NovelToon NovelToon
The Shadow Fears

The Shadow Fears

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Horor / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:345.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Adine Indriani

Menceritakan tentang Detektif Dean sebagai seorang Kapten polisi yang memecahkan misteri pada kasus-kasus pembunuhannya. Petualangannya bersama rekannya Bima membawa mereka pada pengalaman mengungkap para pembunuh di sekitarnya. Ada kasus yang benar-benar membuat Dean akhirnya mengungkap trauma masalah lalunya. Pertemuannya dengan korban pemerkosaan di sebuah Kampung Orang menjadi titik awal bagi Dean mengulik pikiran seorang pembunuh.

Cerita ini akan membawamu ikut berpetualang dalam misteri dan aksi yang menakjubkan. Kamu akan terbawa oleh pikiran terkelam seorang pembunuh hingga tidak menyadari jika mereka ada di dekatmu. Jangan pernah lengah untuk selalu berhati-hati karena bisa jadi kamu ada dalam pikiran seorang pembunuh.

Pembunuh yang haus akan keinginan membunuhnya.

#Novel ini sarat dengan adegan horor, aksi dan misteri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adine Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 Kampung Orang Gempar

 

Satu persatu orangtua dari anak yang ada difoto-foto koleksi Pak Abi dipanggil ke kantor polisi. Satu kampung orang menjadi gempar.

 

Baru kali ini ada peristiwa kejahatan sebesar ini, yang memakan korban cukup banyak, yaitu puluhan anak-anak usia 4 tahun hingga 12 tahun. Usia ini tergolong usia anak-anak yang belum akhil baligh.

Diagnosa atas kejiwaan Pak Abi adalah Pedofilia, yang orientasi seksualnya menyukai anak-anak. Jika anak itu sudah dewasa, dirasa

tidak diperlukan lagi. Pelaku akan mencarinya lagi yang usianya lebih muda.

Terkadang terdapat ikatan batin antara korban dengan pelaku pedofilia, terutama korban pertama Mbak Suci yang sejak umur 4 tahun sampai SMP mengalami pelecehan dan perkosaan.

 

Terdapat rasa cemburu karena Pak Abi mencari seseorang yang lebih muda darinya. Suci merasa perannya tergantikan oleh anak perempuan lain. Sehingga, ada rasa ingin menjebloskan anak-anak itu, yaitu Dian untuk diberikan kepada laki-laki yang memasuki masa pubertas seperti Dewa. Kebetulan Dewa yang dikenalnya karena sekolah mereka berdekatan dan sering pulang bersama.

Disinyalir Suci menjadi kaki tangan Pak Abi untuk menarik korban-korban baru itu mendatangi rumah Pak Abi. Diiming-imingi permen, coklat

bahkan uang. Tetapi Suci telah menjadi korban pembunuhan sehingga bukti-bukti yang mengaitkan seluruhnya terputus. Kapten Dean dan seluruh jajaran mengalami kebuntuan sekali lagi.

Ada yang bersedia datang memenuhi panggilan polisi, banyak juga yang enggan mendatanginya. Mereka merasa itu adalah aib anak-anak mereka yang ingin dikubur dalam-dalam. Aib itu telah merusak masa depan anak-anak dan orangtua.

Banyak orangtua terkadang tidak memikirkan psikis atau kejiwaan anak-anak yang sudah menjadi korban.

Seandainya mereka bersedia, pihak polisi akan bekerjasama dengan badan penyuluhan untuk memberikan konseling secara terpadu bagi korban pelecehan dan perkosaan. Sebab jika tidak disembuhkan maka trauma itu akan berkepanjangan yang akan mempengaruhi kehidupannya, bahkan sangat berbahaya jika

ada pemicunya maka kemungkinan besar korban yang akan berbalik menjadi predator.

***

“Syukurlah anak kita bukan korban dari Pak Abi yah Yah.”

“Sudah jangan sebut lagi nama itu dirumah ini, muak aku mendengar namanya.”

“Manusia biadab!” Ayah yang emosi mendengar namanya disebut.

Enggar mendengar dari balik kamarnya ketika Ayah dan Ibunya mengucap syukur. Dirinya semakin tenggelam dalam kegelapan yang sulit

untuk naik kepermukaan. Tidak ada lagi sinar harapan untuk kembali seperti dulu, semuanya terasa semakin larut dalam hisapan pasir yang merenggut tubuhnya kedalam hingga kelelahan untuk bangkit. Sudah terlambat baginya.

***

“Kapten Dean, menurut anda apakah ini ada kaitannya dengan korban pembunuhan sebelumnya yaitu Abi Sasongko?” Wartawan jurnalistik itu menembus kerumunan.

“Masih dalam tahap penyelidikan,” Kapten Dean menjawab singkat.

“Jika benar ada kaitannya, apakah ini pembunuhan berantai?”

“Kami belum bisa mengungkapkan bukti-bukti apakah mengarah kesana atau tidak karena .…” kata-katanya terpotong.

“Apakah kepolisian kesulitan mengungkap siapa pembunuhnya karena kurangnya bukti?”

Kapten Dean memberikan kode kepada bawahannya untuk menghalau wartawan tersebut.

“Kapten Dean, Kapten … masyarakat berhak tahu karena jika pembunuhnya masih berkeliaran itu akan menyebabkan keresahan dan ketakutan?”

Kapten Dean hanya berlalu dengan Bima yang segera mendapatkan panggilan dari Komandan.

“Sial,” keluh Kapten Dean terganggu.

“Wartawan itu menyebalkan tapi sangat cerdas.” Bima membalasnya. Kapten Dean memberikan Bima pandangan yang tidak biasa, seakan ingin mengatakan, aku akan menghajarmu saat ini.

 

“Siap Kapten,” tutur Bima yang paham akan ancaman pandangan itu.

Sesampainya dikantor pusat Kapten Dean dan Bima memenuhi panggilan Komandan untuk memberikan laporan sementara tentang kasus pembunuhan di Kampung Orang yang sedang ditangani. Ketika Dean dan Bima masuk keruangan itu, Komandan sedang menerima telepon dari Komisaris Jenderal.

“Kapten, saya dengar kasus yang satu ini telah menyulitkan apa betul?”

“Lapor Komandan, kasus ini mengalami progresif. Kami yakin akan segera menemukan pembunuhnya.”

“Ada perintah langsung dari atasan karena kasus ini menyita perhatian lebih dari seluruh masyarakat, jadi prioritaskan kasus ini dan segera temukan pembunuhnya. Jika dalam minggu ini belum ada titik terangnya kasus ini akan dilimpahkan ke divisi khusus, mengerti!”

“Siap Komandan!”

“Satu lagi, mulai sekarang akan ada juru bicara khusus mengenai kasus ini, karena wawancaramu dengan wartawan itu justru menambah polemik,”

“Siap.”

“Silakan kembali.”

“Siap Komandan.”

 ***

Komandan ingin kasus ini ditangani dengan cepat dan tanggap. Jangan sampai ada korban lagi dan memberikan kita tenggat waktu hingga pekan depan. Jika dalam waktu itu kita belum bisa menangkap pembunuhnya, maka kasus ini akan dilimpahkan. Dan tentu saja kerja keras kita selama ini tidak akan ada artinya.

“Bima segera perintahkan tim kita untuk lembur,”

 

 “Siap Kapten.”

***

1
Apin Zen
Nice
.
nice thor
Elina Simbolon
kubaca ulang untuk ke 4 kalinya 🤗
Ariful
nak tumpang promote cerita saya “KIUB” terima kasih
xsisih
kembali bersama ? berarti sebelumnya sudah pernah bertemu
xsisih
penasaran
xsisih
kereen banget Thor
xsisih
nyesel baru nemuin ni novel
Adinda
duh sedih...😥
Adinda
sempat mengira enggar akan bunuh diri ternyata benar
Adinda
dari awal saya menebak memang enggar pelakunya walau ada keraguan yang bunuh c abi adalah suci
Adinda
jadi tanda tanya ketika ingat dialog c abi dan perempuan yang mendatanginya. kamu sudah besar sekarang dan bertambah cantik. apakah kamu menyukainya dan ingin mengulanginya. suci kah yang membunuh c abi?
Adinda
c abi kayaknya enggar yang bunuh deh. tapi tebakan saya dari awal enggar yang bunuh semua
Adinda
mungkin kedatangan edgar dalam kehidupan enggar untuk menebus rasa bersalahnya
Adinda
nah part ini masih teka-teki
Adinda
saya berempati dengan tokoh enggar. semoga dia baik-baik saja. artinya tidak sampai di ketahui polisi kalau dia pembunuhnya.
Adinda
hahaha ada dialog kocak juga
Adinda
ternyata foto enggar tidak ada dalam file c abi y...
Adinda
geram dengan c abi. kepengen dia di hidupkan lagi dan di bunuh berulang-ulang dengan cara yang sangat menyakitkan
Adinda
semoga edgar bisa menghapuskan semua trauma enggar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!