Season 1 : Nadia dan Nathan (Tamat)
Season 2 : Nara dan alex (Tamat)
Baca juga kelanjutannya dengan judul dan kisah baru "Pernikahan Paksa Karina"
Seperti biasanya, baca lima episode dulu ea biar enak bacanya.
Nadia Ayu Purnama adalah seorang gadis cantik berusia sembilan belas tahun yang terpaksa menikah dengan seorang rentenir.
Menjadi istri muda dari seseorang yang lebih pantas disebut paman olehnya membuatnya tersiksa. Apalagi tekanan dari Devi, istei pertama Bondan yang selalu menyiksanya bukan hanya dengan fisik, tapi juga dengan perkataan yang selalu membuat air mata Nadia meleleh.
Akankan seumur hidup dia berada dalam kubangan menjadi istri kedua yang menderita? Atau apakah dia dapat terlepas dari laki-laki yang membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri?
Mari kita Do'akan agar Nadia menemukan laki-laki yang dapat menyelamatkan hidupnya dan menerima Nadia dengan cintanya yang tulus. Aamiiin.
Ikuti ceritanya ya Zheyenk 😘
Jangan lupa Vote dan Rate dulu dong 😁
Terus masukin juga jadi favorit kamu 😎
Ya udah deh. Silahkan membaca 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_OK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Wanita Cantik itu Istri Muda
Sebuah pemandangan yang indah terlukis indah di atas kanvas. Nadia Menggoreskan kuasnya dengan teliti. Dia melukis pemandangan persawahan yang terhampar luar di depannya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Joni setia menemani.
Persawahan menjadi lebih indah pada sore hari seperti ini. Sinar matahari sore memberikan warna yang indah pada ujung-ujung tanaman warga. Dipadukan dengan pemandangan matahari tenggelam yang terlihat mempesona.
Jauh di belakang sana, seorang pemuda memperhatikan Nadia dari pinggir jalan. Dia adalah Nathaneil Geovan Mahardika. Dokter muda yang menggantikan Dokter Wati yang baru sampai dua hari kemarin.
Sore ini dia ditemani dengan asisten pribadinya, Joko yang merupakan warga desa itu berjalan-jalan. Dokter Nathan meminta Joko untuk mengantarkannya jalan-jalan agar dia tahu daerah itu.
Joko ikut memperhatikan apa yang sedang diperhatikan oleh dokter muda itu. Dia paham. Dokter Nathan juga pasti terpesona pada kecantikan Nadia.
"Namanya Nadia Dokter. Dia bunga desa disini. Sayangnya.... " dokter Nathan mengernyit. Dia penasaran kenapa Joko tidak melanjutkan Kalimatnya.
"Sayangnya apa?"
"Sayangnya dia sudah menikah dokter. Dua tahun yang lalu dia menikah dengan juragan Bondan. Orang yang paling kaya di desa ini."
Dokter Nathan berdecih.
"Ternyata wanita cantik dimana saja sama. Mata duitan." ucap dokter muda itu. Dokter Nathan melanjutkan langkahnya untuk berjalan-jalan. Tapi, tanpa dia cegah, beberapa kali lehernya berputar untuk kembali menikmati kecantikan terlarang berupa istri orang itu.
"Nadia tidak seperti yang dokter bilang." Joko bersuara. Dia tidak mau ada anggapan salah tentang Nadia. Wanita sebaik Nadia tidak pantas dianggap buruk oleh siapapun. Nathan melirik Joko sekilas. Menunggu kalimat yang diucapkan Joko selanjutnya.
"Awalnya saya juga menyangka begitu. Tapi semakin kesini, semakin saya paham seperti apa Nadia. Walaupun saya tidak dekat dengannya. Tapi dengan melihat usaha yang dia lakukan untuk desa ini. Saya tahu betul Nadia seperti apa. Dia bahkan bisa disamakan dengan malaikat bagi warga desa ini."
"Kamu terlalu berlebihan menilai seseorang Joko."
Tidak. Sama sekali tidak berlebihan. Nadia dengan senang hati memberikan ilmunya pada ibu-ibu yang membutuhkan pekerjaan. Nadia mau bersusah payah membimbing ibu-ibu menciptakan pekerjaan untuk meningkatkan ekonomi keluarganya. Dia bahkan melupakan cemoohan dan juga hinaan yang beberapa tahun lalu selalu dia dengar dari mulut warga desa.
Nadia juga tidak keberatan menjadi guru anak-anak di desanya. Padahal gaji sebagai guru sangatlah kecil. Tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan dia hanya duduk diam di rumah dan menunggu uang datang yang dibawa oleh suaminya yang kaya raya itu. Nadia bukan orang seperti itu. Bahkan selama ini uang bulanan yang diberikan oleh suaminya sering dia gunakan untuk keperluan sanggar keterampilan atau sekedar untuk membelikan anak-anak didiknya perlengkapan sekolah.
"Saya tidak berlebihan Dokter. Jika anda mengenalnya lebih jauh. Dokter juga akan tahu kebenarannya." ucapan Joko hanya dibalas senyuman oleh Nathan.
Untuk apa dia perlu mengenal istri orang lebih jauh. Perbuatan yang sangat tercela. Sebisa mungkin akan dia hindari jika hal itu terjadi.
Nathan sudah berbaring di ranjangnya. Namun sudah cukup lama matanya tidak bisa menutup. Suara binatang malam belum mampu membawanya ke alam mimpi.
Wajah Nadia selalu terbayang di pikirannya. Cara gadis itu tersenyum membuatnya sulit melupakan senyum manis yang terlihat tulus itu. Banyak gadis cantik yang ditemuinya. Tapi tidak ada yang berhasil menarik hatinya. Tapi mengaoa harus Nadia yang membuatnya tertarik. Mengapa senyum wanita itu begitu memikat?
"Sial! Kenapa aku jadi begini." Nathan memukul ranjangnya keras. Mendudukkan dirinya. Merutuki kalimat Joko yang membuatnya penasaran pada sosok cantik Nadia.
Dia tidak boleh terus begini. Memikirkan istri orang bisa menyebabkan sakit yang paling parah diantara banyak penyakit yang pernah dia obati.
Sudah lama hati Nathan tidak pernah tergerak untuk memperhatikan lawan jenisnya. Semenjak mantan pacarnya selingkuh dengan laki-laki yang lebih kaya membuat Nathan menjaga perasaannya.
Sakit hati akibat diselingkuhi masih membekas di dalam hatinya. Itulah sebabnya dia menutup rapat-rapat pintu hatinya. Hingga di usianya yang sudah menginjak Dua puluh delapan tahun ini belum ada seorangpun yang berhasil membuka kembali pintu hati yang sudah empat tahun tertutup itu.
Sebisa mungkin Nathan akan menjaga jarak dengan wanita yang memiliki ketertarikan kepadanya. Dia tidak mau memberikan harapan palsu pada mereka.
Namun entah mengapa malam ini otaknya menghianatinya. Di dalam otaknya kini tersimpan wajah cantik wanita yang ironisnya telah berstatus sebagai istri orang. Wajahnya seakan tidak mau hilang dari hatinya barang sekejab setelah dia melihat senyumnya walau hanya sekilas.
Kini ucapan Joko yang terdengar begitu mengagungkan wanita cantik bernama Nadia itu terngiang di telinganya. Apakah benar wanita itu sebaik apa yang dikatakan oleh Joko sore tadi. Apakah masih ada wanita yang baik hati di dunia ini?
Nathan menggelengkan kepalanya yang sudah berniat mencari cara untuk lebih mengenal Nadia. Semua itu tidaklah benar. Mau dia istri pertama maupun kedua, Tidaklah dibenarkan jika dia punya niatan untuk mengenal lebih dekat.
"Tidak boleh. Aku tidak boleh berfikir sejauh itu. Aku harus melupakannya. Aku tidak boleh memikirkannya." Nathan memantapkan hati. Dia tidak akan melakukan hal yang salah.
Di tempat lain, Nadia sedang dilanda kebingungan. Di tangannya sudah ada sebutir pil kontrasepsi. Dia masih bingung apakah keputusan yang dia ambil ini sudah benar apa tidak. Berulang kali dia memaju mundurkan tangannya. Malam semakin larut. Dia yakin sebentar lagi suaminya akan masuk ke dalam kamar. Dan sebelum itu terjadi, dia harus sudah memutuskan pilihannya.
Ketika dia mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka, segera dia lemparkan pil itu ke kolong tempat tidur. Keputusan nya sudah bulat sekarang. Dia akan menerima jika dia mengandung anak dari laki-laki tua itu.
Nadia menegang. Untuk pertama kalinya dia akan melakukan hubungan tanpa meminum pil ajaib itu. Dia harap keputusannya sudah tepat.
"Kenapa kamu tegang Nadia?" juragan Bondan mendekati Nadia. Duduk di samping Nadia yang duduk di tepi ranjang. Laki-laki itu Jelas melihat wajah Nadia yang gugup. Dielusnya pipi mulus Nadia sebelum mendaratkan kecupannya disana.
"Apa bapak menginginkan anak dariku?" pertanyaan tiba-tiba itu membuat laki-laki itu tergelak. Nadia juga bingung kenapa dia menanyakan hal itu pada Juragan Bondan.
"Apakah masalah ini yang membuatmu terlihat kacau beberapa hari ini sayang?" Juragan Bondan memang melihat kegelisahan di wajah Nadia beberapa hari ini. Tapi dia tidak peduli sebelumnya. Yang dia butuhkan Nadia masih melayaninya dengan baik, itu cukup.
Nadia menggeleng pelan.
"Apa ada yang mengejekmu karena tidak juga memberiku anak?" Juragan Bondan menghentikan cumbuannya. Menatap Nadia yang masih terlihat gelisah. Wajah gadis itu suram.
"Tidak. Tidak ada yang mengejekku."
"Kalau ada bilang padaku. Aku akan memberi pelajaran orang itu."
"Tidak-tidak. Tidak ada yang mengejekku. Hanya saja aku merasa tidak enak." dustanya. Dia tidak mungkin berkata jika dia berfikir masalah anak karena bapaknya yang meminta. Dia tidak akan membiarkan bapaknya disakiti.
Juragan Bondan tersenyum puas. Dia ******* bibir Nadia dengan rakus. Memasukkan lidahnya ke dalam celah mulut Nadia. Menghabisi segala isinya.
"Kamu tidak perlu memikirkan ini lebih jauh Nadia. Aku tidak pernah memaksakan anak padamu. Bagiku yang paling penting adalah kamu ada untuk melayaniku." juragan Bondan mencium kening Nadia.
Laki-laki ini tidak meminta anak dariku. Tapi bapakku meminta cucu. Ya Tuhan. Semoga keputusan yang aku ambil sudah tepat. Batin Nadia sebelum tubuhnya dikuasai lagi malam ini.
Nadia hanya berdo'a agar anak yang kelak hadir dari hubungannya akan menjadi penerang untuknya. Menjadi sinar untuk orang-orang di sekitarnya.
Malam ini, beberapa kali benih juragan Bondan meluncur di rahimnya. Berlomba untuk membuahi salah satu dari jutaan sel telur yang tersimpan di dalam rahim Nadia. Setiap kali pelepasan, Nadia mencengkeram kuat seprai. Menguatkan hatinya untuk segala kemungkinan yang terjadi dengan jalan yang dia pilih.
Malam ini, untuk pertama kalinya Nadia mengharapkan buah dari kegiatan ranjangnya. Buah hati yang menjadi keinginan dari bapaknya.
*
*
*
^^^~***Aku Istri Muda***~^^^
...Terima kasih sudah mampir 😍...
...Jangan lupa Like ya Reader 👍...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
...🌾Kediri Raya🌾...