Celaka!
Anastasha Andromeda terlambat mengetahui bahwa dia sedang hamil, saat lelaki yang ditemuinya beberapa kali justru dikabarkan meninggal dunia.
Beberapa tahun berlalu, sebuah surat misterius datang ke kediamannya di Izmir, Turki.
Dasha Andromeda, sang putri yang penasaran dengan pengirim surat tersebut, mendesak Anastasha untuk kembali ke Swiss.
Siapakah pengirim surat itu? Mampukah Dasha membantu sang ibu membuka pintu hatinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurwahidah Bi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Kedatangan Dasha Part 1
Hari untuk rapat pemegang saham itu akhirnya tiba juga.
Sebuah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Gina Ainsley. Hari yang sudah dipersiapkannya dengan matang.
Gina Ainsley berdiri di depan wardrobe-nya dan agak kesulitan menentukan pakaian formal apa yang harus dipakainya hari ini. Para pelayan pribadinya berdiri di belakang Gina sambil menunggu aba-aba darinya.
"Apakah aku harus memakai outer berwarna brimestone atau jade?" gumamnya serius. "Mereka terlalu terang!" Lanjutnya memilah-milah pakaian di hadapan.
"Bagaimana dengan yang ini, Nona?" saran seorang pelayan menunjuk warna blanc dan champagne.
"Haruskah aku memakainya?" Gina memiringkan kepala, mulutnya bengkok seiring dengan wajah serius yang ditampakkan.
"Bibi!" seru Dasha tiba-tiba masuk ke dalam kamar Gina.
"Apa yang kau lakukan di kamarku!" seru Gina begitu melihat Dasha menginjak lantai kamar dalam keadaan basah dan hanya mengenakan handuk.
"Maafkan aku, Nona," ujar pelayanan yang sedang mengejar Dasha.
"Kau sudah selesai mandi?" tanya Gina menunjuk dahi Dasha yang hendak mendekatinya.
"Hmm! Aku juga ingin memilih baju!" Dasha menjadi bersemangat.
"Pakaian nona kecil sudah kami siapkan di kamarmu, ikutlah denganku ya nona kecil," tawar pelayan yang sedari tadi mengikutinya.
"Kau tidak mendengar perkataannya?" tanya Gina kesal. "Kau tidak mengerti ucapannya? Bahkan pelayanku sedang bicara menggunakan bahasa Inggris padamu! Ah, menyebalkan." Lanjut Gina menghentakkan kaki.
"Apa aku masih belum bisa menelepon ibuku? Dia pasti panik sekarang, karena aku belum bicara dengannya." Dasha malah bicara tentang Anastasha, dia mengelilingi ruangan ganti Gina dengan penuh penasaran.
"Aku sudah menelepon ibumu, dia baik-baik saja," ucap Gina pasrah.
"Kenapa ibuku belum datang?" tanya Dasha menyandarkan badannya di meja penyimpanan aksesoris milik Gina.
"Cepat bawa dia pergi!" perintah Gina pada pelayan, pelayan tersebut lekas memeluk dan mengangkat tubuh Dasha pergi dari ruangan pribadi Gina. "Warna apa tadi katamu?" ucap Gina pada pelayan di sampingnya dengan nada tinggi.
"Yang ini," ujarnya menunjuk dua warna yang dia tak tahu namanya.
"Sepertinya blanc cocok untuk hari ini. Baiklah, kalian semua keluar! Aku akan memilih bajunya!" perintah Gina sambil mengembuskan napas lega.
"Baik, Nona!" jawab kedua pelayan mundur pergi dari kamar Gina.
***
Rumah yang ditinggalinya bersama Dasha selama beberapa hari ini, sepertinya akan kembali sepi. Karena Gina harus ikut pergi dengan Dasha, tinggal di rumah keluarga besar Ainsley nantinya.
Rumah ini, hanya rumah kedua. Tempat di mana Gina Ainsley menghabiskan uang dan bertingkah di luar etika-etika dan aturan dalam rumah.
Gina Ainsley pun pergi membawa Dasha saat rapat pemegang saham sedang berlangsung dan berniat menggagalkan rencana pemindahan beberapa saham atas nama Julian.
Alasan terbesar Gina melakukan ini, karena dia merupakan putri tertua keluarga Ainsley. Sedangkan Julian, hanya anak dari istri kedua. Ya, Dayana Ainsley adalah istri kedua dari Jack Ainsley. Ayah Julian menikahi seorang putri dari pebisnis dan penerus perusahaan sepatu dari Yunani.
Wanita elegan itu bertranformasi menjadi wanita dingin dan tegas, dia menyamaratakan Gina dan Julian. Membuat Gina lupa bahwa posisi orang yang dipanggilnya ibu adalah ibu tiri.
Nyonya Ainsley sendiri menikah dengan Tuan Ainsley saat Gina masih berumur 4 tahun. Jauh lebih muda dari Dasha. Gina pun tidak punya rasa benci terhadap ibu sambungnya itu, sampai pada suatu hari....
Enam tahun lalu, beberapa minggu sebelum Anastasha Andromeda pergi ke rumah keluarga Ainsley. Ayahnya memutuskan akan memberikan perusahaan cokelatnya kepada Julian yang bahkan masih belum berkeinginan pulang ke rumah, sebagai anak muda yang hanya hobi bertualang dan akan mendapatkan hak-hak atas kerja kerasnya, tentu membuat darah Gina mendidih. Padahal selama ini yang membantu menjalankan kedua perusahaan milik ayah dan ibu tirinya adalah Gina.
Gina merasa dikhianati bahkan oleh ayah kandungnya sendiri. Benih-benih kebencian pun perlahan tumbuh, sebagai putri tertua dirinya berhak atas perusahaan ayahnya. Gina yang awalnya bahkan tidak peduli bagaimana perusahaan ibu tirinya akan berakhir, malah menjadi tamak dan menginginkan perusahaan itu juga.
Dibuatlah beberapa rencana, termasuk kecelakaan Julian. Tanpa tahu, bahwa Julian sudah membuat duplikat dirinya pada Dasha.
***
Pintu terbuka, Gina Ainsley berdiri di depan meja panjang dengan celana pendek, kemeja white flower dan outer berwarna blanc. Lipstik merahnya menyala, rambut ekstensi-nya tergerai cantik melewati dada terjulur ke bawah perut.
Orang-orang dalam ruangan terkejut dengan kedatangan Gina.
"Lagi-lagi kalian mengadakan rapat darurat tanpaku?" sindirnya menggeleng.
"Nona Ainsley!" seru salah seorang di antara peserta rapat darurat.
"Ya, aku juga bagian dari keluarga Ainsley. Apa diskriminasi terhadap wanita berlaku di kalangan kalian?" Gina melangkah perlahan menuju ujung meja yang kosong. Di seberang sana ada Jack Ainsley yang terdiam.
"Kami sedang—"
"Menentukan pembagian saham, kan?" potong Gina melirik kesal ke arah wanita sebaya nyonya Ainsley yang hendak beralasan. "Aku tahu betul hal itu, tapi bagaimana ini? Sepertinya kalian harus memikirkan kembali kredibilitas adikku itu?"
"Apa maksudmu?" tanya seseorang berjas hijau emerald, dengan rambut yang memutih.
"Julian, apa yang terjadi padamu?" seru Gina memiringkan kepalanya. Membuat kening Julian terangkat. "Kau bahkan dulu tidak betah di rumah, berpura-pura jadi apoteker dan memperdaya wanita di luaran sana." Lanjutnya terkikik.
"Tutup mulutmu!" Jack Ainsley membentaknya.
"Ayah, apa aku bahkan tidak bisa bicara sekarang?" tanya Gina terdengar sarkas.
"Kau tidak pulang ke rumah selama beberapa hari dan datang hanya untuk mengacaukan hari ini?" Ayahnya berdiri sambil menahan emosi.
Tangan kecil tiba-tiba muncul dari belakang dan menyentuh jari jemari Gina, Gina tersenyum. Dasha berjalan perlahan ke arah depan Gina.
"Bibi?" Suara Dasha membuat Julian terperanjat.
Mata Julian terbelalak saat menemukan bocah yang sudah ditinggalkan di Izmir tiba-tiba ada di Swiss terlebih di kantornya.
"Dasha, sambutlah ayah dan kakekmu!" Gina tertawa sambil menutupi mulutnya dengan clutch ungu tua yang sama sekali tidak matching dengan baju dan rambutnya.
"Dasha!" seru Julian begitu melihat Dasha berdiri di depannya. Mata Julian beralih ke belakang Gina, mengira bahwa Anastasha datang, padahal semalam dia baru saja mengirim pesan kepada Anastasha.
"Siapa itu?" tanya Jack Ainsley sinis.
"Kau tidak mengenali cucumu sendiri?" Gina bicara dengan pura-pura terkejut.
Para pemegang saham dan peserta rapat terdiam, hanya saling menatap keheranan.
"Apa? Cucu?" Tuan Ainsley tersentak.
"Gadis kecil itu cucumu, Jack?" tanya lelaki tua di sebelahnya.
"Anak siapa?" tanya suara lainnya terdengar sama-sama terkejut.
"Tidak mungkin anak Gina, dia bahkan tidak pernah punya pacar," seloroh wanita elegan di tengah peserta rapat.
"Berhenti mengolokku, Nyonya Thunder," sela Gina menatapnya tajam.
"Paman?" panggil Dasha menatap Julian. Julian dengan ragu-ragu mengulurkan tangannya pada Dasha.
"Julian, siapa dia?" tanya lelaki di sebelah ayahnya.
"Maafkan aku, itu adalah putriku," jawab Julian pelan.
"Apa?" ujar lelaki bernama Tuan Smith itu begitu terkejut.
"Kapan kau punya anak, bukannya kau sedang sakit?" tanya Nyonya Thunder berdiri dan menatap Julian dengan pandangan risih.
"Aku—"
"Julian menelantarkan anaknya, sungguh lelaki yang tidak bertanggungjawab jawab," potong Gina mendramatisir keadaan.
Julian yang memang sudah tahu bahwa Dasha adalah putrinya memilih mengalah dan meminta maaf atas keteledorannya dan menelantarkan anak kandungnya.
"Sekali lagi, maafkan aku, Tuan Smith, Nyonya Thunder dan semua direksi yang hadir hari ini." Julian menundukkan kepalanya dan masih menunggu Dasha menghampiri dirinya.
"Julian!" bentak ayahnya terkejut.
"Dasha, kemarilah," ucap Julian menatap Dasha. Dasha pun menatap Gina yang tangannya sedang digenggam erat-erat.
"Apa maksudmu, paman?" tanya Dasha akhirnya melepaskan tangan Gina dan berjalan di belakang para direksi yang duduk di kursi sambil memperhatikan langkah nona muda itu.
"Dasha, aku merindukanmu!" Julian tanpa segan memeluk Dasha yang sampai di hadapannya. "Terima kasih sudah datang."
"Julian!" seru Tuan Ainsley membuat Dasha kaget.
"Putriku belum tahu bahwa aku adalah ayahnya. Dia hanya bisa bahasa Turki dan Inggris, jadi aku harus menjelaskan semua yang terjadi padanya, dari pada harus menjelaskan pada kalian," ungkapnya terdengar berani bertanggung jawab.
Tuan Ainsley roboh di kursinya, sesuatu yang tidak terduga bagi Gina. "Ayah!" serunya berlari menuju ujung meja rapat.
"Kau anak nakal!" cecar Tuan Ainsley pada Gina.
Gina mendekati ayahnya dan berbisik, "berikan aku perusahaanmu!"
"Kau!" Tuan Ainsley terkejut mendengar ucapan itu keluar dari mulut putrinya.
"Kau tidak punya penyakit jantung, jangan berpura-pura jika malu," bisik Gina tersenyum.
"Aku pergi dulu, ada baiknya rapat hari ini kita tunda saja. Ayo, Dasha!" Julian memeluk Dasha dan membawanya pergi dari ruangan yang dipenuhi orang dewasa yang berbahasa Jerman. Sebuah lingkungan yang pasti akan membuat Dasha shock.
Rapat pemegang saham akan dijadwalkan kembali, dengan kemungkinan Gina Ainsley terpilih lebih tinggi. Gina puas, ayahnya bahkan tidak bisa murka pada Gina karena sikap Gina membuatnya sadar bahwa tak ada keadilan bagi putrinya itu.
***
Seorang wanita berambut hitam menyala, tampak gusar saat mendengar kabar yang datang dari ayahnya. Ayahnya yang baru saja pulang dari rapat pemegang saham, mengabarkan tentang Julian dan putrinya.
Rosella Smith, sebagai calon istri Julian meminta ayahnya, Tuan Smith untuk tetap memberikan saham dan dukungan penuh kepada Julian. Karena Rosella tetap akan menikahi Julian, entah ada Dasha atau tidak.
***
Dasha pun menginjakkan kakinya di rumah keluarga Ainsley, Dasha bersiap menjadi primadona di rumah barunya.
Nenek dan kakeknya sama sekali tidak menganggap Dasha sebagai ancaman, keduanya malah senang dengan kedatangan Dasha. Dasha pun seolah ingin memamerkan ibunya kepada orang-orang, nenek dan kakeknya tidak melarang.
***
Bersambung
tpi syngnya orng kya trllu brlbihan
dri awal dah membodohkn drinya smpai dah punya ank ju msih bodoh dsar wanita pling membodohkn dri