthur Bennett memasuki sebuah bangunan tua di pinggiran London.

Di ruang yang remang-remang itu telah menunggu seorang pria dengan wajah masih tersembunyi.

Arthur menundukkan kepala.

"Mereka tidak mempercayai saya."

Pria itu tertawa pelan.

"Bagus."

"Berarti Galaxy memang anak yang cerdas."

Arthur mengangkat kepala.

"Apa perintah berikutnya, Tuan?"

Pria misterius itu menatap papan catur di depannya.

Ia menggerakkan sebuah bidak raja.

"Lanjutkan rencana tahap kedua."

"Besok..."

"Biarkan mereka menemukan ruang arsip."

"Karena yang mereka temukan di sana akan menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain."

Pria itu lalu menatap sebuah foto lama yang memperlihatkan dirinya berdiri bersama ayah Galaxy puluhan tahun lalu.

Untuk pertama kalinya, sebagian wajahnya terlihat dalam cahaya.

Di pipinya terdapat bekas luka panjang.

Ia tersenyum tipis.

"Selamat datang di London, Galaxy."

"Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Tanpa diketahui siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!