😍Sedang dalam revisi, perbaikan tanda baca, narasi dan lainnya.😍
Season 1 & Season 2.
Warning!!!
kalau mau baca pliss dari episode awal karena kisah cinta Vino - Ran berawal dari Season 1.
Di season ke dua, author akan fokus pada kisah cinta Vino sang cassanova yang jatuh cinta pada saudara ipar sepupunya. Ran, begitu ia biasa memanggil gadis itu.
(Season 1 )
Adimas bramasta seorang duda kaya berumur 35 tahun,dia sudah dua kali gagal menikah dan kedua nya gagal di pertahankan karena ia selalu di selingkuhi. sehingga membuat nya trauma akan dunia percintaan.
setelah 8 tahun di luar Negeri, ia kembali ke Indonesia dan menggantikan posisi papa nya sebagai presdir perusahaan. lalu ia bertemu kembali dengan Fani yang dulu ia anggap sebagai keponakan nya,kini telah menjadi gadis dewasa berumur 20 tahun.
jangan luka like,vote, dan komennya ya beb😽💙 jangan lupa juga masukan nya.. biar lebih baik lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wulan_zai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 : Salep
"Astaga Dimas.. jaga mulut mu..!" Umpat Dimas menggerutuki dirinya sendiri, karena tidak bisa mengontrol diri.
Dimas langsung mengalihkan pandanganya, ia merasa sangat malu hingga ingin rasa nya ia membenturkan kepala ke kaca mobil.
"Salep nya.. saya suka salepnya, enak." Timpal Dimas beralasan, sambil mengecap salep di bibirnya yang tentu saja rasanya pahit.
Fani mengernyitkan alisnya. Ia pun menepis anggapan konyol barusan.
"Berarti aku salah denger.. hisshh malu nya..!" batin Fani juga ikut membuang muka.
Karena penasaran dengan salepnya, ia pun reflek mencicipi sisa salep yang masih menempel di ujung jari teluntuknya.
"weekkk... nggak enak om pahit..!"
Rutuk Fani setengah teriak dengan wajah polos nya. Lalu dengan cepat ia menarik beberapa lembar tissu, dan membuang ludah nya disana.
Dimas hanya menyeringai melihat Fani yang dengan polos mempercayai kata-kata nya. Ingin rasa nya ia menertawakan Fani, tapi rasa malu nya lebih besar saat ini.
...~~~~...
Dimas sudah sampai di rumahnya, rasa nya wajah Dimas saat ini menjadi kaku akibat menahan rasa gugup dan malu sepanjang perjalanan tadi. ia berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi, dengan handuk melilit di pinggangnya.
"au...eoo..uuu...iiii." Dimas meregangkan mulut dan pipi nya yang terasa kaku seperti kanebo kering. ia memandangi wajahnya dengan seksama di cermin, lalu meraba bibirnya yang terluka.
Dimas tersenyum salah tingkah saat teringat Fani mengoleskan salep di bibirnya. Lalu ia juga tertawa karena teringat Fani menyicipi salep itu dengan polos nya.
"Apa? Sehabis menyentuh bibirku lalu Fani.... apa itu arti nya kami, secara tidak langsung..." Dimas menjadi girang sendiri,ia mengartikan kejadian tadi dengan asumsi konyol nya. Ia juga tersipu malu-malu dan senyum-senyum tidak jelas di depan cermin.
"hhishh.. apa aku sudah gila.?" Gumam nya sambil memukuli pipi,tampaknya ia tersadar kalau memang seperti orang gila.
"Bisa-bisa nya kau berpikiran begitu, pada gadis yang sudah kau anggap saudara?!" Tunjuknya pada cermin, tak lain ia sedang merutuki dirinya sendiri melalui pantulan cermin besar itu.
"Tapi dia kan bukan saudara kandungku."
"Berarti sah-sah saja kan kalau aku jatuh cinta dengan nya."
Dimas benar-benar meracau sendiri,lalu ia tersenyum lagi seperti orang gila.
...~~~~...
Di sisi lain...
Fani yang baru selesai mandi tampak sedang berbaring di kasurnya, ia terus terbayang akan kejadian di mobil tadi. Wajah dan senyuman Dimas terus saja melayang-layang di kepalanya.
"Aku dengar jelas banget tadi kalau om Dimas bilang suka sama aku. Apa mungkin aku beneran salah denger yaa. Tekingaku masih sehatkan?" Fani mengusap-usap telinganya untuk memastikan.
"hisss..! Apa yang ku pikirkan, kenapa aku malah berharap pendengaranku nggak salah. " Rutuk Fani menepis pikiran nya, lalu ia mengibaskan tangan ke udara, agar bayangan Dimas pergi jauh dari kepalanya.
...~~~~...
"Selamat pagi semua, perkenalkankan saya Vino sekertaris Pak Dimas. Hari ini saya sudah mulai bekerja lagi. Semoga kita bisa bekerja sama ya," Sapa Vino kepada semua karyawan baru di sana.
Ia baru kembali dari liburannya, karena Dimas menjanjikan apabila dia bisa memenangkan tender,maka Dimas akan memberi nya cuti selama 2 minggu dan biaya liburan gratis sepuasnya.
Para karyawan magang pun membalas salam dari Vino.
"wihhh.. Pinter banget Dimas, merekrut karyawan baru, cantik-cantik dan bening-bening pula." Ujar Vino terkagum dalam hati. Ia sengaja memasang wajah dan senyuman semenarik mungkin agar ketampanan nya semakin terpancar. Pria satu ini terkenal playboy, dan suka tebar tebar pesona ke segala spesies wanita.
"khm..!" Dimas sengaja mengejutkan Vino yang sedang menebar pesona.
"eh Pak Dimas.." Ujar Vino sedikit terkejut. Ia membenahi posisi tubuhnya, kemudian menundukkan kepala untuk Adimas.
"Belum puas liburannya?" Tanya Dimas dengan alis naik sebelah.
"Sudah Pak, sangattt puas.." Sahut Vino menekan kalimatnya.
"Kalau begitu buruan kerja, tugasmu sudah menggunung di meja saya." Titah Dimas, lalu ia masuk ke kantornya dan di ikuti oleh Vino.
Sementara itu Mila dan lima orang lainnya kembali fokus bekerja sama, menyelesaikan desain interior hunian mewah yang akan digarap oleh perusahaan BRAM'S propeti.
"Fani, bagaimana? Sudah selesai?" tanya Mila menghampiri, ia menugaskan Fani untuk merancang tata letak ruangan.
"Sebentar lagi bu," jawab Fani cepat.
Setelah 15 menit, Fani pun menyelesaikan bagian akhirnya. Ia tampak sangat menyukai Rumah mewah tersebut,terlebih lagi ini pertama kali baginya merancang sebuah bangunan mewah, walau perannya tidak banyak, namun ia sudah cukup senang dengan bagian ini.
Saking menyukai nya, Fani mengirimkan Desain Rumah tersebut ke ponsel pribadi, untuk dijadikan kenang-kenangan. "Siapa tahu besok aku bisa punya rumah bagus begini." Ia tersenyum sambil memperbesar layar komputernya.
"Bu, ini udah selesai." Fani menyerahkan flashdisk yang berisikan File penting dan Desain tersebut.
"hmm, terimakasih." Mila mengisyaratlan agar Fani meletaklan flashdisk itu meja, sambil tetap memandang lurus kearah komputer nya.
"oh iya, 30 menit lagi kita akan rapat bersama Pak Dimas mengenai rancangan kita." imbuhnya lagi.
"Baik bu.." Fani pun segera pergi dari mejanya Mila.
5 menit sebelum rapat..
Mila tampak sedang memeriksa File yang di berikan Fani tadi. " hm, bagus juga selera nya.."
Saat hendak menyalin File nya, tidak sengaja Mila menekan tombol DELETE dan hangus lah hasil desain yang sudah berhari-hari ia kerjakan mati-matian.
"hah! astaga, ya ampun.. Bagaimana ini?" Mila sangat panik dan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Sementara yang lain sudah berkumpul di ruang rapat, Mila malah menghanguskan File penting yang akan di bahas.
Setelah merutuki dan memaki dirinya sendiri, mau tak mau Mila pun masuk ke ruang rapat dalam keadaan pucat pasih.
"Pak Dimas... desain Mansionnya terhapus.." Rengek Mila seraya menundukkan kepala di hadapan Adimas.
Potong gaji? Ganti rugi? Atau mengulagi dalam satu malam, ia akan sangat siap. Asal jangan dipecat.
"Apa? Kok bisa?! Ini nggak bisa di tunda lagi, karena minggu depan kita akan mulai pembangunan." Dimas sangat terkejut, ia memandang tajam Mila dengan wajah merah padam.
"wahh baru kali ini bu Mila buat kesalahan." timpal karyawan yang lain dengan wajah panik bercampur kagum. Mila memang dikenal sangat perfeksionis.
"Desain yang tadi bu?" Fani mencoba memastikan.
"iya Fani, yang kamu kasih tadi, hikss😢" Mila sekarang menatap Fani dengan penuh penyesalan. Ia merasa bersalah karena sudah menghapus hasil kerja keras tim-nya.
"wahh.. kalau gitu jangan panik bu, Fani masih simpan kok. Tadi Fani salin ke handpone Fani." Tutur Fani dengan wajah berbinarnya, akhirnya ia merasa benar-benar berguna.
Mila langsung berlari ke arah Fani dan memeluk nya.
"Serius? Ya ampun Fani, kamu benar-benar malaikat penolong ku.
hhuuftt... syukur lah Fani. Saya nggak tau lagi harus bagaimana kalau tidak ada kamu." Mila mendekap gadis mungil itu, sambil memutar-mutar tubuhnya.
Para karyawan disana pun langsung menghembuskan nafas lega, begitu juga dengan Dimas dan Vino.
...**********...