Hira Arinta perempuan memiliki banyak talenta yang diwarisi oleh ayahnya. Hidup Hira selalu di bawah kendali orang tuanya, keinginan terbesar orang tuanya yaitu menjadi dokter bedah. Namun, Hira mematahkan harapan keduanya dengan mengambil jurusan desain komunikasi visual.
Tidak ada cinta dan kasih sayang yang Hira dapatkan sejak kedua orang tuanya mengusir dari rumah dimana tempat selalu mendapatkan cinta.
"Aku membenci kata cinta yang meruntuhkan cita-cita ku."
Bintang Aditya Prawira pria berprofesi sebagai tentara berpangkat Kolonel, berstatus duda. Memiliki putri cantik bernama Kihana, Adit harus menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk Kihana. Cintanya tidak bisa terukur untuk sang putri, kehilangan sosok ibu tidak akan kehilangan juga sosok ayah, baginya Kihana prioritas utama.
Tuhan berkehendak lain, Adit dipertemukan dengan sosok Hira Arinta yang penuh misterius.
"Aku akan menumbuhkan dan memberikan cinta yang pernah hilang dalam hidupmu." Bintang Aditya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NatiaGeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput wali nikah
Aditya membawa Hira menuju apartemen miliknya yang dibelinya tahun lalu setelah kepulangan dari Amerika. Aditya menempelkan jari Hira untuk memindai sidik jari dengan kode unit Apartemennya.
"Ayo masuk." Aditya membawakan sepatu milik Hira, baju dan toga Hira sudah lepas sejak di halaman belakang gedung DkV tadi.
"Apartemen ini bukan hasil sogokan kan? Aku takut nanti di grebek komisi korupsi menerima hadiah gratifikasi dari Tentara." Ucap Hira melihat kondisi Apartemen milik Aditya.
"Saya lupa menceritakan kepada kamu...Profesi saya memang Tentara namun usaha keluarga saya untuk menunjang kehidupan ini....Ini hasil jerih payah di luar pekerjaan saya sebagai Tentara." Tidak ada nada tersinggung yang diucapkan Aditya kepada Hira.
Hira melirik semua yang ada dalam unit milik Aditya, ada empat kamar tidur, ruang keluarga disatukan dengan ruang makan. Matanya melihat ke arah dapur, kitchen set yang lengkap dengan peralatan.
Hira tergugu dengan gaya hidup Aditya, dia baru tahu jika Aditya bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki apartemen yang bisa Hira taksirkan harganya miliaran rupiah di tengah jantung kota Surabaya.
"Ayo saya antar ke kamar yang akan kamu tempati." Aditya berjalan ke arah kamar yang berada di dekat ruang keluarga.
Hira masuk ke kamar ini, kamar dengan desain interior mewah seperti hotel bintang lima. Tempat tidur ukuran king size, ada ruang kerja kecil dekat balkon dan walk in closed.
Ada kejanggalan ditemukan Hira di kamar ini, tidak satupun dia menemukan foto mendiang istri Aditya.
"Ini kamar Abang dengan Mama Kihana ya." Hira ingin memastikan jika dia tidak menempati kamar yang salah.
"Olivia tidak pernah datang ke sini....saya beli juga baru tahun lalu....kamu orang pertama yang akan menghuni kamar utama ini." Aditya membuka pintu balkon penghubung dengan kamar ini.
Hira mengikuti Aditya yang berdiri di sana, pria itu berdiam lama melihat pemandangan kota Surabaya dari kamar ini.
"Arinta... apapun yang akan terjadi pada kedua keluarga kita...saya ingin kamu tetap berada di samping saya...kamu harus setia dengan janji pernikahan kita...saya tidak terima diduakan di hati kamu... walaupun saat ini saya tidak tahu perasaan kamu terhadap saya."
Hira ikut menatap jauh pemandangan di atas balkon kamar utama ini, Hira tidak menyangka jika Aditya akan membawanya ke hubungan pernikahan.
"Sebenarnya aku yang akan takut diduakan di Hati Abang....Bersaing dengan bayangan masa lalu....Aku tidak siap hidup dalam bayangan Mama Kihana...Aku tidak siap kembali merasa dikecewakan yang tidak berujung."
Aditya langsung menoleh ke arah Hira, perempuan yang seperti ini yang Aditya cari. Memberitahu jika tidak suka maka dia akan bertindak sesuai kemauan pasangannya. Perempuan yang mengeluarkan pendapat apa yang harus dilakukan pasangannya untuk bisa senyaman mungkin berinteraksi.
"Empat tahun bagi saya cukup untuk mencari pengganti dia.... Perasaan saya untuk dia sebatas kasih sayang ibu dari anak saya tidak lebih...kamu harus tahu perasaan saya berbeda kepada kamu...kamu akan tahu ketika kita menikah nanti." Senyuman Aditya terukir indah bersamaan dengan matahari terbenam di ufuk barat.
Hari ini tidak melulu dengan kesedihan yang dirasakan Hira, bahagia ada seorang yang selalu menginginkan keberadaanya.
"Ini masakan pertama aku untuk Abang...semoga suka masakan khas Sumatra." Hira menghidangkan gulai kepala kakap yang di lihatnya dari salah satu juara kompetisi memasak yaitu masakan lord Adi.
Sudah lama Aditya tidak merasakan dilayani seperti kepala keluarga, nasi dan lauk pauknya di tata indah dalam piring makan miliknya oleh Hira.
Baru satu suapan, mata Aditya tertutup untuk meresapi kelezatan masakan Hira. Perempuan ini sangat pandai memanjakan lidah pasangannya.
"Masakan kamu enak sekali...Arin...saya bangga kamu memiliki multitalenta...selalu ada kejutan setiap hari." Aditya tidak segan meminta tambah kepada Hira.
Keduanya menikmati makan sepiring berdua, ini permintaan Aditya agar Hira tidak perlu susah mencuci piring sisa makan mereka.
"Saya pamit ya kembali ke Asrama....kamu jaga diri....besok pagi saya jemput kamu kita ke bandara untuk bertemu kakak kamu." Aditya berjalan menuju pintu keluar.
"Abang hati-hati di jalan.... terima kasih untuk hari ini."
"Bolehkah saya memberikan hadiah agar bermimpi indah nantinya." Aditya maju mengecup kening Hira, lama bibir Aditya berada di kening Hira.
"Kamu tutup pintu...baru saya pergi." Aditya ingin memastikan Hira dalam kondisi aman.
Malam ini Aditya akan bertemu bagian administrasi kantor agar bisa melakukan nikah kantor, dokumen penting Hira sudah dikirimnya lewat email.
Ini empat tahun terakhir Hira merasakan tidur nyenyak, ia seperti ratu semalam. Tidur tenang tanpa ada beban hidup yang dipikirkan selama ini.
Keduanya menuju bandara Juanda Surabaya untuk menjemput kedatangan Arvind kakak Hira, Aditya meminta langsung agar calon kakak iparnya bisa pulang ke Indonesia sehari setelah melamar Hira.
Hira hanya memakai baju kaos putih dipadukan dengan celana katun warna krem, dengan rambut di ikat sempurna. Aditya juga memakai pakaian lebih santai, kemeja dan celana jins tidak ada yang melekat di tubuh keduanya barang barang mewah.
"Adek.....Kakak datang." Suara Arvind terdengar nyaring tempat kedatangan penumpang dari luar negeri.
"Kakak Avin....Adek kangen....aku udah jadi sarjana.... Kakak ga ucapkan selamat gitu." Hira langsung memeluk kakak laki-laki yang tidak bertemu empat tahun terakhir.
"Selamat adek cantik...yang selalu di sayang Kakak Arvind Johana Siregar....ini hadiah dari kampung pengeran Charles." Arvind mengurai pelukannya lalu memberikan Hira sebuah jam tangan mewah untuk pencapaian Hira di bidang akademik.
Interaksi keduanya tidak luput dari penglihatan Aditya, tidak seperti yang dibayangkan Aditya jika kakak Hira itu galak dan menyeramkan.
"Kakak sendiri....istrinya ga ikut."
"Berli harus ikut kompetisi teknologi penerbangan di sana...kakak juga ga bisa lama di sini."
Hira berjalan ke arah Aditya yang menunggunya di ruang tunggu penumpang, terlihat wajah tegang Aditya yang akan bertemu Arvind.
"Kakak kenalkan ini calon suami adek...Abang Aditya Prawira."
"Hai bro....bisa juga meruntuhkan hati si Butet....selamat ya...aku udah dengar cerita lu kemaren sore langsung ambil penerbangan malam." Arvind mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Aditya.
Umur Arvind dengan Aditya, dua tahun lebih tua Aditya sehingga Arvind meminta Aditya tidak memanggil dia kakak atau Abang.
"Selamat datang...saya senang kamu menerima saya dengan tangan terbuka."
"Butet...kenapa kagak bilang kalau calon suami kau duda hot... ini pasti rebutan wanita yang ingin jadi ibu Persit." Arvind tertawa melihat wajah memerah keduanya yang tidak habisnya untuk di goda.
Arvind akan menjadi wali nikah Hira ya🤔
BPK nya