Adrian Walker, seorang pemilik sebuah Restoran terbesar di kotanya, terpaksa menikah lagi dengan seorang gadis bernama Ariana atas permintaan istri pertamanya, Elizabeth.
Elizabeth terpaksa melakukannya karena kedua orangtua Adrian sangat menginginkan kehadiran seorang cucu. Sedangkan Elizabeth tidak mungkin hamil karena rahimnya sudah diangkat akibat kecelakaan yang pernah terjadi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
"Aku berani bersumpah, Tuan. Demi Tuhan, anak ini anakmu, darah daging mu. Kau bisa melakukan tes DNA jika kau meragukannya." sahut Ariana yang masih bersimpuh di kaki Adrian.
Adrian menghela nafas panjang. "Baiklah, aku biarkan kau tinggal disini hanya sampai kau melahirkan. Setelah itu aku akan melakukan Tes DNA kepada Bayi itu. Jika dia anakku, maka kau akan ku bebaskan dan pergilah menjauh dari hidup kami, aku dan bayi itu. Tapi jika bayi itu bukan milik ku, aku akan membuang mu juga bayi itu!" ancamnya.
Setelah mengatakan hal itu, Iapun pergi meninggalkannya dan menutup pintunya dari luar.
Ariana bangkit dengan tergopoh-gopoh. Ia menuju kamar mandi dan mengucurkan air ke tubuhnya yang penuh luka itu. Rasa perih menjalar diseluruh tubuhnya namun masih belum mengalahkan rasa sakit di hatinya.
Sementara itu,
Adrian kembali ke kamar utama, dia duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap dinding dengan tatapan kosong.
Dari jauh Elizabeth memperhatikan Adrian sambil tersenyum licik. Kemudian ia mendekati suaminya itu.
"Sayang, sekarang kau tahu kan bagaimana sifat asli wanita itu. Aku ingin sekali memperingati mu akan hal ini namun kamu sudah dibutakan oleh cintamu kepadanya." kata Elizabeth sambil memeluk tubuh Adrian.
Adrian tidak bergeming, ia masih tetap diam tanpa sepatah katapun. Tatapan nya masih kosong dan tidak memperdulikan Elizabeth yang mengajaknya bicara.
Keesokan harinya, Adrian kembali ke kamar Ariana. Wajahnya masih terlihat kacau, ia sangat kecewa setelah kejadian itu. Ia tidak percaya, wajah polos Ariana hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kebusukannya.
Ketika pintu dibuka, Ariana segera berdiri dari tempat duduknya. Ariana menatap sedih kearah Adrian namun lelaki itu tetap menatapnya penuh kebencian.
Adrian duduk di tepian tempat tidur Ariana sambil menatap lekat mata wanita itu.
"Katakan saja, Ariana! Siapa lelaki itu, apa dia kekasih mu?" tanya Tuan Adrian
"Demi Tuhan, Tuan. Aku tidak mengenalinya. Aku bahkan tidak tahu, apa yang telah dia lakukan kepadaku..." kata Ariana lirih.
Adrian melihat luka-luka diwajah Ariana, rasa iba itupun hadir namun karena rasa kecewa yang amat sangat, Iapun menepis rasa itu.
"Heh! Bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya. Sedangkan di foto itu kau dan lelaki itu terlihat sangat menikmati percintaan kalian." kata Adrian lagi
"Baik, Tuan. Aku akan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Hari itu Nyonya Elizabeth, sahabatnya dan lelaki itu masuk ke kamarku. Lelaki itu memegang kedua tanganku sedangkan Nyonya Elizabeth membekap ku dengan saputangan yang sudah diberi obat bius. Aku tidak sadarkan diri, Tuan. Aku tersadar ketika kau memukulku. Hanya itu yang aku ingat..." sahut Ariana.
"Apa kau kira aku percaya? Aku tidak percaya lagi padamu Ariana!" kata Tuan Adrian.
"Lalu bagaimana caranya agar kau percaya padaku, Tuan?!" tanya Ariana dengan airmata yang bercucuran.
"Buktikan kalau omongan mu itu benar!" sahut Adrian.
Ariana menangis lirih, ia tidak menyangka Tuan Adrian tidak mempercayai kata-katanya.
Setelah mendengar penuturan Ariana, Tuan Adrian memutuskan untuk mengumpulkan semua orang yang terkait dengan kejadian itu.
Elizabeth, Helen, Bi Lilis dan Ariana di ruang utama. Elizabeth dan Helen membantah telah memasuki kamar Ariana hari itu. Begitupula Bi Lilis, karena ancaman dari kedua wanita itu, Iapun berbohong tentang keterlibatannya pada saat terjadinya kejadian itu.
Tiga lawan satu, Ariana kalah telak. Ariana tidak bisa membuktikan dirinya tidak bersalah. Mereka bahkan semakin memojokkan Ariana.
Karena Ariana tidak bisa membuktikan dirinya tidak bersalah, akhirnya Tuan Adrian memutuskan untuk menghukum Ariana. Ariana akan dikurung di kamarnya hingga anak itu lahir.
Dan ketika anak itu lahir, Tuan Adrian juga akan melakukan tes DNA kepada bayi itu. Jika bayi itu terbukti sebagai anaknya, maka ia akan mengambil anak itu dan merawatnya. Sedangkan Ariana harus pergi sejauh-jauhnya dari keluarga mereka juga bayi itu.
Namun sebaliknya jika bayi itu bukan miliknya maka mereka akan mengusir mereka berdua kejalan.
Ariana hanya bisa pasrah mendengar keputusan Tuan Adrian yang pada intinya sama-sama membuangnya.
***
Ariana sedang duduk termenung di tepi tempat tidurnya, matanya menatap kearah jendela kamarnya dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba Adrian datang, lelaki itu memint jatah sebagai seorang suami kepadanya.
"Ariana, layani aku malam ini!" ucapnya sambil melemparkan piyama tidurnya kemudian menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur Ariana.
Ariana menatap suaminya itu dengan tatapan sendu.
"Tuan, jangan perlakuan aku seperti seorang wanita malam. Aku adalah istri mu, Tuan..." kata Ariana lirih
Setelah berlakunya hukuman itu, Tuan Adrian tidak pernah bersikap lembut kepadanya. Ia selalu bersikap kasar dan semena-mena terhadap Ariana.
"Apa peduliku? Itu semua salahmu, kau telah mengkhianati kepercayaan ku dan cinta yang telah ku berikan kepadamu." sahut Adrian.
"Bagaimana caranya supaya kau percaya padaku, Tuan. Aku tidak pernah mengkhianati mu." kata Ariana.
"Sekarang lakukan tugasmu, aku tidak ingin mendengar omong kosong mu itu lagi!" bentak Adrian
Ariana beringsut dari tempatnya duduk dan menghampiri lelaki itu.
-
-
Setelah puas, Adrian pun meninggalkannya.
Pagi harinya,
Setelah kepergian Adrian ke kantornya, Elizabeth dan Helen mendekatinya.
"Hallo Ariana, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Elly dengan nada sinis.
"Mau apa lagi kalian kemari?" tanya Ariana
"Mau mengunjunginya mu, lah. Kami sudah rindu ingin bermain bersama mu." sahut Helen.
"Nyonya... berhentilah menyiksa ku. Sisa waktuku disini hanya tinggal beberapa bulan lagi. Setelah anak ini lahir, aku akan segera pergi dan tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi." sahut Ariana sambil menangis lirih.
"Maka dari itu aku ingin terus bermain dengan mu. Agar suatu saat ketika kau meninggalkan rumah ini, kau punya kenangan yang akan sulit kau lupakan." kata Elizabeth.
Ariana kembali meneteskan air matanya.
"Bukankah sudah beberapa kali ku bilang, kau akan ku buat tidak betah tinggal bersama kami." kata Elizabeth lagi.
"Semoga kalian mendapatkan balasan yang setimpal karena telah menyakiti ku!" kata Ariana dengan airmata yang mengucur deras di wajahnya.
"Benarkah? Balasan seperti apa?!" tanya Helen sambil mencengkeram rambutnya.
"Ya, katakan... Balasan seperti apa yang kau mau?!" tambah Elizabeth.
Hari itu Elizabeth dan Helen mengerjai nya habis-habisan. Beberapa kali Ariana memohon ampun namun kedua orang itu tidak menggubris nya sama sekali.
Setelah Ariana tidak berdaya, merekapun meninggalkannya sendirian dikamar itu.
"Ariana, aku puas melihat mu seperti ini. Aku merasa sangat bahagia diatas penderitaan mu. Aku sudah tidak peduli dengan bayi mu itu walaupun ia mati sekalipun!" ucap Elizabeth sebelum menutup pintu kamarnya.
Ariana menangis lirih, ia merasakan sakit yang amat sangat di hatinya ketika wanita itu mengatakannya.
***
👍👍👍
smoga saja ariana berjodoh dgn dokter yang sdh menolongnya