Zareena sungguh tidak menyangka jika kedatangannya ke rumah sang kakak malah bertemu sosok pria menyebalkan bernama Tristan. Lebih parahnya lagi, saudaranya malah menitipkan dirinya kepada pria itu. Lantas, apa yang terjadi? Tristan yang merupakan casanova dan Zareena yang ingin melepaskan kegadisannya. Siapa di antara mereka yang akan takluk lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Level
Perlahan Zareena menarik bibirnya dari permainan belitan yang luar biasa hangat. Namun, Tristan merasa kehilangan. Ia ingin lagi, dan secara naluri, tubuh Zareena ia sandarkan di dinding tembok. Ia menangkup tengkuk leher wanita itu kemudian kembali merapatkan bibir.
Zareena menempatkan satu telapak tangan di pinggang Tristan, lalu satu lagi di tubuh bidang pria itu. Tristan hangat dan begitu kokoh. Zareena dapat merasakan jika jantung Tristan yang berdegup kencang sama seperti keadaannya saat ini.
"Buka bibirmu," ucap Tristan.
"Kau kecanduan mengecup bibirku?"
"Lihatlah, untuk saling membelit saja kau tidak bisa."
"Kalau kau tidak suka dengan permainanku, kenapa kau ingin terus merapatkan dirimu padaku?" kata Zareena.
"Hanya ingin mengajarimu cara membelit bibir dan saling menyatukan lidah," ucap Tristan berdusta.
"Karena kau mengatakan hal demikian, lebih baik menghentikan permainan ini sekarang juga. Asal kau tau jika kau bukanlah satu-satunya pria yang pernah aku sentuh bibirnya."
"Oh, ya." Tristan tertawa. "Kalau begitu tunjukan keahlianmu itu, Nona."
Zareena menangkup kedua pundak Tristan kemudian merapatkan lagi bibirnya di atas bibir pria itu. Kecupan mendalam, kuat, mendesak, dan tanpa ampun.
Tristan terus menggoda, menggigit hingga Zareena mencengkeram pundak dari pria itu. Lidah Tristan masuk menyapu habis bagian dalam mulutnya. Satu tangan pria itu mengitari punggung belakangnya, lalu turun ke bawah memijat bagian berisi dari tubuh Zareena.
Tristan menekan, merapatkan dirinya hingga Zareena merasakan tubuh mereka saling bergesekkan. Ia dapat merasa bagian terlarang Tristan yang keras dan mendesaknya.
Ibu jari Tristan membelai tengkuk, Zareena menengadah agar pria itu semakin dalam mengecup bibirnya. Ia hanyut dan begitu pasrah atas kelembutan itu.
"Aku ingin terus mengecup bibirmu sampai kau lupa namamu sendiri. Aku ingin menyentuhmu hingga kau puas. Aku ingin melihat dirimu polos di atas tempat tidurku. Menjerit atas namaku ketika aku membawamu ke puncak kenikmatan," bisik Tristan. "Kita bisa melakukannya jika kau mengizinkan itu, Zareena."
Zareena menatap mata yang saat ini tengah memohon. Jari telunjuknya membelai dari kelopak mata, tulang hidung hingga turun ke bibir. Zareena sengaja membuat Tristan mencucup jari telunjuknya kemudian jemari itu turun ke jakun dan berhenti ketika kemeja Tristan menghalangi.
"Ucapanmu ini sangat plin-plan. Tadi kau bilang tidak tertarik padaku. Buktinya apa sekarang?" Zareena menusuk jantung Tristan dengan jari telunjuknya.
"Apa? Itu tadi, tetapi sekarang aku ingin mengajakmu berpetualangan."
Zareena mendorong Tristan agar menjauh darinya. "Aku pernah bilang padamu. Kau tidak layak untuk bersamaku."
Zareena melangkah pergi, tetapi Tristan meraih tangannya. "Jujur saja padaku jika kau juga tergoda. Kau menikmatinya."
"Aku wanita normal, tetapi aku tidak akan pernah tidur bersama pria bekas sepertimu."
Tristan tercengang. "Apa kau bilang?" tanyanya ketika ia sadar kembali. "Pria bekas?"
Zareena melepaskan tangan dari pegangan Tristan. "Kau bukan levelku."
Setelah mengucapkan itu, Zareena berjalan meninggalkan Tristan. Tidak dapat percaya jika ia telah diremehkan oleh seorang wanita. Zareena, bahkan mengatakan kalau ia bukan level wanita itu.
"Sial! Berani sekali dia," umpat Tristan yang menyugar rambutnya ke belakang, lalu berkacak pinggang. Ia emosi, tetapi tidak ada hal yang bisa ia jadikan sebagai bahan pelampiasan amarahnya itu. "Dalam satu bulan, Zareena. Aku akan memilikimu dalam waktu satu bulan. Percaya atau tidak, kau sendiri yang akan menyerahkan dirimu padaku."
Bersambung