Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Setelah berpamitan, mereka berangkat pulang. Di dalam mobil hanya ada keheningan. Sebenarnya Laras ingin bicara, tapi rasa lelah membuatnya tak punya tenaga. Raka mulai merasa tak nyaman dengan diamnya, lalu berusaha memulai pembicaraan.
“Kamu mau mampir kemana dulu, atau ada yang ingin dibeli?” tanyanya sekadar basa‑basi.
Laras tersenyum lembut sambil menatap suaminya yang mulai lebih perhatian. “Kita langsung pulang saja ya Kak. Aku cuma butuh istirahat.”
Raka melihat wajah dan suara Laras yang terdengar sangat lelah, jadi ia mulai khawatir.
“Kamu kenapa? Perlu kita berobat dulu? Sepertinya kondisimu kurang baik,” ujarnya.
“Tidak perlu Kak. Nanti kalau sudah sampai di apartemen aku akan minum obat,” jawab Laras tanpa sadar.
“Obat? Kamu sakit?” tanya Raka penasaran.
“Eh… maksudku vitamin. Aku cuma lelah karena tugas kuliah belakangan ini terlalu banyak,” jawabnya berusaha menutupi.
Tak ada lagi obrolan. Laras yang sangat lelah memejamkan mata, sedangkan Raka kembali menyetir. Sesampainya di tempat, ia menepuk bahu istrinya pelan‑pelan.
“Laras, bangun. Kita sudah sampai.”
“Baik Kak,” jawabnya sambil mengumpulkan sisa tenaga.
Raka sudah turun dan menunggu, tapi heran karena Laras masih lama di dalam.
“Kenapa lama sekali? Tidur lagi ya?” tanyanya sambil membuka pintu. “Ayo turun. Apa Mau tidur di mobil? Atau perlu digendong? Jangan terlalu manja, aku tidak suka wanita seperti itu.”
Laras tersenyum kecil, lalu berusaha turun perlahan. Baru beberapa langkah, pandangannya mendadak kabur dan pusing sekali hingga tubuhnya terhuyung. Raka yang curiga sejak tadi langsung bergerak cepat dan menangkapnya tepat saat tubuhnya hampir jatuh.
“Astaga, kenapa kamu begini? Kamu sakit? Ayo kita ke dokter,” ujarnya cemas.
“Tidak perlu Kak… aku cuma butuh istirahat. Tolong bawa aku masuk saja,” bisiknya lemah.
Tanpa ragu Raka langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk dalam gendongan. Laras melingkarkan tangan di lehernya dan menyandarkan kepala di dada suaminya, memejamkan mata karena rasa pusing semakin berat.
Sesampainya di kamar, Raka meletakkan Laras perlahan ke atas kasur. Ia juga melepaskan sepatu istrinya, lalu menyeka keringat di dahi Laras.
“Kamu butuh apa? Biar aku ambilkan,” tanyanya lembut.
“Obat… tolong ambilkan di laci meja rias,” jawab Laras sambil menahan rasa nyeri di dadanya.
Raka menarik selimut agar istrinya bisa tidur nyenyak. Setelah Laras minum obat, ia menyuruhnya istirahat dulu. Setelah yakin Laras sudah tertidur, barulah ia berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Belum merasa mengantuk, Raka menyalakan televisi dan duduk di sofa. Matanya melihat layar, tapi pikirannya terus tertuju pada kondisi Laras. Ada rasa curiga yang timbul, tapi ia tak ingin langsung berprasangka buruk. Akhirnya ia memutuskan ikut istirahat dan baru akan bertanya lebih lanjut besok.
Ia masuk kembali ke kamar dan berbaring di samping Laras yang sudah tidur pulas.
*****
Keesokan harinya, cahaya matahari masuk lewat celah gorden dan membangunkan Laras. Ia duduk perlahan karena tubuh masih terasa lemas. Menoleh ke samping, ternyata Raka tidak ada di sana.
“Kemana Kak Raka? Tidur di kamar lain?” pikirnya dalam hati. Sedikit kecewa karena tidak menemukannya di sisi tempat tidur.
Saat sedang melamun, pintu terbuka. Laras menoleh dan melihat Raka masuk membawa nampan.
“Dari mana Kak?” tanyanya kaget.
“Dari dapur, menyiapkan sarapan untukmu,” jawab Raka sambil tersenyum dan meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.
“Kakak bisa masak?” tanyanya dengan kagum.
“Bisa saja. Memangnya kamu terbiasa dilayani seperti anak manja,” ujar Raka tanpa berpikir panjang.
Laras menunduk sedih. “Maaf… aku belum bisa menjadi istri yang Kakak harapkan.”
Raka segera sadar ucapannya menyakiti hati istrinya. “Tidak apa‑apa. Bukankah kamu sedang belajar? Aku akan menunggu sampai kamu siap. Nah, makanlah dulu,” ujarnya sambil menyodorkan semangkuk bubur. Ia membuka jendela dan gorden agar udara segar masuk ke kamar, lalu membiarkan Laras makan perlahan‑lahan.
Setelah selesai, Raka kembali bertanya dengan perhatian.
“Ada lagi yang kamu butuhkan? Bilang saja, biar ku ambilkan.”
“Aku mau ke kamar mandi, Kak,” jawab Laras pelan.
“Ayo, biar aku gendong,” tawar Raka.
“Tidak perlu Kak, aku bisa jalan sendiri,” tolak Laras halus.
“Yakin? Sudah cukup kuat?” tanyanya lagi untuk memastikan.
Laras mengangguk, lalu turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Saat istrinya masih di dalam, Raka segera merapikan kamar. Hari ini hari libur, ia tidak perlu ke kantor. Ia juga tidak mau membiarkan Laras bekerja di rumah karena tahu kondisinya belum pulih sepenuhnya.
Setelah selesai merapikan, ia membawa mangkuk bekas ke dapur dan membereskan sisa masakan tadi. Meski anak tunggal dan pewaris usaha besar, Raka terbiasa mandiri. Orang tuanya tidak memanjakan dia karena sejak kuliah di luar negeri ia sudah belajar mengurus semuanya sendiri.
“Kakak, biar aku saja yang membereskan,” kata Laras begitu keluar dari kamar mandi. Ia merasa tidak enak melihat suaminya sibuk di rumah.
“Tidak, istirahat saja di kamar. Aku tidak tega membiarkanmu bekerja saat belum sehat,” jawab Raka tegas tapi lembut.