Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Ruang Operasi Dan Doa Sepanjang Malam
Jam 20.30 sampai di RS Harapan, Galen langsung di masukkan ke ruang operasi. Lampu merah menyala ‘SEDANG OPERASI’ Nabila duduk di luar, sambil memeluk Dira yang trauma karena Dira terus mengulang.
"Maaf kak... maaf karena aku..." Ucap Dira tidak bisa melanjutkan ucapannya
Nabila menggeleng lalu mengusap rambut Dira.
"Bukan salahmu, ini salah orang jahat. Dan Tuhan sudah tolong kita" Jawab Nabila
Pak Anton duduk di samping.
"Dia kuat, Nabila. Dia dokter" Ujar Pak Anton
Nabila mengangguk tapi air matanya tidak berhenti, di dalam ruang operasi dokter bekerja 4 jam.
Peluru dikeluarkan pembuluh darah dijahit.
Jam 00.45 lampu mati, dokter keluar dengan wajahnya lelahnya
"Operasi berhasil. Pasien sempat kritis tapi sudah stabil. 24 jam ke depan masa penentuan" Ucap Dokter, Nabila langsung jatuh terduduk dan menangis.
"Terima kasih Tuhan... terima kasih Yesus..." Ujar Nabila menatap ke atas.
"Tuhan... aku janji kalau Galen sembuh... kami akan hidup untuk-Mu. Buka yayasan itu, untuk menolong orang lain seperti yang Engkau tolong kami" Lanjut Nabila
00.45 AM - RS Harapan, Koridor ICU Lampu merah mati. Suara roda ranjang krek krek terdengar, Galen digeser keluar. Wajahnya ditutup selang oksigen, Infus 3 jalur, monitor di dorong bersamaan Nabila langsung lari ngikutin.
"Galen... Galen..." Teriak Nabila
Perawat menahan.
"Bu, tunggu di luar dulu. Kami mau pasang alat di ICU" Ucap Perawat, Nabila terduduk di kursi lututnya nggak kuat lalu Dira langsung peluk dia.
"Kak... Kak Galen bakal baik-baik aja kan?" Tanya Dira
Nabila mengangguk sambil nangis.
"Iya, Tuhan pasti tolong. Tuhan nggak tidur" Jawab Nabila
10 menit rasanya 10 tahun, pintu ICU kebuka.
"Boleh jenguk 5 menit. 1 orang." Ujar Dokter lalu Nabila masuk.
Nabila masuk ke dalam ruangan dingin, bau antiseptic dan melihat Galen terbaring. Seluruh tubuhnya ada alat, di bahu kanan perban tebal, ada bercak darah. Tapi dia napas dadanya naik turun, dan monitor terdengar Tit... tit... tit...
Nabila duduk lalu menggenggam tangan kanan Galen, yang tidak ada infus.
"Galen... aku Nabila. Aku di sini." Ucap Nabila, tidak ada jawaban
Nabila menunduk, berdoa.
"Tuhan Yesus... ini anak-Mu. Hamba-Mu Galen. Engkau kenal dia dari kandungan. Engkau yang bentuk dia. Sekarang aku serahkan dia ke dalam tangan-Mu. Jamah lukanya. Pulihkan tubuhnya. Kuatkan jantungnya. Kalau memang ini waktu-Mu, aku percaya rencana-Mu indah. Dalam nama Yesus. Amin." Ucap Nabila dengan air matanya jatuh ke selimut.
*****
Jam 02.10, alarm berbunyi. BEEP BEEP membuat perawat panik.
"Demamnya naik! 39.2°C!"
Mereka langsung kasih obat lewat infus, kompres, kipas. Nabila disuruh keluar, dia berdiri di depan pintu kaca sambil melihat dan gemetar.
"Tuhan... tolong..." Bisik Nabila terus.
15 menit kemudian alarm berhenti, dan Perawat keluar.
"Sudah turun ke 38.5°C. Masih kami pantau." Ucap Perawat,
Nabila langsung sujud di lantai koridor.
"Terima kasih Tuhan... terima kasih..."
Jam 04.20 Galen mengerang, Nabila langsung masuk. Kali ini dia diizinkan lebih lama.
"Galen? Sayang? Kamu sakit?" Mata Galen terbuka setengah. Kabur.
"Nab... Nabila..." Suaranya seperti kertas.
"Iya aku di sini. Minum dulu ya." Nabila basahi bibir Galen pake kapas. Galen menatap Nabila. Lama.
"Kamu... nangis?" Tanya Galen
"Nggak," Bohong Nabila.
"Ini keringat." Tambah Nabila
Galen tersenyum lemah.
"Pembohong..." Ujar Galen
"Diam! Kamu yang harus sembuh!" Bentak Nabila pelan.
Lalu dia langsung nyesel.
"Maaf... aku takut..." Lanjut Nabila, Galen mengangkat jarinya untuk mengusap pipi Nabila. "Jangan takut ada Tuhan, ada aku." Ucap Galen
"Janji?" Tanya Galen
"Janji. Janji di Atas Luka" Jawab Nabila
Galen tertidur lagi tapi kali ini sambil genggam tangan Nabila
*****
Jam 09.00
Masuk ke dalam ruangan Galen, karena Galen sudah di pindahkan di ruang rawat inap.
"Kamu harus makan Nabila, kalau kamu sakit siapa yang jagain dia?" Ujar Pak Anton
Galen menghela napas lega.
"Syukur... Tuhan baik" Ucap Galenlangsung menoleh ke Nabila langsung sujud di samping ranjang.
"Iya. Tuhan baik. Sangat baik."Galen menatap Nabila ada lingkaran hitam di mata Nabila dan rambutnya berantakan.
"Kamu... nggak tidur ya?" Tanya Galen
"Nggak mau, takut kamu bangun terus nggak ada aku" Jawab Nabila
Galen tertawa kecil…
"Bodoh" Ucap Galen
"Iya aku bodoh karena cinta sama kamu," Jawab Nabila jujur.
"Makasih udah nggak ninggalin" Kata Galen
"Mana mungkin, kamu rumahku. Aku nggak akan ninggalin rumahku." Jawab Nabila menggeleng.
Galen menggenggam tangan Nabila.
"Besok kalau aku udah bisa jalan... kita ke gereja ya. Kita kasih persembahan syukur." Ucap Galen
"Iya dan kita doa buat Arvin juga, biar dia bertobat" Jawab Nabila
Galen mengangguk.
"Itu baru kamu, punya hati Tuhan" Ujar Galen
Mereka saling menatap di tengah luka, di ruangan itu ada kasih, ada Tuhan, ada harapan. Galen berbisik terakhir sebelum tidur.
"Aku sayang kamu, Nabila" Bisik Galen
Nabila menjawab sambil nangis bahagia.
"Aku juga sayang kamu, Galen" Jawab Nabila
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam 5 bulan. ereka tidur tanpa takut dikejar.