Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Panggung Peradilan Terbuka
Cakrawala langit di atas Planet Akuma-0 muncul lambat di balik gumpalan awan beracun yang mendidih, memancarkan warna keunguan yang suram dan pekat. Hari yang dinantikan oleh seluruh lapisan klan Shinto akhirnya tiba, membawa hawa ketegangan politik yang luar biasa berat. Hari ini adalah Hari Ujian Suksesi Takhta Pedang, sebuah panggung peradilan militer terbuka yang akan menentukan siapakah pendekar tertinggi yang layak mewarisi nama besar kerajaan, sekaligus memegang tongkat komando militer tertinggi Kuadran Utara.
Begitu fajar pertama selesai bergulir, kompleks lapangan tengah Perguruan Batu Hitam telah berubah menjadi lautan manusia yang kaku. Ribuan pasang mata murid muda, perwira, dan para petinggi telah memadati area tribun kehormatan, membentuk formasi lingkaran raksasa yang mengitari Altar Baja Utama. Altar tersebut merupakan pelat raksasa seberat ratusan ribu ton yang terbuat dari logam baja berlapis batu hitam kuno. Altar itu sengaja ditempa di bawah pusaran gaya gravitasi yang seratus kali lipat lebih ekstrem, murni agar strukturnya tidak hancur lebur oleh amukan tenaga para ksatria yang akan bertarung.
Di atas panggung kehormatan tertinggi, Dewan Tetua yang dipimpin oleh Tetua Kaelen telah duduk bersila dengan angkuh. Wajah besinya berkilat merah pekat penuh kesombongan, sementara selir tiri Renka duduk di sampingnya sambil mengibas ngibaskan kipas sutra mewahnya yang bersulam benang perak. Di seberang tribun mereka, berdiri rombongan kereta melayang mewah milik faksi Kuil Tinggi pimpinan Gendo Kuil Tinggi. Gendo duduk kaku seperti topeng kayu kuno, sedangkan Sayuri berdiri di sampingnya dengan gaun sutra putih mewah bersulam hiasan bintang perak. Wajah cantik putri kuil itu tampak sangat pucat pasi. Sepasang mata biru jernihnya menatap kosong ke arah lantai arena tanding dengan sisa-sisa rasa terkejut, ngeri, dan frustrasi mendalam yang belum hilang setelah mendengar perintah perjodohan paksa kemarin sore.
BOOOOOOOOOOM!
Suara ledakan keras meletus membelah keheningan saat Ren melompat turun dari menara melayang, mendarat dengan telak di tengah Altar Baja Utama. Zirah ungu di tubuh kekarnya mendengung pekat, memancarkan hawa panas dari mesin canggihnya yang langsung membuat udara kelabu di sekelilingnya terasa mendidih. Ren memutar pedang ungu miliknya dengan gerakan melingkar yang cepat, menatap ke arah tribun penonton dengan tawa ringannya yang penuh keangkuhan mutlak.
BZZZZZZT... WHIIIIIR!
Belum sempat sisa energi Ren mereda, sistem gerbang keamanan altar kembali bergetar hebat dihantam oleh langkah kaki berat. Valen Vorash melangkah masuk menembus pintu cahaya, memamerkan tubuh zirah raksasanya yang ditenagai oleh mesin uap besar hasil kerja sama rahasia dengan Sektor Delapan. Ia berdiri tegap di samping kanan Ren. Sepasang mata merah di balik pelindung matanya berkilat memancarkan permusuhan mutlak, secara terbuka menantang Ryuken demi merebut Sayuri di depan umum. Dua petarung terkuat faksi pengkhianat Sektor Delapan kini telah resmi menguasai tengah arena tanding, memicu sorak-sorai dari kalangan para murid senior yang menonton dengan penuh rasa puas.
Di sudut terbawah tangga altar, Ryuken melangkah maju secara perlahan seorang diri, tanpa dikawal oleh satu pun pengawal istana. Tubuh kurusnya dibalut oleh baju hitam polosnya yang kotor dipenuhi debu jalanan. Ia menahan jepitan gravitasi seratus kali lipat murni mengandalkan kekuatan otot tubuhnya yang telah mengeras sempurna setelah latihan di bawah siraman air limbah tadi malam. Di pinggang kirinya, terikat sebilah katana tua berkarat di dalam sarung kayu yang telah lapuk dimakan usia—sebuah senjata kuno yang langsung mengundang tawa cemoohan dan ejekan dari ribuan pasang mata murid yang menonton penuh penghinaan.
"Lihat si cacat itu! Dia benar-benar membawa besi tua berkarat ke atas Altar Baja!" teriak seorang pendekar senior sambil meludah ke atas lantai batu hitam di depan kaki Ryuken yang pucat. "Dia bahkan tidak punya tenaga untuk mengangkat senjata yang bagus, dan sekarang dia ingin menantang kehebatan zirah ungu milik pangeran Ren dan utusan Valen Vorash! Sungguh sebuah lelucon bunuh diri yang sangat bodoh di perguruan kita!"
Ryuken tidak membalas makian bising dan cemoohan kasar tersebut dengan teriakan marah atau pandangan mata penuh dendam yang murahan. Ia terus berjalan perlahan menaiki satu per satu anak tangga altar baja, menahan tekanan berat bumi yang seratus kali lipat lebih ekstrem murni mengandalkan keteguhan tubuhnya yang telah ditempa keras. Ketika posisinya berdiri tegak tepat sepuluh jengkal di hadapan tubuh raksasa Ren dan Valen Vorash, Ryuken menghentikan napasnya secara paksa. Ia membiarkan mata hitam legamnya yang setenang kematian menatap lurus ke dalam pusat mata merah kedua lawannya dengan sorot ketenangan yang sangat pekat.
Sayuri mencengkeram erat belati perak di balik lipatan lengan gaun sutra putih mewahnya. Jantungnya berdetak kencang di luar kendali saat melihat tubuh kurus Ryuken berdiri tegak di tengah kepungan badai panas dan uap mesin kotor milik faksi Sektor Delapan. Ada rasa gelisah, terkejut, ngeri, dan keputusasaan yang luar biasa menyayat hatinya. Seluruh kesombongan dan gengsi kasta tingginya bergejolak aneh menatap keteguhan pria yang kemarin sore baru saja ia siram dengan air kehinaan. Di atas altar yang bergetar halus ditiup angin badai, rencana jahat para tetua kini telah resmi mengunci tiga garis takdir pendekar tertinggi, memicu dimulainya babak pembuka dari sebuah pertempuran paling menegangkan yang akan menentukan siapakah penguasa sejati dari kekuatan tertinggi di alam semesta ini.