Mahawira adalah penjelmaan dari pecahan jiwa penguasa semesta, kelahirannya bertujuan untuk menegakan keadilan dan kebenaran menolong yang tertindas dan membantu yang lemah.
Dengan sifatnya yang santun dan rendah hati, penampilan yang tampan, tubuhnya yang tinggi serta aroma wangi tubuhnya. Wira selalu menjadi incaran para gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deharung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 15. Dunia kecil 5
Singo Edan meloncat kearena melihat sahabat baiknya dikalahkan, "Aku memohon pelajaran darimu Komandan Cupak," kata Singo Edan merendah.
Setelah memberi hormat kearah podimum, kemudian pada wasit, Singo Edan berhadapan dengan Cupak. Wasit memberi tanda untuk memulai pertandingan,
"Aku harap kamu tidak menantangku karna dendam atas kekalahannya Sardula, tapi karna kompetisi yang wajar," kata Cupak,
"Tadinya aku emosi melihat kekalahan Sardula namun setelah aku pikirkan lagi Sardula pantas diberi pelajaran, lagian kamu menang karna memang lebih unggul. Tidak ada dendam diantara kita," ucap Singo Edan
Kali ini Singo Edan yang menyerang lebih dulu, dia lebih berhati-hati, belajar dari kekalahan Sardula yang menyakitkan tanpa sempat memberi perlawanan.
Singo Edan memiliki postur tubuh yang cukup kekar dan tinggi yang normal, namun memiliki rambut yang agak lebat sampai melewati bahu dengan warna yang kekuning-kuningan, dalam Medan perang dia terkenal Trengginas, itu yang membuat dia dijuluki Singo Edan.
Menghadapi lawan yang bertubuh pendek memang sedikit sulit, ketika memukul lawan, posisi akan sedikit membungkuk, membuat badan agak condong kedepan jika lawan memiliki kecepatan lebih dan gerakan yang lincah itu menjadi keuntungan.
Cupak memiliki kecepatan yang lebih dibanding Singo Edan dan mampu memanfaatkan kondisi dengan baik, ketika Singo Edan memukul kearah kepalanya Cupak tidak menangkis tapi menangkap pukulan Singo Edan, melihat tangannya hendak ditangkap Singo Edan menarik tangannya dan mengganti dengan tendangan.
Cupak menangkis tendangan dan memberi pukulan ke perut, Singo Edan menangkis dengan siku kearah luar sembari koprol sedikit ke kiri untuk melebarkan jarak.
Singo Edan menarik goloknya, dia menyadari jika bertarung jarak dekat dia akan sangat dirugikan, melihat lawan sudah mulai menggunakan senjata Cupak mengambil senjata Palu Besar yang ada di pinggangnya, Cupak menggunakan sepasang palu besar dengan gagang sekitar 30 centimeter.
Singo Edan mulai menyerang dengan goloknya sambil terus berusaha menjaga jarak, begitu juga Cupak menangkis serangan Singo Edan sambil terus merangsek untuk mencari celah menyarangkan palunya.
Pada satu kesempatan Cupak berhasil menghajar paha Singo Edan membuat Singo Edan tidak lagi bisa berdiri dengan baik,
"Jika dilanjutkan aku bisa terluka tambah parah, sebaiknya menyerah," pikir Singo Edan.
Aku mengaku kalah, terima kasih atas pelajarannya kata Singo Edan.
Pemenangnya komandan Cupak Basur, kata wasit yang memimpin pertandingan.
"Gagak Rimang..........."
"Gagak Rimang..........."
"Gagak Rimang..........."
Para penonton yang sebagian besar adalah prajurit, menyemangati Gagak Rimang salah satu komandan prajurit yang lumayan terkenal.
Gagak Rimang naik ke arena, tubuhnya terlihat kokoh tingginya diatas rata-rata orang biasa, 210 cm, dia membawa senjata seperti gada yang penuh dengan duri.
Gagak Rimang memberi hormat pada raja dan para pembesar, kemudian pada wasit.
"Kuharap kamu masih memiliki energi yang cukup Cupak," kata Gagak Rimang.
"Tenang Rimang, masih cukup untuk mengalahkanmu."
Mereka langsung saling gempur begitu wasit mengatakan mulai, dari dua komandan yang sudah dikalahkan oleh Cupak Gagak Rimang bisa belajar, dia sama sekali tidak membuka peluang bagi Cupak untuk mendekati dirinya.
Cupak terlihat prustasi karna sama sekali tidak bisa mendekat untuk memberikan serangan, Cupak hanya bisa menangkis dan menghindar namun demikian Gagak Rimang juga belum bisa mendaratkan serangan ke tubuh lawannya.
Pertandingan sudah berjalan hampi 20 menit namun belum ada tanda ada yang kalah, hanya saja duri-duri di senjata gada Gagak Rimang sudah banyak yang patah karna benturan dengan Palunya Cupak Basur.
Suatu ketika saat Cupak Basur sedikit mati langkah karna terlalu bernafsu untuk menyerang sehingga bagian perutnya terbuka, Gagak Rimang memanfaatkan peluang dengan menonjok perut Cupak, Cupak yang tangannya masih keatas sambil memegang gada tidak punya kesempatan untuk menghindar,
Gagak Rimang mendorong gadanya dengan sekuat tenaga dengan kedua tangan untuk mengalahkan Cupak dalam sekali pukul.
"Ngeeek......"
"Praak..........."
Cupak seketika muntah darah dan pingsan, karna tonjokan keras gada berduri milik Gagak Rimang.
Sementara Gagak Rimang juga telentang tidak bangun, sebagian penonton menduga Gagak Rimang sangat kelelahan,
"Seri.........," wasit mengumumkan
Wasit menyuruh prajurit yang berjaga untuk menggotong keduanya keruang pengobatan.
Penonton yang tidak sempat memperhatikan kejadian diarena masih bengong keheranan melihat Gagak Rimang pingsan tanpa alasan.
Ketika Cupak menyadari tidak memiliki peluang untuk menghindar, Cupak juga melihat kecerobohan Gagak Rimang yang menggunakan kedua tangannya dengan tenaga penuh untuk menonjok perut Cupak.
Gagak Rimang yakin menang dengan sekali pukulan kerasnya akan menjatuhkan lawan, percaya diri berlebihan membuat dia lengah hingga terlambat menyadari ketika Cupak melempar gadanya dengan sekuat tenaga dan tepat mengenai rahangnya.
Setelah kedua petarung dibawa keruang pengobatan, Srengenge Bang naik ke arena setelah memberi hormat dia berdiri menunggu lawan.
"Jika tidak ada yang naik maka aku akan menantang..."
Belum selesai Srengenge Bang berkata...
Jleg.....
Rangga Wilis mendarat diarena dengan manis,
"Biar aku temani kakang beberapa jurus," ucapnya, kemudian Rangga Wilis menghadap ke podium memberi hormat.
Rangga Wilis komandan terbaik di seluruh pasukan Raja Wreksa Sena, selisih sedikit dengan Srengenge Bang, mereka sama-sama putra menteri, sama-sama menaruh hati pada Putri Citra Sasmita.
Kultivasi mereka sama dilevel Pendekar Raja tingkat puncak pada usia mereka yang masih sangat muda.
Srengenge Bang usia 30 tahun sementara Rangga Wilis 29 tahun, sebenarnya bukan hanya mereka yang menaruh hati pada Putri Citra Sasmita, beberapa jenderal muda, yang belum menikah dan usianya juga masih terbilang muda ingin juga menjadi kekasih sang putri.
"Kenapa kalian bengong, ayo mulai," mereka tidak memperhatikan ketika wasit menyuruh mulai. Mereka asik dalam lamunannya masing-masing.
"Lihat serangan...," Rangga Wilis mulai menyerang, Srengenge Bang menangkis sembari menyerang balik.
Mereka bertukar serangan dalam tempo yang semakin cepat, ratusan jurus telah berlalu dengan cepat, belum ada diantara mereka yang dapat mengenai lawannya.
Srengenge Bang mencabut pedangnya,
"Pusaka Bumi," seru penonton ramai
Rangga Wilis juga mencabut pedangnya sedikit lebih panjang dari pedang milik Srengenge Bang,
"Sama-sama Pusaka Bumi" teriak penonton takjub.
Pertukaran jurus kembali dilakukan oleh mereka
Trang....trang.....Trang....Trang
Trang....trang.....Trang....Trang
Trang....trang.....Trang....Trang
Ratusan jurus sudah mereka arahkan pada lawan, susah menebak siapa yang akan unggul dalam pertandingan ini.
Setelah sekian lama mereka sama-sama ingin mengakhiri pertandingan dengan jurus Pamungkas yang mereka miliki,
Pedang mengejar Pelangi........,
Pedang Bayangan.........,
Trang.....Trang.....Trang.....Trang....
Percikan api keluar dari benturan pedang mereka
Duaaarr........
Ledakan terjadi akibat jurus mereka yang saling berbenturan dengan aliran tenaga dalam yang cukup besar.
Uhuuk....uhuuk...
Srengenge Bang mengeluarkan darah dari mulutnya, kondisi Rangga Wilis sedikit lebih baik dari lawannya.
"Rangga Wilis menang," demikian wasit mengumumkan, kemudian wasit memberi waktu 5 menit bagi Rangga Wilis untuk memulihkan energinya.
"Jika berkenan aku ingin mengundang Jenderal Muda Lalang Linggar untuk memberiku beberapa petunjuk," Rangga Wilis menantang dengan halus.
Lalang Linggar sudah dari tadi mencari cara agar bisa naik ke arena untuk menunjukkan kebolehannya dihadapan Panglima Ringkin dan putrinya.
Diam-diam Lalang Linggar menaruh hati pada Nilotama putri Panglima Ringkin, dia sangat cemburu melihat ada pemuda lain didekat Nilotama.
Dewi Nilotama walaupun masih sangat muda, tetapi memiliki kecantikan dan tubuh layaknya gadis dewasa, walaupun sifatnya terkadang masih kekanakan.
"Bagaimana Jenderal Muda apakah anda bersedia?" Rangga Wilis melanjutkan
Jleg.........
Lalang Linggar meloncat keatas arena, "Aku terima tantanganmu," ucapnya,
Setelah memberi hormat pada Raja dan Pembesar lainnya dia bersiap untuk bertanding.
"Rangga apa kamu yakin dengan tantanganmu" wasit menanyakan keyakinan Rangga mengingat mereka dilevel yang berbeda, Lalang Linggar Pendekar Suci tingkat 1, sementara Rangga Wilis Pendekar Raja tingkat puncak.
Wasit memberi perintah mulai setelah Rangga yakin untuk bertanding.
Mereka mulai bertarung makin lama makin cepat gerakan keduanya dalam melancarkan serangan-serangannya, selang 15 menit Lalang Linggar mulai terlihat mendominasi jalannya pertandingan. Tak berapa lama Rangga Wilis menyerah pada lawannya.
"Lalang Linggar menang" teriak wasit
Rangga turun dari arena, walaupun kalah tapi sudah mampu memberikan perlawanan yang maksimal dia tidak terlalu kecewa.
"Beda level memang sangat berarti....
Walau terlihat dekat, Pendekar Raja tingkat puncak dengan Pendekar Suci tingkat awal tetapi tenaga mereka selisih jauh," rekan-rekan sesama komandan mengomentari hasil pertandingan Rangga Wilis dan Lalang Linggar.
aku mampir nih.
mampir juga di karyaku ya😊😊
aku kirim mawar yahhh
padahal kesemsem tuh pemimpinnya..
ternyata oh ternyata 😂