Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak yang Mengingat Akhir Dunia
Kalimat Elian jatuh seperti batu ke dasar jurang.
Aelora selalu menghancurkan dunia setelah kehilanganmu.
Tidak ada yang langsung bicara.
Angin malam berhenti di antara pepohonan. Serpihan tombak cahaya yang tadi turun seperti salju kini padam satu per satu di atas tanah Nocthara. Para prajurit iblis berdiri dengan senjata terangkat, tetapi bahkan baja pun seperti kehilangan suara.
Kael memeluk Aelora lebih erat.
Bukan erat yang menyakitkan.
Erat yang menahan.
Seolah tubuh kecil itu bisa tiba-tiba direbut oleh langit, oleh masa lalu, atau oleh kebenaran yang baru saja dibuka paksa.
Aelora sendiri tidak mampu bernapas.
Ia ingin berkata bahwa Elian salah.
Bahwa ia tidak akan menghancurkan dunia.
Bahwa ia bukan lagi gadis tujuh belas tahun yang berdiri di depan Gerbang Tiga Dunia dengan tangan berlumur darah.
Namun lidahnya kelu.
Karena jauh di dalam dirinya, ada ingatan yang tidak bisa ia bantah.
Gerbang yang terbuka.
Langit yang runtuh.
Suara Kael yang sekarat.
Dan dirinya sendiri yang menjerit sampai cahaya dan bayangan pecah menjadi perang.
Milo berdiri di atas batu, ekornya yang belum sempurna bergerak gelisah.
“Anak bersayap,” katanya pelan, “kau harus memilih kata-kata berikutnya dengan sangat hati-hati.”
Elian menelan ludah.
“Aku tidak bermaksud melukai dia.”
“Semua orang yang membawa kabar buruk selalu berkata begitu.”
Kael menatap malaikat kecil itu.
Matanya merah gelap.
“Jelaskan.”
Satu kata.
Tetapi seluruh hutan seperti diperintah berlutut.
Elian menggenggam pecahan kristal di tangannya. Di dalamnya, bayangan Mirael masih tertidur dengan rantai cahaya mengikat tubuhnya. Wajah perempuan itu pucat, tetapi dadanya bergerak sangat pelan.
Hidup.
Benar-benar hidup.
Aelora mengangkat tangan gemetar ke arah kristal.
“Ibu…”
Kael menahan pergelangan tangannya sebelum ia sempat menyentuh.
“Jangan.”
Aelora menatapnya.
“Dia—”
“Itu bisa menjadi jebakan.”
Elian cepat-cepat berkata, “Bukan jebakan. Itu pecahan penglihatan dari Penjara Lumen. Mirael Arvand masih hidup, tetapi tidak utuh. Tubuhnya dijaga di Elyrion, sementara sebagian ingatannya disegel di kristal-kristal gereja.”
“Kenapa?” tanya Aelora.
Suaranya begitu kecil hingga hampir hilang.
Elian menatapnya dengan iba.
“Karena mereka membutuhkan ingatan Mirael untuk menemukan jalan menuju darahmu.”
Aelora tidak mengerti seluruhnya, tetapi tubuhnya merespons lebih dulu. Tanda di pergelangan tangannya berdenyut sakit.
Kael menyadarinya.
Ia menutup tangan kecil itu dengan telapak tangannya yang terluka. Kulitnya masih terbakar oleh Aether, tetapi ia tidak menarik diri.
Aelora menatap tangan Kael.
Luka putih menjalar di punggung tangannya.
Rasa takutnya berubah menjadi marah.
“Kau terluka.”
“Hanya tangan.”
“Dulu juga mulai dari tangan.”
Kael membeku.
Milo memejamkan mata.
Elian menatap Aelora dengan wajah pucat.
Aelora sadar terlambat.
Kata-kata itu sudah keluar.
Kael menunduk ke arahnya.
“Dulu?”
Aelora menggenggam mantel Kael. Panas demam membuat pikirannya kabur, tetapi kali ini ia tidak bisa mengelak dengan mudah.
Ia terlalu lelah untuk terus menyembunyikan semuanya.
Terlalu takut.
Terlalu ingin mempercayai seseorang.
Namun bagaimana mungkin ia mengatakan kepada Kael bahwa ia pernah mati? Bahwa ia pernah menjadi ayahnya? Bahwa suatu hari, ia akan tertusuk oleh pedang di tangan anak yang sedang ia gendong?
Aelora menunduk.
“Aku melihat mimpi buruk.”
Kael tidak langsung percaya.
Namun ia juga tidak memaksa.
Elian menatap Kael dengan hati-hati.
“Itu bukan sekadar mimpi.”
Bayangan di bawah kaki Kael langsung bergerak seperti ular.
Milo mendesis. “Aku sudah bilang hati-hati.”
Elian mengangkat kedua tangan.
“Aku hanya ingin membantu. Seraphiel mengirimku karena dia tahu Aelora membawa ingatan yang tidak seharusnya dimiliki anak seusianya.”
Kael berkata dingin, “Seraphiel tidak berhak mengirim siapa pun untuk anak ini.”
“Dia ayahnya.”
“Dia di mana ketika anak itu dibuang?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada pedang.
Elian terdiam.
Aelora menatap Kael.
Di wajahnya tidak ada kecemburuan. Tidak ada kemarahan kecil seorang pria yang tidak ingin disaingi.
Yang ada hanyalah luka lama yang bahkan belum ia pahami.
Kael Vesperion belum menjadi ayah Aelora.
Tetapi ia sudah marah untuknya.
Aelora menyandarkan kepala lemah ke dada Kael.
“Jangan bertengkar.”
Kael menunduk.
Aelora berbisik, “Aku lelah.”
Itu cukup.
Kael menarik napas pelan, lalu menatap Rovan.
“Kembali ke istana.”
Rovan menunduk.
“Bagaimana dengan malaikat itu?”
Semua mata tertuju pada Elian.
Anak bersayap itu berdiri sangat diam. Meski tubuhnya kecil, ia mencoba terlihat berani. Namun sayap transparannya bergetar.
Aelora tahu getaran itu.
Ketakutan.
Elian mungkin utusan Elyrion, tetapi ia bukan Varion.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia mati karena mencoba memperingatkan mereka.
Aelora mengangkat wajah.
“Bawa dia.”
Kael menatapnya.
“Tidak.”
“Dia membantu.”
“Dia membawa bahaya.”
“Aku juga.”
Kael terdiam.
Milo bergumam, “Poin untuk anak demam.”
Kael meliriknya.
Milo langsung menatap pohon seolah tidak terlibat.
Aelora menggenggam lengan Kael.
“Kalau kita tinggalkan dia, Elyrion akan membunuhnya.”
Elian menunduk.
Jawaban itu cukup jelas.
Kael menatap malaikat kecil itu lama.
“Jika kau berbohong…”
“Aku tahu,” kata Elian cepat. “Bayanganmu akan memakanku.”
Kael menyipitkan mata.
“Aku akan melakukan lebih buruk.”
Elian tampak menyesal telah berbicara.
Rovan memberi isyarat kepada dua prajurit untuk mengawal Elian. Mereka bergerak hati-hati, tidak menyentuh sayapnya, tetapi jelas siap menyerang jika anak itu menunjukkan tanda berbahaya.
Aelora menatap reruntuhan kuil di kejauhan.
“Akar bulan…”
Eirna membutuhkan obat itu untuk menurunkan demam cahayanya. Mereka datang ke sini untuk itu. Namun serangan tombak, Elian, dan penglihatan Mirael membuat semuanya terasa seperti perang kecil.
Kael mengikuti pandangannya.
“Rovan.”
“Yang Mulia.”
“Ambil akar bulan. Bakar sisanya.”
Elian tersentak.
“Jangan bakar kuilnya.”
Kael menatapnya.
“Kenapa?”
“Itu bukan kuil gereja. Itu reruntuhan penjaga lama. Di bawahnya ada segel yang menahan sesuatu.”
“Nama sesuatu itu.”
Elian ragu.
Milo menggeram pelan.
Elian menelan ludah.
“Fragmen Gerbang Tiga Dunia.”
Aelora merasa tubuhnya jatuh, padahal ia masih dalam pelukan Kael.
Gerbang.
Lagi.
Segala sesuatu kembali pada gerbang itu.
Kael memandang reruntuhan dengan tatapan berubah tajam.
“Kenapa gereja menjaga tempat yang menyimpan fragmen gerbang?”
Elian menjawab pelan, “Karena Varion sudah lebih dulu menyusup ke Gereja Fajar. Manusia mengira mereka menyembah Surga. Mereka tidak tahu sebagian doa mereka diarahkan ke orang yang ingin membuka gerbang.”
Nama Varion membuat angin menjadi dingin.
Aelora belum pernah bertemu Varion di kehidupan ini.
Namun tubuhnya ingat suaranya.
Lembut.
Suci.
Beracun.
Suara yang pernah memakai wajah ibunya dan membujuknya membuka gerbang.
Aelora gemetar.
Kael merasakannya.
“Cukup. Kita kembali.”
“Tapi akar bulan—”
“Rovan akan mengambilnya.”
“Aku harus—”
“Kau harus hidup.”
Kalimat itu membuat Aelora terdiam.
Kael membawanya menuju kereta perang. Setiap langkahnya tenang, tetapi Aelora bisa merasakan tubuhnya sedikit lebih tegang dari biasa. Luka di tangan Kael masih mengeluarkan asap tipis.
Aelora menatap luka itu.
Dalam kehidupan sebelumnya, luka seperti itu tidak pernah sepenuhnya hilang.
Ia harus mencegahnya.
Harus.
Sebelum masuk ke kereta, Aelora menoleh kepada Elian.
Anak malaikat itu berdiri di bawah penjagaan prajurit iblis, tampak kecil dan asing di antara bayangan Nocthara.
“Elian.”
Ia mengangkat wajah.
“Ya?”
“Apakah Seraphiel benar-benar hidup?”
Elian menatapnya.
Lalu mengangguk.
“Ya.”
“Apakah dia… tahu tentangku?”
Wajah Elian melembut.
“Dia tidak pernah berhenti mencarimu.”
Aelora menunduk.
Kata-kata itu seharusnya membuatnya bahagia.
Namun yang muncul justru rasa sakit.
Jika ia mencari, kenapa tidak datang?
Jika ia ayahku, kenapa aku dibuang?
Jika ia hidup, kenapa Kael yang menemukanku?
Kael masuk ke kereta sambil menggendongnya.
Seolah memahami pikirannya, ia berkata, “Mencari tidak sama dengan menemukan.”
Aelora menatapnya.
Kael tidak melihat ke arahnya.
“Tapi orang yang menemukanmu malam ini adalah aku.”
Dada Aelora terasa sesak.
Ia memejamkan mata.
“Ya.”
Kereta bergerak kembali ke Nocthara.
Di luar, para prajurit mengambil akar bulan dari reruntuhan kuil dengan hati-hati. Tidak lama kemudian, cahaya perak dari tanaman itu terlihat dalam kotak kaca. Rovan membawa langsung ke kereta utama.
Namun saat mereka meninggalkan bukit, Aelora melihat sesuatu dari jendela.
Di puncak reruntuhan kuil, ada seorang pria berjubah putih berdiri.
Jauh.
Nyaris seperti bayangan.
Wajahnya tertutup topeng emas.
Namun Aelora mengenali cara pria itu berdiri.
Tenang.
Suci.
Seolah kekejaman adalah bentuk ibadah.
Varion.
Matanya bertemu dengan mata Aelora dari kejauhan.
Pria itu mengangkat satu jari ke bibirnya.
Diam.
Lalu ia lenyap.
Aelora tidak berteriak.
Tidak bergerak.
Hanya tangannya yang mencengkeram mantel Kael sampai buku jarinya memutih.
Kael langsung menatapnya.
“Apa yang kau lihat?”
Aelora membuka mulut.
Namun sebelum ia menjawab, suara Varion terdengar di dalam kepalanya.
Bila kau memberitahunya sekarang, aku akan membuat Mirael menjerit.
Aelora membeku.
Napasnya berhenti.
Kael memegang dagunya pelan, memaksanya menatap.
“Aelora.”
Air mata menggenang di matanya.
“Aku…”
Ia ingin jujur.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa kehidupan kedua ini tidak akan dibangun di atas kebohongan.
Namun ancaman itu menahan lidahnya seperti pisau.
Mirael.
Ibunya masih hidup.
Dan Varion tahu ia melihatnya.
Aelora menunduk.
“Tidak apa-apa.”
Kael tidak percaya.
Milo juga tidak.
Namun tidak ada yang memaksanya saat itu, karena demamnya kembali naik. Cahaya emas menjalar sampai ke lehernya, membuat napasnya tersengal.
Rovan menyerahkan akar bulan.
Tabib Eirna, yang menyusul dengan kereta lain, langsung menyiapkan ramuan darurat. Akar perak itu dihancurkan, dicampur dengan darah bayangan dan air dingin Nocthara.
Ramuan itu diminumkan sedikit demi sedikit.
Rasanya pahit.
Sangat pahit.
Aelora hampir muntah, tetapi Kael menahannya tetap duduk.
“Telan.”
“Pahit…”
“Telan dulu, protes nanti.”
Milo bergumam, “Keluarga yang hangat.”
Perlahan, panas di tubuh Aelora mereda.
Tidak hilang.
Tetapi cukup untuk membuat napasnya stabil.
Ketika rombongan kembali ke Istana Bulan Merah, langit timur mulai menunjukkan garis pucat. Bukan fajar sungguhan, karena Nocthara jarang menerima matahari, tetapi tanda bahwa malam pertama Aelora di dunia iblis hampir selesai.
Di halaman istana, dewan telah menunggu.
Lord Malrec berdiri paling depan.
Begitu melihat Elian turun dari kereta dengan sayap transparan di punggungnya, wajah para anggota dewan berubah kacau.
“Yang Mulia,” kata Lord Malrec dengan suara tertahan, “semalam Anda membawa anak manusia. Sekarang Anda membawa malaikat.”
Kael turun dari kereta sambil menggendong Aelora yang setengah tertidur.
“Aku menyadarinya.”
“Ini tidak bisa dibiarkan.”
“Banyak hal yang tidak bisa dibiarkan. Itu tidak menghentikan dunia melakukannya.”
Lord Malrec menggertakkan rahang.
“Dewan menuntut sidang darurat.”
Kael berjalan melewatinya.
“Ditolak.”
“Yang Mulia!”
Kael berhenti.
Ia menoleh sedikit.
“Anak ini hampir mati malam ini. Aku diserang oleh tombak Elyrion di wilayahku. Gereja Fajar mengancam perang di gerbangku. Dan sekarang aku memegang saksi hidup bahwa Surga sendiri menyembunyikan permainan di balik semua ini.”
Suara Kael tetap tenang.
Namun setiap katanya membuat udara bergetar.
“Jika dewan ingin bersidang, bersidanglah tentang cara melindungi Nocthara. Bukan tentang cara takut pada anak kecil.”
Tidak ada yang menjawab.
Kael melanjutkan langkah.
Aelora membuka mata setengah.
Dari balik bahu Kael, ia melihat Elian menatap langit dengan wajah takut.
Di atas Istana Bulan Merah, awan perlahan membentuk lingkaran putih samar.
Seperti mata yang belum sepenuhnya terbuka.
Aelora memejamkan mata lagi.
Ia tahu malam ini baru permulaan.
Gereja sudah bergerak.
Elyrion sudah melihat.
Varion sudah tahu ia kembali.
Dan Kael…
Kael masih hidup.
Untuk sekarang.
Ketika mereka memasuki kamar timur, Kael meletakkannya di tempat tidur dengan hati-hati. Eirna segera memeriksa denyut nadinya, sementara Velmoth menyiapkan air dan obat tambahan.
Milo melompat ke bantal.
Elian berdiri di dekat pintu, tidak berani masuk lebih jauh.
Aelora menatap Kael dengan mata mengantuk.
“Yang Mulia…”
“Hm.”
“Jangan percaya Surga.”
Kael menatapnya.
“Aku tidak pernah percaya.”
“Jangan percaya… suara yang memakai wajah Ibu.”
Kali ini Kael diam lebih lama.
Aelora hampir tertidur ketika merasakan tangan Kael menyentuh dahinya. Singkat. Kaku. Namun hangat.
“Tidur.”
“Ayah…”
Kata itu keluar begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.
Namun semua orang di ruangan mendengarnya.
Velmoth membeku.
Eirna berhenti mengaduk ramuan.
Elian menunduk.
Milo menutup mata.
Kael tidak bergerak.
Aelora sendiri sudah terlalu lelah untuk menyadari apa yang ia ucapkan.
Ia tenggelam ke dalam tidur.
Di samping tempat tidurnya, Kael Vesperion berdiri sangat diam.
Raja Iblis yang ditakuti tiga alam itu menatap anak kecil yang baru saja memanggilnya ayah.
Lama sekali.
Kemudian, dengan suara yang hampir tidak memiliki bentuk, ia berkata kepada Velmoth, “Pastikan tidak ada yang mengganggunya.”
Velmoth membungkuk pelan.
“Baik, Yang Mulia.”
Kael berbalik menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia menatap Milo.
“Kita bicara.”
Milo membuka satu mata kancing.
“Aku berharap kau lupa.”
“Aku tidak lupa hal yang menyebutku mati di masa depan.”
Elian mengangkat wajah.
Velmoth menahan napas.
Milo mendesah panjang.
“Baiklah, Raja Kaku.”
Kael menatapnya dingin.
Milo melompat turun dari bantal dan berjalan ke arah pintu dengan tubuh bayangan kecilnya.
“Tapi kau mungkin ingin duduk sebelum mendengarnya.”
Kael tidak menjawab.
Milo berhenti di ambang pintu, lalu menoleh sekali ke arah Aelora yang tertidur.
Suaranya kehilangan semua nada bercanda.
“Karena dalam kehidupan sebelumnya, dia tidak hanya kehilanganmu.”
Milo menatap Kael.
“Dia membunuhmu.”