WARNING!!
Ini Novel Dewasa, so bocil-bocil jangan baca, ntar malah heboh dikolom komentar, ini novel khusus 21+
Sebuah rasa cinta pada seseorang terkadang terlambat untuk disadari. Sekalipun menyadarinya sejak dini, namun kadang hati enggan menunjukan rasa tersebut. Hingga akhirnya menjadi sebuah perasaan yang terpenjara oleh kepura-puraan.
Ini adalah sebuah kisah seorang gadis muda mantan narapidana yang jatuh cinta pada sahabat kecilnya, hingga dia mengagalkan acara lamaran lelaki pujaannya, serta memaksa lelaki tersebut menikahinya. Maka, pernikahan tanpa hitam diatas putih pun terjadi, tapi pernikahan yang dijalaninya penuh intrik dimana dia dibenci oleh keluarga lelakinya.
Disamping kehidupan rumah tangganya yang tidak harmonis, dia harus bergelut mencari tahu penyebab kematian orang-orang terdekatnya.
Mampukah dia mencari kebenaran dibalik kematian orang-orang terdekat dan menumbuhkan cinta dalam pernikahannya?
#Cinta segitiga #Pembunuhan #Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs.Kang Chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roti sobek Rendy
Khalisa terlihat cemas tidak bisa memejamkan matanya setelah mendengar penjelasan mengenai ayahnya yang menurut Vino bukan bunuh diri.
Khalisa tidur tidak tenang. Khalisa memutuskan bangun dari tidurnya dan berjalan ke arah dapur. Tidak disangka saat kakinya melangkah ke dapur
seseorang tengah menegang minuman soda depan kulkas dengan setengah telanjang, dia hanya mengenakan celana boxer dan
menampilkan absnya.
Khalisa yang berdiri tidak jauh darisana hanya menatap tidak berkedip kearah lelaki tersebut yang belum menyadari kehadirannya. Sesaat
setelah minuman itu habis, lelaki itu berbalik dan sontak terkejut karena tidak menyangka ada seseorang yang tengah memperhatikannya.
“Apa yang sedang kamu lakukan disana?” Ketus Rendy menormalkan dirinya yang tengah terkejut.
“Berdiri,” Jawab Khalisa spontan.
“Aku tahu, dasar bodoh!”
“Apa kamu bilang? Jelas-jelas kamu yang bodoh masih menanyakan apa yang aku lakukan, memangnya kamu tidak punya mata aku sedang
berdiri disini!” Kata Khalisa sambil mendengus kesal.
“Memuakan berdebat dengan wanita sepertimu!”
Rendy dengan langkah lebarnya langsung melewati Khalisa yang masih berdiri mematung, Khalisa akhirnya menghela nafasnya, lalu berjalan
mendekati kulkas mengambil air dingin setelah itu dia menyantap apel merah.
Sedangkan Rendy yang berjalan menaiki tangan tengah mengerutu dalam hatinya, Bisa-bisanya dia
masih tenang-tenang saja saat melihat tubuh seksiku! Apa jangan-jangan tubuhku biasa saja dimatanya, mungkin dia sudah pernah melihat yang lebih! Ah iya dari lelaki yang mengajaknya makan siang, pasti lelaki itu! Hus! Lagi-lagi aku gila memangnya kalau dia melihat tubuh lelaki yang lain apa masalahku!
Rendy berjalan memasuki kamarnya, dia duduk ditepi ranjang lalu dia melirik ke arah cermin yang menjulang sebadan, dia segera melangkah
kehadapan cermin tersebut. Ia memperhatikan pantulan dirinya. Kemudian meraba wajahnya dan berhenti tepat memegang dagu.
Wajahku bahkan tampan! Tidak ada noda, tidak ada jerawat!Jauh dari lelaki itu! Batin Rendy.
Tangan Rendy menelusuri perutnya yang berbentuk roti sobek, wajahnya tersenyum,”Ini senjata kebahagiaan wanita, tapi kenapa Khalisa tidak menunjukan ketertarikannya! Apakah dia punya kelainan?
Rendy yang sedang perang batin mengomentari tubuhnya, tiba-tiba membayangkan Khalisa memiliki hubungan sesama jenis, Rendy merasa
ngeri. “Tidak! Tidak! Ah bodo amat dia mau memiliki hubungan seperti apapun bukan urusanku!” Gumam Rendy langsung berjalan menuju lemarinya dan segera mengenakan pakaian tidurnya.
Sementara, Khalisa masih termenung di dapur pikirannya masih berkeliaran mengenai kematian ayahnya. Khalisa langsung bangkit dari duduknya,
lalu dia berjalan cepat ke kamarnya, dia segera mearih ponselnya, dia berselancar didunia maya mencari segala informasi yang menyangkut kematian ayahnya.
“Semua berita mengatakan ayahku bunuh diri!” Gumam Khalisa sambil menatap kosong layar ppipih dihadapannya.
“Huh! Tidak ada gunanya aku bahkan tidak bisa mendapatkan informasi apapun mengenai kasus kematian ayahku! Apakah ini hanya membuang
waktuku saja!” Gumam Khalisa.
Drrt drrt drtt
Khalisa langsung mengangkat panggilan telpon yang berasal dari Vino itu, suara disebrang sana terlihat begitu bersemangat, meskipun dengan nada yang serius.
“Ada apa Vin?”
“Besok kita ketemu lagi!”
“Iya Vin aku akan menemuimu setelah pulang kerja!”
“Hmm Khalisa!”
“Ada lagikah yang ingin kamu sampaikan?”
“Iya Khalisa,”
“Apa?”
“Jangan kamu terlalu berpikir keras mengenai kematian ayahmu, itu baru pradugaku! Maafkan aku mengungkit masalah ini, kamu pasti merasa tertekan, dan aku malah membuka luka lama keluargamu, maaf khalisa!” Suara Vino begitu halus dan terdengar sangat tulus meminta maaf.
“Tidak apa Vino,
jika itu untuk mengungkapkan sebuah kebenaran!”
“Hmm... Khalisa”
“Iya Vin?”
“Ada hal yang ingin aku tanyakan,”
“ Katakan saja!”
“Kamu kenapa tidak tinggal dirumah orang tuamu?”
“Hmm.. Aku tidak bisa menjelaskannya!”
“Baiklah aku tidak akan memaksa, tapi ingat satu hal dariku, jaga dirimu! Aku sangat mengkhawatirkanmu!”
Khalisa terdiam mendengar Vino begitu perhatian padanya, selama ini Vino selalu membuatnya nyaman, rasanya Khalisa bersyukur ada seseorang yang memperdulikannya. Vino yang diujung sana tidak mendengar respon dari Khalisa langsung cemas.
“Khalisa? Kamu masih disana?”
“Iya Vino, makasih kamu sudah mencemaskanku!”
“Iya Khalisa, sampai ketemu besok, istirahatlah!”
“Iya, kamu juga!”
Panggilan telpon kedua insan tersebut pun terputus, Khalisa menyimpan ponselnya dinakas samping ranjangnya. Dia mulai menaiki ranjangnya dan merebahkan kembali tubuhnya dikasur empuk itu. Meskipun Khalisa berusaha
sekuat tenaga memejamkan matanya dia tetap terjaga. Khalisa menghela nafasnya. Bayang-bayang masa kelam pada usia mudanya menghantuinya.
______****_____________
Malam telah berganti pagi, kali ini Khalisa memutuskan bergabung sarapan pagi bersama, meskipun dia tidak duduk dan semeja dengan
keluarga Rendy. Dia masih terasing dikeluarga tersebut. Khalisa mulai tidak memperdulikan hal tersebut, bahkan dia sudah kebal dengan segala sindiran Tante Ratna dan Laila.
“Bagaimana hubungan kamu sama Kaif nak?” Pancing Tante Ratna dimeja makan.
“Emmm... Sedikit kemajuan, aku rasa waktu itu Kaif hanya emosi sesaat pada dia!” Kata Laila dengan menunjukan Khalisa dengan lidahnya
didalam mulut.
“Oh, sudah barang tentu itu, pokoknya mamah tunggu secepatnya Kaif melamar kamu lagi nak!”
“Iya mah! Laila juga sudah tidak sabar ingin menikah dengan Kaif!” Ujar Laila.
Sementara anak dan ibu itu sedang asik bercengkrama dengan tujuan memanas-manasi Khalisa yangs sedang menyantap makanannya dipojokan, Rendy berjalan memasuki ruang makan, sejenak dia sedikit terkejut melihat
Khalisa kembali ikut sarapan, dari sudut bibirnya tanpa sadar tersungging senyuman, namun tidak lama dia segera merubah lagi wajahnya menjadi dingin.
Khalisa menatap Rendy yang duduk di meja makan dan langsung menyantap sarapannya. Melihat Rendy sama sekali tidak melihatnya
Khalisa kembali fokus pada makanannya. Jauh didalam hati Rendy ada gejolak yang tidak sirna saat melihat Khalisa melalui sudut matanya tengah memperhatikannya.
Acara sarapan pagi usai, Rendy tergesa-gesa keluar dari rumah, namun berbarengan juga dengan Khalisa yang ikut terburu-buru hendak ke
toko. Hingga Khalisa setengah berlari dan tanpa sadar menginjak sepatu Rendy yang mengkilap. Saat menyadari sepatunya diinjak oleh sang isteri, disana tercipta jejak sepatu Khalisa, mata Rendy langsung mengelap.
“KHALISAAA!” Bentak Rendy.
Sontak Khalisa yang sudah berjalan lima kaki diepan Rendy terhenti dan menengok wajah yang sangat menakkutkan Rendy.
“Kenapa?”
“Bersihkan sepatuku!” Kata Rendy dingin.
Khalisa langsung menatap sepatu yang sudah kotor tersebut, lalu mendekat dan melihatnya, Khalisa entah keberanian darimana dia l mengambil sapu tangan yang tersimpan di saku
milik Rendy lalu mengelapkannya ke sepatu Rendy setelah itu menyimpannya kembali.
“Sudah! Maaf aku buru-buru!”
Rendy semakin geram dengan sikap Khalisa, sehingga tangan Khalisa langsung ditarik kasar oleh Rendy sehingga menghadap ke arahnya, wajah Khalisa langsung memerah, namun Rendy justru berbeda wajahnya sangat marah.
“BODOH! DUNGU! MENYEBALKAN! MENYUSAKAN ORANG LAIN, PEMBUAT ONAR!” Kata Rendy dengan penuh penekanan didepan wajah Khalisa.
Khalisa yang mendapatkan perkataan demikan hanya merem melek karena menahan nafas dan deru nafas Rendy yang menerpa wajahnya. Setelah itu Rendy melepaskan cengkramannya pada Khalisa. Rendy langsung berjalan memasuki
mobilnya lalu sebelum menjalankan mesinnya dia membuang sapu tangan yang tadi digunakan untuk mengelap sepatunya. Khalisa hanya menghela nafasnya menatap dingin pada mobil yang berjalan menjauhi pekarangan.
#BERSAMBUNG...
ayo Vinnn
keluarkan jurus maut merebut hati Khaila...
klo perlu langsung lamar... masih perawan loh.. tanpa status janda pula..