"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi goreng spesial
"Dek, nasi gorengnya dimakan ya? Mas pergi pagi, maaf nggak bisa nganter kamu, soalnya lagi banyak urusan. Kamu hati-hati dijalan, ntar sore kalau pulang kabarin aja lewat pesan. Insyaallah Mas jemput. :-)"
Perasaan getir saat Mutia membaca secarik kertas di dekat satu piring nasi goreng. Di akhir bagian tulisan itu tertulis emoticon gambar senyum.
Jimmy tahu Mutia hanya cuti dua hari, itupun dengan alasan sakit.
Kenapa dia baik sekali kepada orang yang sudah egois dengannya? Mutia benar-benar nggak ngerti sama laki-laki yang kini berstatus menjadi suaminya itu. Mutia bahkan tidak menemukan celah kekurangan dari Jimmy. Sopan, sabar, jujur, perhatian, penyayang, dan nggak pernah pacaran. Untuk wajah dan postur tubuh juga tidak buruk. Orang tua Jimmy benar-benar berhasil dalam mendidiknya.
"Tapi cinta itu nggak bisa dipaksakan" gumam Mutia.
Mutia baru saja selesai mandi dan telah rapi dengan baju kantornya. Dia menarik kursi dan mulai menyuap sendok demi sendok nasi goreng itu yang menurutnya sangat cocok di lidahnya. "Nggak kemanisan, gurih, enak" ucap Mutia dan tak terasa dia memakannya sampai habis.
"Pintar masak juga..." gumam Mutia kemudian segera memesan taksi online.
***
"Tuh dia, pemain tukang haji naik bubur datang!" ucap Edo karena sedari tadi Jimmy mencarinya.
"Terbalik, tukang bubur naik pitam," jawab Jimmy saling bercanda.
Emon berjalan tergesa kedalam. "Hallo say, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena mobil mengalami kegalauan, jadi saya datang terlambat."
"Mobil apa yang galau?" gerutu Edo.
"Mobilang sayang tapi ada yang punya hehehe.."
"Kita sambil duduk aja Mon," Jimmy mengarahkan Emon agar dia mengikutinya. "Kamu sudah makin parah aja penyakitnya. Itu dah bawa-bawa tas warna pink."
"Biar terlihat feminim" jawab Emon.
"Kita langsung saja ya,"
"Hooh!"
"Jadi gimana, masalah kerja sama kita?" tanya Jimmy. Jimmy mengeluarkan selembaran kertas yang sudah tertempel materai untuk Emon tanda tangani. "Kamu baca dulu, kalau sekiranya ada yang keberatan sama kamu, kita masih bisa rubah."
Selama beberapa menit Emon mengamati dan memahami isinya, dan tampaknya dia sangat menyetujui kontrak kerja sama mereka.
"Oke, ini sih deal banget." Emon berdiri dan menjabat tangannya. "Kita pasti akan berhasil!!"
"Aamiin.." jawab Jimmy.
Emon langsung mengeluarkan bolpoin dan segera menandatanganinya.
"Kamu mau minum apa?"
"Mau minum yang paling mahal disini, tapi harus seseorang khusus yang nganterin." jawab Emon.
Jimmy langsung terkekeh, dia paling tahu siapa yang paling Emon suka. "Ryan?"
"Tuh kamu tahu. Kalau kamu belum berbini sih kamu aja Jim, sayangnya udah. Jadi aku mau jaga jarak, nggak mau jadi valakor."
Jimmy bergidik ngeri.
Beberapa menit kemudian Ryan datang dengan membawa pesanan emon. Posisi duduk Emon yang menghadap keluar membuat sulit untuk Ryan mengenalinya dari belakang.
"Permisi Kak, ini pesanannya."
"Aahhhh... sayangkuh Leno beraaak, ini aku Syahrimin!!"
Ryan langsung berjengit saat meletakkan pesanan minuman itu ke meja. Tapi sayang, gerak tubuhnya kurang cepat sehingga sudah tertubruk oleh Emon dan sulit dilepas.
"Ambyarr!!" Apes-apes! Kamu ngerjain aku ya Jiiiim! Sialan!"
Jimmy dan Ryan sedang kompak menertawakannya dibelakang sana. Salahnya sendiri tadi nggak tanya dulu siapa yang pesan. Sudah tahu begini akibatnya kalau Emon datang, hihh amit-amit.
"Ulala, kamu itu gagah banget ya," Emon sedikit mencubit-cubit tubuh machonya. "Hadap sini lihat aku dong say, jangan merem-merem gitu!"
"Dasar wong edan! ora ana pendidikane babar blas! Sesama laki-laki kok napsu" gerutu Ryan.
***
"Dorr!!"
Mutia terpekik kaget "Rina!! Kaget."
"Lagian kamu lagi kerja malah melamun, hati-hati loh, Mut."
Rina menaruh setumpuk map di kubikel milik Mutia.
"Sebanyak ini?" tanya Mutia.
"Nggak sampai lembur, tenang aja" jawab Rina kemudian kembali duduk. "Kamu masih sakitkah Mut? Kelihatannya lesu gitu."
"Sakit hati."
"Kamu tuh ya, jadi cewek itu lembutan dikit ngapa sih Mut? Bagi orang yang nggak tahu kamu, mereka pasti ngira kalau kamu sadis" ucap Rina. Beruntung Rina sudah tahu betul siapa sahabatnya ini.
"Emang aslinya sadis juga kok."
"Malam minggu kamu mau kemana?"
"Kayaknya nggak kemana-mana deh Rin," jawab Mutia. "Kamu mau ngajak aku?"
"Iya, ke mall. Kalau mau."
"Boleh deh,"
"Tumben nggak jalan sama Frans,"
"Lagi ngambek karena kemarin aku nggak bales chattingannya."
"Oh..." Rina menganggukkan kepalanya. "Punya pasangan ribet, mending jomblo aja deh.."
Mereka kembali sibuk berkutat dengan pekerjaannya hingga waktu jam makan siang tiba.
Rina berdecak saat melihat cara makan siang Mutia. Tatapan matanya kosong, tangannya mengaduk-aduk makanan yang sedari tadi tak kunjung habis, sedang jam istirahat sudah hampir selesai.
"Sudah yuk, langsung balik aja" ucap Mutia.
"Kita masih ada waktu sedikit, kamu habiskan dulu makanannya Mut. Sayang tau, buang-buang makanan."
"Tapi aku dah kenyang."
"Kamu itu baru makan sedikit sudah kenyang. Apa perlu aku suapin? Badan kamu juga makin kurus aja akhir-akhir ini, aku perhatikan." Rina mendekatkan piring makanan yang tadi sempat Mutia jauhkan. "Habiskan makanannya!"
"Rina!" teriakan protes dari Mutia.
"Kamu ada masalah?" tanya Rina menyelidik.
"Nggak kok,"
"Kalau ada masalah, jangan sungkan cerita. Aku siap dengerin kamu."
Mutia mempertimbangkan kata-kata Rina, tapi sepertinya dia nggak mungkin membocorkan rahasia besarnya sendiri.
***
To be continued.
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
tidak mau membahas masa lalu.
nyesek berada diposisi Jimmy😭